
“Plak,” kepala Edu di tepuk Agatha.
“Kau cari mati ya?” bentak Agatha
“Apa? Jadi makanannya beracun. Ah…” Edu berlagak pingsan.
“Ceh,” wajah putih Agatha berubah kemerahan.
“Apa yang ini juga beracun,” Edu bangkit kemballi dan menarik mangkuk milik Agatha.
“Hah,” Agatha semakin marah dan melototi Edu, namun tak bisa berbuat apa-apa. Edu langsung melahap habis Ramen seperti orang kelaparan yang belum makan tiga hari.
“Errrrggg” Sendawa keras keluar dari mulut Edu yang langsung ia bungkam dengan kedua tangannya.
Edu melirik Sahira merasa tidak enak hati karna kebablasan sendawa yang berlebihan.
“Hahaha,” Sahira malah terbahak melihat tingkah Edu, hal itu membuat Agatha semakin geram.
“Kau, siap-siap gajimu di potong 50 persen,” Agatha menunjuk Edu. Edu melihat kemarahan Agatha dengan santai.
“Yang benar saja Bro," Edu mendekati Agatha.
“Kau pikir saya itu adikmu apa? Biar bagaimanapun saya itu Bos kamu.”
“Come on sobat, kita itu sobat mana ada Bos dan bawahan. Ya kan?” Edu mengedipkan mata beberapa kali.
“Sobat? Ceh,” Agatha memutar kursi roda hendak keluar ruangan.
”Wait,.. wait,.. wait,.. sebentar. Masak begitu doang si Bos marah. Come on, jangan ngak asik begitu ah.” Edu merayu di samping Agatha.
“Kecuali jika kau mau menjadi cleaning service di apertementku." senyum muncul di sudut bibir Agatha.
“Maksudnya?"
“Bersihkan apartemen saya selama satu bulan buat bantuin Bi Inah sebagai ganti hukumanmu. Kalau tidak aku akan memotong gajimu selama tiga bulan.”
“What? Bro gwe itu lulusan luar negri, masak pulang ke Indo jadi pembokat.” ratapan tak percaya Edu.
“Itu tidak akan terjadi jika anda tidak belagu Mr. Pembual," Agatha melajukan kembali kursi rodanya.
“Okeh saya terima gaji saya dipotong, dari pada harga diri saya yang dipotong," Edu bersuara lantang.
“Baiklah 50 persen,” ucap Agatha mengacungkan kelima jarinya.
“50 persen?” Edu menghitung di jarinya lalu menggaruk-garuk kepalanya.
“Ya, 50 Persen,” Agatha tersenyum geli melihat kegusaran di wajah Edu.
“Bro, jangan serius amat. Tadikan saya bercanda.” mulai merayu kembali.
“Saya sudah selesai. Sahira ayo kita kembali ke kantor," Agatha melirik Sahira
“Baik Pak,” ucap Sahira yang tersenyum-senyum geli melihat kebingungan Edu.
Mereka berdua meninggalkan Edu yang terduduk lemah di sopa.
"Ceh, dia pikir saya miskin apa. Cuma di potong 50 persen saya masih bisa hura-hura. Hehe, kan masih ada bokap. Masak iya seorang Eduard minta-minta?" Edu menggaruk-garuk kepalanya kasar, gusar sendiri.
#
“Pak pukul satu siang kita ada rapat pembahasan produk baru yang akan kita keluarkan.”
“Baiklah, siapkan saja semuanya!” Agatha menatap notebooknya.
“Pak ini laporan yang harus Bapak tanda tangani,” Sahira menyodorkan beberapa berkas.
“Baiklah saya akan periksa, kamu tolong bikinkan saya kopi!”
“Baik Pak. Pak kalau boleh saya sarankan jangan terlalu keseringan minum kopinya, itu bisa mengganggu kesehatan,” ucap Sahira yang terlalu sering disuruh membuat kopi. Sedikit kekhawatiran tentang efek kafein yang akan mengganggu kesehatan.
“Baiklah, sekarang kamu naik level," Agatha membuka laporan.
“Maksudnya?” Sahira Nampak bingung, apakah dia melakukan kesalahan berkata demikian.
“Ya. Kamu sekarang bukan Cuma Sekretaris tapi juga merangkap menjadi penasihat.” Agatha memberikan senyuman pada Sahira.
“Hehehe,” tersenyum malu, karna ternyata Agatha tidak marah padanya.
“Bangga kamu?” Agatha mengeraskan suaranya.
“Tidak Pak. Saya bikin kopi dulu,” segera Sahira berbalik hendak keluar ruangan.
"Penasihat macam apa kamu?"
"Barusan kamu bilang kopi tidak baik untuk kesehatan dan barusan kamu juga mau membuatkan saya kopi. Benar-benar tidak konsisten," ucap Agatha mengetuk-ngetukan pulpen ke mejanya.
"Tapi Bapak yang suruh saya buat tadi," bingung sendiri.
"Tapi kamu yang barusan menasihati."
"Jadi gimana?" Giliran Sahira menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Gimana menurut kamu baiknya?"
"Saya bikinin jus saja ya Pak."
"Mmm," Agatha mengangguk dan kembali melihat laporan.
Sahira bergegas keluar ruangan, jika lama-lama Bos nya bisa berubah pikiran lagi.
#
Rapat hari ini dibuka oleh seorang moderator. Beberapa kata dari Agatha juga sebagai pembuka rapat. Moderator mempersilahkan kepala bagian marketing untuk mempersentasikan produk baru yang akan di keluarkan. Ada beberapa kelompok marketing dan beberapa perwakilan untuk persentase. Barulah terakhir di tetapkan produk yang seperti apakah yang sesuai untuk di produksi oleh perusahaan mereka.
“Baiklah, saya lebih suka yang di persentasikan oleh Ibu Devina tentang makanan ringan dan gebrakan barunya. Tapi saya belum sepadan dengan covernya. Saya ingin yang lebih wah lagi, itu masih terlihat belum menarik dan saya ingin kalian memperbaikinya kembali. Dan untuk kelompok lainnya kita bahas nanti ketika ingin mengeluarakan produk baru lagi pada rapat berikutnya. Untuk bulan ini kita fokus memproduksi makanan ringan saja dan bulan depan kita berikan gebrakan baru lagi dan produk baru lagi."
“Baik Pak,” ucap mereka serentak.
“Bu Devina selesai rapat, saya mau anda menghadap keruangan saya!”
“Baik Pak.”
Rapat telah selesai di tutup oleh sang moderator dan Bu Devina mengikuti Agatha keluar ruangan rapat lalu masuk keruangannya yang juga di ikuti oleh Sahira.
Setelah beberapa lama berbicara tentang kemasan produk baru dan lain sebagainya, suara Azdan Ashar terdengar dari ponsel Sahira.
“Bailah Bu Devina, jika sudah selesai di buat ulang saya mau Ibuk temuai saya dan menunjukkan hasilnya,” saat-saat seperti inilah Agatha terlihat begitu berwibawa di mata Sahira.
Bu Devina keluar ruangan.
“Apa Bapak mau sholat Ashar?” tanya Sahira.
“Mmm. Ayo kita sholat dulu.”
“Saya sedang tidak sholat Pak, boleh saya kembali ke meja saya?”
“Oh ya, baiklah.”
Sahira keluar ruangan di ikuti oleh Agatha yang ingin menuju musolah.
"Sahira..." panggil Desi keras yang mulutnya langsung ia bungkam sendiri melihat Agatha juga baru keluar dari pintu ruangannya.
"Eh Bapak, siang Pak."
"Mmm, siang. Kenapa kamu kesini?
"Mau bicara sebentar Pak sama Sahira."
"Oh ya." Agatha melewati mereka berdua.
"Ada Pak Edu di depan." ucap Desi dengan cepat.
"Terus apa hubungannya dengan saya," Desi menggaruk tengkuknya.
"Hehe, siapa tahu kamu mau kepo sama dia. Ganteng lo orangnya. Tapi kelihatannya playboy sih. Itu di depan lagi ngegodain Staf marketing."
"Haha, Mbak ngefans sama Pak Edu?"
"Hehe, ngak juga. Siapa tahu kamu kalai lihat bisa ngefans gitu."
"Saya bahkan sudah pernah jalan-jalan ke Bandung sama dia."
"Apa?" mulut Desi menganga.
"Tapi saya biasa aja. Ngak wah, hehe."
"Kamu bercanda kan?"
"Serius."
"Kok bisa?"
"Entahlah," Sahira berlaga memancing emosi Desi.
Desi masih menatap dengan rasa penasarnnya.