Let'S Get Married

Let'S Get Married
Menginap



Sebelum kembali ke kantor terlebih dulu mereka mampir ke masjid di pinggir jalan untuk sholat Zduhur. Jam makan siang sudah usai, Sahira sibuk mempersiapkan kebutuhan di ruang rapat di bantu oleh para staf lainnya.


Setelah ia merasa semua sudah siap dan para staf telah memasuki ruang rapat barulah ia memanggil Agatha.


"Pak, Bapak sudah di tunggu di ruang rapat."


"Baiklah." Agatha menutup notebooknya dan mengikuti Sahira ke ruang rapat.


Rapat di mulai. Dari keputusan rapat bahwa makanan ringan yang akan mereka keluarkan akan segera di produksi lusa setelah semua persiapan produksi selesai. Seperti yang Agatha selalu bilang. Lebih cepat lebih baik.


"Ting," pesan masuk di ponsel Agatha ketika ia keluar dari ruang rapat.


"Pulang jam berapa Bro, gwa mau nginap aja tempat lu. Biar ngak bolak balik. Repot tau," pesan bertuliskan si pembual di ponsel milik Agatha.


"Pembokat di larang nginap apartemen gwa," balasnya sambil cekikikan.


"Ada apa Pak?" tanya Sahira penasaran.


"Oh ngak, kamu mau kemusholah?" sudah masuk Ashar.


"Ya Pak. Saya ke musholah dulu ya."


"Mmm." Agatha mengangguk tapi tidak menoleh. Sudah ada pesan masuk lagi di ponselnya.


"Bedebah lu. Mau gwa tunggu di depan apartemen lu atau gwa samperin ke kantor sekarang," balas Edu.


"Ceh, anak ini. Dia sangat ngefans denganku," gumam Agatha.


"Baiklah, nanti saya kabari ketika mau pulang."


"Siip Bro. Itu baru sohib gwa."


"Punya rencana apa dia mau menginap di apartemenku. Dasar pembual, kita lihat apa yang bisa ia lakukan."


#


"Ra, kamu pulang duluan saja. Saya akan pulang malam," Agatha menelpon Sahira ketika sudah sore.


"Baiklah Pak."


Sahira bersiap pulang.


"Ra, pulang bareng yuk," ajak Desi ketika keluar pintu depan kantor.


"Mbak kita itu ngak searah, mana bisa pulang bareng."


"Oh iya ya. Lupa," Desi menggaruk-garuk kepala.


"Ya udah Mbak duluan ya. Mbak bawa motor soalnya."


"Ya Mbak, hati-hati. Saya mau pesan taxi dulu."


"Mbak Sahira..." panggil Pak Adi yang berlari mendekatinya dan Desi sudah pergi menjauh.


"Oh Pak Adi. Kenapa Pak?"


"Mas Agatha belum mau pulang ya?" ucap Pak Adi basa basi.


"Ya. Katanya dia mau pulang malem."


"Oh begitu. Saya mau ngajak Mbak ngopi sebentar di cafe deket sini. Mbak mau?"


"Mmm... boleh deh."


Pak Adi membukakan pintu mobil untuk Sahira, mereka pergi ke sebuah cafe yang biasa saja untuk memesan dua cangkir kopi dan roti menemani mereka berbincang.


"Pak Adi mengajak saya ke sini apakah ada yang mau di sampaikan?"


"Hehe, saya denger obrolan Mbak sama Mas Aga tadi siang."


"Oh itu..."


"Mbak ngak marah kan."


"Kenapa saya harus marah, itu kan bukan hal yang bersifat privasi."


"Saya boleh tanya sama Mbak?"


"Boleh, selama saya mampu jawab saya akan jawab."


"Mbak dulu pacarnya Mas Aga ya waktu SMA. Hehe, kalo ngak mau jawab juga ngak papa kok Mbak."


Lama Sahira terdiam, mencoba menimbang-nimbang jawaban apa yang pas.


"Ngak sih Mbak. Tapi Pak Adi pernah liat Mas Aga sama cewek di taman kayak habis maraton dan lagi makan mie ayam di pinggir jalan."


Sahira tercengang sejenak.


"Yah, Pak Adi pengingat yang baik. Jadi itu yang di bilang sama Pak Agatha tadi. Kok aku bisa lupa ya."


"Jadi yang waktu itu Mbak ya. tapi kok beda. Sekarang cantik yang dulu kelihatan manis gitu, hehe."


"Hehe, Pak Adi bisa aja. Emang Pak Agatha ngak pacaran waktu kuliah?"


'Sekalian ah, korek-korek. Kenapa aku bisa lupa kalau Pak Adi bisa jadi sumber informasi dari rasa penasaranku."


"Pak Agatha kuliah di Ausi waktu itu Mbak. Kayaknya dia ngak selera sama cewek-cewek Ausi. Lebih suka yang lokal dia. Hehe."


"What? Jadi Pak Agatha kuliah di Ausi?"


"Iya Mbak. Kok kaget begitu Mbak?"


"Hehe, Ngak papa Pak. Ya...belum ketemu aja kali Pak. Lagian dari mana Bapak bisa simpulkan kalau Pak Agatha lebih suka yang lokal kalo dia ngak pacaran."


"Istri saya bilang Mbak kalo Mas Aga bawa photo ceweknya sampe ke Ausi."


"Ceweknya seperti apa Pak?"


"Ngak tau sih Mbak. Sebab istri saya yang liat. Mbak penasaran ya, saya juga penasaran. Mbak belum jawab pertanyaan saya yang tadi. He"


"Oh itu, bisa di bilang begitu sih Pak." Sahira tersenyum.


"Cieh, bisa CLBK dong Mbak. Hahai," Pak Adi menggoda.


Sahira tersenyum kecut. 'Ceh, CLBK apanya?'


"Pak sekarang saya mau tanya sama Bapak?"


"Apa itu Mbak?"


"Dulu saya kenal Pak Agatha normal saja, maksudnya saya tahu dia dulu tidak memakai kursi roda kan. Dan sekarang kenapa...?" Sahira tidak melanjutkan kalimatnya, ia yakin Pak Adi mengerti maksudnya.


Pak Adi menunduk, wajahnya terlihat suram. Sangat jelas kalau Pak Adi sangat menyayangi Agatha seperti anaknya sendiri.


"Pak... Apa sangat rahasia ya? Kalau Pak Adi takut di marahi sama Pak Aga, ya udah ngak papa ngak di jawab."


"Kring," ponsel Pak Adi berbunyi.


"Bapak dimana? Saya sudah mau pulang." ucap Agatha di seberang sana.


"Oh.. saya di luar Mas. Ngak jauh kok. Saya kesana ya Mas."


"Ya, saya tunggu."


telpon di tutup.


"Mbak, maaf ya Mas Aga ngak jadi pulang malem. Lain kali saya akan ngobrol lagi sama Mbak. Mbak bisa pesan taxi online kan?"


"Ya Pak. Pak Adi balik ke kantor lagi aja."


"Huh, padahal sedikit lagi," Sahira menghembuskan nafas panjang.


#


Edu sudah menunggu di depan pintu Apartemen Agatha setelah Agatha memberikan ia pesan ketika mau pulang.


Ia Bersiul sambil menyandarkan tubuhnya di tembok, mengangkat satu kakinya. Bagi wanita yang lewat ia terlihat seperti pria yang sempurna. Di sampingnya terdapat satu buah koper besar layaknya orang mau pindahan.


Agatha menatap heran.


'Apa dia berencana hidup denganku selamanya?'


"Hey Bro, akhirnya nyampe juga lu."


Agatha tak menghiraukannya, langsung menempelkan kartu eksklusifnya untuk membuka pintu.


Edu mengikuti saja Agatha yang masuk apartemen tanp di suruh.


"Bro kamar gwa dimana?"


"Cari sendiri!"


Apartemen Agatha tersiri dari tiga buah kamar. Satu kamar tidur Agatha, yang satunya di jadikannya ruang kerja yang di penuhi dengan tumpukan buku layaknya perpustakaan saja. Dan satu buah kamar kosong. Tentunya Edu hanya basa-basi ia tahu jelas ada kamar kosong di apartemen Agatha yang bisa ia tinggali meskipun untuk selamanya.


Edu memereskan pakaiannya langsung masuk ke lemari kamar. Di dalam lemari ada sebuah kotak berisi kenangan masa SMA Agatha. Agatha lupa jika ia menaruh kotak itu disana. Tadinya ia tak ingin terlalu sering melihat kenangan itu dan menyimpannya di lemari kamar kosong itu.