
"Sahira berhati-hatilah dengan Sesil. Dia itu licik!" Rere mendatangi Sahira berpura-pura ingin mengantar minuman.
"Kanapa kemari?"
"Cuma ingin memperingatkan," bisik Rere menaruh minuman di atas meja Sahira.
"Tadinya saya juga berpikir begitu. Tapi kalau di pikir ulang kayaknya sayalah orang yang terlalu ingin memaksakan seuatu."
"Ra, kamu ngak perlu nyalahin diri sendiri. Kenyataannya di sini Sesillah orang yang bersalah."
"Udalah Re, kamu turun gih aku ngak mau bahas. Takut ngak fokus kerjanya."
"Ya udah. Yang penting aku udah bilangin kamu loh," Rere mewanti-wanti takut Sesil berbicara yang aneh-aneh.
#
"Sahira," suara lembut yang menyadarkan Sahira dari fokus kerjanya.
Sahira mendongak.
"Kamu? Bukannya kamu sudah pulang tadi?" Sahira kaget ternyata Sesil balik lagi.
"Boleh saya bicara sebentar?" Sesil memang memikat ketika ia bersikap dewasa.
"Mau bicara soal apa?" bingung karna bagi Sahira tak ada yang terlalu penting untuk di bicarakan dengan Sesil.
"Kamu bisa ikut saya sebentar kan? Saya ada yang ingin di bicarakan sama kamu."
Sahira melihat jam di tangannya, tidak ada rapat di pagi hari ini. Rapat akan di adakan setelah jam makan siang, hanya ada beberapa laporan yang harus ia selesaikan.
Karna dari tadi Agatha juga tidak keluar ruangan ataupun menelpon Sahira akhirnya setuju untuk keluar sebentar dengan Sesil.
Sahira mengikuti Sesil keluar menuju keluar kantor.
"Ra, mau kemana?" tanya Desi yang berteriak dari kejauhan.
"Keluar sebentar," Sahira menjawab dengan suara tidak keras namun d mengerti.
.
'Tunggu dulu! Kata Rere Sesil licik kan. Aku harus bersiap-siap dengan apa yang ingin ia katakan. Aku ngak boleh lengah dan masuk perangkapnya.' Sahira menguatkan diri.
#
Ada sebuah cafe di seberang kantor. Sahira tak ingin tempat yang jauh, sebab takut jika nanti Agatha akan mencarinya.
"Ra, saya minta maaf ya atas kejadian yang tempo hari. Saya bener-bener ngak tahu kalo itu kamu." Sesil tersenyum layaknya orang yang meminta maaf.
"Apa kamu akan terus berkata seperti itu jika aku bukan Sahira yang kebetulah dulu pernah satu sekolah denganmu," Sahira sesekali menyeruput minumannya.
"Bukan begitu, waktu itu aku hanya sedang terguncang Ra. Itu hanya emosi sesaat yang kebetulah tertumpah sama kamu. Sumpah Ra, aku bukan orang seperti yang ada di pikiran kamu kok," Sesil mencoba ngeles.
"Begitukah?" Sahira nampak berpikir.
"Ra, kamu boleh tanya kok sama Agatha. Itu pertama kali aku bersikap kayak gitu Ra,"
"Oh... kalau begitu aku juga minta maaf ya.Aku ngak tahu kalau ternyata kamu juga sedang punya masalah." Sahira mulai luluh.
"Ra, boleh aku cerita sama kamu tentang masalah yang aku hadapi," wajah Sesil nampak sedih.
"Mbak Sesil cerita aja. Saya akan menjadi pendengar yang baik kok. Tapi untuk solusi mingkin aku bukan orang yang bisa memberikan itu," Sahira dengan mudahnya menurut.
"Ra, aku sedih karna Kak Aga sedang marah sama aku Ra. Ra, kamu tahu kan dia sekarang suka marah-marah begitu padahal dulu Kak Aga ngak begitu," Sesil mengeluarkan air mata palsunya.
"Memangnya kenapa Pak Agatha marah?" Sahira mulai menebak kemana arah pembicaraan mereka.
'Kena kau?' benak Sesil.
"Dia pikir aku selingkuh sama Rudi Ra, padahal kami cuma teman dekat, hua." Sesil layaknya terisak.
Deg...
tiba-tiba saja dunia Sahira terasa berhenti. Rasa sakit yang tadi ia terima oleh cerita Rere kini terasa bertambah parah.
'Jadi mereka beneran pacaran. Jadi ini alasan mengapa Pak Agatha meninggalkanku tempo hari. Bodohnya aku. Kenapa dengan sedikit kebaikannya membuat akj berpikir bahawa dia masih menyukaiku.'
"Ngak papa kok Mbak. Mbak kan bisa bicara empat mata sama Pak Agatha biar dia ngak marah lagi dan meluruskan kesalah pahaman di antara kalian berdua," Sahira memendam sesak. Pura-pura baik-baik saja.
"Aku udah coba Ra, tapi Kak Aga masih belum mau percaya sama aku, huaa," masih menagis palsu.
"Kakak sabar aja nanti ada waktunya kok, tungggu emosi Pak Agatha reda dulu." mencoba sok bijak.
"Ra, apa kamu bisa bantu aku buat bicara sama Kak Aga," Sesil mencari celah.
"Nanti saya coba Mbak. Tapi saya ngak janji ya. Saya takut Pak Agatha marah kalau saya ikut campur masalah pribadinya," Sahira sudah percaya 100 persen dengan perkataan Sesil.
"Mmm, baiklah," Sasil merasa sandiwaranya sudah cukup. Ia menghapus air mata palsunya.
"Ting," pesan masuk di ponsel Sahira.
"Dimana kamu?" pesan dari Agatha yang terasa seperti sembilu bagi Sahira.
"Saya akan segera kembali," balas Sahira.
"Kenapa?" Sasil mencoba melirik ponsel Sahira.
"Saya harus kembali Mbak. Pak Agatha mencari saya." Sahira berdiri dari tempat duduknya.
"Mmm, baiklah. Terima kasih ya sudah menjadi pendengar yang baik." Sasil menampilkan senyum terbaiknya.
"Iya Kak, saya balik dulu ya."
"Iya," Sesil tersenyum penuh kemenangan merasa ia sudah melangkah lebih maju dari Sahira.
#
"Dari mana saja kamu?" tanya Agatha dengan nada tinggi, ia dari tadi menunggu Sahira dekat meja kerjanya.
"Dari luar," jawab Sahira singkat.
"Kenapa tidak minta izin dulu kalau mau keluar. Ini kan jam kerja." Agatha mulai marah.
"Saya siap jika anda ingin memecat saya," ucap Sahira tanpa menatap.
"Kau, kenapa kau berpikir aku akan memecatmu hah?" Agatha setengah berteriak.
"Jika Bapak tidak ingin memecat saya, saya akan buat surat pemunduran diri saya," Sahira menatap tajam.
"Apa? Ra apa masalahmu?" Agatha mulai berkata lembut.
"Tidak ada, saya hanya ingin keluar dari kantor ini." Sahira mulai duduk.
"Apa kau ingin meluapkan emosimu karna Sesil sering kemari?" Agatha menebak.
"Tidak, saya hanya mau mencari kantor yang tidak gerah seperti di sini."
"Sahira cobalah untuk profesional jika bekerja."
"Saya hanya ingin berhenti melihat itu semua. Saya hanya ingin berhenti melihat anda. Memang benar, benar sekali jika anda bilang saya bodoh. Kenapa saya berpikir anda menyukai saya dengan sedikit kebaikan yang anda berikan pada saya." Ucap Sahira penuh emosional.
"Sahira," Agatha melihat dengan penuh kelembutan.
"Oh... apa anda sengaja melakukan itu hah? Anda sengaja merendahkan harga diri saya."
"Ra, tolong berhenti. Bukan seperti itu kenyataannya."
"Lalu seperti apa? Kenyataannya memang saya yang bodoh kan?" Sahira mulai terisak, merasa manusia paling bodoh dalam hidupnya.
"Ra, kamu tahu kalau saya dan Sesil hanya sepupu saja."
"Hah iya sepupu. Sepupu yang saling jatuh cinta begitu?" Sahira berlalu pergi setelah berkata demikian.
"Ra, tunggu Ra!" Agatha memangil Sahira yang sudah membelakanginya. Sahira terus berjalan cepat.
"Sahira... Menikahlah denganku!" Suara Agatha keras memenuhi seisi ruangan.
"DEG"
Sahira berbalik, menatap tajam raut wajah Agatha menacari keseriusan di dalamnya.