
"Krek," pintu kamar di buka saat Edu sedang fokus melihat photo-photo dalam kotak.
Lama mereka terdiam saling menatap satu sama lain.
Agatha mendekati Edu dan mengambil semua yang berada di tangannya.
Edu hanya diam, ada sejuta pertanyaan yang ia ingin tanyakan namun tercekat. Mulutnya hendak berkata namun ia urungkan.
"Ga..."
"Jangan tanya apapun!" Agatha meninggalkan Edu dengan rasa penasarannya.
Selama mereka bersahabat tak pernah sekalipun Edu bertanya kenapa Agatha bisa lumpuh atau ia lumpuh dari lahir. Hal-hal sedikitpun tentang kenapa Agatha tidak bisa berjalan yang ada di otaknya ia singkirkan semua. Ia tulus ingin bersahabat dengan Agatha tanpa embel-embel apapun.
Setelah melihat photo-photo masa SMA Agatha barulah ia tahu jikalau Agatha dulu bisa berjalan dan photo Agatha di arena basket dengan seragamnya jelas menunjukkan bahwa dulu tidak ada masalah apapun dalam hidupnya.
Tadinya Edu ingin memasukkan semua pakaiannya ke lemari namun karna menemukan kotak itu perhatiannya jadi teralihkan Dan setelah Agatha pergi ia berbaring lelah. Lelah karna pertanyaan di otaknya yang siapa akan menjawabnya, hingga ia tertidur pulas. Pakaian yang tadi ingin ia masukkan masih tergeletak di sana.
#
"Dar, dar, dar," suara pintu kamar Edu bukan lagi di ketuk tapi seperti mau di tabrak.
"Siapa sih ah. Ganggu aja orang lagi enak-enak juga."
"Bangun, subuh ini!" teriak Agatha yang sengaja mengganggu tidur Edu. Ia bukan tidak tahu jika Edu tidak pernah sholat apa lagi harus sholat subuh.
"Sholat, sholat aja gih sono. Jangan ganggu orang!" teriak Edu terdengar sayu.
"Dar, dar, dar," Agatha semakin keras memukul pintu.
"Kalau nga bangun gwa juga ngak bakalan berhenti."
"Woi, pintunya mahal tau. Gwa bayar mahal buat desain pintunya. Kalau jebol gwa tonjok lu."
"Woi, lu tidur di rumah gwa bego'."
Seketika mata Edu terbuka lebar, ia baru sadar jika ia sedang menginap di tempat Agatha.
"Buka pintunya sekarang atau hukuman kamu gwa tambah lagi."
"Sial, gwa tidur disini bukan mempermudah malah bikin tambah sulit," gamam Edu di dalam kamar.
"Iya, iya gwa buka. Cerewet amat sih kayak emak-emak."
"Buruan!"
"Iya sabar."
"Krek," pintu kamar di buka. Wajah bantal Edu dengan rambut yang tebal semeraut membuat Agatha ngeri.
"Apa sih? Ini belum jam enam pagi."
"Sini!" Agatha menarik tangan Edu dan membawanya ke tempat berwudhu.
"Masih ingat wudhu ngak?" bentak Agatha.
"Masihlah."
"Udah wudhu sana, kita sholat bareng."
"Sedikit lupa sih. ingetin ya!" ucap Edu meringis.
"Iya. Mulai aja dulu!"
Setelah wudhu dan beberapa bagian yang di ingatkan oleh Agatha akhirnya Edu menjadi makmum pertama Agatha. Ya... seumur-umur Agatha juga baru kali ini jadi imam. Hitung-hitung ngajarin Edu sekaligus belajar jadi imam.
Selesai sholat dan do'a Edu melepas pecinya dan langsung nyungsep tidur lagi di sajadah.
"Woy, tadi lu sholat beneran apa mimpi. Dasar pemalas."
"Udah diem lu ah, gwa masih ngantuk berat. Bangunin jam enam pagi ya!" ucap Edu dengan mata terpejam.
"Ogah, bangun sendiri. Kalau telat bangun terima hukumannya."
"Ehh..." Edu sudah hilang kesadaran.
#
"Mas, mas, mas," Bi Inah menggoyang-goyang tubuh Edu.
"Eh," Edu mulai membuka mata dan mengucek-nguceknya.
"Mas bangun cepat! Kalo telat kerja nanti Mas di marahin lo."
Dengan malas Edu mulai bangun, ke kamar mandi untuk mencuci wajah dan menggosok gigi.
"Harusnya aku bisa bangun lebih pagi supaya bisa menyusun rencana balas dendamku sama si tengil itu," Edu berbicara di dalam kamar mandi sendirian.
"Sekarang apa ya, otakku buntu lagi."
"Aaaa..." teriak Edu kaget ada sosok seseorang di depan pintu.
"Woy ngapain di situ, bikin kaget aja."
"Nguping," ucap Agatha mengangkat-angkat alisnya menggoda Edu.
"Dasar penguntit,"
"Gwa denger semua yang lu omongin. Berani lu ngerjain gwa, gaji lu ngak bakal keluar. Miskin-miskin lu sono."
"What?" ucap Edu tak percaya.
"What whot, what whot, lu pikir lu bule apa? Pakai bahasa Indonesia yang baik dan benar."
"Aahhhh," Edu berteriak kesal karna tak bisa membalas Agatha.
"Jangan berteriak nanti Bi Inah takut sama lu. Ntar kalo Bi Inah pulang lu ngak ada yang bantuin."
Edu tidak menjawab hanya melihat Agatha sinis penuh amarah.
"Udah... mulai kerja sana, apa gunanya melotot ntar bola mata lu jatoh lagi."
Edu keluar kamar meninggalkan Agatha yang menahan tawa.
"Wkwkwk," tawa Agatha pecah saat Edu keluar kamar.
#
"Ma, jilbab Sahira yang warna biru mana sih?"
"Oh, baru Mama cuci sayang. Pakek yang lain aja."
"Si Mama, kan Ira udah bilang Ira bisa cuci sendiri."
"Ting," pesan masuk di ponsel Sahira.
"Ra, kerja dimana?"
"Ini siapa?" jawab Sahira yang tidak melihat nama dari kontaknya.
"Ra, aku Rere Ra'. kemaren kan aku minta nomor mu di DM."
"Oh ya Re. Kenapa?"
"Ra, aku mau cari kerja. Bawa aku ke tempatmu bekerja ya. Aku dengar kamu sekarang udah sukses."
"Belum sukses juga kali. Tapi Insya Allah saya akan carikan kamu pekerjaan yang bagus, yang bakalan kamu suka."
"Aku maunya kerja di tempat kamu ra."
"Iya, seingatku di kantor ada lowongan buat jadi marketing bagian promosi. Nanti aku tanya-tanya deh pas udah di kantor."
"Oke, nanti kabarin aja ya."
"Oke, siip." balas mebalas pesan dengan Rere kelar sambil Sahira bersiap berangkat kerja.
#
Edu yang mengepel lantai dapur terus bergeser mendekati Bi Inah yang sedang masak.
"Bibik, masak apa Bik?"
"Masak nasi goreng Mas. Itu Mas ngepelnya jangan terlalu basah, nanti kepleset lagi," Bi Inah melihat ke arah lantai.
"Begini Mas caranya ngepel," Bi Inah mempraktekkan ajarannya.
"Oh begitu ya Bik, Bibik udah lama kerja di sini?"
"Kerja di sini sih... semenjak Mas Aga pindah ke sini Mas."
"Bibik udah lama kerja sama Aga?"
"Kalau kerja sama keluarganya Mas Aga mah sebelum Mas Aga lahir malah."
'Tepat sekali, berarti Bi Inah tahu segalanya.'
"Oh... berarti Bibik tahu dong lika-liku perjalanan hidup Agatha."
"Tahu yang Bibik ketahui Mas."
"Bik, Bibik kan tahu saya kenal Agatha pas kuliah di Ausi dan semalem saya nemuin kotak tentang kenangan masa SMA Agatha. Dan... saya baru tahu kalau Agatha dulu masa SMA tidak lumpuh."
"Oh... jadi dari tadi Mas berbelit-belit pengen tahu soal itu toh."
"Ho'oh, sebagai orang yang dekat dengannya saya tidak tahu dan tidak berani menanyakan apapu pada Agatha."
"Mas itu cerita masa kelam yang kami semua pengen sekali melupakannya namun bekasnya tetaplah lah ada hingga sekarang," wajah Bi inah mulai sedih.