
"Mbak Sahira," Pak Adi melambaikan tangan di meja pojokan cafe. Pak Adi sopir elit ya, makannya di cafe melulu.
Sahira mendekati membalas lambaian tangan Pak Adi dan mendekatnya, ada sosok seorang laki-laki satu lagi di samping Pak Adi. Pak Adi dan temannya berdiri ketika Sahira tiba.
"Mbak Sahira, perkenalkan ini Dokter Budi."
"Saya Sahira," Sahira hanya menundukkan kepala. Dokter Budi hanya tersenyum.
Mereka bertiga kembali duduk.
"Mbak Sahira mau pesan minuman atau makan dulu?" tawaran Pak Adi.
"Saya pesan minum aja kalo gitu." Sahira memesan minuman.
"Jadi gini Mbak, Dokter Budi ini adalah Dokter yang menangani Mas Aga terapi tiap minggu."
"Terus?" Sahira tidak Sabar karna kalimat Pak Adi yang terhenti.
"Silahkan Dok jelaskan?"
Sahira mengalihkan pandangannya pada Dokter Budi.
"Mbak, jadi sudah hampir satu bulan Pak Aga menghentikan terapinya. Saya menemui Pak Adi untuk mendapatkan solusi, sebab terapi selama ini sudah menagalami sedikit kemajuan."
"Kemajuannya seperti apa misalnya Dok?" tanya Sahira yang penasaran.
"Pak Aga sudah mampu menggerakkan jari kakinya Mbak, namun untuk berdiri memang belum bisa, sebab itu saya sangat menganjurkan untuk terapinya di lanjutkan."
"Sebelum itu, apa tidak ada yang mau memberi tahu saya kenapa kondisi Pak Agatha bisa seperti sekarang ini?" tanya Sahira yang belum mendapatkan penjelasan.
"Huh,..." Pak Adi menghembuskan nafas panjang, harus menceritakan hal yang berat baginya untuk di ceritakan.
Sahira masih menatap Pak Adi dengan penuh tanda tanya.
"Sebenarnya berat buat cerita Mbak, tapi saya percaya kalau Mbak bisa meyakinkan Mas Aga. Mas Aga dulu pernah berhenti terapi karna tidak ada kemajuan. Lalu mas Aga di bujuk sama Ibunya dan kembali terapi. Sekarang saya serahkan sama Mbak untuk membujuknya." Pak Adi sepenuh hati percaya dan sudah melakukan pengatan lama pada Sahira selama ini.
"Ya, baiklah."
"Jadi dulu pas masih SMA Mas Aga di vonis Dokter mengidap kangker tulang punggung Mbak."
Jangan tanya betapa kagetnya sahira ketika awal kalimat, apa lagi itu menyangkut kangker. Penyakit yang paling di segani. Bagi sahira barusan seperti ada suara petir yang menggelegar.
"Pas SMA. Berarti waktu masih pacaran sama Pak Aga?" ucapnya sedikit terbata mendapati kenyataan yang ternyata teramat pahit.
"Sepertinya begitu Mbak."
"Teruskan ceritanya Pak, jangan sepotong-sepotong," ucap Sahira tidak sabaran.
"setelah di vonis mengidap kangker kata Dokter jalan untuk memutus langkarnya supaya tidak menyebar harua segera di operasi sebelum terlamabat. Tapi Mas Aga bilang mau ujian akhir sekolah dulu."
"Jadi waktu itu..." Sahira nampak berpikir.
"Kenapa Mbak?"
"Ngak Pak, lanjutkan ceritanya!"
"Jadi pas selesai ujian Mas Aga operasi, operasinya berjalan dengan lancar. Namun setelah operasi tenyata Mas Aga tidak bisa lagi menggerakkan kakinya. Kata Dokter itu hanya sementara akibat obat bius, namun nyatanya tidak begitu. Waktu itu Mas Aga terpukul banget. Karna itulah Mas Aga pergi ke Ausi Mbak."
Sahira hanya diam menahan sesak di dadanya. Ia tidak ingin air matanya tumpah di sini.
"Jadi itu sebabnya Pak Agatha ngak dateng pas hari pengumuman kelulusan?" ucap Sahira lemah menahan sesak.
"Ya, Mbak."
"Kalau Pak Adi percaya sama saya, tolong bantu berikan saya jalan agar bisa dekat dengan Pak Agatha, agar saya bisa melaksanakan tugas dari Pak Adi."
"Insya Allah Mbak, kapanpun, apapun yang kami bisa bantu, akan kami bantu."
"Iya, saya setuju." ucap Dokter Budi yang hanya menyimak.
"Nanti saya hubungi Pak Adi kalau saya butuh bantuan Bapak."
"Baik Mbak."
Malam sudah semakin larut. Sahira memutuskan untuk pulang. Dengan Paksaan Pak Adi yang ingin mengantar pulang akhirnya Sahira terima. Tadinya ia hanya ingin pulang sendiri, mungkin ia bisa menumpahkan rasa sesaknya di jalanan. Namun sepertinya Pak Adi terlalu khawatir padanya.
#
Pagi sekali sahira sudah duduk di meja kerjanya. Hanya memutar-mutar pena yang ada di tangannya. Entah apa yang bisa ia kerjakan hari ini, pikirannya terlalu kalut untuk bekerja. Pertanyaan yang selama ini tidak ada jawabannya sekarang sudah ada jawaban walaupun kenyataan memang kadang terlalu pahit.
"Sahira... Hello" Agatha mengayunkam tangnya beberapa kali di depan wajah Sahira.
"Eh, Bapak. Baru nyampe Pak?" ucap Sahira seperti kebingungan.
"Mmm, mikirin apa kamu sampe orang segede saya kamu ngak liat?"
"Bikin kopi gih. Bikin dua cangkir ya?"
"Kok dua Pak? Pak Edu ikut kesini lagi?"
"Ceh, siapa bilang Edu saya perlakukan layaknya tamu. Satunya buat kamu, biar ngak ngelamun lagi."
"Oh... kopi bisa juga bikin ngak ngelamun ya?"
"Hedeh, mau di bilang pintar tapi bego'. mau di bilang bego' eh lumayan pintar." Agatha menuju ruangan.
Sahira tersenyum dan segera turun membuat kopi.
"Ra, di depan ada orang yang masukin lamaran terus mau ketemu kamu katanya." ucap Desi
"Pasti Rere." Sahira langsung ke depan.
Celingak-Celinguk melihat seisi ruangan mencari Rere, sampai akhirnya ia keluar kantor.
"Woi," Rere menepuk bahu Sahira.
"Woi, jadi ngelamar di sini?"
"Jadi dong... bilangin sama Kak Iman ya buat nerima aku."
"Di sini dia di panggil Pak Agatha," bisik Sahira.
"Ya... terserah apalah. Yang penting aku masuk kerja."
"Ya deh. Aku masuk ya, nanti di cariin Bos."
"Cie,... yang mau CLBK."
"Rere, apaan sih. Nanti di denger orang lain." ucap Sahira malu-malu.
"Maksudnya CLBK?" ternyata benar Desi sudah ada di belakang Sahira.
"Aaa, anu Mbak." Sahira ke habisan kata-kata.
"CLBK Mbak, cinta lama bersemi kembali." jawab Rere.
"Iya, saya tahu itu. Maksud saya sama siapa?"
"Sama Kak Iman. Eb..." Sahira menutup mulut Rere.
"Iman, siapa?"
"Pak Agatha," ucap Rere cepat saat mulutnya terlepas dari bungkaman Sahira.
"Apa?" mulut Desi menganga.
.
"Rere..." teriak Sahira.
"Tunggu dulu, tunggu. Saya ngak salah dengar kan? Jadi dulu kamu pacarnya Pak Agatha ya?" menunjuk Sahira yang menunduk.
"Ting," pesan masuk di ponsel Sahira.
"Kamu di mana?" pesan dari Agatha.
"Habislah aku," Sahira menepuk jidanya.
"Bagaimana aku bisa lupa, ohh.. tuhan." gumamnya sambil berlarian masuk kantor.
"Sahira tunggu! Hey kamu belum jawab pertanyaan Mbak tadi."
"Ra' bialangin sama Pak Agatha ya, jangan sampai lupa!"
"Bodo' amat," Sahira kesal karna Rere ember.
"Heh, kamu temanan SMA atau kuliah sama sahira?"
"SMA Mbak."
"Oh.. jadi Sahira pacaran sama Agtha waktu SMA. Pantes dia banyak sekali tanya-tanya waktu itu. Mmm, ternyata ada udang di balik bakwan."
"Maksudnya Mbak?" Rere tidak mengerti.
"Udah kamu pulang aja. Lusa saya panggil kamu buat interview."
"Serius Mbak."
"Lima rius, udah pulang gih sono."