Love In Dubai

Love In Dubai
Chapter 44 | Kecurigaan Dave



Asyik berbincang di ruang tamu tiba-tiba mereka di kejutkan dengan kedatangan Dave.


Pria paruh baya itu melangkahkan kakinya tegas penuh kharisma di susul Mario yang membawa tas kerja Dave di belakang.


“Papa? Dari mana saja?” Tanya Grace menyapa suaminya.


“Kantor polisi” jawab Dave singkat.


Grace mengerutkan keningnya,


“Ada masalah apa? Memang siapa yang di penjara?” Tanya Grace mulai kepo.


Celline hanya mendengarkan percakapan kedua pasutri itu tanpa berniat menyapa Dave, wanita itu cukup sungkan dengan pria paruh baya yang auranya sangat dingin di banding Felix.


“Memenjarakan musuh lama. Mama lupa Robert adalah orang yang membuat bangkrut perusahaan” ucap Dave memberi tahu.


“Robert? Robert Castello musuh lama kita?!” Pekik Grace melongo.


“Astaga akhirnya pria keparat itu menerima balasannya!” Ucap Grace geram.


Dave mengangguk singkat.


Deg!!


Seketika jantung Celline meloncat tajam mendengar nama itu.


“A-apa? Robert Castello?” Tanya Celline reflek di tengah rasa keterkejutannya.


Grace dan Dave pun beralih menatap Celline bersamaan.


“Ya, kau mengenalnya?” Tanya Dave menatap intens Celline. Ia sedikit aneh dengan ekspresi yang di tunjukkan wanita itu.


“Ah! Tidak! Aku tidak mengenalnya. Kalau boleh tahu kasus apa yang menjeratnya Uncle?” Tanya nya kepo.


“Pembunuhan dan korupsi” jawab Dave datar.


Celline semakin gemetar mendengar pernyataan dari mulut Dave.


Dalam hatinya ia masih tak percaya jika Robert terjerat kasus seberat ini. Selama ini dia tidak tahu menahu siapa Robert sebenarnya karena dia hanya menginginkan hartanya tanpa ingin mencampuri urusan pribadi pria tua itu.


“Ada apa? Sepertinya dari gelagat mu kau cukup mengenal jauh pria itu” ucap Dave memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.


“Iya Celline, apa kau mengenal penjahat kelas kakap itu?” Tanya Grace.


“Tidak aunty!” Jawab Celline cepat.


“Oh.. syukurlah. Hati-hati jika berurusan dengan orang itu. Bisa-bisa usaha mu bangkrut di buatnya” ucap Grace memperingati.


“Ah tidak mungkin Celline mengenalnya aunty, Celline bahkan hanya mengenal keluarga Wilson saja. Lagi pula kan Celline lama tinggal di New York” ucapnya beralibi.


“Ah benar juga kata mu, aunty hampir melupakan hal itu.” sahut Grace terkekeh pelan.


Sejak tadi Dave mengamati gerak-gerik Celline, matanya menyipit merasa ada sesuatu yang di sembunyikan oleh gadis itu.


“Baiklah aunty, Celline masih ada urusan setelah ini. Celline pamit ya”


“Uncle, Celline permisi pulang”


Pamitnya pada Grace dan Dave.


”Ah kenapa buru-buru sekali. Bahkan kita belum makan siang” ucap Grace keberatan.


“Lain kali saja aunty” jawab Celline tersenyum manis ke arah Grace.


“Baiklah. Ayo aunty antar ke depan” ucap Grace menggandeng tangan Celline ke arah pintu utama.


Dave hanya mengangguk sekilas menatap kepergian gadis itu.


“Mario, selidiki wanita itu. Aku merasa ada yang janggal setelah dia mendengar Robert di penjara” titah Dave pada Mario yang stand by di belakangnya.


“Siap laksanakan Tuan” jawab Mario.


Setelah dari mansion Keluarga Wilson, Celline melajukan mobilnya menuju apartemen Robert yang sering pria itu singgahi pada saat mereka berkencan.


Mobilnya terparkir di depan apartemen, Celline bergegas naik ke atas demi memastikan bahwa ucapan Dave tidaklah benar.


Sesampainya di atas wanita itu memasukkan sandi yang telah mereka berdua buat dengan tanggal lahir Celline.


Pintu apartemen terbuka, suasana hening tidak ada tanda-tanda kehadiran Robert di sana.


Celline melangkahkan kakinya ke arah balkon.


Tidak ada siapapun disana.


Celline mencoba menghubungi ponsel milik Robert namun tidak ada jawaban bahkan nomornya tidak aktif.


“Dimana pria tua itu? Kenapa nomornya tidak aktif? Tidak mungkin dia sampai menonaktifkan ponselnya begini” ucap Celline gusar.


“Arrghh!!! Jika benar pria tua itu di penjara lalu siapa lagi yang akan aku peras? Felix saja sulit sekali di dapatkan!” Umpatnya kasar.


“Apa sebaiknya aku datangi saja ke kantor polisi? Tapi apa benar dia di penjara?”


Pertanyaan bodoh itu keluar dari bibir Celline. Sudah jelas-jelas apa yang Dave katakan begitu gamblangnya namun wanita itu bersikeras menolak kenyataan yang ada.


Ia segera pergi dari apartemen itu menuju kantor polisi terdekat di pusat kota.


Sesampainya di kantor polisi Celline berlari kecil menuju kantor penjaga


“Permisi Sir, disini apakah ada tahanan yang bernama Robert Castello?” Tanya Celline pada petugas kepolisian yang berjaga.


“Sebentar saya cek dulu” ucap Polisi itu.


“Ada, Robert Castello tahanan no A1 atas kasus pembunuhan berencana dan kasus korupsi. Anda siapanya?” Tanya polisi itu.


“Saya rekan bisnis nya” jawab Celline sekenanya.


“Bisakah saya bertemu dengan beliau?” Tanya Celline.


“Bisa. Waktu anda hanya dua puluh menit” ucap petugas itu.


Celline mengangguk mengerti.


“Silahkan duduk.” Ucap petugas itu mempersilahkan.


Tak lama Robert datang dengan kondisi kedua tangannya di borgol.


Polisi itu meninggalkan keduanya yang kini duduk saling berhadapan.


Celline menatap nanar wajah keriput itu.


“Hai baby, ternyata kau tahu aku disini” ucap Robert menatap penuh minat ke arah Celline.


“Tentu saja aku tahu. Kau adalah pria paling ceroboh yang aku kenal” ketus Celline menatap kesal ke arah pria paruh baya itu.


“Why? Apakah kau merindukan hentakan ku? Benar begitu?” Ucap Robert dengan percaya dirinya.


Celline hanya memutar bola matanya malas.


“Ngomong-ngomong kenapa bisa Daddy sampai di jebloskan di kantor polisi? Bukankah Daddy lebih licik dari siapapun?” Tanya Celline menatap sengit Robert.


Robert mengedarkan pandangannya menatap ke arah sekitar, ia ingin memastikan bahwa pembicaraan nya kali ini tidak ada siapapun yang bisa mendengar.


“Daddy juga tidak tahu. Yang pasti saat ini Daddy harus menculik seseorang agar tuntutan ini bisa bebas” ucap Robert pelan.


Celline mengerutkan keningnya heran.


“Siapa yang akan Daddy culik? Memangnya dia punya pengaruh sebesar apa terhadap kasus yang menjerat Daddy?” Cecar Celline tak mengerti.


Bisa-bisanya saat sedang menjadi tersangka pria itu masih berpikir untuk menculik seseorang. Benar kata Grace, Robert adalah penjahat kelas kakap.


“Dia adalah putri dari orang yang aku bunuh sebelum dia berhasil mengungkap kejahatan yang aku buat di perusahaan teman lama ku” ucap Robert.


“Apa teman lama Daddy adalah Dave Wilson?” Tanya Celline memastikan.


“Ya, dari mana kau tahu?” Tanya Robert memincingkan matanya.


“Istri Tuan Dave adalah teman arisan ku” jawab Celline tidak sepenuhnya berbohong.


Grace yang memaksa Celline untuk masuk ke dalam circle sosialita nya.


“Putri dari orang yang Daddy bunuh? Siapa?” Sambung Celline kepo.


“Dia bernama Selena Young” terang Robert


“Hah?!” Celline melongo tak percaya.


“Ssstt!!! Pelankan suara mu!” Tegur Robert menatap sekeliling penuh waspada.


Celline buru-buru membekap mulutnya tak percaya.


“Daddy serius?!” Tanya Celline masih belum percaya dengan fakta ini.


“Memangnya kenapa? Apa kau mengenal gadis itu?” Tanya Robert menatap heran


“Sangat mengenalnya, karena dia adalah rival ku!” Ucap Celline.


“Oh ya? Rival dalam hal apa?” Tanya Robert mengernyitkan dahi


“Ah biasa, ini urusan perempuan” ucap Celline yang hampir keceplosan.


Robert mengangguk singkat tak ingin tahu masalah receh perempuan.


“Kalau begitu ini kesempatan bagus untuk mu menbantu Johan menculik gadis itu. Dengan begitu kau tidak akan memiliki rival kedepannya” ucap Robert mencoba mempengaruhi pikiran Celline.


“Siapa lagi Johan?” Tanya Celline mengerutkan keningnya.


“Orang yang akan menculik Selena” jawab Robert


Wanita itu terdiam sejenak. Jika dipikir-pikir ada benarnya juga ucapan Robert. Dengan begitu dirinya tidak akan susah-susah mengejar Felix lagi karena rival nya sudah tersingkirkan dengan sendirinya.


Celline tersenyum smirk dan mengulurkan tangannya ke arah Robert.


“Oke deal! Aku bersedia membantu Daddy!” Ucap Celline sumringah.


Pria paruh baya itu merasa terhina dengan kelakuan Celline.


“Apa kau buta! Tangan ku saja di borgol!” Ketus Robert tak menyambut uluran tangan Celline.


“Ah maaf Daddy! Aku lupa” ucap Celline menepuk jidatnya.


Sedetik kemudian Robert mengembangkan senyumnya karena sebentar lagi ia akan bebas dari tempat engap ini. Pikirnya dalam hati.


“Wow! Belum genap dua puluh empat jam berada di jeruji besi sudah lengket saja kalian” Tegur seseorang dari belakang.


Robert dan Celline seketika tekejut melihat siapa yang datang.


“Hans?!” Ucap Robert terkejut.


Sementara di ujung kantor itu seseorang sedang memotret Hans,Celline dan Robert.


Ia pun segera mengirimkan gambar itu pada seseorang.