Love In Dubai

Love In Dubai
Chapter 54 | Salah paham



Hana sontak reflek menutup kedua telinganya rapat-rapat mendengar lengkingan suara Selena.


“Mana bisa aku beristirahat Han, aku ingin suamiku.. Huaaa!!”


Hana di landa panik setengah mati takut-takut jika orang luar mendengar tangisan Selena.


“Oke Nona, mari saya antarkan ke kantor Tuan, tapi sebelum itu kita harus meminta ijin terlebih dahulu pada Dokter” ucap Hana terpaksa mengiyakan permintaan wanita itu. Daripada dirinya terkena imbasnya?


Selena seketika menghentikan tangisnya dan beralih menatap Hana.


“Serius Han? Kamu tidak bohong kan?” Tanya Selena mengusap ingusnya kasar membuat gadis itu meringis.


Hana menganggukkan kepalanya yakin. Tak ada pilihan lain.


“Aaa terimakasih Hana!” Pekik Selena girang memeluk tubuh mungil Hana hingga gadis itu sesak nafas.


“Nona, ingat di dalam perut anda ada janin yang harus Nona jaga!” ucap Hana memperingati.


Selena buru-buru melepas pelukannya seraya tertawa pelan.


“Hehehe, aku hampir melupakannya” celetuk wanita itu cengengesan seraya mengusap perutnya lembut.


Hana hanya memutar bola matanya malas, sedetik kemudian ia berbalik keluar untuk meminta ijin dari dokter membawa Selena keluar.


Tak butuh waktu lama Hana kembali masuk ke dalam ruang rawat Selena.


“Bagaimana Hana? Boleh kan?” Tanya Selena antusias.


Hana menganggukkan kepalanya.


“Boleh, asal tidak lama-lama. Karena sore nanti dokter akan berkunjung untuk mengecek kondisi dan kandungan Nona” terang Hana.


“Oke, tunggu apalagi? Let’s go!” Pekik Selena penuh semangat.


“Nona hati-hati!” Ucap Hana yang kesulitan menghandle wanita itu sebab tangan kanannya memegang infus.


“Oke Hana, aku akan patuh” ucap Selena menaikkan jarinya tanda peace.


Kedua wanita itu pun keluar dari rumah sakit di temani dua pengawal yang mengantarkan mereka menuju kantor Felix.


Dalam perjalanan Selena tak henti-hentinya mengulas senyum, ia tidak sabar ingin bertemu dengan suaminya yang tampan itu.


Maklum saja, selama beberapa minggu hubungan mereka memang renggang, mungkin saja wanita itu merindukan momen-momen kehangatannya bersama Felix.


Menempuh perjalanan selama tiga puluh menit akhirnya mereka sampai di gedung megah perusahaan Wilson Corp.


Hana dengan sigap membantu Selena berjalan. Sesampainya di lantai ruangan Presdir Selena berdiri di depan pintu ruangan Felix dengan raut wajah penuh binar. Entah kenapa pintu ruangan itu tidak tertutup rapat.


Ia tidak sabar ingin memberikan kejutan pada suaminya itu.


Namun sayup-sayup Selena mendengar suara perempuan berada di dalam ruangan suaminya.


Ia mengernyit heran, apakah suaminya itu sedang kedatangan tamu?


Tapi yang membuat Selena merasa aneh kenapa Felix mau menerima tamu wanita di dalam ruangan pribadinya? Biasanya jika ada client perempuan Felix selalu mengadakan pertemuan di luar perusahaan.


Selena yang penasaran pun mendekatkan telinganya ke daun pintu, membuat Hana mengernyit heran dengan tingkah wanita itu. Namun Hana hanya diam tanpa menegurnya, ia tidak akan mencampuri urusan pribadi bosnya.


Sedangkan di dalam ruangan, Celline mati-matian meyakinkan jika kehamilannya kali ini adalah darah daging Felix.


Tatapan pria itu memancarkan kemarahan yang luar biasa. Bahkan dia sengaja membiarkan Celline berceloteh ria agar memberi jeda pada wanita itu untuk mengarang bebas. Ia ingin tahu sebesar apa keberanian Celline untuk mengusik rumah tangganya.


Dan kini Felix tahu, wanita ular di hadapannya kali ini memang benar-benar tak gentar dengan ancaman yang ia berikan. Bahkan ia terang-terangan mengibarkan bendera perang padanya.


“Aku sungguh tidak berbohong Felix! Apa kau tidak ingat malam itu? Saat kau dengan liarnya mencumbu tubuhku sementara aku hanya pasrah dan tak bisa berontak sama sekali karena aku kalah dengan tenaga mu!” Ucap Celline dengan air mata buayanya.


Degg!!!


Selena yang mendengar kata-kata itu dari luar ruangan mendadak lemas.


‘Ternyata ini alasan kamu tidak kembali makan siang? Karena wanita itu?’ Batinnya sakit


Air mata Selena meluncur bebas tanpa permisi.


Selena menggeleng pelan.


“Kita kembali Han” ucap Selena melangkahkan kakinya menjauh dari pintu. Hana dengan sigap menopang tubuh rapuh Selena. Ia tahu betul bagaimana perasaan Selena kali ini. Siapa yang tidak kecewa jika suaminya di datangi wanita lain sementara dirinya butuh sandaran dan pelukan dari pria itu?


Wanita itu berbalik meninggalkan ruangan Felix dengan hati yang kecewa.


Sementara Felix yang mendengar ocehan Celline merasa emosinya kini di ujung tanduk.


Ia mengambil vas bunga yang ada di mejanya lalu melemparkannya ke sembarang arah.


Pyarrr!!!!


Seketika Celline terlonjak kaget.


“Felix! Apa yang kau lakukan? Kau gila?!” Pekik Celline


Pandangan Felix beralih menatap wanita itu dengan sorot mata mengerikan.


Membuat tubuh Celline bergetar ketakutan.


Ia berjalan mendekat ke arah Celline dan mencekik leher wanita itu.


“Sepertinya kau memang tidak punya rasa takut sedikitpun ya?!” Ucap Felix semakin mengeratkan cengkramannya di leher Celline membuat wajah wanita itu memucat.


“Sudah berapa kali aku katakan hentikan drama busuk mu ini!!!!” Teriak Felix semakin tak terkontrol.


Tiba-tiba Dom datang merangsek masuk ke dalam ruangan.


“Hentikan Tuan! Anda bisa membunuhnya!” Cegah Dom mencoba melepaskan cengkraman Felix.


“Biarkan saja Dom! Wanita ini pantas mati!” Ucap Felix menatap nanar Celline yang mulai kehabisan nafasnya.


“Tidak Tuan! Ingat Nona Selena, jangan bertindak gegabah demi keluarga kecil kalian!” Ucap Dom menasehati bosnya.


Perlahan cengkraman Felix mengendur, pria itu melemparkan tubuh Celline hingga membentur sofa.


Uhukk!!! Uhukkk!!!


Celline yang kehabisan nafas dan tenaga hanya bisa menatap sayu tubuh tinggi Felix.


“Ingat wanita ******! Nyawa mu ada di tangan ku, jangan sekali-sekali kau berani mengusik ku atau mendatangi ku lagi! Aku pastikan setelah ini kehancuran mu sudah di depan mata!” Ucap Felix yakin.


“Seret dia keluar Dom! Aku tidak ingin ada sampah di ruangan ku!” Titah Felix.


Dom dengan sigap membawa Celline keluar dengan langkah wanita itu yang berjalan terseok-seok.


Kondisi nya kali ini begitu mengenaskan padahal effortnya untuk mengubah penampilannya cukup fantastis, namun usahanya sia-sia.


Setelah memastikan Celline pergi, Dom kembali masuk ke ruangan Felix.


“Ada berita apa Dom? Bagaimana bukti yang aku minta?” Tanya Felix setelah berhasil menetralkan emosinya.


“Bukti itu hampir siap sekitar sembilan puluh persen Tuan, tinggal menyalin video nya saja. Saya pastikan malam ini anda akan mendapatkannya” terang Dom.


“Dan satu lagi, Nona Selena baru saja kemari sesaat sebelum kejadian tadi” ucap Dom membuat Felix membelalak lebar.


“Apa?! Selena kemari? Kenapa tidak menemuiku? Dan kenapa bisa dia ada disini?!” Cecar Felix menggeram frustasi.


“Entahlah Tuan, yang pasti Nona pergi dengan kondisi menangis, saya yakin Nona pasti melihat keberadaan wanita itu disini” ucap Dom yakin.


Felix mengusap wajahnya kasar, padahal sedikit lagi dia mampu meyakinkan istrinya. Malah kacau dengan kedatangan Celline.


“Kau urus kantor Dom, aku akan pulang!” Ucap Felix meraih jas dan kunci mobilnya.


Dom hanya mengangguk pasrah melihat kepergian bos nya. Sudah bisa di tebak kali ini akan berimbas fatal pada hubungan Nona dan Tuannya mengingat bagaimana reaksi Felix setelah mengetahui kedatangan Selena.


“Menyesal aku menghentikan perbuatan Tuan, kenapa tak ku biarkan saja dia membunuh wanita itu!” Tukasnya merasa bersalah.


Sedetik kemudian Dom meraih ponselnya menghubungi anak buahnya.


“Sekap wanita itu di gudang! Jangan beri dia makan sampai Tuan Felix sendiri yang datang” perintah Dom pada anak buahnya. Lalu pria itu memutuskan panggilan.