Love In Dubai

Love In Dubai
Chapter 24 | Pertengkaran Juan dan Elle



Juan uring-uringan di dalam apartemen nya karena sampai saat ini tidak mendapat kabar apapun dari Selena. Ia sampai mengganti nomor nya demi menghubungi gadis itu, ia pikir nomor nya di blokir oleh Selena.


Namun dugaannya salah, ternyata memang Selena tidak mengaktifkan ponselnya sejak hari itu.


“Juan, ayo kita bersiap sekarang” ajak Elle yang mulai membuka kopernya.


Besok Juan dan Elle harus kembali ke rutinitas, sebab hari cuti mereka sudah habis.


Ini hari terakhir Juan dan Elle berada di kota ini.


“Elle, tidak bisakah kau enyah dari hadapanku sejenak? Aku sangat pusing hari ini” pinta Juan dengan suara lesu.


Elle mendongak menatap Juan yang tengah menelungkupkan wajahnya di atas meja.


“Kau kenapa? Hanya ditinggal Selena dua hari saja kau sudah seperti mayat hidup begini, lalu apa kabar dengan Selena yang kau tinggal berbulan-bulan lamanya tanpa kabar dari mu? Cih! Kau laki-laki munafik Juan” ejek Elle merasa kesal dengan sifat Juan.


Seketika Juan menegakkan duduknya menatap Elle.


“Apa maksud mu? Jaga bicara mu Elle” ucap Juan menatap Elle sengit.


“Apa kau pernah berpikir bagaimana perasaan Selena selama kau abaikan begitu lamanya? Wanita manapun tidak akan sanggup Juan, kau salah jika menganggap Selena selama ini baik-baik saja. Sudah bersyukur Selena tidak selingkuh darimu bahkan dia mampu bertahan selama ini. Dan sekarang ini, i think dia sudah berpikir dengan logika nya untuk tidak lagi mengharap apapun darimu, jiwanya,bahkan rasa cintanya sudah hilang” ucap Elle panjang lebar.


Kali ini Elle tak hanya menghasut Juan, tapi dia juga berbicara dengan logika nya.


Elle merasa jika Selena memang harus mundur sebab Elle tau betul apa yang di butuhkan Juan. Daripada Selena terus di sakiti dengan pengkhianatan ini lebih baik dia menghasut lewat Juan agar pria itu mau melepas Selena. Pemikiran Elle memang sudah sangat realistis. Resiko perselingkuhan hanya dua, bertahan dengan rasa sakit atau ditinggalkan.


Tapi selingkuh tetap saja salah dan tidak bisa dibenarkan. Elle akan menghadapi apapun yang terjadi kedepannya. Karena dirinya juga salah, Elle tidak menampik hal itu.


Lama Juan mencerna ucapan Elle, kali ini pria itu mulai buka suara.


“Ya, aku memang bersalah dalam hal ini Elle. Salah ku sudah terlanjur banyak dan mungkin tidak bisa di maafkan lagi. Tapi aku mencintainya Elle! Aku mencintai Selena! Tidak mudah melepasnya begitu saja, dua tahun bukan waktu yang singkat dalam sebuah hubungan” ucap Juan yang masih kekeh.


“Tidak bisakah kau mencintai hanya satu wanita saja? Apa yang ada di otakmu saat ini Juan? Kenapa?! Apa yang kamu harapkan dari Selena aku pun bisa memberikannya! Apalagi yang kamu cari?!” Cecar Selena tak habis pikir.


“Kau tidak bisa menyamakan dirimu dengan Selena! Dan aku tidak bisa memilih keduanya sama sama penting Elle, kau tahu itu! Kalian berdua punya posisi sendiri di hidup ku! Aku mencintai Selena dan aku tetap membutuhkan mu” ucap Juan tanpa perasaan.


Hati Elle sakit mendengar kata cinta yang keluar dari bibir Juan, selama ini Elle belum pernah mendengar Juan mengucapkan kata itu padanya.


“Cinta? Kau yakin itu cinta? Atau hanya sekedar obsesi mu saja? Atau sekedar rasa kagum? Jangan naif Juan! Kau mencintainya tapi kau juga mengkhianatinya dalam waktu bersamaan! Kau egois! Kau tidak bisa memilih salah satunya! Gunakan otak mu sesekali, tanpa kamu sadari ada dua orang wanita yang tersakiti sekaligus! Pikir dengan akal sehat mu!” Sentak Elle merasa emosi dengan kebodohannya.


“Lalu apa maumu?!” Tanya Juan menatap tajam Elle.


“Jika kau masih saja mempertahankan hubungan mu dengan Selena lebih baik kita akhiri saja! Tidak ada wanita yang mau perhatiannya terbagi Juan!” Ucap Elle putus asa. Ia lelah harus terus bermain kucing-kucingan seperti ini tanpa tujuan yang jelas. Sementara Juan tanpa perasaan menganggapnya seperti pelacur.


“Kau ingin berpisah dariku? Jangan bermimpi! Kau sendiri yang datang menawarkan tubuhmu padaku Elleanore! Aku tidak akan melepaskan mu sampai aku sendiri muak dengan mu, camkan itu!” Tekan Juan menatap nyalang Elle yang kini sudah meneteskan airmata nya.


Hatinya seperti tercabik-cabik mendengar penuturan dari mulut pria itu. Elle sangat mencintai Juan, tapi dirinya juga sakit mengingat pria itu tidak bisa lepas dari Selena. Lagi dan lagi dirinya hanya di anggap sebagai pelampiasan nafsu.


“Terserah padamu! Aku tidak peduli!” Ucap Elle pergi menyeret kopernya.


Juan meraup wajahnya kasar. Kepalanya serasa pecah kali ini, memikirkan Selena saja sudah pusing di tambah dengan permasalahannya dengan Elle.


Sungguh kali ini Juan mulai merasakan buah dari pengkhianatan nya selama ini.


Sedangkan di apartemennya Felix tengah berbicara dengan anak buahnya di ruang kerja.


“Bisa kau cari tahu siapa orang ini?” Tunjuk Felix pada anak buahnya.


“Saya rasa dia yang selalu mengikuti Nona kemanapun Tuan, bukan hanya sekali tapi beberapa kali saya melihatnya” jawab pria itu.


“Ya, aku baru sadar Dom. Beberapa waktu lalu aku melihat pria itu di sekitar kantor. Entah apa motif orang ini, menurutmu apakah dia ada niat buruk untuk mencelakai Selena?” Tanya Felix menatap Dom.


“Saya rasa tidak Tuan, selama pria itu mengintai keadaan Nona baik-baik saja. Mungkin kita harus bertemu dengan pria itu” ucap Dom


Felix menganggukkan kepalanya mengerti.


“Kau urus dia Dom, kabarkan secepatnya padaku. Besok aku dan Selena akan ke kantor, manfaatkan momen itu sebaik mungkin untuk mencari tahu siapa pria itu” pesan Felix pada Dom.


Dom mengangguk paham.


“Kalau begitu saya permisi Tuan” pamit Dom di angguki Felix.


Selena masuk bersamaan dengan Dom yang hendak keluar dari ruangan itu.


“Loh kenapa pergi? Apa urusannya sudah selesai?” Tanya Selena membawakan nampan berisi dua gelas cappuccino.


“Sudah Nona” jawab Dom menunduk sopan.


“Bawa sini sayang” titah Felix pada Selena.


“Dom, kau tidak ingin minum dulu?” Tanya Selena pada pria itu.


“Terimakasih Nona, tapi saya masih ada urusan di luar” ucap Dom menolak sopan.


Selena mengangguk paham. Sepeninggal Dom, Ia pun melangkahkan kakinya mendekati Felix yang duduk menyilangkan kaki di kursi kerjanya.


Selena meletakkan segelas cappucino di samping Felix. Pria itu langsung menyeruput gelas itu hingga tersisa separuh.


“Nanti aku yang akan menghabiskannya” jawab Felix menarik Selena agar duduk di pangkuannya.


Selena merasa canggung dengan posisi duduknya yang seperti ini. Tubuhnya bergerak resah merasa tak nyaman.


“Diamlah sayang, kau bisa membangunkan sesuatu” ucap Felix dengan suara beratnya.


Selena hanya menyengir kuda dan mengangkat jarinya berbentuk V.


“Sayang, bolehkah aku bertanya sesuatu?” Tanya Felix menatap wajah cantik Selena.


“Apa?” Tanya Selena


“Selama ini apa kau pernah merasa ada seseorang yang mengikuti mu?” Tanya Felix menyelipkan anak rambut Selena ke belakang telinganya.


“Eumm..” Selena nampak berfikir sejenak.


“Ada, tapi aku hanya acuh saja. Mungkin hanya orang iseng yang kurang kerjaan” ucap Selena mengedikkan bahunya.


“Oh ya? Sejak kapan?” Tanya Felix


“Aku baru mengetahuinya beberapa bulan yang lalu” jawab Selena menyandarkan kepalanya di dada bidang Felix.


'Hmm.. nyaman sekali’ ucap Selena dalam hati.


“Sudah berapa kali kamu melihatnya?” Tanya Felix lagi.


“Dua kali” singkat Selena,


“Dengan orang yang sama?”


Selena pun mengangguk lagi,


“Memang kenapa?” Tanya Selena merasa pertanyaan Felix sedikit aneh.


“Tidak, hanya ingin memastikan saja. Apa dia melukaimu?” Tanya Felix


Selena menggeleng,


“Tidak sama sekali. Bahkan yang pertama kalinya dia pernah membantu ku mendorong barang belanjaan ku ke dekat mobil” jawab Selena mengingat saat dimana dia sedang kesulitan membawa troli penuh dengan isi belanjaan Selena.


Felix mengangguk paham, secara tidak langsung ia bisa menyimpulkan bahwa orang itu memang tidak ada niatan jahat terhadap Selena.


Tapi siapa dia? Apa motifnya dan kenapa dia sampai rela menguntit kekasihnya sampai sejauh ini? Pertanyaan itu terus berputar di kepala Felix.


“Kenapa sih? Ada sesuatu yang tidak aku ketahui?” Tanya Selena penasaran.


“Untuk saat ini aku belum bisa menyimpulkan semua itu sayang, Dom sedang menyelidiki semuanya” ujar Felix mengusap lembut pipi Selena.


“Jangan bertindak yang aneh-aneh, dia tidak melukai ku sama sekali. Sepertinya dia orang baik” ucap Selena memberi tahu.


“Iya, aku tidak akan melakukan apapun sebelum semua itu terbukti jika yang dia perbuat memang berunsur kejahatan” ucap Felix.


Selena menganggukkan kepalanya setuju dengan ucapan Felix.


“Sudah malam, ayo tidur” ajak Felix pada gadis itu.


“Sebentar saja, rasanya sangat nyaman sekali” gumam Selena masih dengan posisi bersandar di pelukan Felix. Gadis itu memejamkan matanya menikmati momen-momen kehangatannya bersama pria itu.


Senyum manis pun terbit di bibir Felix. Perlahan Felix merasa kalau Selena mulai jatuh cinta padanya.


‘Aku menyukai mu yang seperti ini Selena’ ucap Felix dalam hati.


“Baiklah, sesuka hatimu saja tuan putri” ucap Felix terus mengusap surai lanjang Selena.


Lama kelamaan Selena tertidur di pelukan dada bidang pria itu.


Felix yang menyadari itu seketika terkekeh pelan.


“Astaga kenapa menggemaskan sekali” gumam Felix menundukkan tatapannya.


Pria itu akhirnya menggendong Selena menuju kamarnya.


Felix meletakkan tubuh Selena dengan perlahan agar gadis itu tidak terbangun.


Tangannya menarik selimut untuk Selena hingga sebatas dada.


Sedetik kemudian Felix mengecup kening Selena dengan lembut.


“Cup!”


“Selamat malam sayang” ucap Felix mematikan lampu kamar Selena menggantinya dengan lampu temaram.


Pria itu meninggalkan kamar Selena dan menutupnya perlahan.