Let'S Get Married

Let'S Get Married
Janjian



"Hanya bawa ramen buat dua porsi, ngak boleh lebih," Agatha mengirim pesan pada Sahira.


"Baiklah Pak."


Agatha keluar kamar, tersenyum melihat Edu yang sedang membersihkan debu pada karpet di depan ruang TV.


Agatha diam-diam mengambil roti dari ruang tamu lalu menyalakan TV. Ia hanya pura-pura mau nonton dengan pakaian kerjanya, jelas-jelas Agatha sudah siap berangkat ke kantor.


"Aaa..." Edu histeris saat Agatha menjatuhkah roti yang sudah ia hancurkan menjadi potongan kecil-kecil.


"Ups... ngak sengaja, he."


"Kau, kalau saja kau tidak..." Edu menahan kata-katanya takut melukai perasaan Agatha.


"Tidak apa hah?"


"Kalau saja kau tidak menjatuhkan rotinya, kan mubazir buang-buang makanan." Edu merubah topik dan membereskan kembali bekas roti.


Agatha berbalik pergi dari dekat Edu.


"Kau pikir bisa membodohiku?" teriaknya sebelum tiba ti pintu kamarnya.


Ketika sampai di pintu Agatha berbalik.


"Mandi dan bersiaplah, aku akan mengajakmu ke pabrik untuk belajar sesuatu."


"Anda serius Tuan Agatha yang terhormat," berlagak polos seperti pembantu, tersenyumnpenuh kepalsuan.


"Aku serius. Cepat atau ku tinggal."


"Baiklah Tuan," Senyum merekah dari wajah Edu yang kegirangan namun juga masih kesal.


Agatha tertawa mendengar Edu yang memanggilnya dengan sebutan Tuan.


"Kau manis sekali," Agatha tersenyum mengedipkan matanya membuat Edu merinding melihatnya.


Terbayang Agatha menggodanya penuh dengan hasrat.


#


Edu membuka pintu bagian belakang hendak masuk.


"Ngapain?" tanya Agatha.


"Mau masuklah, Jangan bilang lu mau nyuruh gwa di atap mobil lu."


"Huhaha, duduk di depan gih." ucap Agatha sambil tertawa.


"Baiklah, anda Bosnya dan saya harus duduk di depan."


Mobilpun melaju dengan kecepatan sedang.


"Pak seperti kemarin ya?"


"Oh ya Mas,"


Edu sibuk dengan ponselnya tidak memperhatikan jalan.


"Mau kemana kita Pak, kenapa masuk perumahan gini? Sejak kapan pabrik Aga pindah ke perumahan begini?"


"Huhaha," Agatha di belakang terbahak.


"Mau jemput Mbak Sahira dulu Mas," jawab Pak Adi.


"What? jadi sekarang kalian main jemput-jemputan dulu sebelum ke kantor."


Agatha tersenyum pada Edu yang menolehnya ke belakang namun tidak mengatakan apa-apa.


Pak Adi membunyikan klakson di depan rumah. Sahira segera memasuki mobil dengan tentengan rantangnya.


"Mmm, pantes," ucap Edu yang melihat ke kursi belakang.


"Loh kok ada dia Pak?" tanya Sahira menunjuk Edu.


"Ngak tau tuh, kayaknya ngefans bangat sama saya. Kemana saya pergi mau ngikut. Dan sekarang kamu tahu? Dia nginap di apartemen saya karna ngak tahan kalau ngak liat saya."


"Oh gitu," Sahira pura-pura polos.


"Sialan lu," Edu mengumpat.


"Huhaha," Edu ditertawai tiga orang.


setelah dua puluh menit di perjalanan akhirnya mereka tiba di pabrik.


"Mana Ramennya?" tanya Agatha ketika keluar dari mobil.


"Emang mau langsung di makan Pak, kita kan baru nyampe."


"Mmm," Agatha mengangguk.


Sahira menyiapkan Ramen dan menyajikannya di depan Agatha yang duduk di ruangan di dalam pabrik.


"Mau kemana kamu?"


"Keluar Pak," Sahira menunjuk keluar.


"Duduk di sini, temani saya makan."


"Hah, terus dia?" melirik Edu.


"Terserah dia saja, dia kan bisa pesan makanan dari luar."


"Jadi dari tadi ini rencana dia. Maksudnya apa coba?" gumam Edu.


Edu melihat Agatha sinis.


"Apa liat-liat? lu kan waktu itu habisin ramen kita berdua."


"Hehe, jadi balas dendam ceritanya," Edu mencoba mendekat.


"Baiklah gwa keluar, lu pikir gwa apa liatin lu pada makan."


"Siapa yang nyuruh lu keluar. Sekarang masih jam kerja lu sebagai Asisten gwa."


"Terserah kau saja lah," Edu mengelurkan ponselnya, memasang airphone di telinganya menxoba mencari kebisingan sendiri.


Agatha dan Sahira makan ramen dengan sedikit berbincang-bincang masalah pekerjan. Ada perasaan tidak enak hati pada Edu yang sesekali melirik mereka sinis.


"Apakah, saya boleh pergi bekerja Tuan? Mmm,? Edu bertanya sok halus dengan mata melotot setelah Sahira dan Agatha selesai makan.


"Ya silahkan pergi."


"Ceh," Edu pergi setelah tersenyum sinis.


Agatha dan Sahira melihat proses produksi produk baru mereka.


Tidak ada kendala dalam proses pembuatannya, tinggal bagaimana nanti mereka mempromosikannya.


Setelah dari pabrik seperti biasa mereka kembali menuju ke kantor pusat untuk melihat laporan yang bejubel setiap harinya.


"Apa bapak mau makan di tempat favorite saya?" tanya Sahira ketika dalam perjalanan.


"Mmm, boleh."


Pak Adi yang dari tadi melirik Sahira seperti ingin mengatakan sesuatu. Sahira tahu itu namun bersikap biasa saja.


Sahira ingin meminta nomor ponsel Pak Adi namun ia tidak mau melakukannya di depan Agatha.


Setelah sampai di tempat yang di maksud Sahira Pak Adi juga ikut turun untuk makan.


Sahira dan Pak Adi saling lirik-lirikan sedari tadi namun mereka tidak punya kesempatan sebab Agatha selalu bersama mereka.


"Apa enak Pak?" tanya Sahira melihat Agatha makan.


"Mmm, lumayan."


"Heh, dari dulu selalu bilang lumayan."


"Dari pada di bilang ngak enak," terus memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


"Apa ramen tadi enak?"


"Mmm, lumayan juga."


"Ceh, berbicara tidak dari hati."


Agatha tertawa mendengar ucapan Sahira.


"Kalau saya bilang enak, kamu harus bawakan saya setiap harinya."


"Hehe, ngak enak juga ngak papa kok Pak. Ikhlas saya, bener loh. He."


"Kalau begitu bawakan saya ramen seminggu dua kali."


"Dua kali ya Pak?"


"Mmm," masih saja fokus makan. berbicara tapi tidak melirik Sahira.


"Baiklah kalo gitu Pak."


#


"Mbak," panggil Pak Adi ketika Sahira keluar kantor. Pak Adi dari tadi menunggu Sahira keluar kantor.


"Pak Adi, Bapak mau bicara sama saya." ucap Sahira mendekati Pak Adi.


"Saya minta nomor ponsel Mbak saja, nanti kita janjian ya." Pak Adi mengeluarkan sebuah ponsel butut. Apa pentingnya bagi orang tua mengikuti perkembangan zaman, begitulah kata Pak Adi ketika Agatha mau membelikannya ponsel baru.


"Y, baiklah."


Pak Adi dan Sahira bertukar nomor ponsel masing-masing.


"Kenapa ngak bicara sekarang aja Pak?"


"Mas Aga sebentar lagi keluar Mbak."


"Oh ya udah Deh nanti aja kalau gitu."


"Ntar malem punya waktukan Mbak?"


"Malem ya. Insya Allah bisa Pak. Ngak lama kan?"


"Sebentar kok Mbak. Nanti saya hubunginya."


"Ya deh."


"Mbak mau datang sendiri atau sekalian saya jemput?"


"Saya pesan taxi aja nanti Pak. Bapak tentuin aja lokasinya."


"Ya Mbak."


"Kenapa?" Agatha sudah muncul di belakang.


"Eh Mas udah keluar," Pak Adi gelagapan.


"Ngak Pak, Pak Adi nanyain Bapak tadi."


'Yah, bo'ong lagi deh aku.' banak Sahira merasa tak Enak karna tidak teebiasa berbohong.


"Oh... Sahira kamu bareng kita aja ya?"


"Maaf Pak, tapi saya tadi sudah pesan taxi."


"Oh... ya sudah hati-hati ya. Saya duluan sam Pak Adi."


"Ya Pak," jawan Sahira dengan senyuman.