Let'S Get Married

Let'S Get Married
Hari Pertama Kerja



Agatha dan Sahira mulai memakan pizzanya. Sahira makan dengan perlahan mencoba menetralkan detak jantungnya yang tidak karuan. Detak jantung yang seperti genderang yang di tabui tak beraturan.


"Gimana, Enak?" tanya Agatha.


"Mmm, Ya. Enak Pak," masih mengunyah pizza.


"Nanti pulang saya antar."


"Ah, tidak perlu Pak" Sahira melirik Agatha yang nampak santai berbicara.


"Hari ini kamu pulang malam kan, sebab masih banyak laporan yang harus di buat. Saya antar kamu pulang."


"Baik Pak," Sahira tahu Bosnya bukan sedang meminta izin tapi sedang membuat pernyataan yang tidak bisa do tolak.


"Tok, tok, tok."


"Masulah," jawab Agatha.


Seorang OB mengantar teh manis yang masih hangat ke ruangan Agatha.


"Baiklah, terima kasih ya."


OB hanya tersenyum menaggapi perkataan Agatha.


"Habiskan lalu kembalilah bekerja!" Agatha kembali ke mejanya setelah menghirup teh manis.


"Baik Pak," Sahira bangkit dan membereskan meja.


"Mau kemana kamu?" ucap Agatha yang berbalik.


"Ke meja kerja Pak," jawab Sahira menenteng kotak pizza.


"Siapa suruh kamu bawa pizzanya ke meja mu. Habiskan di sini. Baru kembali ke meja kerjamu."


"Oh, begitu," Sahira menggaruk kepala merasa tak enak hati jika harus menghabiskan pizza seorang diri terlebih di hadapan Bosnya.


"Kenapa bengong?"


"Baiklah Pak, segera saya habiskan."


Sahira makan dengan cepat, pura-pura tak perduli jika Agatha sedang memandangnya. Dari pada ia kelamaan di ruangan ini udaranya akan terasa menipis bagi Sahira, bisa jadi sebentar lagi ia terkena serangan jantung.


"Saya sudah selesai makan Pak. Boleh saya keluar."


"Mmm," ucap Agatha pura-pura tidak perduli padahal sedari tadi ia tersenyum-senyum sendiri melihat sahira makan terlalu lahap.


#


"Ting tong," suara bel rumah Agatha berbunyi. Ada senyum di sudut bibir Agatha sebab Edu ternyata tidak telat.


Bi Inah yang sudah lebih dulu tiba membukakan pintunya. Agatha segera keluar kamar mendekati sopa dekat Edu yang sudah duduk dengan rambut yang masih acak-acakan dan muka bantalnya. Jelas sekali ia bangun tidur bergegas ke apartemen Agatha agar tidak telat.


Agatha tertawa geli melihat penampilan Edu yang ia awasi dari atas hingga bawah.


"Puas lu?" Edu berteriak.


"Hahaha," masih dengan sisa tawanya.


"Bi... kemari!" panggil Agatha.


Bi Inah segera mendekati Bos yanh sudah seperti anaknya itu.


"Bi, mulai hari ini sampai satu bulan ke depan tugas bibi hanya masak saja, selebihnya serahkan padanya," ucap Agatha menunjuk Edu dengan matanya.


"What? yang benar saja. Masak tugas gwa lebih banyak. Harusnya bagi rata dong," ucap Edu yang bangkit tiba-tiba.


Bi Inah terheran, melihat Edu lekat. Sebab tak ada sedikit tanda-tanda wajah miskis yang di tunjukan Edu. Sekalipun tampilannya lusuh tatap saja orang-orang akan tahu jika dia dari keluarga berada.


"Bik, awasi dia ya. Jika dia tidak mau melakukan pekerjaannya laporkan pada saya. Jangan takut untuk melapor bik, di sini kedudukan Bibik lebih tinggi. Saya angkat bibik jadi Kepala Pengurus Apartemen selama sebulan full. Bibik mengerti?"


"Tapi Mas, apa ngak salah orang?" ucap Bi Inah yang masih memandangi Edu lekat.


"Ngak Bik, Bibik lakukan saja apa yang saya perintahkan."


"Baik Mas."


"Eh jangan main baik, baik aja. Ini ngak adil. Lu bilang kemaren kalau gwa cuma bantuin Bi Inah. Kenapa sekarang seolah Bi Inah yang bantuin saya."


"Lu tau kan kalau iklan itu butuh propaganda. Begitupun sebuah perekrutan Asisten baru. Apa lagi Asisten rumah tangga," Agatha tersenyum puas.


Agatha masuk kamar dan mulai bersiap-siap untuk ke kantor.


"Aaaa," teriakan Edu membuat Agatha bergegas keluar kamar.


Di lihat Agatha Edu yang sudah terbaring di lantai memegangi pinggangnya. Edu masih saja meringis apa lagi setelah ada Agatha, ini triknya agar Agatha kasihan padanya dan membebaskannya dari hukuman.


"Hahaha," Agatha bukan membantu malah cekikikan sendiri.


Edu memandanginya dengan sinis, tadi ia benar-benar terjatuh karna harus mengepel lantai yang tak pernah ia lakukan satu kalipun seumur hidupnya.


"Woi, kenapa guling-gulingan di situ. Mau main dogi-dogian?" Agatha masih tertawa.


"Sialan lu, kalau bukan karna bokap gwa udah gwa plintir lu jadi adonan."


"Ya ampun Mas, kok bisa jatuh?" ucap Bi Inah yang barusan berlari mendekati mereka.


Bi Inah mendekati Edu untuk membantunya.


"Aa..." Bi Inah ikuk terjatuh menimpan Edu.


"Aaa... Bibik bukan bantuin malah nambahin, gimana sih?" Edu makin kesal.


"Huhaha," Agatha tidak bisa berhenti tertawa hingga seluruh tubuhnya bergetar.


"Sekarang ada dua yang main dogi-dogian."


"Mas ngepelnya terlalu basah," ucap Bi Inah yang mulai berdiri.


"Bantuin!" Edu mengulurkan tangan pada Bi Inah.


"Ngak jadi Mas, nanti saya jatoh lagi." Bi Inah menjauh kembali ke dapur untuk menyiapkan sarapan Agatha.


"Aaaa..." teriak Edu kencang menumpahkan kekesalannnya pada Agatha.


'Awas ya Aga, kubalas kau. Lihaylt saja nanti,' senyum di bibir Edu mendapat ide mengerjai Agatha kelak.


"Udah bangun, mending sarapan. Noh Bi Inah sudah siapin. Jangan kebanyakan drama." Agatha masih senyum-senyum.


Dengan hati-hati Eduard bangun, ia berjalan pincang dengan tangan yang masih mengurut-urut pinggangnya.


"Makan gih, nanti saya bawa kentukang urut." ucap Agatha seperti seorang Kakak.


Eduard duduk di meja makan dengan bibir manyunnya dan tatapan sinis pada Agatha.


"Baru juga sehari bekerja sudah babak belur lu, gimana kalau sebulan, bisa-bisa tampang lu ngak bule lagi, huhaha"


"Hah," Edu histeris memegangi wajahnya lalu melihaylt tangannya yang berkerut karna basah.


"Aaa...tangan gwa, kenapa begini," teriak Edu makin histeris.


Bi Inah dan Agatha tertawa geli.


"Bro, bisa cepet tua gwa kerja di sini. Please Bro hentikan!" ucap Edu menagkupkan kedua tangannya di depan.


"Udah sarapan gih," Agatha masih dengan sisa tawanya.


"Gwa ngak laper. Lu liat kulit gwa bro! Bisa-bisa ngak ada cewek yang suka sama gwa." kulit Edu yang putih mulus jadi berkerut-kerut.


"Udah ngak usah lebai, bentar lagi balik normal."


"Ini nga bakal balik normal kalo ngak perawatan," masih memandangi kedua tangannya.


"Ya ke tempat perawatan kalo begitu."


"Ya. Gwa harus Spa hari ini."


"Kalo berheti kerja gaji mu tetap di potong, Spa setiap hari bisa bikin rekening lu jebol," ucap Agatha santai mulai makan.


"Gwa ngak perlu perawatan kalo ngak kerja di tempat lu tau," Edu mulai ikut sarapan.


"Katanya ngak laper?"


"Jadi laper karna darah tiggi liat wajah lu," teriak Edu.


"Huhaha," mempekerjakan Edu memang menjadi hiburan tersendiri bagi Agatha.