
Tidak heran bibi ini salah mengira umurnya.
"Oh, istri? Aku tidak menyangka kau menikah begitu muda!" Bibi tertawa dan berkata, lalu menambil pembalut yang merek sofy dan di serahkan kepada Dhefin.
"Merek ini bagus, dan orang orang yang membelinya adalah yang paling banyak. Iklannya juga sudah ada di mana mana."
Melihat pembalut wanita yang telah di serahkan kepadanya, Dhefin melihat kebawah dan mengambilnya. Dia juga tidak tau harus memilih yang mana. Bibi ini merekomendasikan ini. Yasudah yang ini saja.
Dia biasanya menyalakan TV hanya melihat berita saja dan tidak melihat iklan sama sekali, apalagi melihat iklan pembalit wanita.
"Terima kasih!" dia sedikit tersenyum, dia berbalik dan ingin pergi, tetapi dia memikirkan lagi bagaimana jika chessy tidak menyukainya?
Dia menghela nafas lega, dan Dhefin berbalik dan kembali lagi kedepan rak. di kolom sofy dia mengambil sebungkus pembalut wanita yang berbeda.
Petugas kasir di pintu memperhatikannya ketika Dhefin memasuki pintu supermarket.
Pria yang seperti itu yang mengenakan gaya sederhana tetapi masih tampan, ingin untuk tidak di perhatikan, sepertinya itu benar benar sulit.
Namun, pada saat ini, dia mengeluarkan dua bungkus pembalut wanita dan mau membayar, membuat gadis itu tertegun. Hatinya langsung hancur berkeping keping. Awalnya dia masih bisa memiliki untuk mennyambut cinta. Tapi sekarang lelaki tampan ini memegang dua bungkis pembalut wanita, itu kan jelas memberitahunya, dia sudah punya pacar!
Pembalut wanita sudah di bayar, dan biaya kantong plastik juga sudah di hitung, namun, karena masih sedih dan pikirannya kosong dia lupa memberinya kantok plastik untuk membungkus pembalut wanita.
Awalnya membeli pembalut wanita Dhefin tidak merasa malu. Tetapi sekarang dia menunggu lama gadis kecil itu tidak membungkusnya dan pelanggan yang berbaris di belakangnya semua mengalihkan pandangan mereka ke pembalut wanita merek sofy itu yang sedang berbaring di meja kasir, berbisik di mulut mereka, ini membuat dia merasa tidak nyaman. Karena gadis itu tidak merespon, Dhefin terpaksa membuka mulut untuk bertanya padanya.
"Kamu..... harusnya bantu aku untuk membungkusnya?"
"Ah" mendengar kata kata Dhefin, gadis itu mendongak dan wajahnya memerah lalu sibuk membungkus dan menyerahkannya.
Pas saat memgambil kantong plastik itu Dhefin bernafas lega di dalam hatinya. Berbalik, ia dengan cepat berjalan keluar dari supermarket dan menuju ke arah rumah.
Di kamar mandi, chessy sudah hampir akan tidur, dan akhirnya mendengar suara membuka pintu.
Membenarkan lilitan handuknya dan dia memegang handuknya dengan erat agar tidak mudah terlepas dari tubuhnya. Lalu ia berjalan ke pintu kamar mandi.
"Dhefin...."
Dhefin baru berdiri di luar pintu kamar mandi dan ingin mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu. Dia mendengar chessy memanggil namanya.
Dia tersenyum, dan mengangkat tangannya dan mengetuk pintu. Lalu dia berkata
"Aku sudah membelinya untukmu"
Memutar pegangan pintu, chessy sekali lagi membuka pintu dengan sedikit celah, lalu meraih dan mengambilnya.
Dhefin menyerahkan kantong plastik yang berisi pembalut wanita itu ketangannya, tetapi tangannya tidak segera melepaskan kantok plastik itu.
"Chessy, kamu...."
"Yah"
Melihat tangannya yang polos tapi sedikit canggung, dan pipinya yang masih merah muda, Dhefin melepaskan tangannya dan kemudian mengalihkan pandangannya lalu berkata.
"Kamu, kamu pelan pelan saja" selesai berbicara Dhefin berbalik dan pergi, meninggalkan chessy yang memegang handuk mandi di satu tangan dan pembalut wanita di tangan yang satunya. Yang Bahkan lebih bingung.
Chessy tidak lagi berpikir, ia membawa kantong plastik itu ke dalam kamar mandi, lalu menutup pintu dan mengganti pakaiannya. Dia berpikir setelah mengganti pakaian ia akan segera pulang.
Dhefin berbalik dan berjalan pergi, tetapi belum mencapai pintu kamar tidur, dia bersandar di dinding di samping lalu menghembuskan nafasnya secara kasar.
Terakhir kali dia melihat chessy di kamar mandi antusiasmenya sudah menyala. Ketika dia pergi keluar untuk membeli pembalut kanita karena angin dingin dia baru sedikit pulih. Tetapi setelah melihat lengan putihnya, jantungnya seperti ada cakar kucing yang menggaruk. Api yang baru saja di tekan sekali lagi muncul, dan tampaknya lebih kuat dari sebelumnya. Dalam benak Dhefin, chessy yang di bungkus dengan handuk mandi tetus terusan muncul. Itu jelas imut, tetapi menurutnya sangat menarik dan menggoda.
Semakin dia muncul dalam pikirannya, semakin kuat api yang membakar di dalam tubuhnya.
"Dhefin, kamu bukan belum menyentuh seorang wanita, bagaimana kamu bisa melihat chessy impulsif seperti seorang pria muda dia usia awal dua puluhan" menutup matanya Dhefin mencoba untuk menekan gambar itu dalam pikirannya. Dia sedang bersiap untuk pergi ke ruang tamu, tetapi belum melangkah keluar dia mendengar suara dan pintu kamar mandi terbuka.
Ketika chessy melihat Dhefin, kakinya seperti dua potong kayu, membeku di tempat yang sama.
Baru saja ia melihat bahwa dia berbalik dan pergi, chessy berpikir bahwa seharusnya tidak ada seorangpun di kamar tidur.
Tadi sebelum dia mandi ia meninggalkan celananya di kamar tidur. Chessy pikir jika ia mengenakan celana Dhefin dan lalu mengambil celananya, maka harus melepaskannya lalu memakai celana punya sendiri dan itu terasa ribet. Chessy selalu menjadi orang yang malas, jadi dia langsung keluar untuk mengambil celananya.
Saat ini tubuhnya hanya mengenakan kaos yang di siapkan Dhefin untuknya, tubuh Dhefin ramping dan pakaiannya di kenakan di tubuh chessy. Panjang dan longgar, hanya menutupi celana dalamnya. Tetapi sisanya masih terekspos ke luar.
Merasakan bahwa garis pandang Dhefin tampaknya terkunci dengan kuat di tubuh bagian bawahnya, chessy baru menyadari bahwa dia tidak memakai celana.
Menundukan kepalanya dia panik untuk menutupinya. Tetapi tangannya di bandingkan dengan kakinya, tidak bisa menutupi semuanya! Pada saat ini dia hanya mau menggali lubang untuk mengubur dirinya sendiri.
Menggigit bibirnya, chessy berbalik dan ingin berlari kembali kedalam kamar mandi.
saat dia berbalik dan ingin pergi di belakangnya Dhefin sudah melangkah maju dan menariknya. Membalikan tubuh chessy ia dengan kuat mungunci chessy antara dirinya dan dinding.
"Dhefin, aku...." melihat Dhefin yang begitu dekat dengannya pada saat ini, wajah chessy merah dan ia segera menundukkan kepalanya dan tidak berani menatapnya lagi.
Dhefin menatapnya dengan mata yang melotot lebar, dan matanya tidak berkedip. Tampaknya chessy adalah harta di depan matanya. Jika berkedip akan kehilangan itu.
Tidak pernah ada pria yang memiliki postur seperti itu dengan dirinya, begitu menatap dirinya chessy sedikit malu, tangannya tergantung di kedua sisi, mengepalkan tangannya menjadi kepalan kecil, sama sekali tidak tahu apa yang harus dia lakukan selanjutnya.
"Chessy....." melihat wanita yang sudah menundukkan kepalanya, Dhefin mengangkat tangan dan dengan lembut mengangkat dagunya.
"Lihat aku."