
"Pagi Pak," ucap Sahira menunduk dengan suara pelan ketika Agatha datang.
Pagi ini memang tidak ada semangat bagi Sahira untuk berangkat ke kantor.
"Lemes amat, belum sarapan," ucap Agatha memiringkan wajahnya mencoba melihat wajah Sahira.
Dengan cepat Sahira berbalik, kembali ke tempat duduknya.
"Tolong buat kan saya kopi seperti biasa ya!" Agatha mendekati Sahira yang sudah jauh.
"Mmm," dengan sedikit anggukan.
"Kamu sakit?" Agatha mencoba mencari topik pembicaraan.
Sahira hanya menggeleng tidak mengeluarkan suara.
"Oh tidak ya. Mmm... apa sedang lampu merah?"
Sahira langsung melotot mendengar ucapan Agatha.
"Ups... salah ngomong ya?" Agatha menutup mulutnya.
Sahira pergi tanpa meninggalkan kata-kata apapun. Persetan kalau dia adalah Bos, ia sudah tidak perduli kalaupun harus di pecat.
"Baru kemaren dia ninggalin saya. Hari ini ada apa dengannya bersikap sok manis begitu," mendumel sambil mengaduk kopi.
"Aaa," karna kaget Desi tiba-tiba sudah memasang badan di hadapannya, ketika berbalik tangan Sahira ketumpahan kopi panas.
"Ya,... maaf Ra, maaf." tadinya Desi ingin bercanda menguping sambil mengagetkan Sahira. Ia tidak menyangka sikapnya bisa membahayakan orang lain.
Sahira menaruh kopi yang masih tinggal separu dan meniupi tangannya, Desi juga ikut meniup.
"Mbak tiap hari mata-matain saya ya. Perasaan ada di belakang mulu kayak hantu."
"Hehe, kadang-kadang. Mbak cariin salap dulu ya ke apotik."
"Ngak usah Mbak, tolong bikinin ulang kopi aja."
"Oh, gitu. Ya udah Mbak bikinin dulu ya."
Desi membuatkan kemabali kopi untuk Pak Agatha. Sahira duduk di kursi yang ada di ruang dapur. Tangannya yang perih rasa terbakar belum juga di obati. Ia bencana hanya mengobati dengan minyak kayu putih yang selalu ia bawa di tasnya.
"Ini sudah Mbak buatkan, Mbak bantu bawain aja ya sampai ke depan ruangan Pak Bos."
"Ngak usah Mbak, saya bisa sendiri. Mbak obati saja penyakit Mbak."
"Penyakit saya. Emang saya sakit apa?"
"Penyakit kepo Mbak yang kelewat akut," Sahira mengambil kopinya lalu pergi.
"Ceh, kayak lu, kayak ngak pernah kepo aja," ucap Desi yang sudah di punggungi Sahira.
#
Setelah mengetuk pintu dan sudah ada aba-aba untuk masuk, Sahira masuk ruangan.
Sahira langsung menaruh kopi di mejankerjan Agatha.
Agatha melirik Wahira yang tidak mengatakan apa-apa. Setelah mengantar kopi Sahira segera keluar tanpa mengatakan apa-apa juga.
"Ceh," Agatha menaruh pena yang di pegangnya kasar. Di cueki Sahira membuatnya kesal sendiri.
"Tunggu!" Sahira yang sudah di pertengahan pintu terdiam, namun tidak berbalik.
"Buatlah kopi satu lagi dan bawa kemari!"
Tanpa menjawab ia dan tidak, juga tanpa menoleh tapi Sahira menuruti kemauan Agatha untuk membuat satu cangkir kopi lagi.
Sebagai pecinta kopi, dunia Agatha memang seputar kopi, ia bahkan bisa membadakan kopi dari aromanya saja.
Karna pintu ruangan terbuka, Sahira mengetuk sedikit pertanda ia mau masuk. Menaruh kopi yang baru di dekat kopi yang tadi.
"Taruh di situ dan bawa kerjaanmu kemari." menunjuk meja dekat sopa.
Sahira hanya menaruh satu kopi di meja dekat sopa.
Masih dengan diam Sahira mengangkat apa saja yang ia butuhkan ke ruangan Agatha. Dari pagi bibir Sahira manyun beberapa centi meter.
Sahira menatap note booknya dengan fokus, semenjak masuk ruangan tidak seklipun ia menoleh pada Agatha dan juga tidak menimbulkan suara apapun.
Agatha masih di meja kerjanya mengamati Sahira dari kejauhan.
Agatha melihat Sahira yang sedikit kesulitan mengetik di keyboard karna tanganya yang terasa perih.
'Apa perduli anda denga tangan saya yang hanya memerah, jelas-jelas hati saya yang sedang berdarah-darah karna anda.' Sahira melirik Agatha tanpa berkata apaun. Sorot matanya yang tajam membuat siapapun tahu jika ia sedang tidak ingin di ganggu.
Agatha berhenti bertanya, mulutnya akan berbusa hari ini tanpa ada yang perduli.
Agatha meraih ponselnya yang ia taruh di meja kerja.
"Pak, tolong belikan salap obat luka bakar ya!" denga cepat Agatha mengirim pesan pada Pak Adi.
"Baik Mas," secepat kilat balasan masuk ke ponsel Agatha.
Agatha tidak fokus bekerja lagi, ia terus melihat ke arah Sahira yang tidak ada tanda-tanda akan menoleh. Agatha mengetuk-ngetukan pena pada meja.
"Tek," pena Agatha terjatuh.
"Pulpen saya jatuh, ambilkan!" Agatha bersuara keras.
Sahira bangkit dari tempat duduk, mengambil pulpen dan menaruhnya di atas meja dengan kasar. Lalu ia kembali duduk lagi di tempatnya yang tadi.
"Ceh, Heh..." Agatha mendengus kesal, mengapa di cueki Sahira saja rasanya sekesal ini.
"Tok, tok, tok." suara ketukan pintu terdengar. Agatha sudah bisa menebak siapa yang datang keruangannya, tanpa perlu menoleh pintu yang masih terbuka.
"Masuk!"
"Ini Mas salepnya." Pak Adi menyerahkah bunhkusan plastik.
"Mmm, baiklah," Agatha membuka bungkusan.
Sahira tetap tidak bergeming seolah-olah ia tak mendengar apa-apa.
"Mau aku oleskan atau kau sendiri yang mengoleskannya," Agatha sudah di dekat Sahira.
Sahira menoleh dan mengambil salep yang sudah di buka Agatha.
"Apa kau tidak mau mengucapkan terima kasih padaku?"
"Mmm, makasih," menampilkan senyum penuh keterpaksaannya.
Sahira mengoleskan salap pada tangannya yang sudah berubah warna membentuk layak peta.
"Sekarang, batalkan semua rapat saya hari ini?"
"Apa?" Sahira langsung bangkit dari tempat duduknya. Merepotkan sekali haru membatalkan semua rapat, terlebih klien dari luar. Dia pasti dapat semprotan kata-kata secara gratis.
"Kenapa?" Agatha memajukan kursinya mengjadapnke jendela.
"Tapi kenapa mau di batalkan Pak? Apa Bapak punya urusan mendadak."
"Tidak, saya hanya ingin membatalkan." berbicara dengan nada tanpa bersalah.
"Tapi Pak, anda tidak bisa main batal-batalkan saja sesuatu yang sudah terjadwal tanpa alasan yang jelas seperti ini." Sahira mulai ngotot.
"Kenapa tidak. Jika mereka bisa rapat tanpa saya ya silahkan."
"Ceh," giliran Sahira yang mendengus kesal.
"Apa anda memang seperti ini, semena-mena. Harusnya Mbak Desi meralat omongannya tentang semua yang dia katakan tentang Bapak."
"Memang Desi bilang apa?"
"Ah, ngak penting. Yang penting anda tidak boleh membatalkan rapat."
"Kenapa tidak. Telpon sekarang dan batalkan!"
"Tidak." Sahira ngotot.
"Saya bilang batalkan." Agatha juga tak kalah ngotot.
"Saya bilang Tidak Bapak Agatha Imanuel."
"Sahira Amlia... saya bilang batalkan sekarang."
"Tidak mau," Sahira kembali duduk.
"Baiklah, rapat saja kalian. Saya tidak akan hadir."
"Ceh," Sahira menatap tajam penuh dengan kekesalan. Jika saja dia bukan Bosnya sudah ia teriaki hingga pekak.
Senyum di sudut bibir Agatha mengembang, ia berhasil meruntuhkan benteng diam tadi. Ternyata bagi Agatha lebih baik Sahira mengomel dari pada ia hanya diam.