Let'S Get Married

Let'S Get Married
Sahira



Sejatinya pernikahan adalah hal yang dinanti-nantikan bagi para insan normal yang sudah cukup usia dan siap secara jasmani dan rohani dengan tingkat kematangan yang tinggi, dan mereka telah siapa akan segala resiko untuk hidup berumah tangga dalam hiruk pikuk sebuah pernikahan yang tentunya tidak akan mudah. Terlebih jika ia sudah menemukan tambatan hati dan sudah tertaut akan cincin indah yang tersemat lekat dan dan pas ketika memandangi.


Namun semuanya tandas pungkas di ujung benda berwarna pink yang menampilakan kilatan silaunya dalam kegelapan yang merek sebut ponsel, ia yang berdering satu kali namun suksek membuat mata Sahira membulat lekat memandang benda bersinar itu pada malam gelap pekat dengan hiasan bintang-bintang di langit-langit kamarnya. Sebuah email dari kantor pusat yang menyatakan ia telah di pindah tugaskan kekantor cabang yaitu kota Bandung.


Otaknya terus berputar-putar tentang apakah sebenarnya yang terjadi?


Hubungannya baik-baik saja dengan Agatha tempo hari ketika Agatha mengantarnya pulang dari rumah sakit, kecuali tatapan tidak bersahabat dari ayahnya. Itu saja sekelabat ingatan yang berputar di ingatannya.


 


 "Abang," Sahira keluar di dorong Ibunya.


Agatha tersenyum menatap Sahira.


"Biar Ira sendiri aja Ma," Sahira menolak di dorong Ibunya.


Mereka berdua berjalan bersamaan dengan senyum merekah di wajah Sahira, baru kali ini ada seorang gadis teramat bahagia ketika menaiki kursi roda.


"Abang, sekarang kira sejajarkan," Sahira menderetkan kursi rodanya.


"Mmm," Agatha tersenyum dan mengelus kepala yang terhalang kerudung, sentuhan pertama yang ia berikan setelah sepuluh tahun berlalu.


"Ternyata menyenangkan berjalan begini bersama Abang. Besok kita ngemall begini aja Bang, huhaha." Sahira terbahak.


"Kamu urus saja dirimu baik-baik sampai benar-benar pulih, baru mikirin jalan-jalan."


"Siap Boss," Sahira mengangkat tangan hormat.


 


Mungkinkah ia membuat kesalahan?


Atau apakah karna ia izin terlalu lama membuat pekerjaannya bermasalah? Tapi bukankah Agatha sendiri yang menyuruhnya libur sebanyak yang ia mau.


Sungguh ada banyak hal yang tidak bisa ia mengerti dan cerna dengan otaknya yang ia rasa sangatlah dangkal.


Tidak mungkin ia menelpon ke kantor untuk menanyakan prihal keputusan kantor yang memindah tugaskannya sementara malam sudah larut.


“Ahh.. mengapa aku tidak membuka ponselku dari tadi?” ia menyesali karna terbangun larut malam yang telah ketiduran habis sholat isya tadi.


“Abang, yah mengapa aku tidak menelpon yang punya titah secara langsung?” ia mulai menscool layar guna menemukan percakapannya dengan Agatha untuk segera menekan tombol Call.


Tut…tut..tuttt….


Suara dari ponselnya namun tidak mengubah tulisan di ponsel menjadi berdering, tulisannya hanya memanggil jadi jelas panggilannya tidak masuk dalam ponselnya Agatha.


Ia mencoba berulang-ulang namun hasilnya nihil, tetap sama nomor Agatha sedang tidak aktif.


“Telpon langsung deh, ngak usah pakek watshap,” gumamnya.


Segera ia mencsrool kontak.


Call Abang…


"Aissstt," ia mendesis kesal.


“Oke… baiklah. Besok pagi saja, mungkin dia sudah tidur.” mencoba menenangkan diri dari rasa berkecamuk, campur aduk layaknya gado-gado bik Noni yang suka keliling di komples sebelah. Rasa takut, marah, kecewa dan penuh tanda tanya.


Takut, kalau yang memberi keputusan memang Agatha.


Marah, karna di putuskan sedemikian secara sepihak.


Kecewa, karna tidak ada tempat untuk bertanya secara langsung.


Penuh tanda tanya, ya memang memang penuh tanda tanya, memangnya siapa yang tidak akan bertanya-tanya, tidak ada angin, tidak ada hujan tiba-tiba pindah tugas.


Karna sudah terbangun selarut ini Sahira berpikir alangkah baiknya jika ia sholat tahajud dulu sebelum kembali tertidur. Karna menurut yang ia pernah baca kalau terbangun malam hari itu artinya Allah lagi menyapa , apakah hambanya akan sholat atau kembali tertidur?


Sahira bernajak untuk menunaikan sholat yang teristimewa di sepertiga malam paling utama.


Selesai sholat ia membaca surat Albaqarah ayat terakhir seperti yang biasa ia baca sebelum-sebelumya ketika sholat. Seperti hal yang perna ia baca jika surat albaqarah ayat terakhir di baca di malam maka rizki kita akan di cukupkan, ia masih ingat betul hadistnya.


“Siapa yang membaca dua ayat terakhir dari surat Al-baqarah pada malam hari, maka ia akan di beri kecukupan.” (HR. Bukhari dan Muslim)


“Amanarrosulubima unzdilailaihi mirrobbihi walmu’minun,” bagitalah sahira melantunkannya hingga selesai, untuk setelahnya mentadaburi isi ayatnya.


Bagian akhir yang mengena di hati Sahira.


“Allah tidak membebani seseorang malainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang di kerjakannya. (mereka berdo’a) Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau membebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir,” (*QS. Al-baqarah:286)


Seketika hati dan pikiran yang tadinya berkecamuk menjadi tentram, ranya baru saja di siram oleh air pegunungan sejernih air yang turun dari syurga. Biarlah esok akan seperti apa, yang ia tahu Allah tidak akan membebani seseorang di atas batas kemampuannya. Sahira tertidur di atas sajaha coklat dengan masih mengenakan mukenah putih pemberian Ibunya.


"Asholatukhoirum minannaum," Suara azdan yang seketika membuat Sahira terbangun, ia baru sadar jika sudah tertidur di permadani indahnya.


Segera ia berwudhu dan menunaikan sholat dua Raka'at rowatib sebelum subuh dan dua raka'at sholat shubuh.


Setelah berdo'a ia membuka kembali ponselmya seraya membuka mukenah.


Calling Abang......


"Maaf, nomor yang anda tuju sedang tidak aktif," begitulah suapa perempuan yang menurutnya menjengkelkan mengucapkan kata itu berulang-ulang.


"Pak Agatha merdu sekali ya NSP mu sampai kupingku mendengarnya berasa mau pecah," Sahira mulai marah, mondar-mandir menapaki keramik putih bersih yang menjadi pijakannya.


Padahal baru semalam ia merasa lega, plong dan ikhlas rasanya. Tapi dini hari begini sudah terpancing emosi kembali.


"Yaaaa, telpon kantor," Segera ia mensrcoll layar ponsel.


"Emang jam segini ada orang di kantor?" Gumamnya, berbicara sendiri dan strees sendiri.


"Oh ya, Mang Jaja," ia teringat kalau ia pernah meminta nomor Pak Satpam di kantor.


"Eh, tunggu dulu... emang ada gunanya nelpon Satpam. Emang Satpam punya urusan tentang pemindahan Staf?" Ia terduduk di tempat tidur dan melempar ponselnya karna merasa berpikir untuk sekarang bercuma. Hanya nomor Mang Jaja yang ia punya dan bisa di pastikan kalau di tanya soal pemindah tugasan Staf akan melongo tidak mengerti, emang urusan dia?


Hello... sejak kapan Satpam berubah tugas menjadi pengurus pemindahan seorang Staf.