
Felix dan Selena sampai di depan mansion baru nya. Para pengawal yang berjaga bergegeas membuka kan pintu gerbang.
Mobil pun memasuki pelataran mansion yang luas dan megah dengan desain warna putih Eropa.
Selena keluar dari mobil setelah Felix membuka kan pintu mobil.
“Wah.. ini bagus sekali hubby!” Ucap Selena terkesima mengedarkan pandangannya ke segala penjuru mansion.
Terdapat taman yang luas dan swimming pool kecil dan besar.
“Kau suka sayang?” Tanya Felix menatap lekat wajah cantik istrinya.
Selena mengangguk antusias.
“Sangat, ini lebih dari yang aku bayangkan” ucap Selena tersenyum manis.
“Mansion ini akan menjadi tempat berteduh keluarga kecil kita nanti. Kita sama-sama membesarkan buah hati kita dan jangan pernah pergi dari mansion ini karena aku tidak akan pernah mengijinkan mu sampai kapanpun” ucap Felix menatap serius netra bening Selena.
“Tentu saja, buatlah aku memiliki alasan kuat agar selalu bertahan di sampingmu” ucap Selena mengangguk tersenyum.
“Pasti” ucap Felix mengecup singkat pelipis Selena.
“Ayo kita masuk, kau harus melihat bagian dalam keindahan mansion ini” ajak Felix meraih jemari Selena.
Wanita itu pun mengangguk mengikuti langkah kaki Felix.
Sampai di pintu utama terlihat bagian dalam ruang bersantai dan ruang tamu yang sangat luas. Ruangan itu ternyata terhubung dengan swimming pool dengan sekat dinding kaca transparan.
Semua fasilitas yang ada di dalamnya sangat lah mewah.
Selena sampai dibuat speechless.
“Mau keliling mansion atau langsung ke atas?” Tawar Felix pada Selena.
“Tidak perlu, langsung ke atas saja. Aku sudah lelah” ucap Selena lesu.
“Baiklah.” Ucap Felix mengiyakan perkataan istrinya. Sedetik kemudian ia mengangkat tubuh Selena ke dalam gendongannya.
Selena yang kaget reflek mengalungkan tangannya di leher suaminya.
“Astaga kau membuat jantung ku hampir copot hubby!!” Ucap Selena dengan ekspresi terkejut.
Frlix terkekeh mendengarnya.
“Ngomong-ngomong panggilan mu bagus juga” puji Felix tersenyum sumringah.
“Kau suka hubby?” Tanya Selena mendongak
“Yeah, sangat” balas Felix tersenyum smirk.
Mereka memasuki lift untuk bisa sampai di lantai tiga. Lantai dua berisi ruangan gym,perpustakaan pribadi, mini bar dan playing room untuk anak-anak mereka nanti.
Sedangkan lantai tiga total semua ada lima ruangan. Satu ruang kerja Felix dan empat kamar pribadi salah satunya kamar utama Selena dan Felix.
Sedangkan kamar tamu terletak di lantai paling bawah dekat dengan ruangan bioskop. Total ada tiga kamar tamu.
“Kau yakin tidak ingin keliling mansion sayang?” Tanya Felix sekali lagi.
“No, lain kali saja. Tubuhku sudah sangat lelah, sepertinya aku ingin tidur sekarang” jawab Selena.
“Okay, kita sudah sampai di kamar kita” ucap Felix menekan tombol dengan ibu jarinya lalu pintu terbuka otomatis.
“Canggih sekali” ucap Selena terkesima.
“Pintu itu hanya akan terbuka jika kita yang memencet tombolnya. Orang lain tidak akan mungkin bisa” ucap Felix menurunkan Selena di atas tempat tidur king size.
Ruangan itu sangat mewah bernuansa modern ala Eropa. Selena sampai tidak berkedip memandangi sekeliling.
“Kenapa begitu?” Tanya Selena penasaran.
“Tentu saja begitu honey, mansion ini di desain dengan fasilitas dan keamanan yang cukup tinggi. Tidak sembarang orang bisa masuk ke mansion ini tanpa identitas yang jelas” jawab Felix merengkuh pinggang ramping istrinya.
Selena mengangguk paham. Ia sudah tidak heran lagi, suaminya itu pasti akan memberikan yang terbaik untuknya dan keluarga nya.
“Hubby..” panggil Selena
“Hm?”
“Entahlah. Mungkin besok” jawab Felix.
“Kenapa?” Sambung pria itu.
“Kita sudah tidak masuk berhari-hari. Apa jadinya jika para staf tahu tentang pernikahan kita?” Tanya Selena gusar.
“Untuk apa memikirkan hal itu? Biarkan saja mereka tahu lagi pula apa masalahnya? Kau sudah menjadi istri bos sekarang, untuk apa berkerja lagi sayang, hartaku tidak akan pernah habis walaupun kau membuat puluhan mansion sekalipun” ucap Felix dengan konyol nya.
“Ishh! Sombong sekali!” Desis Selena mendelik.
“Memang itu kenyataannya” sahut Felix mengangkat bahunya.
“Bukan begitu, aku hanya merasa tidak enak saja seenaknya mengambil cuti. Takutnya mereka akan iri dan protes” jawab Selena.
“Itu tidak akan terjadi. Percaya padaku” ucap Felix meyakinkan kegundahan hati istrinya.
“Sudahlah, ayo kita tidur.” Ajak Felix merebahkan tubuh Selena di atas kasur.
“Seharusnya aku yang tidur, kenapa kamu ikut?” Tanya Selena menatap pongah suaminya.
“Kalau kau tidur lalu aku harus berbuat apa honey? Lebih baik aku ikut tidur” jawab Felix konyol.
“Ck! Terserah mu saja lah” decak Selena tak mengerti dengan suaminya.
Felix semakin mengeratkan pelukannya dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Selena.
‘Mulai lagi mode bayi nya’ gerutu Selena dalam hati.
Di dalam tahanan Robert baru saja mendapatkan tamu kunjungan.
Pria itu memakai topi dan masker serta jaket hitam. Tidak ada yang mengenali seperti apa rupa dari pria itu.
“Apa yang harus ku lakukan?” Tanya pria berjaket hitam itu menatap lurus Robert.
“Cari gadis itu dan sekap dia. Setelah kau berhasil mendapatkannya suruh anak buah ku membantuku kabur dari tempat ini. Aku yakin Dave saat ini melindungi gadis itu. Satu-satunya senjata paling ampun hanya lah dia” ucap Robert pelan bahkan nyaris tak terdengar.
Pria itu menganggukkan kepalanya.
“Beri saja fotonya. Setelah ini aku akan menyisir seluruh pusat kota” ucap pria itu.
“Anak buah ku akan memberinya. Jika kau sudah berhasil menculiknya bawa gadis itu sejauh mungkin dari sini. Jangan sampai keberadaan nya terendus sebelum aku berhasil keluar dari sini” ucap Robert menatap intens pria itu.
“Baiklah. Aku pergi dulu.” Ucap Pria itu beranjak dari duduknya.
“Saya sudah selesai Sir, terimakasih atas waktu dan kesempatan nya” ucap pria itu pada salah satu polisi yang berjaga.
“Baik, sama-sama Tuan” ucap polisi itu lalu membawa Robert masuk ke dalam tahanan.
Sementara Celline saat ini mengunjungi Grace di kediamannya.
Wanita itu kalang kabut tidak mendapati Felix di apartemennya. Lebih tepatnya dia tidak di ijinkan masuk oleh kedua pengawal yang berjaga di apartemen pria itu.
Hal itu membuat wanita itu jengkel hingga ia akhirnya memilih mengadukan ini pada Grace.
“Ada apa Celline? Aunty senang sekali kamu datang kesini” ucapnya tersenyum senang.
“Celline rindu dong sama aunty, Celline kesepian aunty” ucap wanita itu dengan suara dibuat se mellow mungkin untuk menarik simpati Grace.
“Oh ya? Bukankah kau baru saja pindah ke apartemen yang sama dengan Felix? Kenapa kau tidak mengunjunginya?” Tanya Grace beruntun.
“Itu masalahnya aunty, aku tidak di ijinkan masuk oleh pengawal Felix” ucap Celline dengan ekspresi sedih.
“Pengawal? Apa maksudmu?” Tanya Grace tak mengerti.
“Felix mengutus dua orang pengawal untuk menjaga apartemennya aunty, bahkan aku tidak di ijinkan masuk karena menurutnya aku orang asing” ucap Celline dengan raut wajah sendu.
“What?! Benar-benar anak itu! Aunty akan memberinya pelajaran, kamu tenang saja. Pasti ini semua ulah gadis tidak tahu diri itu” ucap Grace berapi-api.
Dalam hatinya Celline bersorak gembira karena berhasil menghasut wanita paruh baya itu.
‘Kau lihat saja apa yang akan aku lakukan demi mendapatkan Felix’ gumam Celline tersenyum smirk.
Wanita itu belum mengetahui keadaan Robert saat ini. Jika dia tahu dirinya kehilangan mesin atm berjalannya pasti wanita itu akan menggila saat ini juga. Profesi nya di New York bahkan ia tinggal begitu saja karena dirinya sudah terlanjur malas dan hanya mengandalkan uang dari Robert saja.
Untuk apa capek-capek bekerja? Lebih baik menguras harta Robert, jika pria tua itu bangkrut pada akhirnya maka dia masih punya Felix untuk dia jadikan mesin atm nya.