Let'S Get Married

Let'S Get Married
Sebuah Rahasia



DAR…DAR…DAR…


Suara yang membangunkan seisi rumah ketika matahari mulai keluar. Dengan setengah sadar sahira bangun dari permadani indah tempat ia ketiduran lagi setelah sholat subuh tadi.


DAR…DAR..DAR..


DAR…DAR…DAR..


Suara dari luar semakin keras, sepertinya yang di laur punya tingkat kesopanan yang teramat rendah. Bukan begitu caranya bertamu di tempat orang.


Ia membuka pintu kamar, menangkap punggung ayahnya yang sudah lebih dulu membuka pintu rumah. Dengan pengelihatan yang belum kembali sempurna punggung ayahnya dan dua orang yang berada di luar yang terlihat sebagian tubuhnya saja terlihat buram.


Lebih baik ke kamar kecil dulu, biar lebih enakan pikirnnya. Namun ketika masuk kamar mandi ia malah betah berlama-lama. Mencuci wajah, gosok gigi yang setiap centinya harus di sikat secara sempurna.


Ia keluar dari kamar kecil setelah serangkaian treatment dilakukan sedemikian rupa. Akhirnya kelar juga.


Pemandangan pertama yang di suguhkan ketika keluar kamar kecil adalah wajah murung ayahnya yang duduk lemas di ruang tamu.


“Sahira kamu belum masuk kerja hari ini?” ibunya terlebih dulu menyapa saat ia ingin mendekati ayahnya yang jarang sekali menampakkan wajah di tekuk seperti itu.


“Ngak Ma, ada sedikit urusan yang harus di selesaikan.” Belum sempat ia bertanya pada ibunya, namun ibunya sudah lebih dulu mendekati ayahnya dengan menaruh teh hangat di atas meja tepat di depan ayahnya.


“Ma, Pa. tadi siapa?”


Tak ada satupun yang membuka suara hingga pertanyaan tadi hilang terbang mengudara.


“Ma, Pa. ada masalah?” ia mengernyit, ada yang tidak beres dari tingkah orang tuanya hari ini.


“Kamu bukannya sudah harus masuk kerja?” ayahnya membuka tofik yang berbeda.


“Sahira dipindah tugas sama kantor Pa.”


“Oh.. gitu. Kemana?” ayahnya teringat akan perjanjiannya pada Agatha tempo hari, ternyata inilah maksudnya.


“Bandung Pa. Rencananya Ira mau datang ke kantor hari ini mau nanya aja kenapa Ira di pindahkan…”


“Kamu ngak perlu datang ke kantor Ra,” potong ayahnya.


“Kenapa Pa?” ia mengernyit.


“Kamu berangkat aja ke Bandung langsung. Nanti kalau kerja kamu bagus, ayah yakin kamu bakal di tarik lagi ke kantor pusat.” Sampai sini ia benar-benar paham, ada hal lain yang belum ia ketahui.


“Tapi Pa… Ira perlu tahu, salahnya Ira tuh dimana?”


“Kamu nurut sama Papa! Kemasi barang kamu dan berangkat ke Bandung!” ia menatap ayahnya nyalang, nada bicara ayahnya barusan terdengar seperti sebuah pengusiran baginya. Perkataan ayahnya barusan layaknya sebuah petir yang menyambar namun tidak ada hujan apalagi badai. Dari berapa puluh tahun ia tinggal bersama ayahnya, baru kali ini ia merasa disisihkan bahkan entah secara sengaja atau tidak kalimat tadi jelas terdengar seperti sebuah pengusiran.


#


Dua bulan kemudian.


“Good Job Kak,” Amara mengangkat tangan kanan guna mengajak Tos ala anak muda. Sahira menyambut dengan senang hati, memadukan tangan untuk awal penyemangat pagi ini.


“Yeiii,” suara mereka berdua lantang di ruang rapat yang baru saja kelar beberapa menit yang lalu. Kesenangan pertama bagi Sahira yang terlibat dalam tender projek besar yang mereka menagkan hari ini.


“Kita makan-makan Kak hari ini. Undang semua Staf kantor! Kita bakalan ngadain pesta kecil-kecilan di rumah AMARA,” terang Amara lantang.


“Siap Nona… tugas segera di laksanakan,” jawab Sahira.


“Maaf Ibu Sahira, ada yang mencari anda di depan,” ucap salah satu Staf yang mendatanginya.


“Siapa?” Tanyanya heran, untuk pertama kali ada yang mencarinya setelah tugas di Bandung.


“Katanya ayah anda.”


“Ayah? Oh ya, saya segera turun.”


“Amara saya ke bawah dulu ya. Katanya ada papa saya nungguin di depan.”


“Oh ya Kak, Aku ada urusan sebentar. Nanti aku susul ya, sekalian ajak Om kerumah.”


“Siap…” Sahira langsung turun menggunakan lif.


“Pa, Ma,” ia mencium tangan ayah dan ibunya.


Ayah dan ibunya tersenyum dengan tatapan sahdu dan menenangkan, sudah lama ia tidak melihat dua wajah teduh itu, terkahir kali bertemu ialah dialog sengit antara ia dan ayahnya.


“Kamu sehatkan?” ayahnya memulai percakapan.


“Alhamdulillah sehat Pa,” ayahnya tersenyum.


“Mama sama Papa kenapa berdiri dari tadi, itu kursi kosong banyak,” menunjuk kursi yang ada di lobi.


“Sekalian lihat-lihat kantor kamu Ra, enak kalo berdiri,” jawab ibunya yang di iringi anggukan ayahnya.


“Oh ya. Mama sama Papa sekedar menjenguk atau ada urusan yang penting?”


“Papa sama Mama mau bicara sama kamu Ra, tapi ngak di sini. Kita cari café di dekat sini bisa?” ayahnya mulai merangkul putri satu-satunya yang teramat ia cintai itu.


“Tentu bisa Pa.”


“Kamu izin dulu gih sama Boss kamu!” ibunya menimpali.


“Biar Ira wa aja Ma, tadi katanya Amara mau turun sekalian ketemu sama Papa, sama Mama juga.”


“Amara itu Boss kamu?” Tanya ibunya heran sebab ia menyebut nama Bossnya dengan gamblang.


“Iya Ma, dia lebih muda. Udah kayak adek sendiri, hehe.” Menggaruk kepala, yang di iringi usapan lembut ibunya sedetik kemudian.


#


“Ra, kamu mau pesan apa? Biar enak kita ngobrolnya.” Ayahnya bertanya sementara ia masih sibuk mengetik di watshap guna memberitahukan keberadaannya pada Amara.


“Samain aja sama Papa,” fokus pada layar ponsel.


“Oh ya. Mbak orange jus dua. Mama mau apa?”


“Alpukat aja deh.”


“kita mau pesan makanan ngak nih?” Tanya ayahnya.


“Ngak usahlah Pa, tadi kan Mama bawa makanan banyak di mobil ntar mubazir lagi kalo udah pada kenyang.”


“Oh ya udah. Minum aja Mbak.” Pelayan wanita masih sibuk mencatat.


“Baik, pesanan segera tiba.” Pelayan itu tersenyum ramah.


“Jadi apa yang mau di bicarakan Pa?” Sahira memasukkan ponsel kembali ke dalam tas setelah mendapat balasan “oke” dari Amara.


“Jadi gini, usia kamu udah ngak muda lagi nih. Udah mau kepala tiga loh Ra.” Sahira mulai bisa menebak kemana arah pembicaraan ayahnya.


“Terus….?”


“Papa mau menikahkan kamu Ra.” Perkataan ayahnya singkat namun mengoyak bagi sahira.


“Pa… nikah gimana maksudnya? Nikah itu butuh partner Pa, ngak bisa sendiri.”


“Papa udah punya partner buat kamu.”


“Pa… ngak bisa begitulah." Sahira tidak bisa terima keputusan secara sepihak dan sangat mendadak.


“Apa yang ngak bisa Ra? Papa yang menjamin kalau dia bisa membahagiakan kamu.” Ayahnya berkata dengan penuh keyakinan.


“Pa… Ira yang menjalani. Jadi Cuma Ira yang tahu bahaggia atau tidaknya. Papa sekarang mulai lucu deh, ngak kayak Papa yang Ira kenal dulu.” Sahira sedikit terpancing emosional.


“Permisi, ini pesanannya,” pelayan wanita menaruh minuman di atas meja.


“Terus kamu maunya gimana? Mau perawan tua kamu?” ayahnya mulai membentak.


Ya benar, hari yang ia tunggu-tunggu tidak kunjung tiba. Ia menunggu kabar dari Agatha walaupun hanya sekedar miscall balik setelah puluhan bahkan ratusan kali ia menelpon tapi tidak ada jawaban.


Hari berganti hari, bulan berganti bulan, namun Agatha tak sekalipun menghubunginya. Pada titik ini ia pasrah jika ayahnya yang benar di semua argument yang ia ingin buktikan bahwa Agatha adalah orang yang baik untuknya. Namun pada kenyataannya, jika salah ayahnyapun seharusnya Agatha bisa sedikit berjuang. Tapi ia malah menghilang bak di telan alam, sedangkal itukah cintanya?