
Agatha mengantar Edu terlebih dulu ke tempat pijat, punggungnya yang sakit ternyata bukan hanya sekedar sandiwara. Mobil yang Edu bawa tadi di tinggalkan di parkiran Apartemen Agatha.
"Aaa...aaa..aaaaa...." teriakan Edu dari dalam ruangan semakin keras, membuat bulu kuduk Agatha merinding ngeri.
"Aaaa....", karna terlalu sering teriak, Agatha tidak tahan dan masuk ruangan.
"Tahan Mas," ucap Bapak-bapak yang memijat.
"Aaaa," teriak Edu semakin keras.
"Mas belum di pegang,"
"Oh, belum ya. Kok udah sakit."
"Hehh,... dasar lebay," ucap Bapak pemijat.
"Aaa,..."
"Baru juga dikit Mas, belum mulai beneran."
Agatha cekikikan sendiri melihat Edu yang belum juga di pijit sudah histeris seperti mau di keroyok saja.
"Kalau mulai beneran bisa pingsan dia Pak," ucap Agatha masih dengan sisa tawanya.
"Ceh," Edu melirik Agatha sinis.
"Aaa, Pak pelan-pelan saja."
"Ini juga pelan Mas. Mas cewek apa cowok sih?"
"Cowoklah," bentak Edu yang di ragukan kejantanannya.
"Kok ngak maco sama sekali."
"Wkwkwk," tawa Agatha semakin keras mendengar ucapan Bapak pemijat.
"Eh, Pak jangan sembarangan ya. Bapak kali yang ngak bisa membedakan maco atau ngak," ucap Edu marah.
"Habis dari tadi saya dengar teriakannya kayak cewek."
"What?" Edu berbalik badan.
"Makanya diem Mas, jangan ribut kalo ngak mau di bilang cewek. Teriakan Mas terdengar sekampung. Nanti saya di kira ngapa-ngapain anak orang lagi."
"Huhaha," Agatha tidak bisa berhenti tertawa.
"Ceh, Bapak itu tukang pijat, bukan tukang komentar. Cerewet amat, Bapak yang kayak Emak-emak tuh." bukan pijat-pijatan malah bertengkar.
"Udah Mas ngak usah ribut. Balik badan lagi."
Edu menatap Bapak Pemijat sinis namum tetap nurut di suruh balik badan.
"Hajar saja Pak," ucap Agatha menimpali.
"Eh diem lu. Ini semua gara-gara lu tau ngak. Hidup gwa jadi menderita begini."
"Hehe, syukurin."
"Aaa...aaa...aaa,"
Setelah dengan drama panjang dan teriakan sambung-menyambung tiada henti akhirnya drama pijat-pijatan kelar juga.
Mereka keluar dari ruangan. Pinggang Edu sudah tidak terlalu sakit.
"Pesan taxi online gih," ucap Agatha melihat arlogi di tangannya.
"Anterin gwa pulang. Lu harus tanggung jawab sama hidup gwa," ucap Edu melipat tangannya.
"Emang gwa ngapain lu Nona?"
"What? Jangan panggil begitu. Ngeri gwa," Edu merinding sendiri membayangkan dirinya yang berubah jadi bencong.
"Udah cepet pesan taxi, gwa mau berangkat ke kantor udah telat gwa gara-gara lu."
"Ceh, emang kenapa kalau telat. Lu kan Bosnya."
"Gwa ngak kayak lu yang ngak disiplin."
"What ever lah," Edu mengeluarkan ponselnya dari saku, ia mulai memesan taxi online.
#
"Pagi Pak," sapa para Staf kantor.
"Mmm," Agatha mempercepat laju kursi rodanya agar segera tiba di ruangannya.
"Pagi Pak," ucap Sahira bangkit dari tempat duduknya melihat Agatha dari kejauhan.
Beberapa pesan telah di kirim Sahira karna tidak biasanya ia telat.
"Mmm, Apa hari ini ada rapat."
"Ya Pak, sekarang waktunya kita rapat. Tadinya saya pikir Bapak ngak datang dan mau membatalkan rapatnya. Tapi karna Bapak sudah sampai kita rapat sekarang."
"Baiklah."
"Selesai rapat, suruh Bu Devina segera keruangan saya."
"Baik Pak."
Agatha tidak masuk keruangannya dan langsung masuk keruangan rapat.
#
Produk yang akan mereka buat akan di bahas pada rapat berikutnya.
"Sahira siapkan rapat setelah istirahat makan siang. Kita akan membahas produk yang akan kota kelurkan. Lebih capat lebih baik."
"Baiklah Pak"
"Mari ikut saya!"
Dengan tanpa bertanya Sahira hanya menurut saja mengkuti Agatha yang keluar kantor.
Kali ini Agatha mengajak Sahira makan di pinggir jalan yang tempatnya jauh dari kata mewah.
"Kamu mau makan di sini?"
"Boleh, kelihatan enak."
Mereka turun dari mobil tak lupa Pak Adi juga di ajak untuk makan bersama.
"Buk saya mau Mie ayam spesial ya."
"Ceh, giliran di tempat seperti ini, belum juga di suruh pesan sudah nyambar duluan."
"Sebab di sini pake' bahasa manusia, hehe."
"Ceh," Agatha tersenyum.
"Bapak mau pesan apa. Saya bilangin ke Ibuknya ya."
"Samain aja."
"Hehe, Bapak ikut, ikut aja."
"Buk mie ayamnya dua porsi ya," teriak Sahira pada Ibu yang tidak jauh darinya.
"Bapak mau minum apa?"
"Jus jeruk aja, sama air putih ya."
"Oke," Sahira berbicara sudah tidak dengan bahasa formal.
"Buk, jus jeruk dua sama air putih juga."
"Hobby ya kamu teriak-teriak."
"Di sinikan memaksa kita untuk teriak Pak."
"Mmm," Agatha membuka kerah kerah bajunya, mulai gerah karna tidak ada AC. Hanya ada satu buah kipas angin dalam satu ruangan yang lumayan besar.
"Panas ya Pak?"
"Mmm, kamu suka makan di sini."
"Makanan di tempat seperti ini biasanya lebih enak Pak, hehe. Lain kali kalau mau ngajakin makan bilang Pak. Nanti saya bawa ke tempat favorite saya. Di sana enak banget Pak, murah lagi. He"
"Ceh," Agatha tersenyum menanggapi celoteh Sahira.
Tak lama perlu menunggu lama pesanan mereka sudah sampai.
"Bapak tahu cara makan mie ayam?"
"Heh, saya dulu pernah makan mie ayam sama kamu," ucap Agatha spontan tak menyadari apa yang ia ucapkan.
Sahira mencoba mengingat. Seingatnya mereka sering makan hanya di depan sekolah dan di kantin dalam sekolah dan tidak pernah makan mie ayam.
"Di mana? kok saya ngak ingat."
Agatha yang tadinya mengaduk mie ayam berhenti dan mendongak.
"Sudahlah tidak penting. Ayo makan!" Agatha mengalihkan pembicaraan.
"Ternyata Bapak mengingat dengan jelas ya. Saya pikir sudah lupa, hehe."
"Jangan bicara ketika makan. Ini panas."
"Baik Pak," Sahira senyum-senyum sendiri melihat Agatha yang sedang memasukkan mie ayam ke dalam mulutnya.
'Ah, ternyata dia masih sama seperti Bang Iman yang dulu.'
"Kenapa kamu senyum-senyum begitu," memergoki Sahira yang sedang menatapnya.
"Ah tidak," segera Sahira mengalihkan pandangannya. pura-pura fokus pada si mie ayam.
"Jangan jatuh cinta sama saya, anda akan melakukan kesalahan untuk kedua kalinya nanti." ucap Agatha lalu mulai makan lagi.
"Ah Bapak terlalu percaya diri. Siapa yang jatuh cinta sama Bapak."
'Makanya jangan sok manis di depan saya kalau tidak mau saya gila karna anda.'
"Habiskan makananmu, jangan kebanyakan melamun. Kesambet tau rasa kamu."
"Baik Pak."
Akhirnya mereka hanya fokus pada makanan dan tidak saling bicara satu patah katapun lagi hingga saat selesai makan.
Agatha memanggil penjual mie ayam dan membayar makanan mereka.
Pak Adi yang lain meja memperhatikan mereka dari tadi. Ia baru mengerti jika Sekretarisnya itu ternyata adalah orang yang pernah ada dalam masa lalunya Agatha.