
Keluarga Sahira sedang berkumpul, dua Kakak laki-lakinya dan istri beserta anak sudah tiba di kediaman orang tuanya.
Pernikahan ini bukanlah pernikahan mewah.
Alih-alih punya pesta besar atau orkestra, merias rumah saja mereka lakukan sendiri.
Di. luar hanya ada satu unit tenda di depan rumah. Yang diundang juga hanya orang terdekat saja, tempatnya terbatas kata ayah Sahira.
"Calonnya Sahira apa ngak di suruh kesini dulu Pa, kita kan mau liat." ucap Hanin, kakak ipar pertama Sahira yang kini tengah memasang dekorasi di ruang depan.
"Ngak usah. Toh besok mau nikah kan juga bisa liat sepuasnya." Saut Pak Lukman ayahnya Sahira
"Tapi Pa... kita kan penasaran." timpal Risa kakak ipar keduanya.
"Penasarannya disimpan saja sampai besok. Kalian kayak nunggu selama apa aja, besok juga ketemu. Kok ngak sabaran sekali."
Sahira hanya diam mendengarkan percakapan mereka dengan hati mengernyit. Tapi sekarang ia lebih ikhlas menerima takdirnya.
"Kita bukannya ngak sabaran Pa, tapi Papa sendiri kemarin bilang kalau Sahira mau nikah karna Papa jodohin. Kita penasan aja, Sahira udah ketemu belom sama dia? Sahira klik ngak sama dia? Kan yang nantinya bakal hidup sama di itu Sahira bukannya kita Pa," timpal Hanin.
"Klik, klik apaan sih? Emang handphon di klik, klik."
"Suka Pa, suka." Saut Hanin.
"Oh... suka. Kalau suka, Sahira pasti sukalah."
"Dari mana Papa tahu kalau Sahira pasti suks kalau Sahira saja belum ketemu?" Saut Risa.
"Felling." Pak Lukman menyentuh dada.
"Papa tahu Felling?" Saut Risa
"Tahu Dong. Papa itu pernah muda, hahaha."
"Kita ngak mau Papa nyesal loh Pa kalo Sahira sampe ngak bahagia." ucap Hanin serius.
"Pasti bahagia. Percaya deh sama Papa." ucap Pak Lukman dengan PDnya.
"Ya udah terserah Papa aja. Asal jangan menyesal di kemudian hari aja." saut Hanin.
"Iya... Papa lebih tahu."
#
Sahira baru saja selesai di rias oleh kedua kakak iparnya, kebaya putih yang ia pakai juga pilihan kedua kakak iparnya. Karna pernikahan ini adalah pernikahan sederhana, jadi kakak iparnya memutuskan untuk merias sendiri. Toh juga mereka bukan orang awam soal rias merias. Hanin juga pernah kursus makeup jadi ia bisa di bilang cukup mahir di bidang ini.
"Sahira Sayang selamat ya. Semoga keluarga kecil Ira di berkahi dan menjadi keluarga sakinah, mawadah warohman." ucap ibunya.
Hanin menyikut lengan Risa.
"Sa, dari kemarin kok Sahira ngak ngomong-ngomong, ngak ada speak-speaknya gitu. Felling aku nih ya, ini pernikahan sepihak yang Papa ngak ngelibatin Sahira dulu." Hanin berbisik pada Risa.
"Aku juga berpikir begitu Kak. Kasihan Sahira, kayaknya sedih banget begitu."
"Udah selesai ya diriasnya?" Ayah Sahira membuka pintu kamar.
"Udah Pa," jawab Risa.
"Pengantin laki-lakinya udah hampir tiba soalnya. Pak Penghulunya juga sudah ada di luar."
"Oh ya Pa, nanti kita segera keluar," saut Hanin.
"Kalian aja yang keluar, Sahira biar dikamar aja. Nanti pas selesai akad baru bisa keluar."
"Oh ya Pa." Ayah Sahira kembali menutup pintu.
"Ra, Kami keluar dulu ya. Mau ikut menyambut mempelai laki-lakinya, sekalian ngilangin rasa penasaran." ucap Risa.
Sahira mengangguk.
"Iya Ra, ingat loh jangan kabur. Bisa berabe kalau kamu kabur, sementara di luar nama kamu sudah di nikahkan oleh Papa." ucap Hanin
"Hus..." ibunya menepuk bahu Hanin.
"Hehe, wanti-wanti Ma." Hanin cengengesan.
"Udah, ayuk kita keluar."
Kini Sahira duduk di depan kaca rias, matanya menatap nanar sosok yang ada di dalam cermin di hadapannya.
Inikah dirinya?
Kebaya putih dengan ornamen tidak berlebihan, kerudung dengan sedikit riasan di kepala saja sudah membuat wajahnya yang dari sana sudah di anugrahi kelebihan tersendiri semakin bersinar.
Cantik bukan?
Tapi untuk siapa ia di dandani secantik ini?
Kemuadian matanya berpindah pada riasan hena di tangannya.
Sungguh sangat menawan. Jika gadis lain di posisi ini maka mereka akan mengambil gambar dengan pose paling elegan yang mereka bisa tampilkan. Namun ia tak berminat.
Haruskan ia mengintip?
Jika tidak klik, bukankah lebih baik kabur. Toh ada jendela di sini.
Tapi bagaimana dengan ayahnya?
Bagaimana dengan rasa malu yang harus mereka tanggung?
Di detik ini, ia berharap Agatha akan darang bak pengeran berkuda putih yang menyelamatkan seorang putri. Entah hayalan macam apa itu?
"Kakak." Amara masuk kamar.
"Amara kamu datang?"
"Iya dong Kak, masak enggak."
"Bagaimana mas kawin sudah ada? coba saksi di periksa dulu." Suara penghulu yang sukses membuat jantung Sahira berloncatan di arena pacuan kuda.
"Kakak gugup ya?"
Sahira hanya mengangguk.
"Kakak pegang tangan aku aja erat-erat."
Sahira menggeleng.
"Baiklah. Akad akan kita mulai. Untuk Bapak lukan silahkan bersaman. Mungkin mau latihan terlebih dulu supaya ketika akad beneran ngak kaku."
Pada kalimat ini Sahira mulai menutup kupingnya, berharap ini hanyalah sebuah mimpi.
"Kakak, kenapa tutup kuping. Dengerin aja Kak?" Sahira tetap menggeleng.
Setelah beberapa lama ia menutup kupingnya dengan Amara menatapnya sambil tersenyum.
"Bagaimana para saksi sah?"
"Sah."
"Sah." jawab para tamu serentak.
Suara sekelompok orang di luar kamar, meski sudah menutup kuping tetap saja terdengar olehnya.
Seketika hujan membanjiri pipinya.
Entah ia harus senang, sedih atau apa?
"Alhamdulillahirobbil 'alamin."
Kemudian terdengar lantunan do'a dari luar, Sahira segera mengadahkan tangan.
"Mempelai wanita silahkan keluar!"
"Yuk Kak kita keluar!"
Sahira mengangguk.
Sahira menunduk, sekilas ia menagkap punggung laki-laki yang menikah dengannya sedang duduk bersila di hadapan ayahnya. Itu yang membuat tubuhnya lemas seakan tidak bertulang.
Jelas-jelas itu bukan Agatha. Mana mungkin Agatha bisa duduk bersila dengan santainya.
"Mempelai wanita silahkan duduk di samping mempelai pria!"
Ia duduk tetap dengan wajah menunduk.
"Sekarang cium tangan suamimu nak!" Perintah Pak luman ayahnya Sahira.
Suami Sahira sudah mengulurkan tangan terlebih dulu. Lama Sahira terdiam menatap tangan putih itu, jelas seperti bukan tangan yang sering bekerja keras.
Lalu ia menyambut dan mencium tangan itu.
Kemuadian tangan besar dan kokoh itu beralih memegang dugunya.
Dan sepersekian detik kemuadian mengangkat wajahnya yang dari tadi menunduk. Seketika mata mereka bertemu. Mata Sahira membulat, kini mata itu di penuhi gemintang, bersinar layaknya bintang paling terang.
"Abang."
--------------------------------------------------------------------
Dear Readers tersayang๐๐๐:
Maaf ya kalau akhir-akhir ini jarang up dan kalaupun up cuma sedikit.
Soalnya author lagi fokus sama novel yang satunya di platfoam sebelah๐๐๐
Novelnya bukan mangkak atau di tingal, author akan mencoba sebisa mungkin untuk tetap up, cuma ngak sering ya๐๐
Dan sekian dari author untuk reader tersayang๐๐๐