
"Papa," Sahira mencium tangan ayahnya.
"Siapa?" ayah Sahira menunjuk dengan ujung matanya.
"Rekan kerja Pah."
"Owh..." ayah Sahira masuk ke rumah.
"Pah, nanti Sahira mau bicara."
"Tentang dia?" ayahnya berbalik.
Sahira hanya tersenyum.
Setelah mandi dan sholat magrib, Sahira makan bersama ayah dan ibunya.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" ucap ayahnya di sela makan.
"Sahira mau nikah Pa," langsung ke pokok permasalahan.
"Ya, memang sudah sepantasnya kamu menikah."
"Pa," Sahira berhenti makan, ayahnya menatap dengan serius.
"Dia... seorang pengguna kursi roda." Sahira berbira pelan.
"Ting," ayah Sahira meletakan sendok dan garpu yang ia pegang. Menatap Sahira lurus.
"Krek," Ayahnya meninggalkan meja makan dalam diam.
Ibu Sahira menepuk bahu Sahira pelan, mengusapnya lembut.
"Sayang apa kau mencintainya?"
Sahira menganguk pelan.
"Ajaklah Papamu bicara baik-baik kelak, Mama yakin Papamu akan setuju."
Sahira mengangguk kembali, ada sesak yang ia tahan namun ia tidak ingin semua tertumpah didepan ibunya.
#
"Tin," mobil Agatha sudah parkir di depan rumah Sahira, pagi ini Agatha memang sengaja menjemputnya sebelum berangkat ke kantor.
Sahira bergegas keluar, ayah dan ibunya juga ikut keluar rumah.
Agatha membuka kaca jendela dan tersenyum, ayah Sahira membalas senyum seadanya berbeda dengan ibunya yang tersenyum penuh keikhlasan.
"Pah, Ma. Ira berangkat dulu," Sahira mencium tangan ayah dan ibunya.
"Mari Pak, Buk," ucap Pak Adi sopan ketika hendak menginjak gasnya.
"Ra, kamu sudah bicara sama orang tuamu?" pertanyaan Agatha memecah sunyi setelah beberapa menit sama-sama tenggelam dalam pikiran masing-masing.
"Iya, Pak."
"Apa ayahmu tidak suka?" Agatha langsung bisa menebak dari tatapan ayahnya.
"Menurut saya Pak, semua memang butuh proses."
"Kau yakin akan berhasil," ketidak percaya diri muncul begitu saja dalam diri Agatha.
"Mmm," Sahira mengangguk penuh semangat.
"Seratus persen, asal Bapak tidak melakukan hal yang aneh-aneh, hehe."
"Hal aneh? Aneh bagaimana maksudnya?"
"Yah... mencintai Sesil, misalkan?"
"Ceh, itu bukan aneh, tapi tidak lazim. Dan saya pastikan itu tidak terjadi."
"Boleh saya menyela?" Pak Adi mulai bicara dari tadi ia senyum-senyum menguping.
"Ya, Bapak memang senang melakukan itu," jawab Agatha.
"Mas, Ibuk pengen ketemu sama Mbak Sahira," ucap Pak Adi yanh di akhiri tawa cengengesan.
"Bapak sudah menceritakan semua?"
"Itu memang dari dulu tugas Bapak Mas, Mas kan sudah tau dari dulu," jawab Pak Adi santai.
"Ya..ya..ya. Terserah kalian sajalah."
"Nanti pulang dari kantor saya akan bawa Mbak ke rumah besar. Apa Mas mau ikut."
"Jelas ikutlah, pakek nanya lagi," kesal karna Pak Adi tidak pengertian.
"Hahaha," Pak Adi terbahak.
#
"Eh Mas Aga," ucap Yeyen membukakan pintu rumah, Ia Kepala Asisten di rumah besar.
"Di Atas Mas, saya panggil dulu ya."
"Mmm."
"Sayang, kalian udah dateng," Bu Amira turun tangga sebelum Yeyen naik.
"Iya Ma," Agatha mencium tangan Ibunya di ikuti Sahira juga melakukan hal yang sama.
"Ayo duduk Sayang," Bu Amira mengusap kepala Sahira pelan, merangkulnya dan membawanya duduk di sopa.
"Iya Buk." Sahira malu-malu.
"Kamu boleh panggil Mama kok, Pak Adi sudah cerita semuanya," Bu Amira tersenyum sangat anggun.
"Iya Ma," Sahira tersenyum canggung.
"Yen, ambilin minum gih. Sama kue yang saya buat tadi ya."
"Baik Buk," ucap Yeyen berdiri di samping dengan kepo. Baru pertama kali Agatha membawa wanita datang ke rumah.
"Mama, tadi bikin kue lo Sayang. Spesial buat kalian datang," tangan Bu Amira menggenggam tangan Sahira.
"Tan... Eh, maksud saya Mama. Kenapa repot-repot?" Sahira masih canggung dan gugup.
"Ngak Repot dong Sayang. Mama juga udah masak buat kita makan malam. Sahira makan malam di sini kan?" Bu Amira berbicara lembut sambil memegang tangan Sahira.
"Ya Ma, tentu," Sahira merasa tidak enak. Di sini ia di perlakukan sangat baik, tapi di rumahnya Agatha di pandang sinis oleh ayahnya.
"Mama," Amara berlari masuk dan langsung memeluk ibunya.
"Sayang kamu sampai juga akhirnya," Amara mulai melepas pelukannya.
"Kakak," Amara kaget.
"Mama undang Kak Sahira juga?" Amara baru menoleh.
"Iya Sayang. Kalian udah saling kenal rupanya."
"Kak Sahira pernah nginap d Bandung Ma, pernah jalan-jalan juga bareng Ara dan Kak Edu."
"Oh gitu... Kak Aga ngak ikut," Bu Amira melirik Agatha yang dari tadi hanya diam.
"Habis Kak Aga sok jual mahal Ma, jadi Ara ajak Kak Edu aja. Kak Edu kan orangnya rame, biar seru gutu Ma," Amara berbicara sambil melirik Kakaknya yang manyun.
"Oh gitu, tapi ngak boleh gitu juga Sayang. Nanti kakakmu cemburu lo."
"Sengaja Ma, hehe."
"Eh tunggu! Mama undang Ara, Kak Sahira dan Kak Aga makan malam. Apa maksudnya Ma? Mereka berdua..." menunjuk mereka berdua bergantian dan memadukan kedua telunjuknya.
"Mmm," ibunya tersenyum mengangguk.
"Asek, akhirnya. Terima kasih Ya Allah, engkau mengabulkan do'a-do'a ku punya kakak yang perempuan." Amara malah lebih bersemangat dan memeluk Sahira erat.
Ibunya tersenyum melihat pemandangan itu, berbeda dengan Agatha yang merasa adegan seperti ini terlalu lebai.
"Ma, aku ajak Kak Sahira ke kamar ya!"
"Yah, Mama yang mau ngajak Sahira keliling rumah. Memperkenalkan keadaan sekitar."
"Ma, Kak Sahira pasti lebih nyaman kalo sama Ara."
"Tapi Mama yang ngundang dia hari ini, jadi dia spesial tamu plus calon menantu Mama. Ayo Sayang." Bu Amira menarik tangan Sahira.
"Ampun," Agatha menepuk jidad sudah menduga hal ini akan terjadi.
Bu Amira mengajak Sahira keliling rumah di mulai dari halaman belakang hingga ke ruangan atas dan melihat photo-photo masa kecil Agatha yang di ceritakan Bu Amira secara antusias.
Apalagi jika bercerita tentang prestasi Agatha di bidang basket. Agatha memang sering menjuarai perlombaan basker tingkat kota ataupun nasional.
Selesai mereka melakukan itu semua azdan magrib mulai berkumandang.
"Kakak, ayo sholat si kamar aku aja," Amara sudah membentuti mereka karna bosan di kamar.
"Ayok," dari semua ruang hanya kamar yang terpakai yang belum Sahira lihat. Terbesit dalam pikirannya seperti apa kamar Agatha di rumah besar.
"Assalamu'alaikum," Pak Iman memberi salam.
"Papa," Amara berlarian memeluk ayahnya seperti anak TK yang baru melihat ayahnya pulang kerja.
"Wah ada tamu," ucap Pak Iman tersenyum ramah.
"Iya Pak," Sahira tersenyum canggung.
Berada di tengah mereka memmbuat Sahira melayang. Kehangatan yang tercipta di antara mereka memanglah murni tanpa unsur keterpaksaan sama sekali.
"Papa," Agatha keluar sudah memakai peci.
Suara Amara yang keras membuat Agatha keluar. Mereka memang sering sholat berjamah ketika sedang berkumpul di rumah besar.