
“Bang, ngak apa-apa tuh si Sesil dibiarin berkeliaran di luar sana,” Sahira mau mengintip tapi takut ketahuan.
“Biarin. Lagian dia ngak tahu juga kalau kita udah nikah. Abang yakin kali ini dia ngak bakal buat ulah,” sahut Agatha santai.
Untunglah mereka belum memajang photo pernikahan, bahkan ke studio untuk berphoto berdua saja belum mereka lakukan.
“Kalau dia masukin obat atau apa gitu ke makanan Abang gimana?” ucap Sahira khawair, mengingat Sesil yang bisa melakukan apa saja tanpa bisa di tebak.
“Ngak bakal, Abang ada jaminannya kok,” Agatha tersenyum yakin.
Tak lama pintu kamar Agatha di ketuk seseorang.
“Tuh, baru aja di omongin, udah ketuk pintu dia,” ucap Sahira tidak suka.
“Kamu di sini aja ya! Abang janji akan segera membereskan masalah tentang Sesil.”
Dengan wajah di tekuk, Sahira masih tetap mengangguk.
Agatha membuka pintu, namun di hadapan pintu terlihat hanya Agung membawa nampan berisi penuh makanan.
“Malam Boss,” ucap Agung dengan senyum lebar.
Sebenarnya mereka mau ngakak karena berhasil mengerjai Sesil, tapi Agung menahan Agatha yang mau ketawa.
“Boleh saya masuk Boss,” ucap Agung kemudian.
“Oh, boleh,” Agatha sok ramah pada bodyguard.
Ketika Agung sedikit bergeser, barulah terlihat jikalau di belakang Agung ada Sesil yang sedang membawa nampan berisi jus dan air putih masing-masing dua gelas.
“Sini biar saya yang bawa, kamu bawakan minumannya,” ucap Agatha mengambil alih nampan makanan dan menaruh di pangkuannya.
“Baik Bos,” ucap Agung.
“Sini,” Agung berbalik dan mengambil jus yang ada pada Sesil.
Sesil hanya melongo, mau protes tapi takut. Lagian kenapa si bodyguard mengganggu semua rencananya. Sejak ada Agung, ruang Sesil untuk menemui Agatha dan mencari perhatiannya menjadi semakin terbatas dan bahkan hampir hilang.
“Duar,” Agung menutup pintu tanpa permisi.
“Aaa,” Sesil kaget, baru saja mau ikut masuk pintu sudah di tutup begitu saja. Hampir saja pintu itu mengenai batang hidungnya.
“Aisst, sialan,” Desi berkata gusar.
“Awas ya lu, suatu saat bakalan gwa bales,” Sesil berbalik pergi. Duduk dengan kasar di sopa ruang nonton.
“Hahaha,” Agatha dan Agung tidak kuat menahan tawa saat sudah berada di dalam. Mendengar teriakan kesal Sesil seperti mendengar lagu candaan saja.
“Kalian kok gitu, dosa tahu,” Sahira mendekat. Untung saja pas mereka berceloteh di pintu Sahira sudah siap memakai kerudung.
“Sama aja Non, dia juga dosa mau mengusik rumah tangga orang. Dosa dib alas dosa ngak apa-apa biar kapok,” jawab Agung masih dengan sisa tawanya.
“Kalian itu, bisa aja ngerjain orang,” Sahira kemudian ikut tersenyum geli.
“Oh iya, ini mau di taruh di mana Boss,” ucap Agung menunjuk minuman yang ia papah dengan ujung bibirnya.
“Di balkon sana aja deh. Seru kayaknya makan-makan hasil ngerjain orang malam-malam gini,” sahut Agatha masih senyum-senyum geli.
“Siap Boss, mau di tambah lilin-lilin gitu ngak Boss? Biar jadi diner romantis kayak di film-film Boss,” tanya Agung setelah menaruh minuman. Sementara nastar yan tadi sudah di taruh Sahira di atas nakas karena belum sempat keluar untuk membereskan dan menaruhnya di dapur.
“Boleh juga tuh,” Agatha meraih tangan istrinya.
“Chie pengantin baru. Pasti dunia terasa milik berdua ya Boss,” canda Agung menggoda.
“Buruan siapkan mejanya,” sahut Agatha tak memperdulikan.
“Siap Boss,” Agung merapatkan kaki sambil hormat.
Agung membuka pintu, melihat situasi sekitar. Ia melihat kepala Sesil yang hampir hilang di telan sopa.
Cepat-cepat Agung menutup pintu kamar, sesil mendengar itu dan menoleh.
Agung melirik tak sebentar, cuek dan tak perduli. Berbeda dari Sesil yang menatap tajam dengan sorotan mata kesal, marah, gedek campur aduk. Kalau badan Agung seperti anak SD sudah ia cakar-cakar dari tadi.
“Kenapa kamu menatap saya begitu?” Agung bertanya sinis.
“Enggak,” Sesil langsung menunduk dan beralih melihat ke arah televisi.
Dengan gaya acuhnya Agung menuju dapur, mencari lilin dan mengambil bunga yang ada di meja buat menghias meja diner ala dadakan.
Agung masuk lagi ke kamar setelah mengetuk sedikit dan Agatha mengiyakan.
Sesil melirik sedikit tanpa berani menatap lebih lama.
“Sudah siap Boss,” ucap Agung setelah selesai membereskan meja.
“Ya sudah, kamu keluar. Masak kamu nguntit pengantin baru,” sahut Agatha.
“Ini juga mau keluar kali Boss, masak saya mau di sini ngeliatin kalian mesra-mesraan. Bisa merana aku malam ini Boss.”
“Bagus kalau tahu.”
Agung keluar sebelum kedua orang itu duduk di meja diner yang telah ia siapkan.
Sesil menoleh lagi saat Agung keluar, tapi Agung malah berjaga di depan pintu kamar.
Sesil memberanikan diri mendekati Agung.
“Emang kamu ngak ikut makan di dalam, porsinya untuk berdua loh,” tanya Sesil yang heran kenapa Agung keluar lagi.
“Bukan urusan anda Nona. Sekarang Nona silahkan pulang, habis makan Boss langsung istirahat kembali dan tidak mau di ganggu,” tegas Agung.
“Iya, iya. Ini juga mau pulang, buat apa juga jadi congek di sini,” Sesil berkata dengan kekesalan.
“Bagus kalau tahu diri,” ucap Agung tanpa ekspresi.
“Ceh,” Sesil pergi mengambil tas lalu keluar sambil membanting pintu kasar.
Setelah memastikan kalau Sesil telah pergi barulah Agung memberikan pesan pada Agatha dan pamit pulang. Pintu akan otomatis terkunci saat tertutup, jadi semua aman. Kalau Sesil kembali tiba-tiba pun ia tidak mungkin bisa masuk lagi tanpa dibukakan oleh orang dari dalam.
Agung dan sesil bertemu lagi di parkiran, mereka saling melirik sebentar tapi tidak saling perduli seakan-akan mereka tidak saling kenal.
“Ceh, Bodyguard sial,” teriak sesil memukul setir mobil.
“Kalau gwe masih mau dekat dengan Agatha, bodyguard itu harus segera di singkirkan,” ucap Sesil menatap lurus dengan tatapan tajam.
Mulai sekarang ia akan fokus menyingkirkan Agung terlebih dulu sebelum mengurus Sahira, karena penghalang terbesarnya sekarang adalah Agung sang bodyguard Agatha yang ia anggap selalu ada di mana-masa seperti hantu.
“Hallo, Ivan. Aku ingin kamu urus seseorang, nanti saya kirim photonya. saya mau tahu semua tentang dia,” Sesil menelpon seseorang yang selalu jadi kepercayaannya dalam mengurus banyak hal.
Sesil mengirim photo Agung dan meminta Ivan untuk memberikan segala informasi tentang Agung, sebelum ia menyusun rencana matang bagaimana menyingkirkan Agung.
**
“Yang ini bagus kan? Kamu suka ngak,” tanya ibu mertuanya sahira.
Mereka sedang memilih konsep dekor buat nanti hari resepsi besar-besaran.
“Bagus-bagus semua sih Ma, Ira jadi bingung mau pilih yang mana. Yang mana kata Mama aja deh,” ucap Sahira bingung. Semua dekor terlihat indah dan mewah, takutnya keluarganya malah minder kalau datang ke resepsi itu. Pasti isinya orang-orang dari kalangan atas semua.
“Yang ini aja Ma, lebih menyatu dengan alam. Lagian kita kan ngadain pestanya di taman, jadi konsepnya lebih alami lebih bagus,” Amara menyodorkan gambar yang ia sukai.
“Oh, gitu ya. Iya juga sih,” sahut ibunya menurut saja.
“Ya udah, yang ini aja deh Pak,” akhirnya mereka memilih.
Lanjut memilih konsep undangan, setelahnya mereka masak bersama untuk makan siang.
Sampai sekarang Sahira belum boleh kerja oleh Agatha, ia hanya mau Sahira fokus terlebih dulu pada pesta pernikahan mereka yang sudah di depan mata.
**
“Pak, ini laporannya. Silahkan Bapak periksa terlebih dulu,” Desi masuk ruangan. Agatha bingung dengan jalannya pincang sambil pegang punggung. Kata tukang urutnya, Desi harus tiga kali di urut baru bisa dikatakan sembuh.
“Kenapa kamu?” tanya Agatha mengernyit.
“Gara-gara anak buah Bapak yang suka nongkrong sembarangan,” ucap Desi sembari melirik Agung yang berdiri dipojokan. Sebagai supir sekaligus bodyguard, Agung hampir dua puluh empat jam bersama Agatha, bahkan bisa melebihi istrinya sendiri.
“Maksud kamu dia?” Agatha menunjuk Agung karena mata Desi mengarah padanya.
“Dia aja yang baperan Boss, mau cari perhatian tuh,” sahut Agung tapi tidak menunjukkan ekspresi dan selalu berbicara datar.
“Beneran dia?” tanya Agatha lagi pada Desi.
“Gung, tanggung jawab,” ucap Agatha singkat, lalu ia membuka laporan.
“Bukan saya Boss, saya cuma diem terus dia nabrak saya lalu jatoh. Itu salah dia sendiri Boss,” Agung mulai kesal sama Desi, lagian apa pentingnya dia ngadu-ngadu segala sama Bossnya.
“Tetap saja sebagai laki-laki kamu harus tanggung jawab Agung. Dia sampe kesusahan berjalan gitu loh,” Agatha melirik sebentar, lalu matanya tertuju pada berkas-berkas itu lagi.
“Iya kemarin saya juga udah anter dia ke tukang urut kok.”
“Tanggung jawab itu bukan cuma itu Agung,” jawab Agatha ringan.
Desi sudah senyum-senyum, akhirnya di marahin juga si wajah serem.
Agung melirik Desi dan tahu Desi menertawainya, ia jadi makin kesal pada Desi. Bisa ngak sih ni orang ngak bikin ulah sehari saja.
“Kamu dengar Agung?” tanya Agatha tanpa menoleh padanya.
“Iya Boss, saya akan mengantarnya ke tukang urut lagi hari ini karena harus di ulang sebanyak tiga kali.”
Dasi hampir keceplosan ketawa ngakak melihat wajah Agung jadi ngegemesin kalau lagi kena marah. Segera Desi membungkam mulutnya agar tidak terbahak tiba-tiba.
“Hem, hem,” Desi berdehem guna menghilangkan rasa ingin terbahaknya.
“Bagus. Dan lagi, kalau dia tidak sembuh seperti semula kamu wajib nikahin dial oh Gung.”
“Apa?” ucap dua sejoli itu serentak. Desi sama syoknya dengan Agung saat Agatha berkata demikian.
“Ya ngak mungkin lah Boss,” sahut Agung sepat.
“Mungkin atau ngak mungkin itu sebuah keharusan Agung. Definisinya adalah mana mungkin ada yang mau nikahin dia kalau dia jalannya saja seperti itu, sebab itu kamu yang menyebabkan harus bertanggung jawab penuh untuk kehidupan dia. Tanggung jawap penuh dalam segala hal maka sebaiknya menikah, begitu aturannya Gung,” Agatha dengan santainya menjelaskan, tapi penjelasan itu malah membuat Desi dan Agung panik.
Agung masih melongo, tidak percaya kalau Bossnya akan berkata demikian.
“Tenang aja, saya bakalan sembuh kok,” Desi langsung berdiri tegap sok kuat.
“Syukur kalau begitu. Sekarang silahkan mau keluar, tunggu konfirmasi dari saya selanjutnya ya,” ucap Agatha.
“Iya Pak,” ucap Desi dengan senyum di paksakan.
Namun saat Desi berbalik hendak pergi, jelas ia tidak bisa pura-pura kuat untuk berjalan tidak pincang.
“Sial,” gumam Desi.
“Kamu beneran udah sembuh?” tanya Agatha sambil senyum-senyum melirik Agung.
“Iya Boss, bentar lagi sembuh kok,” Desi meringis menahan sakit.
Agung melihat itu tidak bereaksi apa-apa.
“Oke, baiklah,” ucap Agatha masih senyum-senyum melihat dua sejoli itu. Baru sekarang ia melihat sepertinya ada kecocokan antara mereka berdua. Agung kayaknya bakal jinak kalau sama Desi, lagian mereka sama-sama sudah lumayan berumur dan sepertinya masih sama-sama jomblo. Cocoklah perawan tua sama perjaka tua.
Agatha masih sesekali melirik Agung sambil tersenyum-senyum, wajah Agung nampak kesal dan gusar.
Tanpa permisi Agung keluar dari ruangan Agatha, Agatha tahu apa yang mau dilakukan oleh Agung.
“Sepertinya akan seru,”gumam Agatha ketawa melihat Agung keluar dengan wajah tidak enak.
**
“Maksud lo apaan sih bilang begitu sama Boss,” Agung mendatangi meja Desi tanpa basa-basi.
“Itu peringatan, biar lo ngak macem-macem sama gwa. Gwa bisa aduin semuanya sama Boss lu,” Sahut Desi tak perduli tentang marahnya Agung.
“Ceh, emang lu mau nikah beneran sama gwa hah?” tanya Agung kesal.
“Ya kagak lah,” jawab Desi cepat.
“Makanya jangan macem-macem. Tindakan lu bisa ngebunuh kita berdua tahu.”
Desi hanya diam, tidak bisa lagi menjawab Agung. Ia tak punya jawaban agar Agung kalah jika berdebat dengannya.
“Ya sudah, jam makan siang gwa bakal minta izin sama Boss buat nganter lu ke tukang urut. Kelarin kerjaan yang perlu, kita ngak mungkin bisa kembali ke kantor secepat kilat,” ucap Agung menatap Desi yang mulai melemah. Biasanya seperti singa, sekarang malah seperti kucing angora.
“Kamu dengar ngak?” bentak Agung.
“Iya dengar, emang lu kira gwa budek apa,” sahut Desi manyun.
“Bilang iya kek makanya.”
“Iya Agung yang cerewet. Udah sana-sana, kembali ke alammu,” Desi mengibaskan tangan mengusir Agung dari depan meja kerjanya.
“Ceh, siapa juga yang mau berlama-lama di sini. Hawanya panas dan bawaannya mau darah tinggi saja,” ucap Agung sembari menjauh pergi.
“Ceh, dasar jin tumang. Mana bisa lu kepanasan, kulit badak juga,” teriak Desi kesal.
**
“Ra, bisa kita jalan. Ada yang mau aku omongin sama kamu,” tiba-tiba Edu menghubungi Sahira lagi. Sahira membalas kalau ia sebenarnya sudah menikah dan tidak bisa di ganggu laki-laki lagi, namun ia ingat Agatha bilang kalau belum boleh kasih tahu orang lain sebelum pesta besar itu terlaksana. Jadilah ia menghapus pesan yang telah ia ketik barusan.
“Aku ngak bisa, banyak urusan,” balas Sahira singkat.
“Ayolah Ra, cuma sebentar kok. Aku udah di Bandung ini nginep di hotel. Mau ke rumah Amara sih, tapi takut di semprot,” balas Edu dengan emotikon ketawa.
Benar, berarti Edu belum tahu apa-apa dan masih mengira kalau ia masih bekerja jadi Sekretarisnya Amara.
“Pak Edu, saya di Jakarta sekarang. Ada urusan keluarga, ngak bisa di ganggu.”
“Kamu serius Ra, kok kamu baru bilang. Aku udah terlanjur ada di Bandung ini loh.”
“Lagian kamu ngak nanya, mau ngapain aku kasih tahu kamu, mau bikin pengumuman.”
“Ya kan kamu tahu Ra, aku rutin ke Bandung pas lagi senggang.”
“Terserah, intinya aku ngak bisa. Udah ya aku ngak enak sama anggota keluarga yang lain.”
“Ya udah deh, kalau gitu. Selamat bersenang-senang,” balasan Edu hanya di read oleh Sahira.
Edu berpikir sejenak, ngak ada Sesil sekarang. Mending ia kirim pesan pada Amara dari pada harus balik lagi ke Jakarta dengan sia-sia.
“Amara, Kakak ke rumah kamu ya,” Edu mulai chat Amara yang sekarang kebetulan lagi online juga. Sama seperti Sahira saat tadi ia chat juga lagi online.
“Boleh,” sahut Amara singkat.
“Tapi kamu ada di rumah ngak,” balas Edu.
“Ada,” sahut Amara singkat.
“Ya udah kamu siap-siap ya, Kakak ke sana sekarang. Kakak mau kamu temenin Kakak jalan.”
“Boleh,” balas Amara lagi dengan singkat.
Edu membaca chating dari Amara mengernyit heran. Tumben banget tuh anak chatingnya sesingkat-singkatnya, biasanya nyenyes kayak cabe rawit pedes.
Edu hanya membaca chat Amara yang terakhir dan segera meluncur, mungkin Amara balas chat dengan singkat karena matanya mengantuk, jadi harus buru-buru di temuin biar cepet hilang ngantuknya.
Sekitar lima belas menit perjalanan dari hotel Edu sudah tiba di depan rumah Amara.
“Loh kok pagernya ke konci, tumben-tumbenan sekali,” Edu melihat gembok yang terpaku kokoh di pagar.
“Eh, lu katanya di rumah. Kenapa pager pake di gembok segala,” Edu langsung menelpon Amara.
“Perasaan kebuka deh pager rumah Ara. Tuh Ara lagi di teras sekarang, kebuka kok,” Amara menahan tawa.
“Tapi ini ke konci Amara, ngak ada orang di teras,” jawab Edu kesal, ia jauh-jauh datang kemari malah mendapati gembok pagar. Lagian masak ngak ada satupun orang di rumah Amara pake di gembok segala.
“Tunggu dulu, lu rumah yang mana sih?” tanya Edu baru sadar.
“Ya rumah Amara lah Kak.”
“Iya rumah yang di mana? Yang di Bandung apa di Jakarta Amara…”
“Di Jakarta Kak,” sahut Amara sok polos.
“Seat, kenapa kamu ngak bilang dari tadi sih Amara,” teriak Edu kesal. Hampir saja ia banting ponselnya.
“Kakak baru nanya sekarang,” jawab Amara sok polos, padahal ia menahan tawa. Dari awal ia sengaja pengen ngerjain Edu.
“Kamu sengaja kan Amara,” Edu masih teriak kesal.
“Santai Kak santai, jangan suka marah-marah, cepat tua loh. Lagian Kakak nanyanya ngak jelas, jadi bukan salahnya Ara dong Kak,” jawab Amara ringan.
“Udah ah, bodo amat,” Edu langsung mematikan sambungan telpon. Dengan sepat ia memutar balik, kembali ke hotel guna mengambil barang-barangnya. Ini perjalanan yang sia-sia.