Love In Dubai

Love In Dubai
Chapter 6 | Tinggalkan saja dia



Keesokan paginya Selena mengemasi barang-barang yang akan ia bawa untuk tinggal di apartemen Felix. Tidak semua hanya yang menurutnya penting saja. Gadis itu memasukkan barang keperluan nya ke dalam koper.


“Hufthhh.. semoga ini keputusan yang tepat, lagi pula hanya sementara kan?”


“Juan, maafkan aku. Aku tau ini salah, tapi aku tidak ada pilihan lain” ucapnya mellow.


“Ah sudahlah! Lebih baik aku berangkat sekarang” gumam nya menenteng koper menuju lantai bawah.


“Naomi, Saya akan pindah ke apartemen milik teman saya untuk sementara waktu. Jadi untuk sementara waktu juga kamu tidak perlu datang kesini ya. Tapi tenang saja, upah mu tetap full sesuai hari kerja mu.” Ucap Selena saat berpapasan dengan pelayan part time nya.


“Wah tidak perlu nona, saya merasa tidak pantas. Masa’ saya makan gaji buta” ujar Naomi merasa sungkan.


“Tidak apa-apa. Anggap saja ini sebagai tanda terimakasih ku” ucap Selena menyerahkan amplop coklat ke tangan Naomi.


“Terimakasih banyak Nona, semoga kebahagiaan senantiasa menghampiri Nona” doa Naomi tulus.


“Sama-sama” ucap Selena tersenyum hangat.


“Ya sudah, kalau begitu saya permisi dulu Nona, kebetulan tugas saya sudah selesai.” Pamit Naomi pada Selena.


“Iya, hati-hati Naomi” pesan Selena.


Sepeninggal Naomi, Selena pun mengunci semua pintu rumahnya. Ia berpesan pada security untuk selalu berjaga dan mengawasi apapun yang menurutnya janggal. Karena selama ini Selena merasa ada yang mengawasi semua gerak geriknya.


Tapi selama dalam batas wajar dan tidak membahayakan dirinya, Selena hanya acuh saja. Mungkin hanya orang iseng, pikir Selena.


Mobil pun melaju meninggalkan rumah kediamannya yang ia huni selama satu tahun ini.


Sesampainya di kantor, Selena langsung menuju ke ruangannya. Pandangannya menelisik ke arah ruangan bosnya yang hanya bersekat dinding kaca transparan.


Sepertinya belum ada tanda-tanda bos dingin nya itu datang.


Selena segera masuk merapikan meja kerja Felix yang berantakan.


Sebenarnya ini bukan tugasnya, melainkan OB. Namun kebersihan dan kerapian semua barang yang ada di ruangan Felix adalah tanggung jawab Selena sebagai sekretaris.


Gadis itu dengan telaten merapikan berkas-berkas kerja milik bosnya.


Tak lama pintu ruangan pun terbuka, menampakkan sosok Felix dengan penampilan cool nya.


“Eh, Anda sudah datang Pak” sapa Selena melihat kedatangan Felix.


“Ya, seperti yang kau lihat”


“Pulang nanti bersama saya” ujar Felix


“Lalu bagaimana dengan mobil saya?” Tanya Selena menoleh ke arah Felix yang duduk di sofa.


“Itu soal gampang. Saya akan menyuruh orang untuk mengantarnya ke apartemen” ucap Felix.


Selena mengangguk paham. Walau sebenarnya ia merasa bingung. Kenapa tidak menyetir sendiri-sendiri saja pikirnya.


“Sudah beres, saya permisi kembali ke ruangan saya Pak” pamit Selena membungkukkan badannya.


Felix mengangguk mengerti.


Sepeninggal Selena, Felix mendapat telpon dari orang suruhannya.


“Halo”


“Halo Tuan, menurut informasi yang saya dapat Dominic Young dan Emily Young adalah sepasang pasutri yang dulunya menjadi detektif, mereka cukup terkenal di kalangan elit sebab jasa mereka sudah tidak bisa di ragukan lagi. Banyak sekali orang-orang yang menyewa jasa mereka untuk mengungkap kasus-kasus yang bahkan sudah tenggelam” terang seseorang di balik sambungan telpon.


Felix terdiam sejenak, ternyata orang tua Selena bukan orang sembarangan.


“Lalu apa penyebab kematiannya?” Tanya Felix lagi.


“Soal itu saya masih menyelidiki nya Tuan, sebab berita kematian keduanya langsung di redam begitu saja tanpa ada kelanjutan penyelidikan lebih dalam oleh aparat kepolisian. Saya rasa kecelakaan itu bukan murni adanya, karena beberapa minggu setelahnya seluruh media juga di padamkan tentang berita kecelakaan itu” jelasnya.


Felix merasa semua ini memang janggal, dia tidak akan tinggal diam mengenai kasus ini.


“Kalau begitu cari tau segera! Saya ingin kasus ini terbongkar secepatnya, bila perlu cari sampai akarnya” titah Felix pada orang itu.


“Baik Tuan”


Sambungan pun terputus, Felix menyimpan ponselnya kembali ke dalam saku celananya.


“Sepertinya aku harus meminta bantuan Papa”


Ia jengah setiap berpapasan dengan ibunya hal yang selalu di bahas tidak lain mengenai perjodohan yang memuakkan itu.


Sementara di Bandara International Dubai,


Seorang Pilot gagah dan tampan kini tengah landing, Pria itu selalu di temani oleh wanitanya yang juga berprofesi sebagai Pramugari.


“Bisa minta tolong, bawakan ransel ku sebentar” ucap Juan.


“Dengan senang hati my capten” jawab wanita itu dengan senyum manisnya.


“Terimakasih” ucap Juan sambil mencubit gemas pipi wanita itu.


“Ishh nakal banget sih” rajuknya.


“Tapi kamu suka kan” goda pria itu.


“Tapi Juan, apa setelah ini kau akan langsung mengambil cuti?” Tanya wanita itu dengan ekspresi wajah serius.


“Entahlah Elle, maybe yes. Selena sudah seperti macan mengamuk jika aku tidak segera menemui nya” ungkap Juan pada wanita bernama Elleanore yang kerap di sapa dengan sebutan Elle itu.


“Ck! Kau tidak merindukan ku?” Tanya Elle berdecak kesal.


“Elle, dengarkan aku. Walau bagaimanapun Selena tetap menjadi bagian dari hidupku. Dia hadir lebih dulu sebelum kita bertemu. Aku mohon pengertian mu Elle”


“Lagi pula kau lebih sering bertemu dengan ku dan banyak waktu untuk bersama di banding Selena, aku merasa tidak adil jika harus mengorbankan waktu ku lebih banyak untuk mu, ku mohon mengertilah kali ini” ucap Juan panjang lebar.


Elle terdiam sejenak, dalam hatinya sangat kesal setiap mereka bersama tapi pikiran Juan selalu Selena,Selena dan Selena. Bahkan tak jarang Juan terang-terangan di depannya membalas pesan ataupun telfon dari wanita itu.


“Berapa lama?” Tanya Elle datar.


“Tidak lama, hanya satu minggu” jawab Juan.


Elle menghembuskan nafasnya kasar.


“Satu minggu itu terlalu lama Juan, lalu bagaimana dengan ku? Aku tidak bisa berjauhan lama-lama dengan mu” kekeh Elle tak ingin perhatiannya terbagi.


“Elle please.. kali ini bekerjasamalah. Jika tidak begini lalu bagaimana dengan Selena? Aku tidak ingin Selena menaruh curiga padaku. Kau tahu itu” ucap Juan frustasi.


“Tinggalkan saja dia, apa susahnya? Lagi pula kenapa juga kau masih mempertahankan hubungan mu yang tidak sehat itu? Kau sama saja menyakiti hati dua wanita sekaligus Juan, kau egois!” Sentak Elle begitu marahnya terhadap Juan yang masih saja memikirkan Selena.


Juan menggelengkan kepalanya. Tak habis pikir.


“Aku egois? Kau yang egois Elle, sedari awal kau tau aku dan Selena lebih dulu menjalin hubungan. Sementara kau datang dan menggodaku, sekarang kau menginginkan posisi yang seharusnya tidak kau tempati begitu? Open your mind Elle!” Ucap Juan tak kalah keras nya.


Yang benar saja dia menyuruhnya untuk meninggalkan Selena yang menemani nya selama dua tahun ini.


Hal yang paling berat adalah kehilangan Selena, sebab Selena selalu ada disaat susah dan terpuruknya Juan pada saat dia menapaki awal karirnya di dunia penerbangan.


“Jika kau tidak terima dengan keputusanku, silahkan saja aku tidak peduli. Lebih baik kita akhiri saja hubungan ini Elle” ucap Juan membuang pandangannya ke segala arah.


Elle menggeleng kuat,


“No! Aku tidak mau!” Tolak Elle cepat.


“Lalu apa maumu??!” Cecar Juan menatap netra Elle dengan tajam membuat wanita itu sedikit ketakutan.


“Oke fine, aku menyetujui keputusanmu” ucap Elle pada akhirnya.


“Tapi ku mohon jangan tinggalkan aku Juan, aku tidak bisa” ucap Elle mengeluarkan airmatanya.


Melihat itu, seketika hati Juan menjadi luluh. Hal yang paling ia tidak bisa adalah melihat seorang wanita menangis.


“Maafkan aku, aku tidak bermaksud berkata kasar padamu” ucap Juan mendekati Elle lalu memeluk wanita itu.


“Hiks.. hiks.. aku tidak bisa berpisah darimu Juan, aku tidak bisa” ucap Wanita itu sesegukan.


“Ssst.. sudah, aku tidak akan meninggalkan mu” ucap Juan menenangkan Elle dengan mengusap-usap punggung wanita itu.


“Janji?”


Juan menganggukk,


“Ya, aku berjanji” jawab Juan dengan pelan.


Pria itu sama sekali tidak menyadari, bahwa perkataan nya suatu saat akan menjadi boomerang bagi dirinya sendiri dan menjadi luka bagi Selena. Entah apa jadinya jika Selena tau bahwa kesetiaan nya selama dua tahun ini telah berubah menjadi pengkhianatan.