Love In Dubai

Love In Dubai
Chapter 33 | Tamparan Grace



“Robert Castello adalah musuh terbesar keluarga ku” jawab Felix dengan ekspresi menahan amarah.


Hans menatap Felix penuh tanya.


“Kau tahu? Ayah mu itu adalah pembunuh detektif sewaan Papa ku, Dave Wilson” ungkap Felix menatap Hans dengan tatapan tajam.


“Apa yang terjadi sebenarnya? Aku sungguh tidak mengerti dengan semua ini, tolong beritahu aku apapun mengenai kejahatan yang sudah di lakukan pria keparat itu” pinta Hans dengan sungguh-sungguh. Ia begitu sakit mendengar kenyataan ini.


“Baiklah aku akan memberitahu mu. Dan setelah ini kau berhak memilih, ingin menjadi musuh ku atau bekerja sama dengan ku” ucap Felix.


“Aku sudah tidak mungkin membela nya lagi. Apa aku gila membiarkan seorang ayah yang seharusnya menjadi contoh bagi anaknya tapi malah lebih buruk kelakuannya” terang Hans mantap.


“Bagus jika kau bisa berpikir. Ayah mu sudah terlalu banyak membuat kesalahan pada keluarga ku terutama keluarga calon istriku..” ucap Felix menjeda kalimatnya.


“Dulu ayah mu adalah teman Papa ku, tapi mereka tidak terlalu dekat. Ayah mu ingin mengajak Papa ku berbisnis gelap tapi Papa ku menolaknya mentah-mentah hingga menimbulkan dendam di hati ayah mu. Sampai-sampai perusahaan ku bangkrut itu semua karena ulah ayahmu” ucap Felix dengan tatapan memancarkan kemarahan. Jujur saja ia masih sangat dendam dengan kejadian itu, yang harus berimbas pada masa muda nya yang harus mati-matian bekerja keras memulihkan kondisi perusahaan.


Hans menggelengkan kepalanya tak percaya, ternyata kejahatan ayahnya sudah mendarah daging.


“Papa ku menyewa detektif untuk mengusut kasus korupsi yang menyebabkan perusahaan koleps, hingga pada saat detektif itu sudah mengetahui dalang di balik semua permasalahan adalah ayah mu. Tapi ayah mu justru membunuh sepasang suami istri yang berprofesi sama itu dengan memanipulasi kecelakaan. Mereka meninggalkan seorang anak perempuan yang saat ini akan menjadi calon istriku, ayah mu membuatnya menjadi gadis sebatang kara yang harus berjuang untuk membiayai hidupnya sendiri” jelas Felix dengan mata memerah menahan amarah. Hatinya sakit setiap mengingat masa lalu Selena.


Hans merutuki kebodohannya kenapa dulu ia sangat cuek bahkan tidak peduli dengan apa yang Robert lakukan setiap harinya.


Hans masih ingat betul betapa Robert dengan kejam nya menghajar anak buahnya yang gagal melakukan misi. Hans tidak lupa hal itu.


“Aku benar-benar menyesal telah menjadi bagian dari hidupnya, rasanya aku ingin mati saja. Tapi bagaimana dengan Mami ku” ucap Hans frustasi.


Malu, dia malu dengan semua ulah Robert yang tidak bisa di terima dengan akal sehatnya. Kejahatan ini bahkan bukan sekelas manusia melainkan mirip binatang.


“Semua yang ayah mu lakukan akan ku pastikan dia menerima bayaran yang setimpal, aku sudah tidak bisa mentoleransi apapun.” Ucap Felix mantap.


Hans mengangguk mengerti, ia sudah tidak peduli lagi dengan hal itu.


“Lakukan bagaimana baiknya saja, aku sudah tidak peduli dia bukan lagi orang yang pantas ku anggap ayah. Bahkan aku akan mendukung seratus persen tindakan mu nantinya kak, jika ada apa-apa kau bisa meminta bantuan pada ku. Aku akan membantu mu sebisa mungkin demi menebus kesalahan di masa lalu” ucap Hans dengan tulus.


Felix menatap netra hans, tidak ada lagi rasa penyesalan.


“Terimakasih, jika kau berkenan untuk membantu kasus ini aku dengan senang hati menerima nya” ucap Felix menepuk bahu Hans.


Hans pun tersenyum singkat.


“Jika ada waktu luang datanglah ke kantor ku, pintu terbuka lebar untuk mu Hans” ucap Felix.


“Ya, aku pasti kesana. Terimakasih dan maaf atas semuanya” ucap Hans merasa bersalah. Padahal itu sama sekali bukan kesalahannya.


“Jangan terus menyalahkan dirimu. Robert lah yang pantas menerima itu” ucap Felix beranjak dari kursinya.


“Aku pergi dulu, masih ada urusan di kantor setelah ini. Jangan lupa datang” pamit Felix menepuk bahu pria itu.


Hans mengangguk tersenyum.


“Pasti” jawab Hans.


Di apartemennya Selena kedatangan Celline dan juga Grace. Dua wanita itu dengan lancangnya masuk ke dalam apartemen tanpa meminta izin pada Felix.


“Dari mana Mama tahu pin apartemen Felix?” tanya Selena memanggil Grace dengan sebutan akrab. Ia ingin mencoba berdamai dengan Grace, Selena tidak mau menjalin hubungan buruk dengan keluarga Felix.


“Itu bukan urusan mu! Dan jangan panggil aku dengan sebutan itu! Aku tidak sudi menjadi ibu mertua mu!” Ucap Grace sengit.


Celline tersenyum miring mendengar ucapan Grace.


“Maaf kalau begitu, Nyonya” putus Selena pada akhirnya. Benar yang di katakan Felix, ia tak akan mau lagi mencoba akrab dengan Grace. Semuanya hanya sia-sia.


“Itu lebih baik!” Sarkas wanita paruh baya itu.


“Kedatangan ku kesini hanya ingin menegaskan pada dasar wanita tidak tahu diri! Mulai saat ini dan seterusnya Celline yang akan menemani kemanapun Felix pergi, kau bukan siapa-siapa lagi karena sebentar lagi Celline akan bertunangan dengan putraku, cam kan itu!” Ucap Grace dengan nada penekanan.


“Maaf Nyonya, selama Felix sendiri belum memutuskan apapun saya tidak akan sedikit pun jauh darinya. Karena ini atas permintaan Felix sendiri. Nyonya tidak berhak memerintah saya karena anda bukan atasan saya” jawab Selena begitu santai. Ia sama sekali tidak terpengaruh dengan ucapan Grace.


Sontak Celline memelototkan bola matanya lebar.


‘Berani sekali perempuan ini!’ Umpatnya dalam hati.


“Persetan dengan itu semua! Kau sudah berani menjawab rupanya ya?!” Sungut Grace berapi-api.


“Saya berbicara sesuai kenyataan yang ada, bukan membuat-buat cerita seperti yang anda katakan barusan” ucap Selena menimpali. Gadis itu terlihat sangat anggun dan santai menghadapi dua nenek lampir itu. Jika dirinya terbawa emosi maka bisa-bisa Selena ikut gila.


“Kurang ajar sekali ya mulutmu!!”


Plakkk!!!


Satu tamparan Grace layangkan di pipi mulus Selena hingga menimbulkan bekas merah.


Celline yang menyaksikan itu tersenyum senang, ‘akhirnya hal yang aku tunggu-tunggu tiba’ batin Celline tersenyum smirk.


Selena memegang pipinya yang terasa panas akibat tamparan keras Grace.


“Rasakan itu dasar wanita tidak tahu diri!! Kau sudah semakin berani mentang-mentang Felix menampung mu disini! Jangan lupakan aku adalah ibunya!!! Aku berhak menentukan siapa wanita yang pntas berada di samping putraku!” Bentak Grace menatap nyalang Selena.


“Kau sudah tahu kan hubungan ku dengan Felix yang sebenarnya, aku harap kau tahu dengan posisi mu. Kau memang tinggal bersama dengannya, tapi kedepannya Felix akan terus bersama ku” ucap Celline akhirnya mengeluarkan suaranya.


Wanita itu pandai sekali berakting, mungkin jika tidak ada Grace dirinya sudah beradu mulut dengan Selena. Ia tidak ingin di pandang buruk di hadapan Grace.


“Aku tidak butuh pengakuan dari kalian. Maaf, jika sudah tidak ada kepentingan lagi tolong keluar dari sini. Felix akan marah jika mengetahui kalian berada di apartemennya tanpa izin darinya” terang Selena yang sudah jengah dengan kedua wanita ular itu.


“Kau berani mengusir kami?! Heh wanita j***** kau pikir kau siapa!!!!” Bentak Grace murka.


“Sudahlah aunty, kasihan dia. Sudah cukup aunty memberi tahu tentang hubungan ku dan Felix, sekarang kita pergi. Dia benar, kita belum meminta izin pada Felix tadi. Ayo aunty” ajak Celline mencari muka pada Grace.


Selena hanya mengamati interaksi keduanya, ‘cukup menjijikkan sekali akting wanita ini’ batin Selena muak.


“Huh! Baiklah. Lama-lama aku bisa melukai nya jika terus berada satu atap dengan wanita sepertinya” dengus Grace keluar dari apartemen itu disusul oleh Celline.