Let'S Get Married

Let'S Get Married
Berkunjung



Pulang kantor Agatha mengajak Sahira ke pusat belanja, ia ingin mampir ke rumah Sahira dengan membawa sedikit makanan. Anggur, apel, strauberi, pear dan buah naga adalah buah-buahan yang ia pilih.


Ada beberapa kotak roti dan dan juga lengkap dengan minumannya.


“Bapak bilang sedikit? Itu Pak Adi sampe kerepotan begitu bawanya. Samapi harus berulang ulang,” Sahira kesal, Agatha memborong saja tanpa bertanya orang tuanya suka apa.


Agatha hanya diam memainkan ponselnya, sesekali ia menoleh Sahira yang terus mendumel.


“Pak, Bapak. Kalo orang bicara minimal dilihat kek.” Sahira mulai berteriak.


“Mm… Anda bicara sama saya?” pura-pura tidak tahu.


“Ya, iyalah. Bicara sama siapa lagi coba?” Sahira makin kesal.


“Saya pikir ada ayahmu di sini.” Agatha melajukan kursi rodanya.


“Ups…” Sahira menutup mulutnya mengejar Agatha yang sudah menjauh.


“Bicaralah yang benar!”


“Abang… kenapa belanjanya banyak sekali,” ucap Sahira dengan nada pelan.


“Agar kau bisa makan banyak, kau tidak lihat badanmu kerempeng begitu.” Sedikit senyum sarkas yang tidak terlihat oleh Sahira.


Sahira melihat pantulan dirinya di kaca dinding toko, berbalik-balik dan memutar-mutar.


“Tidak juga, apa ini terlalu kurus?” Sahira berbalik, memutar-mutar badannya.


“Mmm, itu kurus. Begitu baru gemuk,” Agatha menunjuk seorang ibu-ibu yang bertubuh besar sedang menggendong anaknya. Berjalan dengan susah payah dengan badannya yang berat.


“Apa? Bapak ingin saya seperti itu?” Sahira meringis.


“MMM, kenapa? Bukannya selayaknya jadi ibu-ibu memang begitu.” Menyembunyikan tawa di sudut bibirnya.


“Hehe, terserah Bapak sajalah,” malas berdebat, lagian sepertinya ia tidak akan gemuk.


“Ceh, kau perlu di latih tim SAR ya untuk tidak memanggil saya Bapak lagi,” bentak Agatha kesal.


“Hehe, ia Abang yang tampan. Jangan marah ya! Saya orangnya pelupa."


“Ceh,” Agatha kesal namun juga senang. Ia tersenyum dengan perdebatan yang kadang memang tidak msuk akal.


Sungguh jatuh cinta itu rumit, berdebat saja membuat orang senang bukan main.


#


“Assalamu’alaikum,” Sahira mengetuk pintu rumahnya.


“Wa’alaikum salam,” Bu Sisi ibunya Sahira membukakan pintu.


“Eh, Sayang tumben pulangnya masih siang.” Dengan senyum bersahajanya.


“Ini Mah, Pak Agatha mau berkunjung kesini, jadi pulang cepat.” Agatha melirik Sahira sinis karna masih saja di sebut Bapak.


“Oh… ini Nak Agatha Bos nya Sahira ya?” kembali tersenyum dengan senyum keibuan yang meluluhkan hati.


“Iya Tante,” Agatha mencium tangan ibunya Sahira.


“Masuk-masuk Nak, Sahira ajak masuk Sayang,” Bu Sisi menuju dapur untuk membuatkan minuman.


Pak Adi masih repot bolak balik dari mabil kerumah membawakan barang-barang yang di beli Agatha tadi.


“Mbak ini mau di tarok di mana?” Pak Adi bingung.


“Biarkan saja di situ pak.” Pak Adi keluar lagi.


“Loh, mau kemana Pak? Ini sudah saya buatkan minuman. Diminum dulu Pak.” Bu Amira baru keluar dapur.


“Iya Buk,” Pak Adi masuk kembali.


“Ma, Papa dimana?” Tanya Sahira dari tadi celingukan tidak melihat sosok ayahnya.


“Papamu kan belum pulang kerja Sayang,” Bu Amira meletakkan biskuit.


“Wah, Nak Agatha yang repot kalau begini. Banyak sekali, ini udah bisa makan sekampung.”


“Biar Tante sekeluarga bisa gemuk, hehe,” Agatha berbicara layaknya rakyat jelata.


‘Ada apa dengan dirinya?' Sahira menatap tajam perubahan sikap Agatha yang selalu tiba-tiba.


‘Dia bukan powerranger kan. Jangan-jangan dia juga punya jurus seribu bayangan.’


“Huhaha, Iya ya. Satu keluarga memang kurus-kurus. Ngak diet loh Nak memang bawaannya begitu. Sahira mah makannya banyak tapi badannya aja yang ngak melar.”


“Oh… gitu ya Tante,” Agatha mencuri lirikan pada Sahira, lirikan yang mengintimidasi seseorang.


“Iya Nak Aga. Sahira itu seharian kalo dirumah bisa full makan terus. Ganti-ganti aja makanannya. Untuk badannya modelnya ngak nyimpen lemak jadi ngak bisa gemuk,” Agatha tertawa riang, setidaknya ada rahasia emas yang terbongkar.


“Aduh,” Sahira menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bukan Cuma Agatha yang melirik-lirik mengintimidasi, Pak Adi yang di samping Agatha juga tertawa dengan girangnya.


“Berati ada kesamaan Buk sama Mas Aga,” Agatha melirik Pak Adi tajam.


“Maksudnya sama Buk kayak saya, saya juga makannya banyak tapi ngak gemuk,” Pak Adi meralat, dengan cepat ia memasukan biscuit kedalam mulutnya, tidak ingin nantinya salah bicara yang membuat marah tuan kesayangannya.


“Pak Adi mau bilang apa tadi? Pak Agatha juga sama, huhaha,” Sahira terbahak.


“Eh itu dulu. Sekarang saya tidak seperti itu lagi,” Agatha yang tanpa sengaja membenarkan omongan Pak Adi.


“Huhaha, berarti benar dong. Bapak selama ini jaim ya di depan saya makannya dikit banget."


“Sudah saya bilang itu dulu,” Agatha kesal, harusnya ia yang mengintimidasi dan mengolok-olok, mengapa sekarang malah terbalik.


“Ah, Bapak. Sama saya ngak perlu jaim kale.”


“Ceh,” Agatha makin kesal karna masih saja Sahira memanggilnya Bapak.


“Assalamu’alaikum,” ayah Sahira baru pulang.


“Wa’alaikum salam,” jawab mereka serentak.


Entah mengapa, suara berat yang keluar dari luar rumah membuat jantung Agatha seperti berada di arena pacuan kuda.


Sahira bangkit dan mencium tangan ayahnya, Agatha mengikuti Sahira untuk mencium tangan ayah Sahira juga.


Setelah masuk dan melihat Agatha ayah Sahira hanya diam tapi tidak menolak tangannya di cium kedua anak itu.


“Saya mau ganti baju,” ucapnya langsung masuk kedalam kamar di ikuti oleh ibunya Sahira dan mereka hilang di telan pintu.


Agatha melirik Sahira, ekspresinya menanyakan mengapa ayahnya tidak keluar lagi, Sahira hanya menggeleng.


“Krek,” pintu kamar di buka. Jantung Agatha kembali berdegup kencang.


Yang keluar dari ruangan itu hanyalah sososk wanita yaitu ibunya Sahira.


“Papa mana Ma?” Sahira bertanya setengah berbisik.


“Papa capek Sayang, dia langsung tidur. Maaf ya Nak Aga ayahnya Sahira mungkin hari ini bekerja terlalu berat."


“Iya Tante, ngak apa-apa kok,” Agatha masih tersenyum manis meskipun ia sudah bisa membaca keadaannya seperti apa. Ia sudah lama malang melintang di dunia bisnis tidak mungkin tidak bisa membaca ekspresi seseorang.


Sahira menunduk kecewa, padahal ia di perlakukan begitu baik di kelarganya Agatha. Tapi Agatha harus menerima sikap tidak mengenakan dari ayahnya.


“Ra, ngak apa-apa kok. Kita bisa coba lain kali,” ucap Agatha yang sudah bisa membaca diamnya Sahira.


“Maaf ya Pak."


“Mmmm, Bapak lagi. Saya bisa memaafkanmu asal berhenti panggil saya Bapak."


“Baiklah Abang. Bang saya minta maaf."


“Ngak apa-apa Ra, ngak usah di pikirin. Masih ada lain waktu.”


“Mmmm,” Sahira mengangguk.