Love In Dubai

Love In Dubai
Chapter 13 | Masalah mu juga masalah saya



Sepulang dari mansion, Felix benar-benar di buat speechless dengan serentetan kejadian masa lalu itu. Yang lebih parahnya lagi Selena sama sekali tidak mengetahui siapa orang tuanya sebenarnya.


Entah bagaimana cara Dominic dan Emily melindungi putri semata wayangnya. Yang jelas, usaha mereka menyembunyikan Selena dari publik berhasil dan tidak sia-sia.


Pria itu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia tidak sabar ingin segera bertemu dengan Selena. Wanita yang belakangan ini selalu berhasil mengobrak abrik hati dan pikirannya.


Felix sadar dan mengakui bahwa dirinya sudah tertarik dan jatuh ke dalam pesona seorang Selena Young.


Entah sejak kapan rasa itu tumbuh di hatinya, yang jelas hanya Felix sendiri yang tau.


Lima belas menit menempuh perjalanan akhirnya pria itu tiba di apartemen nya.


Ia bergegas membuka pintu mobilnya seraya menenteng beberapa makanan yang ia pesan di restauran cepat saji.


Langkahnya semakin cepat menyusuri koridor apartemen.


Pria itu masuk ke dalam lift seraya mengecek ponselnya. Tidak ada pesan balasan dari Selena, apa mungkin gadis itu memang benar-benar sudah tidur? Pikirnya dalam hati.


Ting!


Ia melangkahkan kakinya keluar dari lift dan berjalan ke depan pintu apartemennya. Felix memencet tombol finger dan terbukalah pintu apartemen, menampakkan sosok wanita cantik yang sedang tertidur pulas di sofa sambil memeluk remote tv.


Senyum Felik mengembang melihat pemandangan yang menyejukkan hatinya.


Ia merasa jadi laki-laki beruntung karena setiap kepulangannya di sambut oleh seorang wanita yang bersedia menemaninya.


Felix membayangkan jika Selena menjadi istrinya, betapa bahagianya pria itu.


Langkah Felix mendekat ke arah Selena, perlahan tangannya terulur membelai surai panjang gadis itu.


Selena yang terusik dengan sentuhan Felix pun menggeliat lucu.


“Hmmh.. hoaammmm”


Tangan Felix seketika berhenti mengusap rambut Selena.


Kedua mata Selena terbuka ketika merasakan kehadiran seseorang yang berada di dekatnya.


“Pak Felix? Sejak kapan Bapak pulang?” Tanya Selena dengan muka bantalnya.


“Baru saja” jawab Felix singkat seraya menatap Selena tanpa kedip.


“Ah, maaf saya tertidur karena menunggu Bapak” ucap Selena tak enak hati.


Seketika hati Felix menghangat mendengar ucapan Selena. Apa dia bilang? Gadis itu menunggunya? Benar-benar manis. Gumam Felix dalam hati.


“It's oke, justru saya yang minta maaf karena sudah membuat kamu menunggu. Itu artinya kamu merindukan saya bukan?” Tanya Felix menggoda Selena.


“Ih apaan sih, jangan percaya diri deh” elak Selena merasa keceplosan.


“Ya sudah” ucap Felix mengedikkan bahunya.


“Ini saya bawakan makanan. Pasti kamu belum makan malam kan? Maaf saya lupa mengantarmu berbelanja” ucap Felix merasa bersalah.


“Ah Bapak tau saja, tidak apa. Kita bisa berbelanja besok” ucap Selena antusias melihat apa yang di bawa Felix.


“Ya sudah, ayo kita makan sebelum waktunya terlalu larut. Itu tidak baik untuk pencernaan” ucap Felix berjalan menuju ruang makan.


Selena melirik jam digital di atas meja menunjukkan pukul 10 malam.


Ia pun bergegas menyusul Felix sebelum pria itu mengeluarkan ultimatumnya.


Selena duduk di hadapan Felix dengan mata berbinar.


“Sepertinya sangat enak, boleh saya makan yang ini?” Tunjuk Selena pada menu pasta carbonara.


“Pilihlah mana yang kau suka, semua ini untukmu” ucap Felix


“Wahh.. Bapak baik sekali” puji Selena menampakkan senyum manisnya, membuat Felix gemas dengan tingkah gadis itu.


Aku tidak tahan ingin menciumnya! Ucap Felix dalam hati.


Sedetik kemudian Selena melahap makanan yang ada di piring hingga tandas.


Sementara Felix hanya memakan sepotong pizza karena dirinya tidak terbiasa makan berat di atas jam sembilan malam.


“Ahh.. kenyangnya, terimakasih atas traktirannya Pak” ucap Selena pada pria itu.


“Itu sudah tugas saya menjamin semua kebutuhan mu selama kau tinggal di sini” ucap Felix


“Ya.. anda memang yang terbaik!” Seru Selena kemudian merapikan meja makan, membersihkan sisa-sia makanan mereka.


“Saya masuk duluan ya Pak, besok saya harus bangun pagi biar tidak keduluan Bapak lagi membuat sarapan” ucap Selena menyengir kuda.


Membuat Felix geleng-geleng kepala.


Sepeninggal Selena, Felix pun beranjak meninggalkan ruang makan menuju ke ruang tv.


Cukup lama Felix merenung seorang diri, pikirannya terfokus pada masalah kedua orang tua Selena.


“Sebaiknya aku tanyakan sekarang, mungkin dia belum tidur” gumam Felix beranjak dari duduknya berjalan ke arah kamar Selena.


“Selena” panggil Felix dari luar.


“Boleh aku masuk? Kau belum tidur kan?” Tanya Felix


“Oh iya Pak silahkan!” Seru Selena dari dalam kamarnya.


Ceklek!


Tampaklah Selena yang sudah duduk di atas kasurnya.


Felix pun masuk ke dalam membiarkan pintu kamar itu terbuka agar Selena tidak berpikiran negatif padanya.


“Kamu belum tidur” ucap Felix duduk di sofa.


“Belum, ada apa Bapak sampai mendatangi saya kemari?” Tanya Selena merasa heran.


“Ada yang ingin saya tanyakan padamu Selena, ini mengenai kedua orang tua mu” ucap Felix


Seketika mimik wajah Selena berubah menjadi serius.


“Kenapa dengan kedua orang tua saya Pak?” Tanya Selena.


“Begini, saya ingin tanya. Kamu tau dulu pekerjaan orang tuamu apa?” Tanya Pria itu menautkan jari tangannya.


“Setahu saya, Ayah dan ibu bekerja di salah satu kantor sipil. Mereka berada di satu instansi yang sama” terang Selena.


“Kamu tau seperti apa jenis pekerjaannya?” Tanya Felix menatap Selena.


Gadis itu menggeleng.


“Ayah dan ibu selalu bersama, mereka berdua bak perangko yang setiap kali salah satunya sibuk maka semua juga ikut sibuk. Mereka berdua menjadi tim dan partner yang baik” ucap Selena bercerita dengan tatapan kosongnya. Setiap membahas kedua orang tuanya perasaannya selalu mellow.


Felix mendekati Selena yang terlihat begitu sedih.


Ia duduk di samping Selena dan mengusap bahu gadis itu.


“Lalu siapa yang mengurus dan menemani mu saat kamu berduka waktu itu?” Tanya Felix pada Selena.


“Tidak ada, hanya seseorang yang datang untuk menguatkan ku saat itu. Dia mengaku sebagai teman dekat Ayah dan Ibu” ujar Selena menitikkan airmatanya.


“Laki-laki atau perempuan?” Tanya Felix menaikkan alisnya.


“Dia laki-laki. Seusia Ayahku mungkin” jawab Selena.


“Ada sesuatu yang dia katakan padamu barangkali?” Tanya Felix lagi.


“Dia hanya mengatakan bahwa aku tidak boleh takut menghadapi siapapun, dan dia bilang datang padanya jika suatu saat aku membutuhkan bantuannya” ucap Selena mengingat kembali saat itu. Semua kalimat yang terlontar dari orang itu terdengar seperti clue bagi Selena. Tapi ia sendiri tak mengerti apa arti dari semua itu. Selena terlalu fokus menata hidupnya, ia tidak mau memikirkan hal-hal yang membuatnya sakit dan down.


“Sebelumnya apakah ada pesan atau kode dari Ayah dan ibumu sebelum kepergian mereka?”


“Tidak ada” ucap Selena mulai terisak. Hal yang paling membuatnya sedih ketika menjelang kepergian orangtuanya namun Selena sama sekali tidak tau apa yang terjadi antara keduanya. Selena sudah jarang bertemu menjelang orangtuanya akan pergi ke Tokyo. Keduanya terlalu sibuk saat itu sampai-sampai Selena kehilangan momen kebersamaan dengan orangtuanya sebelum ditinggal pergi selama-lamanya.


“Ssstt.. tenang Selena.. ikhlaskan mereka agar mereka bahagia di sana” ucap Felix menenangkan. Ia menarik Selena ke dalam pelukannya seraya mengusap surai panjang Selena dengan lembut.


“Hikss.. hiksss..” isak tangis gadis itu membuat Felix merasa bersalah telah memaksa Selena untuk mengingat kembali masa kelamnya.


“Maaf saya membuat mu bersedih malam-malam begini. Saya hanya ingin mengorek informasi supaya saya lebih mudah menyelidiki kasus kematian kedua orang tuamu Selena” ungkap Felix.


Felix terus memberikan usapan lembut pada gadis itu.


Perlahan tangis Selena pun mereda.


“Tidak apa-apa kok Pak, makasih sudah bersedia menampung cerita saya, terimakasih juga karena Bapak sudah bersedia membantu saya” ucap Selena terdengar tulus di telinga Felix.


“Santai saja Selena, jangan sungkan untuk mengatakan apapun pada saya, masalah mu juga menjadi masalah saya. Oke?” Ucap Felix menghapus airmata Selena.


Selena yang terkesima dengan perlakuan manis Felix pun menganggukkan kepalanya.


Ya Tuhan, seandainya setiap hari aku di hadapkan dengan sosok pria seperti Pak Felix. Betapa bahagianya hidupku. Batin Selena dalam hati.