
Lama menempuh perjalanan selama kurang lebih hampir satu jam, kini keduanya sampai di sebuah rumah tua yang terletak di tengah pemukiman padat.
Selena keluar dari mobil Johan dengan infus di tangannya, wanita itu sebenarnya sudah merasa sedikit lelah karena kondisi nya seratus persen belum pulih, namun Selena tetap memaksakan tubuhnya demi mengetahui jati diri kedua orangtua nya.
“Ayo masuk!” Ucap Johan mengajaknya masuk ke dalam rumah itu.
Selena berjalan mengikuti kemana langkah kaki Johan.
“Ini rumah siapa Om?” Tanya Selena ketika ia berada di dalam rumah kosong itu. Tidak ada satu barang pun yang ada di sana, seperti rumah yang lama tidak berpenghuni atau mungkin bisa jadi sengaja di kosongkan? Entahlah Selena tidak tahu persis.
“Ini rumah milikku, sudah lama tidak di tempati karena selama di luar negeri aku memang tidak pernah berkunjung kesini” terang Johan dengan nada datar.
Selena menganggukkan kepalanya mengerti.
Tiba-tiba ada dua orang pria yang nampak gesturnya seperti penjaga. Selena mengernyit heran melihat kedatangan dua orang.
“Mereka siapa Om?” Tanya Selena keheranan.
“Dia penjaga rumah ini, dan kau istirahatlah dulu. Aku tahu pasti badan mu lelah sejak perjalanan tadi. Biar mereka mengantar mu ke tempat yang bisa kau gunakan untuk beristirahat sementara waktu” ucap Johan melirik ke arah dua orang penjaga itu dengan tatapan mengode.
“Tapi bukankah Om akan memberitahu ku tentang kedua orang tua ku? Aku tidak bisa berlama-lama disini Om, dokter berpesan padaku untuk segera kembali sore ini.” Ucap Selena mulai merasa aneh.
“Ya, aku tahu. Aku hanya tidak ingin kau kelelahan. Setelah kau mengumpulkan tenaga mu baru aku akan memberitahu semuanya, ini juga demi kebaikan mu agar kau tidak kehabisan tenaga mendengar sesuatu yang belum pernah kau dengar sebelumnya” ucap Johan
Selena menatap wajah pria itu dengan teliti, nampak sekali hampir tidak ada kebohongan di matanya. Tapi Selena tetap saja ragu, meskipun begitu ia harus menuruti ucapan pria itu. Jika tidak, sia-sia saja perjuangan nya untuk sampai di tempat itu.
“Kalian, antarkan Nona ini ke dalam kamar!” titah Johan tegas pada dua orang penjaga itu.
Keduanya mengangguk dan mengikuti instruksi dari Johan.
Selena hanya pasrah mengikuti.
“Saya bantu bawakan infus nya Nona” tawar salah satu penjaga.
“Tidak perlu, terimakasih aku bisa membawanya sendiri” tolak Selena halus.
Pria itu mengangguk lalu melanjutkan langkahnya menuju tempat yang telah mereka persiapkan untuk Selena.
“Silahkan Nona, semoga anda nyaman” ucap kedua pria itu membukakan pintu kamar usang untuk Selena.
Wanita cantik itu mengamati seluruh sudut ruangan yang ada di kamar itu, meskipun terkesan usang namun tempat itu masih cukup layak untuk digunakan.
“Terimakasih” ucap Selena duduk di sofa sederhana namun masih terasa nyaman.
“Sama-sama Nona, kami permisi” pamit kedua penjaga itu meninggalkan Selena.
“Hufhh!! Padahal aku hanya ingin menjernihkan otak ku saja, tapi kenapa aku malah terjebak di tempat asing ini?” Gumam Selena tanpa sadar,
“Eh?! Tidak! Tidak mungkin aku terjebak, Om itu kan bilang kalau aku hanya singgah sementara disini” tukas Selena mengenyahkan pikiran buruknya.
“Tapi mau sampai kapan? Bahkan sekarang aku merindukan suamiku” keluh Selena menumpukan wajahnya pada kedua telapak tangannya.
Sedetik kemudian ia menunduk memandangi perut rata nya lalu tersenyum.
“Sabar ya sayang, Mommy janji setelah ini kita akan bertemu Daddy” ucap Selena terus memberikan usapan lembut pada perutnya.
Lelah menghampiri, akhirnya Selena merasakan kantuk mulai menyerang.
Ia memejamkam kedua matanya setelah mendapatkan posisi ternyaman.
Sedangkan Felix saat ini tengah di landa gusar, ia menemui Charlos di tempat persembunyiannya demi mendapatkan bantuan untuk melacak keberadaan istrinya.
Sebab saat ini Dave sedang berada di Indonesia bersama Grace, pria paruh baya itu ingin fokus mengembangkan bisnis nya yang ada di negara itu. Bukan tanpa alasan, Dave melakukan itu karena ingin memberikan ruang bebas pada rumah tangga Selena dan putranya. Oleh sebab itu beberapa bulan kedepan Dave akan menetap sementara di Indonesia.
Jujur saja hal itu mampu membuat Felix kelimpungan di sela-sela kesibukannya dan masalah keselamatan istrinya. Alhasil Felix mau tidak mau mendatangi Charlos di markasnya. Bukan tidak mampu menyewa detektif, tapi hal itu akan sangat memakan waktu cukup lama. Jika Charlos dan semua partner nya saja memegang organisasi handal kenapa tidak?
“Bisa kau tunjukkan rekaman cctv nya?” Pinta Charlos pada Felix.
“Ini” ucap Felix menyerahkan ponselnya yang berisi salinan rekaman cctv di pemakaman.
Roy meraih ponsel itu dan menghubungkannya di laptopnya.
“Lakukan dengan baik Roy” pinta Charlos di angguki oleh pria itu.
“Pasti Paman” balas Roy.
Sementara Felix menunggu dengan harap-harap cemas. Anak buah yang mereka kumpulkan kini berada di luar gedung intelligent, mereka semua menunggu instruksi selanjutnya dari Felix.
“Tuan Felix, apakah anda menyelipkan suatu barang yang ada di tubuh Nona?” Tanya Roy memastikan.
“Barang?” Tanya Felix seraya berpikir.
“Ya, barang apapun yang mempunyai nomor seri dari produk anda. Bisakah saya meminta kode kunci produk anda agar saya bisa melacak keberadaan Nona Selena” ucap Roy membuat Felix mengangguk cepat.
“Tunggu sebentar” ucap Felix meraih kartu kecil di dalam dompetnya lalu menyerahkannya pada Roy.
“Ini” ucap Felix.
Roy bergegas memasukkan kode berjumlah delapan digit itu ke dalam laptop nya.
Sedetik kemudian muncul satu lokasi bertitik merah di suatu kota kecil.
“Bagaimana? Kau berhasil menemukan keberadaan istriku?” Tanya Felix penuh harap.
“Ya Tuan, tapi lokasi nya sangat jauh sekali. Sepertinya kota ini jauh dari jangkauan signal. Kita harus sampai kesana cepat sebelum malam tiba. Karena setahu saya saat malam kota ini tidak ada jaringan sama sekali. Dan itu akan menyulitkan kita untuk melacak titik keberadaan Nona” terang Roy menatap lurus ke arah layar laptopnya.
“Kenapa harus pusing? Kita gunakan saja heli, perjalanan kesana tidak akan sampai satu jam” seru Felix membuat Charlos mengumpat keras.
“Bodoh! Kau menggunakan heli untuk memberi sinyal bahaya pada mereka? Lalu mereka punya kesempatan untuk memindahkan Selena? Begitu maksud mu?!” Maki Charlos sengit.
Felix meraup wajahnya kasar. Ia hampir melupakan hal itu.
“Lalu tunggu apalagi? Ayo kita kesana sekarang!” Ucap Felix menggebu-gebu.
“Sebaiknya aku duluan, kau menyusul lah sepuluh menit kemudian. Jika Johan sudah mengenali wajah mu, maka dia belum mengenali ku dan itu akan mempermudah penggerebekan kita nantinya” usul Roy menatap Charlos dan Felix bergantian.
“Aku setuju! Uncle, kau bersama ku saja. Biar Roy bersama Dom” ucap Felix.
“Baiklah” ucap Charlos menyetujui ucapan pria itu.
Mobil yang mereka tumpangi melaju dengan kecepatan penuh meninggalkan kota besar itu menuju kota terpencil yang jaraknya cukup jauh meskipun di tempuh dengan kecepatan tinggi.