Let'S Get Married

Let'S Get Married
Gebetan



Edu sangat kesal, baginya baru pertama kali ia mengejar seseorang tapi responnya selalu biasa saja seperti ia mengejar Sahira. Ia sudah mencoba berbagai cara, termasuk mendekati Amara agar bisa dekat dengan Sahira, tapi hasilnya selalu sama. Sahira sepertinya sudah cinta mati pada Agatha. Tapi ia tidak bisa pasrah begitu saja, yang ia tahu Agatha tidaklah bersikap baik pasanya sekarang-sekarang. Dan juga jujur ia merasa lebih mempu untuk menjaga Sahira di bandingkan dengan Agatha.


“Sore Tan, Amara ada?” Edu datang ke rumah orang tua Amara. Ia masih kesal pada Amara yang mengerjainya, bagaimanapun itu bocah harus di berikan pelajaran.


“Ada kok, tunggu aja di sana ya. Tante panggilkan dulu,” ibu Amara mempersilahkan Edu duduk di ruang tamu.


Tidak butuh waktu lama, Amara turun dari tangga megah yang selalu menjadi icon rumah mewah dimana saja.


Dari kejauhan Amara melihat sosok Edu, ia tidak kuasa menahan tawa. Amara sudah terbahak melihat Edu yang sudah menatap kesal dirinya saat turun tangga.


Saat sudah di depan Edu pun Amara masih cekikikan.


“Kamu minta di jitak ya,” Edu mendekati Amara, Amara buru-bur berlari menjauh dengan gaya selengean.


“Sini lu, berani-beraninya lu ngerjain Kakak lu. Kuwalat lu tahu rasa,” Edu marah-marah sambil mengejar Amara yang berlarian di area sopa.


“Weah, tangkap kalo bisa,” Amara semakin menjadi. Mereka jadi main tom and jerry.


“Emang lu pikir gwa ngak bisa,” Dengan cepat Edu meraih tangan Amara dan menguncinya dalam pelukan.


“Dasar lu ya,” beberapa kali Edi menoyor kepala Amara.


“Aduh sakit, Mama,” teriak Amara.


“Enak aja lu ngerjain gwa ya,” lagi Edu menoyor kepala Amara.


“Mama, tolong Ma. Aduh sakit,” Amara berteriak dengan sisa tawanya.


“Loh, ini ada apa?” Bu Amira, ibunya Amara keluar.


“Ini Ma, Kak Edu jahil,” Amara mengadu seperti anak kecil.


“Dia duluan yang mulai Tan,” sahut Edu ngos-ngosan abis main Tom and Jerry.


“Ada apa sih Ma ribut-ribut,” Sahira turun dari atas.


Edu melongo melihat itu, kenapa ada Sahira di sini? Dia bilang ada urusan keluarga, apa urusan keluarga yang ia maksud adalah urusan bersama keluarganya Agatha. Mereka mau bahas soal pernikahan yang dulu sempat tertunda, benak Edu.


“Tau tuh berdua pada ribut kenapa,” Bu Amira menunjuk Edu dan Amara.


“Ini Tan si Amara ngerjain Edu. Masak dia suruh Edu ke rumah yang di Bandung, eh dia malah dia malah di sini,” Edu balik lapor kayak anak kecil.


“Amara kok gitu? Kamu keterlaluan deh,” Bu Amira memperingati putrinya yang lagi manyun.


“Ih.. bukan salah Ara Ma. Kak Edu bilang mau ke rumah Ara, Ara bilang ya udah ayok. Ara ada kok di rumah. Tahunya dia ke rumah yang di Bandung,” Amara berkata sok polos.


“Iya, tapi kamu udah tahu kan. Kamu sengaja, iya kan?” Edu mencecar kesal pada Amara.


“Makanya Edu, kalau nanya yang jelas. Biar ngak terjadi salah paham,” ucap Bu Amira.


“Hahaha,” mendengar dirinya di bela, Amara tambah ngakak.


“Lah kok jadi Edu yang di salahin Tan. Itu salahnya Ara yang sengaja itu ngerjain Edu,” Edu kesal karena ngak di bela. Padahal ekspektasinya Amara akan dimarahi oleh ibunya.


“Kamu juga Amara, jelasin sejelas-jelasnya. Kan kalau salah paham begitu repot,” Bu Amira menunjuk Amara yang lagi terbahak.


“Iya Ma, lain kali akan Ara jelaskan sejelas jelasnya,” ucap Amara masih dengan sisa tawanya.


“Ya udah, sekarang Edu istirahat dulu gih di kamar atas. Nanti makan malam di sini aja bareng kita, ada Agatha sama Sahira juga. Kalau Nak Edu makan malam di sini juga kan jadi lebih rame,” ajak Bu Amira.


Edu masih saja melirik dengan tatapan kesal pada Amara, ia belum selesai menumpahkan kekesalan pada Amara. Pengennya ia di semprot sama ibunya, tapi reaksi ibunya malah biasa saja.


“Ngapain di ajak Ma, ngabis-ngabisin makanan aja,” celetuk Amara kemudian ia terbahak lagi.


“Ara…” Ibunya melirik tidak suka. Amara tiba-tiba mingkem.


“Ya udah deh Tan, Edu istirahat dulu ke atas,” Edu permisi, mengakhiri perdebatannya dengan Amara.


“Iya, buruan. Mandi dulu biar seger, baru tidur,” ucap Bu Amira dengan tutur lembut.


“Iya Tante.”


Edu naik, Sahira yang jadi penonton masih saja di atas diam saja. Sahira juga merasa tidak enak pada Edu. Pasti Edu mengira kalau ia sedang berbohong masalah urusan keluarga saat chating.


“Ra, kamu di sini juga. Kamu di undang sama mamanya Agatha ya,” tanya Edu yang berpapasan melewati Sahira.


“Mmm,” Sahira mengangguk.


“Ya udah, aku ke kamar dulu ya,” Edu menunjuk arah kamar.


“Mmm,” sahira mengangguk lagi.


**


Di meja makan, semua hanya diam dan tidak ada yang memulai percakapan seperti biasanya. Sebab Agatha sudah mewanti-wanti semuanya agar tidak membicarakan soal pernikahan mereka di depan Edu.


Edu beberapa kali melirik Sahira yang duduk tepat di sebelah Agatha, ia tiba di meja makan saat semua orang sudah ada di sana. Ia tidak sadar kalau yang Agatha tidak lagi duduk di kursi roda melainkan duduk di kursi biasa.


Karena tidak ada yang bicara, Edu pun menjadi sungkan untuk bertanya.


Selesai makan, Edu sebenarnya mau bicara sama sahira namun Sahira menghindarinya dengan pura-pura sibuk membereskan meja makan dan mencuci piring. Edu merasa tidak enak untuk mendekati Sahira yang keluarga Agatha tahu kalau Sahira dekat dengan Agatha, takut di nilang suka nikung dari belakang. Agatha sengaja tidak bangkit dari kursi, ia sibuk dengan ponselnya saat yang lain sibuk membereskan meja makan.


“Maaf ya Kakak ganteng,” Amara mendekati Edu yang lagi menatap Sahira yang sedang sibuk. Amara langsung mencium tangan Edu sebagai tanda minta maafnya yang tulus.


“Iya, jangan diulangi lagi ya,” Edu mengacak rambut Amara yang ia kuncir satu.


“Siap Tuan,” Amara hormat bendera.


“Ya udah, Kakak mau pulang dulu. Mau istirahat di rumah. Mama sama Papa kamu mana?” Edu melihat seisi ruangan tidak ada.


“Ada di depan tadi,” sahira menunjuk ruang depan.


“Owh.” Edu mendekati Agatha yang semenjak kedatangannya ke rumah ini Edu belum sekalipun mendengar ia bicara. Apa ia sekarang bukan cuma lumpuh, tapi juga cacat? benak Edu.


“Oy,.. Bro. Gwa mau pulang nih,” Edu duduk mendekati Agatha.


“Lu kira gwa pegawai di PHK.”


“Huhahaha,” Amara dari kejauhan mendengar itu malah ngakak.


Edu kemudian mau mendekati Sahira untuk berpamitan.


“Ngak usah pamit, nanti gwa sampein kalau lu udah pulang,” ucap Agatha melihat kemana arah Edu berjalan.


“Ceh, bilang sendiri lebih abdol kali. Udah dekat juga,” sahut Edu tak perduli.


Agatha tak menjawab lagi, hanya diam memperhatikan lekat.


“Ra, aku pamit pulang dulu ya,” ucap Edu di samping Sahira yang lagi cuci piring.


“Iya,” jawaban singkat Sahira tanpa menoleh membuat Edu sedikit asem.


Lalu ia pergi ke depan dan berpamitan pada Bu Amira dan Pak Iman.


**


Semua persiapan untuk pesta besar telah selesai, termasuk dekor luar dan dalam, catring dan segala macamnya.


Satu hal yang belum mereka lakukan adalah menyebar undangan, padahal acaranya akan diadakan malam ini juga. Agatha sengaja meminta menyebar undangan pada pagi harinya, guna memberi kejutan besar bagi orang-orang yang di kehendaki Agatha untuk terkejut.


Pagi hari Agatha meminta Agung untuk menyebarkan undangan di kantor, semua staf di undang tanpa terkecuali. Satu kantor heboh mengatahui bahwa Agatha sebenarnya sudah menikah. Di undangan tertera jelas kapan mereka melaksanakan akad.


Padahal mereka baru heboh-hebohnya mengidolakan Boss ganteng, smart dan kaya yang baru sembuh dari lumpuhnya. Agatha tampak sempurna layaknya arti Jepang, hampir satu kantor menggilainya. Dan sekarang satu kantor kecewa dan merasa tertikung oleh Sahira yang dianggap mengenal Agatha hanya beberapa bulan saja namun sudah berhasil meluluhkan hatinya.


“Sahira? Ini Sahira Sekretarisnya Pak Agatha yang dulu?” tanya Erin pada Agung.


“Mmm,” Agung hanya mengangguk.


“Kalah telak lu Des, padahal lu udah lama jadi orang kepercayaan Pak Agatha,” sahut Ruri.


“Idih, aku ngak mengejar Pak Agatha seperti yang kalian lakukan saat tahu kalau Pak Agatha sudah sembuh. Aku ngak semunafik kalian ya,” sahut Desi nyolot.


“Sama aja, lu kan ngejar-ngejar Pak Edu. Apa bedanya harga diri kita-kita sama harga dirinya elu. Dasar munafik lu,” sahut Erin.


“Udah, udah. Pada berantem lagi. Kerja, kerja,” Agung memperingati mereka.


“Eh sorry ya, harga diri aku tuh mahal. Lagian siapa bilang aku ngak punya pacar,” sahut Desi sombong.


Agung mendengar itu jadi menatap Desi bingung, ternyata si gadis tua nan cerewet itu sudah punya pacar. Dia kira akan jomblo selamanya.


“Ceh, norak lu Des. Paling lu bawa berondong nanti pas di pesta, padahal berondong itu lu bayar kan,” Ruri mencibir.


“Hahaha, iya tuh kayak yang di film-film. Sebab dia malu di bilang jomblo seumur hidup,” timpal Erin.


Agung memperhatikan perdebatan sengit itu, lucu juga lihat Desi kalau lagi terpojok oleh teman-temannya. Apa lagi Desi yang tak mau kalah.


“Siapa bilang, nih pacarnya gwa. Puas lu,” Desi menarik Agung ke tengah dan menggandeng tangannya.


Yang lain pada diam, sambil mangap.


“Aaa,” Desi menginjak kaki Agung saat Agung mau bicara, ia langsung membungkam mulut Agung.


“Des, sakit tahu,” ucap Agung saat mulutnya sudah di buka.


“Makanya kamu akui hubungan kita. Kenapa sih kamu ngak mau ngaku depan semua orang, kamu takut di marahin Pak Agatha. Dengar ay Agung Laksono, Pak Agatha pasti senang kalau tahu bodyguard kesayangannya punya pacar,” celoteh Desi tidak membiarkan Agung berbicara.


Agung melongo menatap Desi, bisa-bisanya dia punya ide gila seperti itu hanya karena gengsi di katain jomblo sama teman-temannya.


“Kalian beneran pacaran?” tanya Erin ragu-ragu. Mereka sebenarnya sungkan pada Agung, selain wajahnya yang selalu terlihat tegas dan menakutkan, Agung adalah orang yang langsung berhubungan dengan Agatha. Hubungan Agung dan Agatha melebihi hubungannya Desi pada atasannya sebagai Sekretaris. Apapun yang dikatakan Agung sudah tentu akan menjadi perkataan yang paling dipercaya oleh Agatha. Mereka benar-benar takut kalau di laporkan dengan tuduhan buruk oleh Agung.


“Iya, tentu,” Desi tersenyum memaksakan.


“Udah, iyain aja. Dari pada ribet,” bisik Desi di sebelah Agung.


“He,” Agung nyengir kuda. Bilang ngak juga ngak bakal di percaya lagi. Lagian beberapa hari ini ia selalu keluar berdua dengan Desi, gendong-gendongan segala lagi. Jelas orang lain akan percaya kalau mereka berdua aslinya pacaran.


“Ya udah, kita balik kerja deh,” sahut Ruri jadi tidak enak sendiri.


“Monggo, jangan kelamaan nganggurnya,” sahut Agung.


Desi tersenyum penuh kemenangan, bisa memenangkan adu argument dengan teman sekaligus orang yang suka mencibir dirinya.


“Jangan keburu girang dulu, kerja sana!” ucap Agung melirik Desi senyum-senyum dan sedikit loncat-loncat.


“Eh, gwa belum kelar. Agung,” Desi mengejar Agung yang sudah bergerak duluan.


“Apalagi? Mau berterima kasih sama gwa, mau teraktir gwa karena udah bantuin elu?” sahut Agung sembari berjalan santai, santai bagi Agung namun tergopoh-gopoh bagi Desi untuk menyesuaikan langkah dengan Agung.


“Malam ini pergi bareng gwa yah, besok gwa teraktir deh,” Desi memohon.


“Kenapa? Lu malu kalau malam ini ternyata lu dateng sendirian?” tanya Agung berhenti lalu menatap Desi dekat-dekat hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa centi saja.


“Hehe,” Desi garuk-garuk kepala.


“Ayolah Gung, gwa janji abis ini gwa bakal baik-baik sama lu. Ngak bakal nyolot-nyolot lagi deh, please,..” Desi memohon.


“Desi, masalahnya gwa ngak mungkin jemput lu. Gwa kan punya tugas jagain Boss, apa lagi ini adalah hari penting buat mereka. Ngak mungkin gwa kelayapan Des,” Agung menjelaskan santai.


“Ya udah deh, ngak apa-apa ngak usah jemput. Tapi gwa bakalan deketin lu kalau gwa lagi butuh ya,” Desi memohon seperti anak kecil.


“Ya udah dah, tapi gwa mau lu traktir gwa siang ini juga. Gwa ngak mau besok-besok, nanti lu ingkar janji lagi.”


“Oke, kita deal ya,” Desi mengulurkan tangan mau bersalaman.


“Oke deal.” Agung menjawab tangan Desi.


Entah mengapa, Agung tiba-tiba kasihan kalau Desi bakalan jadi bahan ejekan oleh para teman-temannya kalau ia tidak mau membantunya.