
"Lah kok nangis?"
"Tuh, temennya dia ternyata brengsek Ra."
Agatha yang di tunjuk Rere berhenti mengunyah roti.
"Ceh, kenapa bawa-bawa saya?"
"Pacarnya Rere kan si Rudi temen akrab Bapak waktu SMA."
"Mmm," melotot kaget.
"Kamu pacaran sama Rudi? Dia kan waktu SMA pacaran sama..." Agatha tidak melanjutkan kata-katanya.
"Huaaaaaa," Rere makin nangis.
"Suiit," Sahira melirik Agatha.
"Bisa ngak kelar kalo temen lama ketemu, terus main drama-dramaan. Bisa abis dua musim ngak bakal kelar." ucap Agatha menepuk jidadnya.
"Bapak diem dulu. Ini anak orang lagi nangis ini."
"Panggil aja Bosnya pasti berhenti dia."
Rere langsung mengusap air matanya, ia baru ingat kalau dia sedang bekerja.
"Tuh kan diem."
"Saya permisi ya," masih ada sisa tangis di wajah Rere.
"Saya udah kelar, yuk kita jalan lagi," Agatha memutar kursi rodanya. Rere yang belum pergi terkaget, ia baru menyadari jika ada yang berbeda dari Agatha.
"Kamu..." mulut Rere langsung di bungkam Sahira.
"Hehe, maaf Pak. Mari kita lanjut lagi."
Agatha membayar ke kasir dan pergi meninggalkan Rere yang masih memandangi mereka dari kejauhan. Seperti Sahira yang punya banyak pertanyaan di otaknya ketika baru pertama kali melihat Agatha begitupun Rere.
#
Agatha dan Sahira pergi ke pabrik meninjau persiapan untuk produksi produk baru besok.
"Ria?" teriak Sahira.
Ria menoleh, berbeda dari Rere, Ria nampak biasa saja dan tidak kaget sama sekali, ia juga mengenali Sahira dengan mudah.
"Ria, ternyata kamu kerja di pabrik ini."
"Heh... ternyata kau masih mengenaliku."
"Maksudnya? Baru pertama ketemu kok udah marah-marah."
"Waktu itu aku pernah datang ke kantor pusat sama buruh yang lain juga. Aku liat kamu. Beberapa kali aku teriak panggil kamu tapi kamu pura-pura ngak denger."
"Hahhh, Masak? tapi aku ngak pernah liat kamu. Maaf ya aku ngak tahu."
"Yah, apalah dayaku yang hanya seorang buruh."
"Ria kok gitu sih?"
"Tadi udah main drama-dramaan, sekarang apa lagi, main opera?" Sahira lupa jika di dekatnya ada Agatha.
"Maaf Pak, kebawa emosi," ucap Ria.
"Tunggu dulu, dia udah lama kerja di sini?" pertanyaan Sahira di tunjukan pada Agatha.
"Mmm, sepertinya. Sebelum saya jadi Direktur utama di kantor pusat dia sudah bekerja di sini."
"Bapak kok ngak bilang?"
"Kamu juga ngak bilang siapa kamu sebenarnya waktu itu."
"Hehe, iya ya."
"Wah, hari ini berasa reunian ya."
"Reunian gimana maksudnya?" tanya Ria.
"Tadi aku ketemu Rere di Cafe XX, dia ternyata kerja di sana."
"Oh.. Rere," Ria nampak sudah tahu.
"Kamu udah tau dia kerja disana."
"Ya, kadang aku juga mampir kesana."
"Tadi dia nangis-nangis gitu, katanya si Rudi brengsek. Kenapa bisa begitu?"
"Oh itu, dia kan udah pacaran sama Rudi udah lama banget. Tapi ternyata si Rudi masih cinta sama si Sesil dan mereka balikan."
"Sesil? Balikan maksudnya?"
"Ya, waktu SMA kan Sesil sama Rudi pacaran. Dan ternyata mereka putus karna Rudi selingkuh sama Rere."
"Hah," mulut Sahira menganga.
Sahira menoleh Agatha yang masih di sampingnya. Agatha mengalihkan pandangannya yang tadinya melihat Sahira da Ria. Segera Agatha melajukan kursi rodanya pura-pura tidak mendengar apa apa.
"Kenapa? Kamu kok melototin Bos kamu?" tanya Ria.
"Apa kamu juga tahu kalo Sesil sepupunya Pak Agatha alias Iman?"
"Ya tahu lah."
"Kanapa kamu ngak bialng dari dulu!"
"Harus emang? Apa pentingnya coba."
"Penting buat aku Ria, gara-gara itu aku salah paham sama Pak Agatha waktu itu."
"Aku pikir Sesil pacarnya Pak Agata waktu itu, mereka mesra banget soalnya."
"Ya... itu berarti kamu yang bego' Ra. Dulu kan kamu ngak pernah cerita apa-apa."
"Dan sekarang aku mau tanya, kanapa Pak Agatah bisa duduk di kursi roda."
"Nah itu yang dari dulu aku tanyakan sama seisi karyawan pabrik tapi ngak ada yang tahu. Jawaban mereka simpang siur."
"Hedeh..."
#
"Pak," Sahira berkata di dalam mobil yang melaju cepat karna sudah memasuki jalan tol.
"Mmm."
"Bapak sama Kak Sesil sepupu kan?"
"Mmm."
"Kak Sesil beneran pacaran sama Rudi waktu SMA?"
"Mmm."
"Bapak sengaja ka waktu itu di perpus?"
"Mmm,"
"Ngak ada jawaban lebih spesifik apa, Am em, am em terus." Sahira kesal.
"Kamu berani bental Bos kamu?"
"Aaa, tidak tidak. Maaf Pak. Keceplosan. Jagan marah ya Pak, hehe."
"Diem dan duduk yang manis saja. Sekarang sudah waktinya makan siang, saya laper. Dari pagi ngeladenin kalian drama-dramaan. Awas ya, di tempat makan kali ini ngak ada drama-dramaan lagi. Geli tahu liatnya."
"Mmm."
"Kok cuma mmm doang, jawab yang bener dong."
"Baiklah Pak."
"Berjanjilah!"
"Baikalah. saya Sahira Amalia berjanji tidak akan ada drama-dramaan lagi di tempat makan," Sahira mengangkat tangannya.
"Bagus. Sekarang kunci mulutmu, jangan bicara sebelum saya suruh bicara."
"Sahira mengangguk."
"Kenapa cuma mengangguk. Jawab Iya!"
"Tadi di suruh kunci mulut," ucap Sahira manyun.
"Ya ngak sekarang-sekarang juga."
"Dasar plin plan," gumam Sahira.
"Apa kamu bilang?"
"Ngak Pak, saya tutup mulut. mmm," Sahira menutup mulutnya rapat.
"Hah, orang seperti kamu satu aja bikin pusing, apa lagi kalau kalian bertiga terkumpul kerja di kantor semua, bisa gila saya." ucap Agatha yang memalingkan senyumnya di jendela mobil.
Sahira hanya diam seperti yang disuruh Agatha.
Mobil Agatha kembali terparkir di area kawasan Resto mewah.
'Wah, bisa ngak kenyang lagi kalo makan di tempat begini,' benak Sahira.
"Kenapa bengong, ayo masuk!"
Sahira menurut saja tanpa berkata apa-apa.
Duduk di kursi dengan mata berkeliaran kesana kemari.
"Pak Aga, mau pesan apa Pak?" tanya seorang pelayan yang tampak sudah sangat mengenal Agatha.
Sahira baru ingat, menurut nama dari Resto yang ia baca di depan tadi, Resto ini masih milik Imanuel cooperation group.
"Ra, kamu mau makan apa?"
Sahira bingung harus menjawab apa tidak, kalau jawab ngak konsistem dong.
"Ra, jawab?"
"Saya boleh bicara Pak?"
"Astaghfirullah Sahira. Nih saya buka kunci mulut kamu," Agatha menggerakkan tangannya seolah sedang membuka kunci.
"Hehe," Sahira tertawa. Mereka berdua layaknya pelawak yang sedang opera.
"Pak saya mau yang ini nih, keliatannya Enak."
"Mana bisa kamu tahu enak apa ngak, emang pernah makan?"
"Belum, hehe."
"Ya sudah saya yang pesankan, kamu pesan minuman saja yang kamu suka. Kalau pesan minuman kan kamu ngerti."
"Hehe, Bapak Bos yang pengertian."
"Ceh, sialnya saya dapet Sekretaris yang kekantroan." Agatha tersenyum.
"Haha, suka-suka Bapaklah mau bilang apa."
"Iya dong. Disini kan saya Bosnya."