Let'S Get Married

Let'S Get Married
episode 8



Meneguk dua kali kopi yang di depannya, dan kemudian chessy mengeluarkan buku merah gelap dari tasnya dan meletakannya dengan keras ke atas meja, sambil berkata kepada pria yang di depannya "tuan, ayo kita ambil surat nikah!"


"..........." dhefin tidak menjawab


"Ini adalah cara tercepat untuk mengakhiri perjodohan yang sudah di siapkan oleh orang tua kita, yang memaksa kita untuk datang dan pergi lagi dan lagi. Dan tidak satupun dari kita ingin menikah, itu pas sekali. Itu bisa menghalangi mulut ayah dan ibuku, dan juga setelah menikah kita juga terus bisa menjalani kehidupan lajang kita."


Mengikutu arahan dari chessy, dhefin memandangi buku mera gelapnya, di atas buku merah itu adalah kartu keluarga.


wanita ini menghadiri kencan buta sambil membawa kartu keluarga?


menggunakan surat nikah untuk mengakhiri kehidupan yang penuh dengan kencan buta ini?


apakah setiap kencan butanya di gunakan untuk tujuan pernikahan? atau dia akan mengatakan kepada objek kencan butanya setiap kali "tuan, mari kita ambil surat


Tatapan dhefin mulai bergerak ke kedua mata chessy, dhefin sedikit berkedip dan mulai tersenyum.


Pada saat itu chessy sepertinya tahu jelas apa yang dia baru saja perbuat.


"kenapa akau mengeluarkannnya" chessy menelan ludahnya dan menatap kartu keluarganya dan berfikir perlu tidak untuk menyimpannya kembali.


Ponsel yang ada di dalam tasnya berdering, chessy tertegun sejenak akhirnya dia membuka tasnya terlebih dahulu untuk mencari ponselnya.


Nama ibu terpangpang jelas di layar ponselnya, membuat jantung chessy berdetak lebih cepat. Siapa suruh ibunya mencarinya selalu tidak ada hal yang baik.


Melihat chessy tertegun menatap layar ponselnya sambil mengerutkan kening dan tidak mengangkatnya, senyum bibir dhefin terlihat semakin jelas.


Wanita ini tampaknya lebih menarik dari yang dia bayangkan. Dhefin tidak bisa menahan diri untuk berfikir, kali itu dia menertawainya karena merasa otaknya bermasalah, itu benar. Di otaknya, di dalam otaknya tampak ada yang kurang.


Chessy sengaja mengulur, dan akhirnya layar ponsel di depannya menjadi gelap dan nada deringnya pun berhenti. Tapi ketika dia baru saja berfikir untuk memasukan ponselnya kembali kedalam tas, ponselnya mulai berdering kembali.


tidak benar ini, aku sudah hadir di kencan buta ini kenapa aku tudak berani mengangkat panggilannya? Sambil berfikir dalam hati chessy mengambil ponselnya dan mengangkatnya.


"Hallo,


Di sini chessy memikirkan posisinya sebagai seorang wanita kecil di depan pria di hadapannya, dan menjawab telepon dengan lembut. Tetapi wanita tua di ujung telepon itu tampaknya tidak memberinya kesempatan. Langsung saja di mulai dari emosi kemarahan, membuatnya secara alami untuk melindungi gendang telinganya, dan langsung menjauhkan ponselnya dari telinganya.


"Anak nakal, kamu kasih saja tidak mau hadir di acara kencan buta, kamu benar benar ingin membuat aku dan ayahmu mati karena marah padamu?"


tidak hadir di acara kencan buta?


"Buu....." sambil menatap dhefin, chessy mengecilkan suaranya dan meneletakan kembali ponselnya ke telinganya "apa yang kamu bicarakan! Aku sekarang berada di sweet fest cafe, sedang kencan buta?"


"Hah. Chessy, kamu sudah benar benar berani yah? Masih saja berani berbohong? Dhafin baru saja menghubungiku, dia bilang sudah menunggu lebih dari setengah jam dan kamu tidak muncul" mendengar penjelasan dari chessy membuat soraya semakin marah.


tidak benar! Chessy menatap sisi berlawanan dari wajahnya, santai dan menyeruput kopi, untuk sesaat chessy merasa bingung.


Dari tadi dhefin duduk di depannya dan dia tidak pernah menelpon orang.


"Chessy, kamu denger tidak?" Mendengar chessy tidak merespon soraya mencoba menahan emosinya dan berkata kepadanya.


"aku ingatkan sekali lagi, sweet fest cafe meja nomor dua belas, dhafin, insinyur. Kamu pilih saja kamu sekarang kesana juga atau aku dan ayahmu menghilang selamanya!"


"Bu katamu meja nomor dua belas?" Sambil mendengar peringatan dari soraya, mata chessy menatap nomor meja. Ternya di meja tertulis nomor dua puluh dua, tiba tiba dia merasa kehabisan nafas dan merasa dirinya menjadi lemas dan panik.


"Ya benar, nomor dua belas, kamu cepat kesana kalau tidak kamu tidak usah pulang lagi kerumah." Selesai berbicara soraya tidak memberikan waktu kepada chessy untuk menolak, jadi langsung di tutup.


Dhefin meletakan gelas kopinya dan mendongak menatap chessy.


"Kamu dhafin kan? Pakai huruf A kan?" Pada waktu itu juga chessy mulai sadar bahwa dia slah orang.


Dhefin tertawa, dan menjawab "namaku dhefin, pakai E"


Mendengar penjelasan penulisan nama dhefin chessy menggenggam ujung pakaiannya dengan erat.


Yaa ampun, apa yang harus aku lakukan! Salah orang!