
"Bapak?" Sahira kaget saat melihat Agatha sudah ada di dekat meja kerjanya.
"Dari mana kamu?"
"Anu, itu Pak," bingung sendiri.
"Mana kopinya?"
"Astaghfirullah," Sahira menepuk jidad dan berlari munuju lif.
"Heh, mau kemana kamu? Saya belum selesai."
"Mau ambil kopi Pak," teriak Sahira yang sudah jauh.
"Ceh, dasar pikun." Agatha mengumpat tapi tersenyum.
#
"Tok,..tok,..tok..."
"Mmm, masuklah!"
"Pak ini kopinya," Sahira menuruh kopi di dekat Agatha.
"Taruh di situ saja," Agatha menunjuk meja di dekat sopa.
"Baik Pak," Sahira menaruh satu kopi.
"Eh, yang itu mau kamu kemanakan?"
"Katanya ini buat saya sendiri Pak."
"Iya, tapi saya ngak minta kamu bawa ke mejankerja kamu."
"Kok gitu, terus gimana saya mau mimum Pak." Sahira bingung sendiri dengan sikap Bosnya ini.
"Taruh dulu kopinya disana," manunjuk meja dengan ujung matanya.
Sahira menaruh kopinya dengan bingung, sebenarnya apa maunya si Agatha?
"Kamu bawa berkas yang mau kamu kerjakan ke sini!"
"Maksud Bapak saya kerja di sini?"
"Iya, sekalian menikmati kopi."
"Baik Pak."
'Ah, bilang saja minta di temani. Muter-muter kayak es puter.'
Sahira membereskan meja kerjanya, membawa apa yang ingin ia bawa ke ruangan Agatha.
"Sejak kapan Sekretaris dan Bos bekerja satu ruangan. Oh ya, sayakan udah naik level jadi penasihat, bisa lah kerja seruangan sambil ngomel-ngomelin dia." gumam Sahira sendiri.
"Cie, udah naik level jadi penasihat nie ya. Bentar lagi naik level jadi Istri deh. Huhaha." Desi sudahdi belakang Sahira.
"Mbak, ngapain disini?" Sahira kaget.
"Kepo, huhaha," ucap Desi yang kurang kerjaan. Sebenarnya Desi punya banyak kerjaan tapi rasa keponya tak tertahan membuat ia sibuk sendiri mondar-mandir di depan ruangan Agatha dari tadi.
"Dasar, udah pergi Mbak pergi sana."
"Tanpa di suruh juga udah mau pergi."
Sahira masuk ruangan dan bekerja di sana, kerja di ruangan Agatha jauh lebih enak ternyata. Jika ingin bicara apapun bisa langsung aja ngomong.
"Weekend ini apa Bapak mau pergi?"
'Weh, sejak kapan harga diriku di buang.'
"Tidak, di rumah lebih nyaman."
"Oh, Begitu."
"Apa kau bermaksud mengajakku pergi?"
"Haha, mana mungkin saya berani Pak." tawa terpaksa.
"Mmm, bagus. Jangan coba-coba."
"Haha, iya Pak." masih dengan tawa kepalsuan.
'Sial, apa harus aku terlihat tidak punya harga diri begini.'
#
Sahira mengedarkan pandangannya ke suluruh area parkir. Menurut informasi yang ia terima dari Pak Adi disinilah apartemen Agatha.
"Di mana Pak Adi, katanya di parkiran. Ya sudah saya cari sendiri saja." Sahira mulai masuk gedung apartemen. Parkiran yang begitu luas bisa bengek kalo mau cari Pak Adi.
"Wow, waw, saya ngak salah liat. Ada Nona manis disini," Edu baru saja turun ke lobi depan.
"Hadeh, kenapa ada dia di sini? Ah iya, ternyata benar kata Pak Agatha kalau dia fans beratnya," Sahira lesu.
"Hey Nona jangan salah menduga. Saya di sini di takdirkan untuk bertemu dengan Nona. Itu artinya kita jodoh, ya ngak?" Edu mendekatkan wajahnya, mengangkat-angkat alisnya.
"Semoga ngak begitu ya Allah," ucap Sahira mengangkat kedua tangannya.
"Hahaha, sebegitu senangnya dirimu Nona sampai harus berdo'a agar kita berjodoh."
"Aduh... bisa ngak kelar ni. Hey Pak Edu yang kata orang ganteng. Tunjukan padaku apartemennya Agatha."
"Apa? Nona bilang saya ganteng," tangan Edu memegang kedua pipinya berekspresi berlebihan.
"Iya, ayo cepat!"
"Baiklah, tapi saya ke mini market sebentar ya, ada yang mau di beli. Cuma sedikit, hehe."
"Baiklah, saya tunggu."
"Baiklah, baiklah. Jangan lama-lama ya."
"Siip Nona."
Edu dan Sahira keluar lagi dari gedung apartemen.
"Nona mau beli apa?" tanya Edu ketika sudah masuk mini market.
"Tidak, buruan! beli saja apa yang mau di beli."
Edu mengambil keranjang di sana.
"Apa harus pakai keranjang katanya sedikit."
"Biar ngak repot Nona."
"Oh ya, baiklah." menurut saja dari pada lama.
Edu mulai memasukkan belanjaannya.
Biskuit, makanan ringan, berbagai minuman, makanan cepat saji dan sebagainya. Sahira hanya bisa melotot. Edu memasukkan saja tanpa melibat lebel harga. Tangan dan matanya menyeimbangkan apa saja yang ingin ia ambil.
'Pantes dia tidak bisa hidup jika di potong gaji.'
"Udah?" ucap Sahira yang melototi dari tadi.
"Dikit lagi ya," Edu menenteng kerajang yang sudah penuh.
"Yah, dari tadi anda juga bilang sedikit," Sahira berbicara pasrah.
"Hehe, kamu mau sesuatu mungkin. Sekalian saya belikan."
"Tidak, terima kasih," Sahira senyum di paksakan.
Setelah sekian lama akhirnya kelar juga, Edu membayar belanjaannya. Ada dua plastik besar hasil ngebolangnya kesana kemari dalam satu ruangan. Dua plastik besar yang katanya sesikit.
"Huh selesai juga," Sahira keluar.
Mereka kembali ke gedung apartemen yang jaraknya hanya beberapa puluh meter saja.
Edu menenteng dua plastik dan Sahira tetap membawa rantang yang di bungkus dari tadi.
Sampai di depan pintu apartemen milik Agatha.
"Nona pencet belnya!" Edu kerepotan sendiri.
"Beneran yang ini tapi, anda ngak lagi main-main kan?"
"Iya bener Nona, cepetan pencet. Repot saya ini mah."
"Huhaha, salah sendiri." Sahira memencel bel.
Beberapa kali ia pencet.
Agatha keluar kamar, Bi Inah juga keluar dari dapur.
"Biar saya saja Bik, Bibiknlanjut masak aja."
"Baik Mas."
Agatha melihat terlebih dulu layar yang ada di samping pintu, Ekspresi wajahnya langsung berubah ketika tahu yang di luar adalah Sahira dan Wduard.
"Mereka, kenapa mereka berdua?" Agatha membukakan pintu.
"Pagi Pak." Sahira menundukkan kepala.
"Kenapa kalian berdua disini?" tidak menjawab salam.
"Habis dari Mini market sama si Nona manis."
"Ceh,..." tambah marah degan jawaban Edu.
"Saya ketemu Pak Edu di depan ketika mau kesini Pak."
"Mau ngapain kesini?" jawab Agatha jutek campur marah.
"Anu Pak. Itu."
'Hadeh, saya kok kayak perempuan jalang yang mengejar laki-laki kaya ya.'
"Masuk!" Agatha memutar kursi rodanya untuk masuk.
Sahira nurut, masuk mengiringi Agatha dari belakang.
"Duduk!" menunjuk sopa dengan ujung matanya.
Sahira duduk, Edu juga ikut duduk.
"Siapa yang suruh lu duduk?" melihat Edu.
"Tadi..."
"Bukan lu. Lu kerja sono, belum kelar juga."
Edu pergi dengan kesal.
"Apa yang kamu bawa itu?" mununjuk tentengan Sahira yang masih ia pegang dengan kedua tangannya.
"Ramen Pak,"
"Kamu bawain dia ramen, mau makan berduaan?"
"Aaa, tidak, tidak. Saya bawa buat Bapak, bukan buat dia," ucap Sahira cepat.
"Kalau buat saya kenapa masih di pegang erat begitu."
"Saya takut Bapak ngak suka," menunduk, ciut karna dari tadi Agatha berbicara dengan nada tinggi.