Let'S Get Married

Let'S Get Married
Ramen



"Permisi Pak," Sahira masih di depan pintu ruangan.


"Ya, masuk!"


"Pak ini ramen yang kata Bapak kemaren," Sahira menyerahkan semangkuk Ramen yang dengan susah payah ia pelajari semalaman.


Habis sholat subuh langsung ia buatkan untuk Agatha. Dengan keterampilan memasak yang biasa saja akhirnya ibunyapun ikut membantu dengan rasa penasaran kenapa Sahira membuat ramen pagi-pagi buta dan rasa pe asarn itu tidak di jawab Sahira. Ia pasrah jika ramen itu akan di buang oleh Bosnya sebab percobaan pertama mana bisa enak. Andai saja ia bisa menyewa seorang Chef.


"Ya, taruh sajandi situ," Agatha melirik meja dekat sopa.


"Pak mending langsung di makan keburu dingin," Kuah ramen yang baru ia panaskan dari dapur terlihat menguap, baunya semerbak menggugah selera.


"Mmm," Agatha masih sibuk dengan tumpukan laporan di hadapannya.


'Aduh, dimakan masih panas aja rasanya entah kemana, apalagi pas udah dingin. Dia malah sibuk. Liat saja nanti kalau hukumanku di tambah. Habislah kau. Emangnya bisa apa aku? Huhaha,' sibuk sendiri dengan pikiranya.


Agatha menutup laporannya dan mulai mendekati meja tempat Sahira menaruh semangkuk ramen. Melirik ramen dan Sahira secara bergantian.


"Saya permisi keluar Pak," melihat Agatha yang hendak memakan ramennya Sahira berniat segera kabur ketimbang ia harus mendengar hal-hal buruk tentang masakannya.


"Mau kemana kamu?"


"Balik ke meja kerja Pak," ucap Sahira menunduk.


"Duduk di situ!" menunjuk sopa.


Dengan perlahan Sahira duduk di sopa, ia duduk dengan sangat hati-hati hingga tak mengeluarkan suara gesekan sedikitpun, rasanya berkecamuk. Kalau saja ia tidak memikirkan pekerjaannya sudah lama ia kabur.


Agatha mulai memakan Ramen, satu suap dan dua suap.


"Ramen kamu ngak enak, beda jauh dari yang suka di masak Bi Inah," berbicara sambil masih mengunyah ramen.


"Maaf Pak, itu pertama kalinya saya buat ramen." Sahira menunduk tak berani melihat Agtha yang sedang makan.


"Kamu ngak cicipin dulu sebelum masak?"


"Saya sudah cicipin Pak, tapi saya ngak tahu ramen yang enak menurut Bapak seperti apa," menjawab sambil menunduk, kalau bukan di depannya ada Agatha ia sudah membenamkan wajahnya di sopa.


"Kamu belum tahu tapi berani kasih ke saya?" terus saja memasukkan ramen ke dalam mulut.


"Maaf Pak," Sahira menoleh ke arah Agatha, melihat isi di mangkuk tinggal sedikit lagi.


"Pak itu, katanya ngak enak?"


"Apa? Saya menghargai kamu yang sudah susah payah memasak. Sepertinya kamu belajar keras semalam?" menghabiskan isi mangkuk.


"Iya Pak, semalam saya begadang belajar bikin ramen, tapi masih tetap aja ngak enak."


"Ambilkan saya air putih!"


Sahira segera mengambil air putih yang memang sudah tersedia di ruangan.


"Untung kamu punya atasan seperti saya yang menghargai kerja keras kamu," ucap Agatha setelah meneguk habis minumnya.


"Bapak tadi baca bismillah ngak?"


Agatha menggaruk-garuk kepala, karna melihat ramen yang terlihat lezat dengan bau yang menggoda ia lupa baca bismillah.


"Memangnya kenapa?"


"Ngak Pak, saya kira ngak baca bismillah sebab cepet banget abisnya biarpun ngak enak. Bapak belum sarapan ya dirumah?"


"Lain kali bikin ramen yang enak biar saya bisa makan dengan meresapinya jadi ngak gampang habis."


"Iya Pak. Saya boleh keluar?"


"Bikinin saya kopi," Agatha berbalik ke meja kerjanya.


"Ya Pak."


Sahira membuatkan Agatha kopi dan kembali ke ruangan Agatha dengan segera.


"Ini kopinya Pak," menaruh kopi di atas meja.


"Mmm."


"Saya permisi Pak," Sahira berbalik untuk keluar.


"Besok bawakan saya ramen lagi!"


"Apa?" Sahira kembali berbalik dengan mulut menganga.


"Kenapa kaget? Siapa bilang hukuman kamu selesai. Besok bawakan saya ramen yang porsinya lebih banya dari ini, itu terlalu sedikit."


"Iya Pak," tanpa bisa protes ia kembali ke meja kerja dengan loyo memikirkan jam dini hari harus sibuk membuatkan Bosnya sarapan.


#


"Ra' besok pagi-pagi kamu langsung ke Resto XX aja ya untuk pembukaannya, ngak usah ke kantor lagi."


"Ya Pak."


"Kamu sudah makan siang?"


'Tumben dia manis sekali, beberapa hari ini biasanya menjengkelkan.'


"Ra' Saya tanya kamu."


"Belum Pak."


"Ya sudah, ikut saya."


Kali ini Agatha membawa Sahira bukan ke kantin karyawan seperti biasa tempat mereka makan, ia mengajak Sahira makan di luar kantor yang tempatnya tidak jauh dari kantor.


"Ra' kamu mau pesan apa?" Agatha menyerahkan buku menu.


'Ra, ra, ra, dia sengaja bikin baper dengan panggilan itu. Hedeh kenapa cuma aku yang baper.'


"Hah," mata Sahira melotot melihat lebel harga yang ada di menu, kalau sering makan begini tamat riwayat saldo rekeningnya.


"Kenapa?" tanya Agatha melihat ekspresi kaget dari wajah Sahira.


"Ngak Pak, hehe. Pak apa ngak makan di tempat lain aja?"


Agatha tersenyum melihat tingkah Sahira yang ketakutan seperti orang mau bangkrut.


"Kamu pesan aja, saya yang bayarin."


"Hehe, tapi biarpun dibayarin tetep sayang uang Bapak keluar begitu banyak cuma buat sekali makan."


"Sahira Amalia, pesan sekarang saya sudah lapar. Mau pesan atau mau di hukum?"


"Iya Pak saya pesan," ucap Sahira cepat. Jangan sampai Agatha menyuruhnya membuat ramen setiap hari, bisa jadi mata panda jika terus begadang.


Sahira memilih makanan yang paling murah yang ada di menu.


'Buset satu satu porsi yang paling murah 250 ribu, mau naik haji berapa kali nih orang yak?'


"Sahira udah milihnya?"


"Yang ini aja Pak," Sahira menunjuk makanan dan minuman yang paling murah, ia hanya menunjukkannya di hadapan Agatha males menyebutkan nama makanan yang belibet dan panjang kayak makanan aja punya Binti dan nenek moyang yang di taruh di akhir nama saking panjangnya.


"Yakin?"


"Yakin Pak."


"Emang kamu suka makanan ini?"


"Belum pernah makan Pak, tapi di lihat dari rupa dan bentuknya kayaknya enak."


"Ya sudah saya panggil dulu Mas yang tadi," Agatha memanggil seorang pelayan.


Agatha memesan makanan yang yang di tunjuk Sahira dan makanan pesanannya.


Beberapa saat pelayan mengantarkan makanan dan minuman pesanan mereka.


Sahira nampak bingung melihat pesanan mereka datang.


"Ini pesanan saya Pak?"


"Mmm," Agatha tersenyum geli melihat ekspresi Sahira menatap makanannya.


"Ini mau ngasih manusia apa kucing, sedikit begini 250 ribu?" Sahira menatap piring makananya dengan heran.


"Mmm, kamu sendiri yang pesan."


"Begini mana bisa kenyang, ngabisin duit aja. Mending makan baso di kantin tadi," gumam Sahira.


"Hahaha," untuk pertama kali Agatha terbahak di depan Sahira yang membuat Sahira melongo tak percaya.


"Bapak ketawa?"


Agatha mengelap mulutnya dengan tisu sebelum berbicara.


"Ya sudah saya pesankan yang baru ya."


"Ngak usah Pak, makan di kantin kantor kayaknya lebih enak. Bahasa makanannya pakek bahasa manusia ngak kayak di sini."


"Hahaha, ya sudah. Terserah kamu saja."