Let'S Get Married

Let'S Get Married
Terungkap



"Ra...," Rere melambaikan tangan. Mereka bertemu di sebuah cafe yang tidak jauh dari kantor.


Sahira tersenyum dan langsung mendekati Rere.


"Duduk!" ucap Rere bersemangat.


Sahira langsung duduk saja.


"Pasan makanan gih, kamu yang traktir. Aku kan belum gajian, hehe," kesempatan dalam kesempitan.


"weee... dasar. Jadi ini tujuan mu ngajak ketemuan dinsini?" Sahira menduung kepala Rere.


"Hehe, sambil nyelam minum air," tawa penuh kelicikan.


"Sudah pesan gih." Sahira pasrah saja.


"Siap Bos," Rere mengangkat tangan hormat.


Rere memanggil pelayan danmemesan makanan untuk mereka berdua.


"Jadi gimana? jelaskan!" ucap Sahira to the point dengan pokok permasalahan.


"Dari mana aku harus mulai ya?" Rere nampak berpikir.


"Kamu dapet info dari mana soal aku yang selingkuh sama Rudi?" Rere berbicara sambil menyambut makanan yang sudah tiba dia antar pelayan.


"Ria yang bilang kalau kamu dulu selingkuh sama Rudi," Sahira meminum jus yang baru tiba.


"Bukan selingkuh Ra, tapi memang waktu aku jadian sama Rudi mereka lagi putus." Rere mulai makan


"Masak?" Sahira merasa tak percaya.


"Jadi gini Ra, waktu Rudi pacaran sama Sesil, Rudi tuh curiga sama sikapnya Sesil yang berlebihan ke Kak Iman." Sambil bicara sesekali mengunyah.


"Berlebihan yang seperti apa?" mengabaikan makanan, Sahira hanya ingin fokus pada apa yang di sampaikan Rere.


"Simak dulu dong Ra, jangan di potong." ucap Rere kesal.


"Jadi pas pulang sekolah Kak Rudi tuh buntutin Sesil yang ternyata ngajak Kak Iman ketemuan.


Dan kamu tahu buat apa ketemuan?" Rere bercerita seolah olah yang ia ceritakan adalah gilm horor.


Sahira hanya menggeleng.


"Ternyata Si Sesil nembak Kak Iman." Ucap Rere sambil berbisik, meski berbisik suara Rere terdengar layaknya petir di telinga Sahira.


"Apa, nembak? Maksudnya Sesil suka sama Pak Agatha?" Sahira berdiri tiba-tiba.


"Ho'oh," mengangguk tak lupa mengunyah makanan.


"Jangan berisik Ra, liat noh! Semua mata tertuju pada kita," ucap Rere yang melihat pengunjung cafe.


"Tapi mereka kan sepupu Re?" Sahira kembali duduk dan berbicara pelan.


"Ra, yang sedarah aja bisa saling jatuh cinta apalagi cuma sepupu."


"Saling? Apa maksud kamu Pak Agatha juga suka sama Sesil?" ucapan Sahira kembali keras. Rere langsung senyum-senyum pada pengunjung lain.


"Bukan seperti itu Ra, aku kan cuma membicarakan perumpamaan," ucap Rere setengah berbisik.


"Tapi kamu bilang begitu barusan," Sahira emosi, di dalam dadanya berasa ada bom yang barusan meledak.


"Ra, Kak Iman dari dulu sukanya sama kamu. Dan aku yakin sampai sekarang pun begitu," ucap Rere mencoba menenangkan, ia tahu situasinya mulai tak terkendali.


"Kamu tahu apa Re, jelas-jelas aku lihat Bang Iman nelgearangkul Sesil di hari terakhir sebelum kita libur." ucap Sahira makin keras tak perduli jika mereka sedang adal dalam keramaian.


"Uhuk, uhuk," Rere tersedak mendengar kata-kata Sahira barusan.


"Kamu serius?" ucap Rere setelah minum.


"Mmm,.." Sahira mengangguk.


"Wah kalau gitu kita tos dulu," ucap Rere mengangkat tangannya untuk tos.


"Buat nasib kita yang sama," Rere berbisik dan kemabali memasukkan makanan ke mulutnya sebagai pereda pahit si dadanya.


"Bukannya kamu bilang kalau Sesil balikan sama Kak Rudi?" tanya Sahira pada Rere yang terus makan seperti kelaparan dari pagi belum makan.


"Dua minggu yang lalu saat Sesil baru pulang ke Indonesia, mereka janjian dan sialnya tanpa sengaja mereka janjian di cafe tempatku bekerja. Dan aku dengar semua."


"Apa yang kau dengar?" ucap Sahira penasaran dengan kalimat Rere yang di potong terus makan lagi.


"Kak Rudi bilang kalau dia masih sayang sama Sesil," ucap Rere yang hampir meneteskan air mata.


"Dia bilang begitu?" Rasa tak percaya.


"Ho'oh," mengangguk dengan polosnya.


"Awas saja Rudi, minta di hajar dia." Sahira menggertakan gigi.


"Ceh, kamu tidak ingat kalau Kak Iman melakuakan hal yang sama. Kenapa ngak menghajar Kak Iman saja."


"Gila kamu. Eh, kalau dia bukan Bos disini sudah ku cakar-cakar dia."


"Udah, makan gih keburu dingin." Rere melirik makanan Sahira yang belum ia sentuh, terlalu fokus bercerita.


"Jadi ngak nafsu aku Re," ucap Sahira mengaduk makanannya.


"Sini aku bantu habiskan." Rere mengbil piring milik sahira dan menukar dengan piring kosongnya.


"Hah,..." Sahira befnafas panjang menyangga dagi dengan kudua tangannya.


#


"Kak Aga..." Sesil yang dari pagi sekali menunggu kedatangan Agatha langsung memeluk dan begelayut lagi di leher Agatha ketika Agatha masuk pintu utama kantor.


"Sesil lepas, malu di lihat orang-orang," ucal Agatha melepaskan pelukan Sesil.


"Kakak aku sudah nunggu dari pagi banget," ucap Sesil yang ingin menunjukkan pada dunia seolah-olah dialah orang yang paling dekat dengan Agatha.


"Kanapa kau kemari lagi?" tanya Agatha ketus.


"Kenapa ngak boleh Kak. Aku juga bagian dari kantor ini kan. Ayahku juga punya saham di skni. Jadi kesini juga bukan cuma sekedar alasan," ucap Sesil yang ayahnya juga terlibat dalam penanaman saham.


Sahira menatap sinis di ujung ruangan, ia mencoba senetral mungkin agar tidak terlihat kecemburuan seperti apapu. Karna ia tahu sekarang posisinya ia adalah seorang Sekretaris.


Berbeda dengan Desi yang mamndang seperti jijik. Ia juga sering merasa kesal dengan Sesil yang tidak mau menuruti prosedur kantor dan selalu nyelonong masuk dengan alasan yang sama yaitu adik sepupu yang akrab dari kecil.


"Sesil pulanglah," ucap Agatha yang melirik Sahira dari kejauhan.


"Kakak kenapa begitu? Aku kan udah nunggu dari tadi Kak."


"Sesil please pulanglah," Agatha memohon.


"Kak, ayahku yang menyuruh datang ke sini dan katanya aku bisa kerja di sini."


"Ceh, terserah kau sajalah," ucap Agatha mengacuhkan dan pergi.


"Kakak tunggu! Aku belum selesai bicara," Sesil mengejar.


Sahira sudah manyun duduk di meja kerjanya ketika Agatha ingin masuk ruangan yang di buntuti oleh Sesil.


"Sesil please jangan bikin saya marah. Pulanglah atau turunlah! ini bukan tempat untuk mu sekarang. Kami sedang bekerja."


"Tapi kak," Sesil juga memohon.


"Pergilah kalau kau tak ingin aku membencimu Sesil!" Agatha mulai mengeraskan suaranya. Kalau bukan karna ia tidak enak pada ayah Sesil sudah lama ia di usir secara tidak hormat.


Dengan langkah gontai dan malas Sesil meninggalkan Agatha yang sibuk memandang Sahira dari jauh. Sahira tak berekspresi apapun, seolah ia tidak mendengar apa-apa dari tadi. Sahira nampak fokus pada pekerjaannya.


Awalnya Agatha ingin memanggilanya dan menyuruhnya sembarang apa saja. Namun ia membatalkan niatnya dan masuk dalam ruangannya.


Setelah Agatha masuk ruangan barulah Sahira menatap pintu dengan amarah dan kesinisan.