
Pagi ini Dave bersiap menemui Charlos di kantor tempat mendiang kedua orang tua Selena bekerja.
Pria paruh baya itu akan menyusun rencana bersama Charlos.
“Silahkan Tuan” ucap Pengawal membukakan pintu mobil untuk Dave.
Dave pun masuk ke dalam mobil dan melaju meninggalkan mansion.
“Mario” panggil Dave.
“Iya Tuan” jawab Mario
“Tolong tempatkan beberapa pengawal di sekitar apartemen Felix, dan utus juga beberapa untuk mengikuti kemanapun mereka pergi. Jangan sampai pengawasan pada calon menantu ku lengah, sebentar lagi situasi sedikit tidak aman.” Ucap Dave mewanti-wanti.
“Baik Tuan Besar, saya akan mengutus beberapa orang untuk memperketat pengawasan pada Nona dan Tuan Muda” jawab Mario mengangguk pasti.
Sementara Felix saat ini sedang berada di kamar Selena. Pria itu sejak malam menemani tidur gadis itu. Hanya menemani tidur, tidak ada kegiatan apapun sebab Felix menanamkan prinsip pada dirinya untuk tidak merusak sesuatu yang akan menjadi miliknya.
“Honey..” panggil Felix mengeratkan pelukannya pada Selena.
Pria itu tak lepas dari tubuh Selena, keduanya sama-sama nyaman dengan hal itu. Selena juga sama sekali tidak melayangkan protes. Jika itu Juan, sudah pasti Selena akan menolaknya mentah-mentah. Entah kenapa bersama Felix rasanya sangat berbeda.
“Hmm.. jam berapa ini?” Gumam Selena dengan mata setengah tertutup.
Felix yang gemas pun mengecup tengkuk Selena.
“Sekarang jam sembilan honey” jawab Felix mendusel di tengkuk gadis itu.
”Apa??! Kita telat dong sayang?!” Pekik Selena melebarkan bola matanya.
“Apa yang telat? Aku memang sengaja tidak ke kantor. Hari ini tidak ada pertemuan apapun” jawab Felix enteng.
“Ck! Mana ada begitu! Kau ini bos seharusnya menjadi contoh yang baik” tegur Selena berdecak kesal.
Mentang-mentang bos seenaknya saja. Batin gadis itu.
“Hanya sekali honey, aku merasa malas sekali. Lebih baik kita bermesraan saja” ucap Felix melayangkan kecupan di tengkuk Selena berkali-kali.
“Ishh sayang geli!” Protes Selena.
Felix terkikik mendengarnya.
“Cepat mandi kita berangkat sekarang” ucap Selena pada pria itu.
“Kita sudah telat dua jam sayang. Apa kata mereka” ucap Felix beralasan.
“Lebih baik telat daripada tidak sama sekali. Apa juga kata mereka jika kita tidak masuk bersamaan? Ayolah Felix, aku tidak mau menjadi bahan perbincangan mereka” ucap Selena berusaha membujuk kekasihnya itu.
“Jangan pikirkan sesuatu yang tidak penting. Masa bodoh saja honey” jawab Felix sekenanya.
“Ck! Terserah!” Decak Selena turun dari ranjangnya meninggalkan Felix yang masih pewe di atas tempat tidur.
“Honey mau kemana?!” Teriak Felix
Selena melenggang pergi begitu saja tanpa berniat menjawabnya.
“Ah wanita memang sulit di mengerti” keluh Felix bangun dari ranjang menyusul Selena.
Selena merasa kesal dengan sikap Felix yang seenaknya sendiri.
Gadis itu memilih menyibukkan diri di dapur untuk membuat sarapan.
Kebetulan semua bahan masakan yang di butuhkan Selena masih komplit karena semenjak belanja di hari itu dirinya hanya memasak beberapa kali saja.
Tangannya mulai memindai bahan-bahan yang ada di lemari es.
“Sepertinya sup iga sangat cocok untuk suasana pagi ini. Semoga saja Felix menyukainya” gumam Selena mengeluarkan beberapa daging.
“Aku selalu suka dengan apa yang kamu masak honey, jangan khawatir aku pasti menghabiskannya” ucap Felix tiba-tiba muncul entah dari mana.
“Ck! Bisa nggak kamu nggak bikin kaget” protes Selena pada pria itu.
Felix terkekeh pelan berjalan mendekati Selena.
“Maafkan aku” ucap Felix memeluk gadis itu dari belakang.
“Jangan ganggu, aku sedang memotong daging” tegur Selena
“Hanya memeluk saja honey. Aku tidak akan banyak gerak” ucap Felix mengeratkan pelukannya.
Pria itu bak perangko selalu saja menempel pada Selena. Entah angin apa yang membuat Felix pagi ini sedikit manja padanya.
“Mau aku bantu?” Tawar Felix.
“Tidak perlu, cukup lihat saja dan duduk disana. Jika begini aku tidak fokus sayang” ucap Selena menolak.
“Oke-oke. Aku akan menonton saja” pasrah Felix tidak ingin mengacaukan aktifitas Selena.
Selena pun tersenyum lembut mendengar ucapan Felix.
“Jangan senyum begitu dong, aku jadi semakin ingin berdekatan dengan mu saja” protes Felix pada gadis itu.
Sejak kapan pria itu jadi hobi menggombal seperti ini?
Felix terus menatap pada wajah cantik Selena yang sedang serius memotong semua bahan masakan.
Selena hanya acuh saja, dari pada pria itu rewel lagi?
Sementara di gedung rahasia milik intelligent saat ini Dave sedang duduk berhadapan dengan Charlos dan Roy, mereka berdua adalah paman dan keponakan yang sama-sama menggeluti bidang intelligent.
“Roy, apa kau sudah mengumpulkan bukti korupsi Robert di kantornya sendiri?” Tanya Dave pada Roy.
“Sudah Tuan, hanya beberapa. Tapi saya rasa sudah cukup kuat untuk menaikkan kasus ini ke meja hijau” ucap Roy yakin.
Charlos mengangguk pelan,
“Sebaiknya kita segera bertindak. Sebelum mereka mencurigai pergerakan kita” ucap Charlos memberi arahan.
“Baiklah. Roy, kau temani aku untuk menyerahkan laporan ini pada pihak berwajib” ucap Dave
“Kenapa tidak saya saja Tuan? Tuan hanya tinggal terima beres” usul Roy.
“Tidak Roy, aku harus ikut. Agar semuanya jelas dan kesaksian ini murni dari ku.” Ucap Dave.
Roy mengangguk mengerti.
“Baiklah. Paman, Roy pamit” ucap Roy pada Charlos.
“Ya, hati-hati. Semoga semua berjalan lancar” ucap Charlos mendoakan.
“Baik. Charlos, aku permisi” pamit Dave
“Semoga berhasil” sahut Charlos memberi dukungan pada Dave.
Dave dan Roy pun keluar dari gedung itu.
Sementara di belahan bumi lain, Juan sedang transit di bandara karena penerbangannya kali ini menuju dua negara sekaligus.
Pria itu sejak kemarin merasa tidak begitu semangat karena Selena menghilang tanpa kabar begitu saja.
Ingin rasanya Juan pergi mencari keberadaan Selena tapi masa cuti nya telah habis. Hanya tinggal jadwal padat yang menantinya kedepannya. Juan menyesal selama ini telah menyia-nyiakan banyak waktu untuk bertemu kekasihnya itu.
“Kemana kamu Selena? Apa yang terjadi dengan mu, kenapa sampai sekarang kau masih sulit untuk di hubungi” gumam Juan menatap layar ponselnya.
Ia merindukan dimana setiap saat ponselnya selalu masuk notif dari Selena. Dia merindukan celotehan Selena yang cerewet seperti biasanya.
Juan merindukan semua hal yang ada pada gadis itu.
“Apa kau tidak pernah berpikir kalau aku disini tidak tenang tanpa kabarmu” imbuh Juan lagi.
Berpikir? Dia saja tidak pernah berpikir jika dirinya sudah melukai Selena.
“Sedang apa? Menyesali Selena lagi?” Tanya Elle yang datang membawakan sebotol air mineral.
Juan menoleh sekilas lalu kembali fokus menatap ponselnya tanpa berniat menjawab pertanyaan Elle.
“Kau seharusnya senang, kenapa sekarang bersedih? Dulu kau sering protes karena Selena selalu saja mengganggu waktu mu. Sekarang baru menyesal setelah kehilangan” ucap Elle
“Tolong jangan buat aku semakin merasa bersalah Elle” ucap Juan menundukkan pandangannya.
“Kenapa? Memang seharusnya itu yang kau rasakan sejak awal sebelum kau berkhianat padanya” sahut Elle santai.
“Kenapa kau seakan menyalahkan dan menyudutkan ku atas semua yang kita lakukan bersama?” Tanya Juan menatap Elle sengit.
“Lalu siapa? Aku? Hah! Juan.. Juan. Dari awal aku sudah memberi mu pilihan, kau bisa bersamaku seterusnya asalkan tinggalkan kekasihmu. Tapi yang terjadi kau malah mempertahankan keduanya sampai saat ini. Kau terlalu serakah Juan, semua yang kita dapatkan dengan cara yang salah pasti akan hilang salah satunya. Bahkan semuanya” ucap Elle penuh makna.
“Mudah mengucapkan. Tapi kau tidak merasakan berada di posisi ku Elle” jawab Juan.
“Jangan egois dengan mengatasnamakan posisi. Kau juga tidak merasakan bagaimana perasaan ku dan Selena. Kau tidak mengerti itu Juan.” Sahut Elle melengos.
“Aku akan pergi jika pada akhirnya kau akan tetap memilih Selena. Lebih baik aku sakit lebih awal dari pada terus bertahan di sisi mu tapi merasakan sakit sampai akhir” ucap Elle tersenyum getir.
Juan menatap wajah cantik Elle. Sejujurnya dia merasa dilema di situasi ini.
Ia sangat ingin mempertahankan hubungannya dengan Selena, tapi dia juga tidak ingin kehilangan Elle. Juan merasa frustasi dengan hal ini.
“Elle, tidak bisakah kau bertahan sebentar saja? Aku masih membutuhkan mu Elle” ucap Juan memohon.
“Lebih tepatnya membutuhkan tubuh ku kan?” Ucap Elle tersenyum miring.
“Apa maksud ucapanmu? Aku sama sekali tidak berpikir ke arah sana. Aku membutuhkan support darimu. Aku tidak bisa jika menghadapi ini sendirian Elle, aku buntu sekarang benar-benar tidak tahu harus bagaimana” ucap Juan
“Bukankah itu benar? Kau selalu bilang aku hanya pemuas nafs* mu saja kan? Bohong jika kau berkata tidak” sarkas Elle.
Juan hanya terdiam mendengar perkataan Elle.
Elle yang merasa jengah pun memilih pergi tidak ingin berlama-lama berdebat dengan pria plin plan seperti Juan.
‘Kenapa aku sangat mencintai pria bodoh itu! Kenapa sulit sekali menghapus perasaan ini padanya’ batin Elle dalam hati.