
Setelah meninggalkan ruang kerjanya, Dave memutuskan untuk mendatangi apartemen Felix.
Mobil yang di kendarainya sampai di basement apartemen mewah itu.
“Silahkan Tuan” ucap pengawal membukakan pintu mobil untuk Dave.
Pria itu keluar dan berjalan menuju unit apartemen putranya.
Sesampainya di depan apartemen Felix, Dave memencet bel seraya memasukkan satu tangannya di saku celananya.
“Papa?” Ucap Felix.
“Masuklah Pa”
“Dimana Selena, bagaimana keadaannya?” Tanya Dave beruntun.
“Dia sedang tidur, tidak apa-apa hanya saja luka lebam nya masih sangat membekas” jawab Felix.
Dave mengangguk tersenyum singkat.
“Ngomong-ngomong ada perlu apa? Bukankah masalahnya sudah selesai?” Tanya Felix to the point.
“Papa ingin membicarakan sesuatu. Sebaiknya di ruang kerja mu saja” ucap Dave
“Sepenting itu?” Tanya Felix menaikkan alisnya.
Dave menganggukkan kepalanya.
“Baiklah” ucap Felix berjalan menuju ruang kerjanya di susul oleh Dave.
Keduanya saat ini tengah duduk berhadapan.
Felix memandang lekat wajah Dave, seolah ingin tahu apa yang akan di bicarakan Papanya.
“Sebaiknya kalian segera menikah. Papa tidak ingin membahayakan posisi Selena jika terus seperti ini” ucap Dave dengan tatapan serius.
Felix melebarkan bola matanya. Tidak menyangka Papa nya bergerak secepat ini. Dia memang sudah merencanakan semua ini hanya saja Felix masih bimbang dan butuh momen yang tepat.
“Papa serius?” Tanya Felix memastikan.
“Apa Papa terlihat bercanda?” Sarkas Dave menatap datar Felix.
“Felix sama sekali tidak keberatan, tapi bagaimana dengan Selena?” Ucap Felix bingung.
“Ck! Kau tinggal melamarnya saja apa susahnya? Wanita senang di dahulukan, bukan menunda-nunda seperti mu” ucap Dave berdecak kesal.
Felix mendengus kesal mendengar jawaban dari Dave.
“Malam ini lamar Selena. Besok kalian akan mengucap janji suci. Papa akan menyiapkan semuanya detik ini juga” titah Dave tak terbantahkan.
Felix semakin menganga dibuatnya.
“Yang benar saja menikahi anak orang dalam satu malam? Oh my god!” Desah Felix meraup wajahnya kasar.
“Kau ini laki-laki. Jangan lembek seperti tulen saja” ejek Dave pada putranya.
“Pa, ini pernikahan bukan acara sembarangan. Bagaimana kalau Selena menolak?” Tanya Felix bimbang.
“Itu tidak akan terjadi. Papa yakin Selena tidak mungkin menolak” ucap Dave meyakinkan Felix.
Feli pun terdiam sejenak. Tidak ada salahnya kan mencoba? Lagi pula mereka berdua sama-sama mencintai bukan atas dasar hubungan paksaan.
“Baiklah. Akan Felix coba” putus pria itu pada akhirnya.
“Lalu bagaimana dengan Mama? Apa dia juga tahu rencana Papa?” Sambung Felix.
Dave menggeleng.
“Tidak. Papa sengaja memyembunyikan ini agar pernikahan kalian berjalan lancar. Beritahu saja jika kalian sudah selesai mengucapkan janji suci, itu akan lebih baik daripada kita harus menghadapi kemarahannya di awal” ucap Dave terus terang.
“Baiklah, semua terserah Papa. Felix percaya Papa akan melakukan yang terbaik” ucap Felix mengangguk tersenyum.
“Papa sudah menyiapkan tempat terbaik di pusat kota. Nanti malam bawalah Selena ke sana. Nanti Papa kirim lokasinya” ucap Dave
“Ya, terimakasih Pa” ucap Felix tulus.
Dave mengangguk tersenyum.
“Ya, itu pasti Pa. Aku tidak mungkin membiarkan Selena tinggal di apartemen terus menerus. Disini sangat minim penjagaan” ucap Felix setuju.
“Bagus. Ya sudah, Papa pergi dulu. Masih ada urusan setelah ini” pamit Dave merangkul putranya seraya menepuk pelan bahu Felix.
“Baiklah. Hati-hati” ucap Felix emmbalas pelukan Papanya.
Felix mengantarkan kepergian Dave sampai basement. Baru kali ini Papa nya berkunjung di apartemen pribadinya, semua itu Dave lakukan hanya demi Selena.
“Hati-hati!” Ucap Felix setelah Dave masuk ke dalam mobilnya.
Felix melambaikan tangannya ketika mobil itu mulai menjauh meninggalkan area apartemen.
Sedetik kemudian Felix keluar membeli bunga toko florist dekat apartemen. Ia akan melamar Selena malam ini. Tentunya semuanya harus perfect.
“Silahkan sir, mau cari bunga apa?” Tanya pelayan itu.
“Saya ingin bunga mawar merah seribu tangkai” ucap Felix datar.
“Baiklah, tunggu sebentar Tuan akan saya rangkai kan. Silahkan duduk” ucap pelayan itu tergesa-gesa. Pasalnya pelanggannya kali ini adalah orang istimewa. Semua orang tau siapa Felix, tak jarang banyak yang memuju di usia mudanya pria itu sudah sukses dan mapan.
Felix duduk di sofa sudut ruangan yang memang di khusus kan untuk pelanggan yang sedang menunggu pesanan bunga nya.
Sepuluh menit kemudian pelayan itu datang membawa bunga yang Felix inginkan.
Bunga itu sangat cantik dan segar dengan bentuk love dan hiasan-hiasan pita di tangkai nya.
“Ini pesanan anda Tuan. Semoga Tuan suka” ucap pelayan itu menyerahkan bunga itu.
“Terimakasih, bagus sekali” ucap Felix terkesima dengan rangkaian bunga itu.
“Ini untuk mu. Kembaliannya ambil saja sebagai tanda termalasih ku” ucap Felix berlalu pergi dari toko itu.
“Terimakasih Tuan” jawab pelayan itu tersenyum senang.
Felix berjalan menuju basement dimana mobilnya terparkir dan memasukkan bunga itu di jog belakang.
Sedetik kemudian Felix merogoh ponselnya di saku celananya, kemudian ia mendial nomor seseorang. Tak lama panggilan itupun tersambung.
“Halo, tolong siapkan cincin dan kaling berlian terbaru. Kirimkan ke apartemen ku sekarang juga” ucap Felix pada seseorang di seberang sana.
Panggilan pun terputus.
Pria itu kembali masuk ke dalam. Ia ingin memastikan apakah Selena sudah bangun atau belum.
Sesampainya di apartemennya ia masuk ke dalam kamar Selena. Ternyata gadis itu sedang berada di dalam toilet.
Ceklek!
Pintu terbuka menampakkan Selena dengan balutan bathrobe.
“Kau sudah mandi?” Tanya Felix mendekati gadis itu lalu memeluknya dari samping.
“Ya, ngomong-ngomong siapa yang datang? Apa tamunya sudah pergi?” Tanya Selena yang tahu dengan kedatangan seseorang.
“Tidak ada, hanya Dom saja” ucap Felix berbohong. Ia tahu jika Selena mengetahui kedatangan Papanya pasti gadis itu akan merasa bersalah karena tidak menyambutnya.
“Oh” jawab Selena mengangguk mengerti.
“Setelah ini akan ada orang salon datang honey, persiapkan dirimu untuk acara spesial nanti malam” ucap Felix mengecup pelipis Selena singkat.
“Acara? Acara apa sampai kau mendatangka. Orang salon?” Tanya Selena merasa bingung.
“Sudah jangan banyak bertanya, kau akan tahu nanti malam” ucap Felix mencubit gemas hidung mancung gadis itu.
“Ishh! Selalu saja rahasia” dengus Selena berbalik menuju walk in closet.
“Mau kemana honey?” Tanya Felix tiba-tiba.
“Berganti baju. Tidak mungkin kau ikut kan” ucap Selena
“Itupun jika kau mengijinkan maka aku tidak keberatan” sahut Felix merebahkan diri ke atas ranjang milik Selena.
“Aku yang keberatan” ketus Selena dari dalam ruangan itu.
Felix terkekeh pelan mendengar ucapan gadis itu.