
“Hikss.. hiks..!” Selena terus terisak sepanjang perjalanan sementara Hana yang duduk di sampingnya hanya menatap bingung bagaimana cara meredakan tangis wanita itu. Kehamilan Selena masih terlalu dini untuk mengalami kejadian shock yang akan membuat wanita itu stress berkepanjangan.
“Nona, bagaimana kalau kita singgah ke taman kota? Mungkin suasana di sana bisa sedikit membantu mengurangi beban pikiran” usul Hana mengusap pelan punggung Selena.
“Tidak Han, disana banyak orang. Aku tidak ingin menjadi pusat perhatian orang-orang dengan kondisi ku yang menyedihkan ini” tolak Selena menatap sendu ke arah luar.
“Baiklah jika Nona menolak, kita kembali ke rumah sakit saja” ucap Hana.
Selena menggelengkan kepalanya.
“Kita akan ke makam, aku ingin menemui kedua orang tuaku” ucap Selena tiba-tiba terlintas ke arah sana.
Ia tahu saat ini Felix pasti sedang mencarinya, karena pada saat di lobi mereka berpapasan dengan Dom yang juga datang ke kantor Felix. Tidak menutup kemungkinan jika Dom pasti mengatakan pada Felix mengenai kehadirannya di kantor.
“Tapi apakah tidak terlalu beresiko Nona? Bagaimana kalau Tuan Felix marah?” Tanya Hana sedikit ragu. Pasalnya kedatangan mereka ke kantor saja tidak meminta izin pada pria itu, sekarang ke makam pun tanpa izin darinya? Hana tidak akan membayangkan kalau saja Felix marah.
“Biarkan saja, apa pedulinya” jawab Selena acuh. Hatinya terlanjur sakit mengingat kejadian tadi. Apalagi kata-kata yang keluar dari mulut Celline begitu jelas terdengar di telinganya.
Hana menghembuskan nafasnya kasar, sedetik kemudian ia melihat ke arah kaca spion kemudi. Tatapan matanya bertubrukan dengan pengawal yang sedang mengemudikan mobil.
Pengawal itu menganggukkan kepalanya pelan.
“Baiklah, Nona. Tapi hanya sebentar, karena sebentar lagi hari mulai sore” ucap Hana memperingati.
“Terimakasih Hana” ucap Selena tersenyum singkat.
Jika orang yang paham maka mereka akan mengartikan senyuman itu adalah senyuman penuh luka.
Tak membutuhkan waktu lama, akhirnya mobil yang mereka tumpangi sampai di pemakaman.
Pengawal turun membuka kan pintu mobil untuk Selena, sementara Hana membantu wanita itu keluar dari mobil.
“Mari Nona” ucap Hana meraih tangan Selena.
“Kalian tunggu disini saja, biarkan aku kesana sendiri” ucap Selena yang menyuruh Hana serta dua pengawal untuk menunggu nya di hamparan parkir luas.
“Tapi Nona, kami tidak mungkin membiarkan Nona sendiri, biarkan kami menjaga Nona dari jarak dekat” ucap Hana tidak menyetujui permintaan Selena.
“No Han, aku ingin sendiri. Aku butuh ketenangan saat ini.. hanya beberapa jam saja, tolong” mohon Selena dengan tatapan mengiba membuat Hana dan kedua pengawal itu mendesah pelan.
Apalagi yang mereka bisa lakukan selain hanya pasrah menuruti permintaan wanita hamil itu?
“Baiklah, hanya satu jam” putus Hana di angguki oleh kedua pria berbadan kekar itu.
Selena tersenyum singkat dan melambaikan tangannya berjalan menuju nissan Dominic dan Emily.
Dari kejauhan Selena melihat seseorang sedang berjongkok di depan nissan kedua orangtua nya, namun hanya punggung nya saja yang dapat Selena lihat.
‘Siapa dia? Kenapa aku baru melihatnya?’ gumam Selena terus berjalan mendekati pria asing itu.
“Ehmm.. maaf anda siapa ya? Apakah anda mengenal mendiang kedua orang tua ku?” Tanya Selena membuat pria itu menoleh ke arahnya.
Sejenak mereka saling tatap, pria itu tersenyum samar hampir tak terlihat, sedangkan Selena kesulitan meneliti wajahnya karena pria itu mengenakan kaca mata hitam yang bertengger di hidungnya.
“Halo..” ucap Selena menyadarkan lamunan pria itu.
“Ehm.. kamu anak dari Dominic dan Emily?” Tanya pria itu mengabaikan pertanyaan Selena.
“Iya. Anda siapa?” Tanya Selena kembali.
Pria itu lantas menyunggingkan senyum miringnya.
‘Sepertinya dewa keberuntungan sedang berpihak padaku’ ucap Pria itu dalam hati.
“Aku teman lama Dominic dan Emily. Perkenalkan, namaku Johan”
Sedangkan dalam perjalanan nya Felix menuju rumah sakit tempat dimana istrinya di rawat. Pria itu membelokkan stir nya tajam menuju area parkiran.
Setelah memarkirkan mobilnya Felix bergegas keluar dan berlari. Langkahnya semakin lebar tergesa-gesa, tujuannya kali ini adalah menemui istrinya dan akan menjelaskan semua kekeliruan dan kesalahpahaman di antara mereka setelah Felix mendesak Dom untuk segera mengirimkan bukti-bukti kebohongan Celline.
Sampai di depan ruangan Selena, Felix meraih handle pintu, pertama kali yang ia lihat ruangan itu kosong, tidak ada selang infuse. Hanya tersisa selimut dan bantal yang belum sempat wanita itu rapikan.
Felix pun kembali keluar dan ia baru ingat, pengawal yang berjaga di depan kamar istrinya juga tidak ada disana.
“Shit! Kemana perginya?!” Umpat Felix merasa kesal.
Pria itu bergegas pergi ke ruang dokter.
Sampai di dalam Felix merangsek masuk menemui dokter yang menangani Selena.
“Permisi dok, apakah istri saya belum kembali?” Tanya Felix to the point.
Dokter itu seketika menatap bingung ke arahnya.
“Maksud anda apa Tuan? Bukankah Nona Selena menyusul anda ke kantor? Tadi sehabis makan siang Nona Selena meminta izin untuk datang ke kantor anda” terang dokter
“Benar, dan itupun tanpa sepengetahuan saya Dok, setelah dari kantor dia pergi dan sekarang dimana istri saya?” Cecar Felix menuntut jawaban yang sudah pasti dokter itu tidak tahu.
“Saya tidak mengetahui keberadaan Nona Selena Tuan, bahkan seharusnya ini sudah waktunya jam kunjungan saya untuk memeriksa istri anda. Saya berpesan kepada maid anda agar sore ini kembali, tapi sampai sekarang belum ada tanda-tanda kedatangan mereka” ucap Dokter itu merasa bingung.
Felix meraup wajahnya kasar. Seharusnya dia tidak meladeni kehadiran Celline jika ia tahu akan berakhir seperti ini.
Tidak ada cara lain lagi, pria itu segera menghubungi Hana.
Sementara di pemakaman, Johan terus membujuk Selena agar mau ikut dengannya tanpa harus menggunakan kekerasan, karena dirinya tahu betul saat ini gerak geriknya di awasi oleh pengawal Felix.
Ia tidak mungkin bertindak gegabah karena saat ini dirinya tidak membawa anak buahnya, sebab tujuannya kemari hanya ingin mengintai jika sewaktu-waktu Selena datang, dan inilah saat yang di tunggu-tunggu oleh Johan.
“Om kenal dari mana? Setahu saya ayah dan ibu hanya memiliki beberapa teman, tidak banyak mereka bergaul dengan orang-orang. Apakah Om juga satu profesi dengan ayah dan ibu?” Tanya Selena panjang lebar. Wanita itu ingin tahu semua orang-orang yang berkaitan dengan kedua orang tuanya.
“Kami berteman bukan se profesi, dan tidak terlalu dekat. Dan aku cukup terpukul dengan berita kematian mereka, baru sekarang aku bisa mengunjunginya karena selama ini aku berada di negara lain” ungkap Johan membuat Selena mengernyit bingung.
Setahu dirinya orang tuanya tidak pernah berteman dengan siapapun kecuali partner se-profesinya. Bahkan dengan Dave yang notabene adalah klient besar saja Dominic dan Emily enggan memiliki hubungan dekat. Mereka akan bersikap selayaknya rekan bisnis saja.
“Lalu apakah Om juga sering berkomunikasi dengan ayah dan juga ibuku?” Tanya Selena
“Tidak. Sudah ku katakan kami tidak terlalu dekat. Dan aku baru menyadarinya sekarang setelah mereka tiada” ucap Johan.
‘Sial! Gadis ini sulit sekali di pengaruhi!’ Umpat Johan dalam hati. Pria itu bingung harus mengarang cerita seperti apa lagi di depan Selena.
“Kalau kau ingin tahu seberapa dekat hubungan kami, kamu bisa ikut saya. Ada suatu tempat yang menjadi rahasia antara kami bertiga. Yang pasti hanya kami bertiga yang tahu, tidak ada seorang pun yang mengetahuinya termasuk teman dekat se-profesinya” ucap Johan mulai menarik perhatian Selena.
“Oh ya? Rahasia apa? Apakah pertemanan orang dewasa begitu banyak menyimpan rahasia?” Tanya Selena kepo.
“Tentu saja, dan ya.. jika kau ingin mengetahui semuanya tanpa terkecuali kau bisa ikut dengan ku setelah ini. Dan jangan bawa siapapun termasuk para pengawal mu. Karena itu akan sangat beresiko” ucap Johan.
Selena semakin di buat bingung, rahasia macam apa yang orang tuanya simpan bersama pria asing ini?
Lama berpikir membuat Selena semakin pusing.
“Bagaimana?” Tanya Johan mendesak.
Selena menatap penuh ragu pada Johan, tapi dirinya begitu penasaran dengan apa yang pria itu katakan.
“Om yakin ini adalah rahasia penting? Jangan bercanda ya Om, Selena cuma ingin tahu masa lalu ayah dan ibu yang sejak kecil belum Selena ketahui.”
“Kau tenang saja, aku tidak mungkin berbohong. Lagi pula ini sudah waktunya kau mengetahui jati diri kedua orang tua mu sesungguhnya” ucap Johan semakin meyakinkan tekad Selena.
“Baiklah, aku setuju” ucap Selena tersenyum singkat membuat Johan tersenyum devil karena rencana nya kali ini berjalan mulus tanpa harus bersusah payah menghadapi anak buah Wilson.