Let'S Get Married

Let'S Get Married
Pizza



"Hallo Nana manis," Edu sudah ada di dekat Sahira dan Desi.


Desi melongo dengan wajah kemerahan, Sahira hanya cuek menuju meja kerjanya.


"Tunggu! Mau kemana?" tanya Sahira melihat Edu menuju ruangan Agatha.


"Mau ketemu Bos," Edu berbalik sebentar dan kembali ke tujuannya.


"Tunggu dulu," Sahira menghadangnya, Desi hanya jadi penonton. Desi terdiam seribu bahasa, jika berbicarapun mulutnya akan terbata.


"Wah, sekarang Nona sudah berani mengejar saya ya," Edu tersenyum menggoda.


"Pak Agatha tidak ada diruangannya."


"Saya bisa tunggu di ruangannya di temani olehmu, hehe."


Desi masih dengan setengah kesadarannya, ia tetap terpana pada Edu tanpa sadar jika Edu sedang merayu sahabatnya.


"Anda tidak bisa masuk keruangan Pak Agatha tanpa izin dari beliau terlebih dulu."


"Kenapa tidak, saya kan sahabatnya."


"Anda sahabat yang masih dalam hukuman, bertindaklah baik kalau tidak mau gaji anda di potong lagi."


"Hey Nona, kamu galak juga ya."


"Permisi," Desi mendekat.


"Mbak Desi usir dia!" suara Sahira keras.


"Ra, kamu tahukan kalau dia Sahabatnya Pak Agatha. Kenapa di larang?" bisik Desi.


"Mbak ngak denger tadi saya bilang apa. Dia sedang dalam masa hukuman sekarang."


"Hah,.. dihukum gimana maksudnya?"


Edu bersiul-siul mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Jelas-jelas bisikan mereka terdengar lantang.


"Udah deh, Mbak dia dulu. Urusan saya sama dia belumbselesai."


"Udah ngobrolnya Nona-nona. Sekarang beri saya jalan, saya mau masuk," ucap Edu mengibaskan tangannya ke kanan dan ke kiri.


"Tidak bisa, diam di situ sampai Pak Agatha kembali ke sini."


"Oke," Edu melirik meja kerja Sahira.


"Eh, mau kemana?" tanya Sahira ketma melihat Edu menuju meja kerjanya.


Edu tak bergeming, langsung duduk di kursi Sahira ketika sudah tiba pada tempatnya.


"Ceh, anda tidak bisa di bilangin dengan kata-kata ya. Dasar hama pengganggu." Sahira sudah di depan mejanya.


Edu masih bersiul-siul dan duduk Santai di kursi sahira dengan bibir mengembang melihat Sahira yang kesal di buatnya.


"Kenapa?" ucap Agatha yang sudah berada di belakang Sahira.


"Akhirnya datang juga," ucap Sahira mengelus dada. Karna setiap kali ada Edu pasti ia bakal kuwalahan.


"Pak Edu katanya mau ketemu Bapak."


Agatha melirik Edu, Edu dengan segera segera berdiri.


"Kenapa kesini?" tanya Agatha sinis.


"Hay Bro. Boleh kita bicara di ruangan anda saja." Edu mencoba tersenyum manis meski ia sedang sangat kesal pada Agatha.


Agatha melirik Edu kembali lalu melaju ke ruangannya tanpa bergeming.


Setelah masuk ruangan Edu yang berada di belakang Agatha secepat kilat menutup pintunya.


"Ada apa?" Agatha berbalik.


"Bro, apa ngak ada keringanan?" tanya Edu memelas.


"Tidak ada?" Agatha kembali berbalik menuju mejanya.


Edu membanding tubuhnya di sopa yang empuk, berbaring lelah memikirkan gajinya yang tak akan cukup memenuhi gaya hidupnya yang terbiasa hura-hura.


Tadinya Edu mengadu pada ayahnya untuk mendapat belas kasian, namun bukan kasihan atau seperti yang Edu bayangkan jika mengadu maka ayahnya dengan mudah akan menanbah uang bulanan. Nyatanya Edu di marahi habis-habisan oleh ayahnya dan di minta segera menemui Agatha untuk meminta maaf dan melakukan apa yang di suruh oleh Agatha sebagai pelajaran dalam hidupnya. Edu kesal pada ayahnya apa lagi pada Agatha. Tapi ia tak bisa apa-apa selain menurut saja apa yang ayahnya katakan.


"Bro, kau mau membunuhku dengan lebel pembokatmu," ucap Edu lemah di sopa.


"Okeh," Edu bangkit.


"Gwa terima. Gwa anggap ini cuma tantangan dari lu," berbicara seolah semangat.


"Baik, Setiap pagi sebelum berangkat kerja kau harus bereskan apartemen saya terlebih dulu. Datanglah jam enam pagi. Jangan telat."


"What? Jam enam, yang benar saja. Saya biasa bangun saja jam tujuh pagi. Apa ngak kepagian jam enam di tempat lu."


"Kalau telat gajimu tetap saya potong."


"Ceh... bisanya hanya mengancam." Edu melirik tajam.


Di balik pintu Desi sibuk mondar mandir mencoba mendengar dari luar namun hasilnya nihil, ia tak bisa mendengar apa-apa.


Sahira hanya geleng-geleng melihat tingkah Desi, dari pada perduli tentang mereka dan pekerjaannya menumpuk lebih baik abaikan.


"Krek," pintu di buka. Desi berlarian kocar kacir hingga akhirnya hilang entah kemana. Sahira tersenyum melihat tingkah Desi layaknya anak TK.


"Kenapa dia?" tanya Edu yang barusan keluar dan ternyata melihat Desi berlari terbirit-birit.


"Itu karena anda."


"Ada apa dengan saya. Orang-orang di sini sungguh aneh. Dia pikir saya hantu apa." Wajah tidak enaknya masih terbawa hingga kini.


"Mmm, bisa jadi begutu," Sahira menahan tawa.


"Ceh," Edu berlalu pergi begitu saja. Sahira saja di buat heran karna tumben ketemu kali ini dia tidak membual dan menjadi hama.


"Kring," suara terdengar dari telpon di atas meja Sahira.


"Hallo," Sahira menebak itu Bis isengnya.


"Apa Mbak pesan makanan online?" suara wanita terdengar lembut. Ternyata seorang resepsionis yang ada di depan.


"Tidak."


"Ini ada yang antar pesanan atas nama Mbak, katanya pesanannya sudah di bayar Mbak."


"Oh, baiklah saya akan kesana sekarang."


Sahira menutup telpon dan turun ke bawah mengambil makanannya.


Satu kotak pizza yang ia tenteng, nama pemesan tertulis jelas Sahira Amalia, tapi ia tidak merasa memesan sesuatu apapun.


Setelah membawa pizza ke atas Sahira hanya memandanginya di atas meja.


"Makan ngak ya? Apa benar di kantor ini cuma saya yang namanya Sahira Amalia siapa tahu ada orang lain," ucapnya sambil menyangga dagu dengan kedua tangannya.


"Jangan di makan deh, kalau ada racunnya himana. Wait... sepertinya yang pean si hama itu deh. Yah tidak salah lagi ini kayaknya yang mesan Si Edu." Sahira meraih ponsel untuk menelpon Edu. Ia lupa kalau dia tak pernah punya kontak Eduard.


"Kring," telpon berbunyi kembali.


"Sahira kamu sudah terima makanannya?" beum sempat Sahira mengucap salam Agatha sudah menyerocos.


"Oh jadi Bapak yang pesan. Saya sampai bingung lo Pak."


"Bawa ke ruangan saya ya. Sebelumnya suruh OB untuk mengantarkan teh manis ke ruangan saya."


"Baik Pak," Sahira menutup telponnya.


"Tumben dia ngak minta bikinin dari saya." ucap Sahira sambil bibir di majukan.


Setelah menyuruh OB melakukan yang di perintahkan Agatha ia segera masuk ruangan Agatha.


"Permisi Pak, ini makanan yang tadi Bapak pesan."


"Oh ya, taruh di situ," menunjuk meja di dekat sopa.


Sahira menaruh piizaanya dan Agatha mendekati.


"Duduk!"


"Mmm," ucap Sahira ngak ngeh.


"Jangan jawab seperti itu, itu bahasa saya. Duduk sekarang!"


"Baik Pak."


"Ayo kita makan!" ucap Agatha yang mulai membuka kotak pizza.