
"Apa kau senang?" tanya Agatha saat keluar dari dari gerbang utama.
"Mmm, sangat. Tapi apa pentingnya kalau aku senang atau tidak?"
"Kalau kau senang kerjaan jadi lancar," Agatha memasang senyum yang di paksakan.
"Ceh, dasar Bos plin plan."
"Eh, apa kau tidak merasa berdosa pada ku hari ini?" Agatha mengejar Sahir yang sudah lebih dulu berada di depannya.
"Kenapa saya harus merasa berdosa?"
"Siapa tahu kau merasa beersalah karna mulutmu yang maju lima centi dari hari-hari sebelumnya."
"Yah, Bapak menghina saya?" Sahira merasa di ejek.
"Kau tidak berkaca hari ini. Sahira kamu jelek kalau seharian manyun."
"Apa? dan sekarang Bapak juga bilang saya jelek." berteriak di depan Pak Adi yang sudah mendekati mereka. Pak Adi cekikikan ternyata drama yang tadi ia tonton masih bersambung dan episode barunya di mulai lagi.
"Hadeh, ngak ngerti pribahasa ni orang. Dulu pas sekolah nilai bahasa Indonesianya merah kayaknya." Gerutu Agatha menuju mobil.
"Yah, dan sekarang anda bilang saya bodoh juga," Sahira yang sudah tertinggal berteriak.
"Terserah kau saja, kau sendiri yang merasa."
"Ceh, apa karna anda sudah menjadi Bos jadi seenaknya bisa menghina orang."
"Masuklah, saya akan mengantarmu pulang."
Dengan manyun Sahira masuk mobil.
#
"Sahira..." seseorang memanggil Sahira ketika masuk pintu depan kantor.
"Rere, ngapain disini?" ucap Sahira bingung.
"Ketahuankan kamu ngak bantuin aku supaya bisa kerja kesini."
"Hehe, aku lupa Re," Sahira tersenyum kecut, kesibukan tentang Agatha membuatnya lupa akan janjinya sama Rere.
"Ah, ngak setia kawan ternyata kamu mah. Lebih asyik sama Mbak Desi ternyata."
"Maksudnya? Kamu sudah akrab sama Mbak Desi?"
"Kemaren aku tuh kan di interview sama Mbak Desi. Dia bukan nanya seputar pekerjaan malah nanya-nanya soal kamu sama Pak Agatha di masa lalu."
"What? Terus kamu jawab apa?" ucap Sahira setengah tak percaya dengan kelakuan Desi.
"Ya, aku ceritain semua lah, dari pada ngak lulus interview."
"Itu namanya bukan interview?"
"Terus apa?"
"Kalian sedang bergosip."
"Hehe," Rere tertawa ngeselin.
"Duh, gusti. Dua wanita ember berkumpul menjadi satu."
"Pagi Pa," terdengar sapaan dari para Staf di sana ketika Agatha tiba.
"Pagi Kak, eh maksud saya Pak." Rere merubah kata-katenya saat Sahira menyenggol bahunya.
"Mmm," Agatha hanya mengangguk.
"Kenapa kamu menatap saya begitu?" tanya Agatha saat ia melihat Sahira masih menatapnya dengan tatapan sinis.
Sahira berlalu pergi tanpa menghiraukan Agatha yang bertanya. Mulai seenaknya saja Sahira.
"Eh, kau. Beraninya kau pergi saat saya masih bicara?" Agatha mengejar Sahira.
"Mereka lagi berantem?" tanya Desi mendekat ke Rere.
"Sepertinya begitu,"
"Wah seru tuh, kita naik yuk!" ajak Desi maenarik tangan Rere.
"Ngak ah, saya kan baru, belum juga sehari. Kalau di pecat karna kepo habislah aku."
"Ah ngak asyik kamu. Ku pikir nerima kamu di sini bakalan jadi temen yang asyik," Desi melepaskan tangan Rere yang barusan ia pegang.
"Terserah Mbak, aku mau kerja." Rere pergi.
#
"Kamu ingin saya membatalkan rapat lagi hari ini?" tanya Agatha ketika Sahira sudah duduk di tempat kerjanya.
"Apa? Kenapa Bapak berpikir begitu lagi. Sudah cukup kemarin Bapak bikin saya repot."
"Makanya kerja yang benar, jangan manyun begitu! Kalau kamu kerja dengan baik, kan saya jadi enak kalau mau rapat. Saya males rapat kalau Sekretarisnya manyun kayak begitu."
"Baiklah Pak," Sahira mencoba tersenyum semanis dan selebar mungkin.
"Apa Bapak mau kopi? Nanti saya buatkan." tersenyum manis takut tertimpa masalah lagi.
"Seperti biasa, buatlah dua cangkir kopi."
"Ya, baiklah Pak," masih tersenyum lebar.
Sahira membuat dua cangkir kopi dan menaruh di meja kerja Agatha satu dan di meja dekat sopa satu untuknya.
Ia membawa barang-barang yang ingin ia kerjakan pagi ini kendalam ruangan Agatha.
"Kan kata Bapak seperti biasa, bukannya biasanya begini," masih membawa barang-barang dengan repotnya.
"Saya bilang buatkan kopi dua cangkir seperti biasa, tidak menyuruhmu kerja di sini."
"Aisstt," Sahira mendesis kesal.
"Kenapa wajah kamu begitu?"
"Hehe, tidak Pak. Saya permisi keluar kalau begitu." Sahira menahan emosinya.
"Kalau kamu sudah memabawa barang-barang, taruh saja di sana!" menunjuk meja.
'Dasar plin plan.'
"Baik Pak." menurut saja.
"Temani saya ke kantin, saya belum sarapan."
"Baiklah Pak."
"Sayang, aku rindu," Edu memeluk Agatha saat ia keluar ruangan.
"Apa sih lu, geli gwa," Agatha melepas pelukan.
"Hai Nona manis."
Sahira tersenyum di sapa Edu. Agatha melirik sinis.
"Ngapain lu di di sini?" tanya Agatha ketus.
"Mau ngasih laporan bulanan tentunya." Edu masih dengan cengengesannya.
"Ngak perlu kesini, kirim aja lewat email."
"Lebih enak kalo ketemu langsung kan? Jadi kita bisa langsung bahas apa yang kurang dari Resto kita. Begitu kan?"
"Hallah, alesan lu. Tujuan lu kesini bukan untuk itu kan?"
"Anda betul seratus persen, hehe." berkata dengan kepedeannya.
"Ceh, dasar."
"Kalian mau ke mana?"
"Mau keluar, lu tungu saja di sini sampe kering," Agatha masih ketus, mereka memang biasa pakai urat kalau bicara tapi tidak memasukkan ke dalam hati.
"Baiklah, saya akan ikut."
"Ikutlah, bulan depan kau akan menyesal."
"Hahaha, saya tidak akan ikut," berubah pikiran tiba-tiba.
"Bagus," Agatha tersenyum penuh kemenangan.
"Eh Nona, berikan nomor ponselmu," ucap Edu saat melewati Sahira yang berada di belakang Agatha.
Sahira hanya memberikan senyuman ketika di tatap sinis oleh Agatha.
"Ra, ra." panggil Desi seperti berbisik saat Sahira dan Agatha mau keluar kantor. Makan di dalam kantor ngak jadi karna ada Edu. Agatha sengaja ingin mengajak Sahira keluar agar Edu tidak ikut.
"Apa?" suara Sahira juga pelan seperti berbisik.
"Itu," Desi menunjuk ke atas.
"Iya, ke atas aja, Ngak ada orang," Sahira langsung paham maksud Desi.
"Sahira, buruan!" Jelas-jelas walaupun bebisik suara mereka terdengar oleh orang di sekeliling.
'Si pembual itu pasti sudah pergi ketika kami balik ke kantor," Agatha tersenyum mengingat Desi yang akan mengurus Edu di atas.
"Iya Pak, saya kesana." Sahira tertinggal. Sekali melaju Agaha sudah jauh, itu kelebihan jika kursi rodamu canggih. Tidak perlu capek-capek.
#
"Mbak nasi gorengnya dua, jus alpukat dua!"
"Kok dua, Bapak pesanin saya ya?Tapi saya sudah makan."
"Kata siapa? Saya pesanin kucing. Noh kucingnya!" menunjuk kucing liar di luar kaca.
"Hehe, ternyata Bapak baik hati ya."
"Tentu, kau baru tahu," menyombongkan diri.
"Tapi emangnya kucing minum jus juga?"
"Kucing sekarang kan sudah modern, kau tidak tahu?"
"Gitu ya," menggaruk kepala dengan kepolosan.
Pesanan sudah tiba.
"Wah, sudah tiba. Boleh saya memberikannya Pak."
"Kucingnya sudah tidak ada. Makanlah!"
Sahira menoleh, kucingnya memang sudah hilang.
"Saya cari dulu kalau begitu."
"Tidak perlu, kita buru-buru. Makanlah! nanti mubazir."
"Baiklah," mulai makan bersama.