
DAR…DAR…DAR..
Suara ketukan pintu yang teramat keras membuat Pak Lukman bergegas keluar dari kamar untuk segera membukakan pintu.
“Siapa bertamu sepagi ini?” gerutu Pak Lukman saat hendak membukakan pintu.
KREK…. Pak Lukman membukakan pintu.
“Maaf kalian siapa?” Tanya Pak Lukman. Ada dua pria tinggi dan putih berada di depan pintu rumah.
“Kami yang seharusnya bertanya. Bapak ini siapa? Mengapa menempati rumah kami? Seingat kami rumah ini tidak di sewakan apalagi di jual.” Ucap pria besar yang raut wajahnya terlihat seperti seorang pengusaha yang sukses. Wajah putih dan kulit yang mulus jelas dia bukan dari keluarga susah.
“Maksud Bapak gimana ya? Kami sudah membeli rumah ini dari Bapak Supardi dan kami juga punya sertifikatnya.”
“Bagaimana mungkin Pak. Kami memang menyuruh Pak Supardi menawarkan rumah ini, tapi kata Pak Supardi belum ada yang berminat sampai sekarang.”
“Loh bukannya rumah ini sudah milik Pak Supardi?”
“Siapa yang bilang Pak. Rumah ini memang masih resmi hak kami.”
“Tapi ketika Pak Supardi menjual kepada kami, Pak Supardi sudah punya surat jual beli yang menyatakan rumah ini sudah menjadi miliknya.”
“Loh kok begitu? Ada yang ngak beres ini Mas.” Ucap Pria yang lebih muda.
“Kita harus cari Pak Supardi dan mengambil kembali sertifikatnya.”
“Maksudnya gimana ini Bapak-Bapak. Saya masih belum paham.” Tanya Pak Lukman kepada dua Pria jangjung itu.
“Jadi begini Pak, sekitar delapan bulan lalu kami menyerahkan sertifikat rumah ini pada Pak Supardi minta supaya Pak Supardi memncari orang yang berminat membeli rumah ini. Tapi ketika kami bertanya Pak Supardi selalu bilang belum ada yang minat untuk membelinya. Sekitar sebulan yang lalu Pak supardi yang tadinya adalah sopir kami tidak lagi kembali kerumah dan kami juga baru mengingat tentang sertifikat yang kami berikan padanya. Ketika kami survey ke rumah ini ternyata ada penghuninya dan kami pikir mungkin saja yang tinggal di sini adalah Pak Supardi.”
“Jadi maksud Bapak kita di tipu sama Pak Supardi?”
“Sepertinya begitu Pak. Pak Supardi sudah lebih dari lima tahun bekerja di rumah kami, ami benar-benar tidak mengira hal seperti ini bisa terjadi.”
“Aduh, jadi ceritanya gimana ini?”
“Boleh kami lihat sertifikat yang Bapak punya?”
“Boleh Pak, saya ambil dulu ya.” Pak Lukman mengambil sertifikat yang ada di dalam lemari kamar lalu menyerahkannnya pada kedua orang tersebut.
“Pak, sertifikat Bapak palsu.” Ucap mereka setelah memeriksa sertifikat rumah Pak Lukman.
“Bagaimana mungkin dia bisa memalsukan sertifikat.”
“Semua kemungkinan bisa terjadi Pak. Begini Pak, kami akan mencari keberadaan Pak Supardi terlebih dulu. Baru setelah itu kqmi harus berurusan sama Bapak bagaimana menyelesaikan masalah kita ini. Tapi yang jelas di perkara ini kalau sertifikat kami bisa saya dapatkan kembali tentu kami akan menang.”
“Dan jika sertifikat pun tidak ketemu tetap Bapak tidak bisa tinggal di sini. Bapak bisa di tuduh memalsukan sertifikat bangunan.”
“Jadi saya harus bagaimana? Satu-satunya rumah yang kami punya ya ini.”
“Kami akan datang kembali setelah bertemu dengan Pak Supardi, mungkin ia akan bersedia untuk mengembalikan uang Bapak. Jika tidak Bapak bisa saja mempidanakannya.”
“Baiklah kalau begitu, saya tunggu kabar selanjutnya.”
“Dan maaf apa boleh saya meminta nomor kalian?” Pak Lukman menghentikan langkah kedua pria itu saat hendak pergi."
“Boleh.” Lalu pria itu menyebutkan nomor ponselnya.
“Saya udah miscall, tolong di simpan nomor saya. Sewaktu-waktu saya mau menelpon tentang perkembangan kasus ini.
“Baiklah Pak, kami permisi dulu.”
“Mmm,” Pak Lukman mengangguk.
Pak Lukman menutup pintu dan terduduk lemas di sopa depan. Bu Sesil yang hanya diam saja mendengar pembicaraan tidak mengenakkan itu bergegas ke dapur untuk membuatkan the hangat pada suaminya.
#
“Lapor Boss, saya punya berita penting.” Ucap Agung yang beberapa hari ini di berikan tugas mengawasi Sahira dari kejauhan.
“Apa itu?” Agatha berbalik. Ia sedang latihan memakai tongkat. Pengobatannya yang terus dilakukan mulai menemui titik terang.
“Sepertinya ayahnya Nona Boss sudah tertipu.”
“Tertipu bagaimana? Kamu ngomong yang jelas Agung!”
“Tadi pagi ada dua laki-laki yang datang kerumah Pak Lukman. Mereka mengatakan kalau mereka pemilik asli rumah yang di tempati oleh Nona Boss dan mereka baru tahu kalau rumah itu sudah di jual oleh sopir mereka yang bernama Supardi.”
“Jadi?”
“Maaf Boss tapi Pak Lukman mendapat sertifikat palsu dan jika ini jadi perkara hukum Pak Lukman jelas kalah.”
“Sekarang mereka harus pindah?”
“Mereka masih diberikan waktu sampai Pak Supardi ketemu Boss.”
“Apa rencana mereka kalau Pak Supardi sudah ketemu?”
“Mereka ingin meminta Pak Supardi mengembalikan uang mereka.”
“Tidak Mungkin orang itu bisa mengembalikan uang Pak Lukman. Uang itu pasti sudah habis karena kasusnya baru ketahuan sekarang.”
“Sudah berapa lama Pak Lukman membeli rumah itu?”
“Sepertinya sekitar tujuh sampai delapan bulan Boss.”
“Apa lagi dengan waktu selama itu, jelas tidak ada harapan.”
“Yang saya dengar dari percakapan mereka Pak Supardi baru kabur sekitar sebulan yang lalu. Dari sutulah Majikannya mulai menyelidiki.”
“Baiklah, kamu pantau terus rumah Pak Lukman!”
“Siap Boss.”
“Oh ya, bagaimana keadaan Sahira.”
“Sepertinya Nona Boss sudah sehat Boss. Tapi tadi saya lihat Nona Boss bawa koper keluar dari rumah, sepertinya ingin keluar kota.”
“Oh.. jadi begitu. Biarkan saja dia pergi. Kita selesaikan saja masalah yang di sini terlebih dulu.”
“Tapi kenapa harus pergi Boss?”
“Agung jangan banyak bertanya yang tidak perlu kamu tanyakan. Lakukan saja tugasmu dengan baik!”
“Siap Boss. Laksanakan.”
Agaha melanjutkan kembali berjalan-jalan di aprtement di bantu tongkat yang ia punya.
“Tunggu dulu!” Agung yang hendak keluar seketika berhenti mendengar perintah dari si Boss.
“Agung, kamu selidiki siapa pemilik rumah tersebut secepatnya! Saya butuh informasi secepatnya.”
“Saya sudah sedikit bertanya-tanya Boss, dari yang saya dengar salah satu yang datang kerumah Pak Lukman adalah pemilik PT.SAA yang ada di semarang. Yang saya dengar mereka juga tidak tinggal di Jakarta Boss. Tapi saya akan menggali lebih dalam lagi tentang informasi ini Boss.”
“Baiklah. Tolong secepatnya berikan saya info lanjutannya. Saya ingin segera menemui mereka.”
“Baik Boss.” Ucap Agung mantap.