Let'S Get Married

Let'S Get Married
Kejutan



“Ngapain lu masih di situ?” ucap Desi melihat Agung masih melongo melihat dirinya yang sudah berbaring hendak di pijat oleh seoarang ibu-ibu.


“Loh, emang kenapa?” ucap Agung santai.


“Buruan keluar! Lu sengaja mau lihat bokong gwa,” bentak Desi.


“Bukan gitu,” Agung jadi bingung sendiri. Ia tidak berpikir kalau Desi akan membuka baju atau hal terbuka lainnya, pikirannya ngak sampe ke sana.


“Ya udah keluar sana!” usir Desi.


“Iya, iya sabar, bawel,” Agung keluar dan menunggu di kursi di teras.


Tempat pijat ini hanya sebuah rumah sederhana, Agung dulu pernah di pijat di sini saat ia jatuh.


“Aaa,” teriak Desi dari dalam.


“Pelan-pelan dong Buk.”


Agung mendengar Desi terus-terusan teriak jadi ngak tega juga.


**


“Ra, Ra, Sayang kok kita pulang sih,” Agatha mengikuti Sahira menuju parkiran dengan wajah yang ia tekuk.


“Sayang, masak gitu aja kamu jadi ngambek begini,” Agatha mendahului Sahira dan sekarang ia memblikir jalannya.


“Ya, aku ngak suka ada yang keganjenan sama Abang begitu,” ucap Sahira kesal.


“Iya Abang tahu, tapi jangan ngambek terus pulang begini dong. Kalau begini kan yang kena imbasnya Abang.”


“Abang kenapa ngak pergi pas di godain cewek-cewek itu hah. Abang pasti senang kan sekarang di idolakan sampe di gilai para ABG gitu,” Sahira marah-marah.


“Abang bukan ngak mau pergi Ra, tapi Abang udah terkepung tadi.”


“Ah, alesan,” Sahira melewati Agatha masih dengan manyunnya.


“Ra tunggu dulu Ra, masak kita pulang sih Ra?” Agatha mengejar lagi.


“Pokoknya Ira mau pulang,” Sahira matanya jadi berkaca-kaca, ia juga tidak tahu mengapa dia jadi cengeng layaknya anak ABG.


“Oke, oke, ya udah kita pulang,” melihat Sahira mulai berkaca-kaca Agatha tidak mua lagi mendebat dan menuruti saja apa yang diinginkan oleh Sahira.


Saat Agatha membuka kunci mobil Sahira masuk dan menutup pintu dengan kasar. Ia juga tidak tahu mengapa emosinya begitu mudah terpancing, tapi ia jelas ia sangat marah. Ia merasa tidak sepadan dengan Agatha saat Agatha justru sudah sembuh dan bisa berjalan dengan normal.


“Abang punya kejutan buat kamu,” Agatha membuka paper bag dan mengeluarkan sebuah kotak.


Sahira termangu melihatnya, di atas kotak itu transparan. Terlihat di dalamnya ada coklat mewah dan mahal. Bukan mewah dan mahalnya yang di lihat oleh Sahira, tapi mengapa coklat itu kalau di lihat jadi bikin ngiler. Tanpa ekspresi Sahira masih menatap.


“Kamu suka coklat kan? Abang sengaja tadi beli pas kamu lagi ngak lihat. Abang suapin ya, biar kamu tenang dan ngak marah-marah lagi kayak harimau yang lagi laper, hehe,” canda garing Agatha di waktu yang salah.


“Beneran ngak mau, ini enak loh. Nih,.. Abang cobain satu ya,” Agatha membuka kotak dan mengambil satu buah.


“Pamali tahu udah di kasih orang di ambil lagi terus di makan,” ucap Sahira tapi masih tidak menoleh.


Mendengar itu Agatha tergelak, ia tahu betul kalau sahira sangat ingin. Hanya saja ia sedang gengsi.


Agatha menyodorkan satu coklat ke mulut Sahira, dengan malu-malu Sahira memakannya. Agatha tersenyum melihat ekspresi malu-malu dari Sahira.


“Ikut Abang dulu ya, Abang ada kejutan buat kamu.” Agatha menyalakan mesin mobil.


Sekitar tiga puluh menit mereka berjalan dan sepanjang jalan Sahira menikmati coklat dengan sesekali mengobrol renyah bersama Agatha.


“Kita udah sampe,” ucap Agatha di depan sebuah ruko besar.


Sahira melongo, dari luar terlihat segala macam gaun pengantin yang indah di pajang terlapisi kaca.


“Mau ngapain ke sini Bang? Kita kan udah nikah, buat apa beli baju pengantin lagi?” tanya Sahira dengan mata yang masih takjub melihat gaun-gaun yang indah.


“Dasar kamu, senang ya mancing-mancing minta di cubit,” Agatha mengacak jilbab Sahira pelan.


“Udah yuk turun!” Agatha keluar dan Sahira mengikuti.


Mereka masuk ke gedung itu, Sahira dengan mata yang masih terpesona melihat sekitar penuh dengan gaun pengantin. Dulu ia pernah memimpikan memakai gaun pengantin yang indah saat menikah. Tapi itu semua berubah saat ia pikir bukan itu tujuan dari pada menikah. Mau menikah sesederhana apapun yang terpenting bagaimana kita mengisi kehidupan setelah menikah. Karena banyak orang terlilit hutang akibat membuat pesta besar-besaran demi menjadi ratu dalam sehari dan demi mendapatkan photo-photo indah untuk di kenang di masa depan. Tapi itu semua bercuma kalau menyisakan hutang, toh akan jadi boomerang setelah pernikahan.


“Siang Pak Agatha, silahkan di pilih mau yang seperti apa? Atau Pak Agatha punya rancangan sendiri, bisa juga di rancang spesial buat istri Pak Agatha,” ucap Ibu-ibu yang modis, mungkin ia tampak muda kerena pakaiannya.


Sahira mengernyit, sepertinya wanita itu tahu sekali pada Agatha. Terlebih ia juga tahu kalau mereka sudah menikah.


“Seperti yang saya bilang waktu itu. Gimana? udah ada yang spesial yang di rancang dan hanya satu-satunya?” tanya Agatha.


“Eh Nak Aga,” Seorang wanita lebih tua muncul. Agatha tersenyum, sepertinya mereka sangat dekat.


“Wah ini toh istrinya,” Ibu itu hendak menyalami Sahira, Sahira jadi mencium tangan Ibu itu karena mau lebih sopan.


“Siapa atu namanya?”


“Sahira Buk,” sahut Sahira.


“Panggil Tante Ra, dia kakaknya Mama,” ucap Agatha. Sahira terkejut, pantes familiar wajahnya. ternyata mirip ibu mertua sedikit lah biarpun ngak mirip-mirip amat.


“Oh ya Tante,” sahut Sahira sopan.


“Tante ini bukannya ibunya Sesil kan?” tanya Sahira demi rasa penasarannya.


“Owh bukan Sayang. Kalau Tante ngak punya anak perempuan, semuanya laki-laki,” sahut Tantenya penuh kasih sayang.


“Ini Tante Eva Ra. Dia saudara perempuan Mama satu-satunya,” Agatha menjelaskan.