
"Wah, ternyata lagi kumpul bareng ya. Kok Papa ngak di kasih tau, untung Papa pulang cepat." Senyum Pak Iman yang bersahaja.
"Mama sengaja ngumpulin Pah buat ngenalin calon mantunya, hehe." Amara melirik Kakaknya.
"Ini calon mantu Papa?" Pak Iman melihat Sahira.
Sahira merasa sangat malu, ingin rasanya ia sembunyikan wajahnya di balik tembok.
Sahira langsung mencium tangan Pak Iman.
"Ceh," Agatha mendengus kesal dengan sikap berlebihan Amara, belum nanti akan di tambah oleh ibunya.
"Udah kalian wudhu sana, saya tunggu di ruang musholah," Agatha langsung pergi ke ruang musholah yang biasa di pakai sholat berjamaah bersama keluarga besar.
"Cie, Kak Aga malu-malu ni ye," godaan dari adik yang pastinya akan terus berlanjut.
"Udah Sayang, jangan godain Kakakmu terus," Bu Amira tersenyum geli.
#
"Hallo semua yang di sini, apa semua baik-baik saja," Tiba-tiba Edu sudah berada di ruang makan ketika semua mau mulai makan.
"Baik tentunya. Ayo duduk Sayang kita makan bareng!" Bu Amira tersenyum pada Edu dan menarik kursi memperilahkan Edu untuk duduk.
"Mama undang dia juga," Agatha melirik ibunya kesal.
"Ngak Sayang, tapi kalau udah di sini kenapa ngak sekalian ikut makan."
"Ngak perlu Ma, mungkin dia ada urusan sebentar sama Aga. Jadi biar kami urus dulu urusan kami. Dia ngak perlu duduk," Agatha menarik tangan Edu untuk menjauh.
"Saya di undang kok Pak Agatha yang terhormat, Amara yang ngudang saya tadi. Jadi karna saya di undang saya duduk ya tante," Edu langsung duduk.
"Iya, silahkan Sayang," ucap Bu Amira yang polos yang tidak tahu apa itu persaingan.
Agatha melirik tajam Adiknya yang pura-pura tidak tahu dengan santainya ia minum jus.
"Ayo kita makan! Kamu mau apa Sayang? biar Mama ambilin," Bu Amira sudah memegang sendok ingin memberikan Sahira sesuatu.
Ada sedikit rasa cemburu di hati Amara melihat perlakuan ibunya pada Sahira.
"Mama?" tanda tanya dalam otak Edu yang spontan ia sebutkan.
"Iya Mama. Dan kamu bakalan jadi Om tampan sebentar lagi," Agatha tersenyum puas. Ada gunanya juga Amara mengundangnya.
"Hahaha," Amara terbahak, Melihat wajah Edu yang masam.
"Udah, pada makan gih!" ucap Bu Amira.
"Kak Edu udah punya pacar?" pertanyaan Amara yang di lirik sinis oleh Agatha.
"Sebentar lagi punya, hehe." Edu masih PD.
"Ra, cincinmu kemana?" Agatha berbicara sambil melirik Edu yang sedang lahapnya, yang seketika berhenti.
"Ya ampun Pak, saya lupa. Tadi saya lepas waktu saya wudhu."
"Ceh, panggilannya tidak bersahabat sekali," gumam Agatha.
"Apa Pak?"
"Ngak. ambil gih sana! Nanti hilang di telan buaya darat lagi."
"Hahaha, wajarlah ya, Bapak memberikan cincin pada Anaknya." Edu bukan cemburu malah terkekeh sendiri.
"Kak Aga emang mau nikah lo Kak sama Kak Sahira," ucapan Amara yang membuat rahang Edu tercekat.
"Uhuk...uhuk," langsung batuk, sakitnya memang terlalu menusuk.
"Minum lo Kak, nanti suaranya ilang lagi," Amara sok polos, padahal ia tahu omongannya barusan seperti habis mencabik-cabik hati seseorang.
Agatha tersenyum, walaupun ia tidak tahu adiknya di pihak siapa. Tapi kali ini adiknya lebih banyak menguntungkan dirinya. Atau mungkin adiknya memang polos dan belum bisa membaca keadaan.
Bu Amira heran dengan kelakuan anak-anaknya.
"Alhamdulillah ketemu Pak."
"Mmm, bagus," Agatha mengangguk.
"Sayang, kenapa kamu pangil Aga dengan sebutan seperti itu, ini kan di luar kantor. Kamu tidak perlu canggung begitu lo," Bu Amira merasa terganggu dengan panggilan yang di lontarkan Sahira.
"Loh ngak enak kenapa. Aga kamu maunya Sahira panggil kamu apa?" Bu Amira tidak sadar ekspresi Edu yang semakin masam.
"Panggil Sayang!" Agatha melirik Sahira.
"Sayang? Itu tante, kami kan belum menikah. Nanti kalau udah nikah juga bakalan di panggil Sayang kok."
"Ngak papa, atau kalau ngak Sayang minimal sebutan lain lah. Panggil Bapakkan berasa gimana gitu di kuping tante."
"Hehe, iya tante."
"Eh, ada Edu juga," Pak Iman baru mau ikut makan, karna tadi terima telpon ketika hendak duduk di meja makan.
"Iya Om,"
"Rame ya, Papa ketinggalan ini," Pak Iman mulai ikut makan.
"Edu lain kali bawa pacar ya kesini!"
TET, ucapan Pak Iman barusan membuat Edu merasa Skak Mat.
"Iya Om, saya cari dulu."
"Loh setampan kamu belum punya pacar? kamu pasti bohong kan."
"Belum Om, belum ada yang cocok."
"Sama Amara mungkin bisa cocok."
"Uhuk..uhuk." giliran Agatha yang tersedak. Sahira langsung menyodorkan minuman.
Agatha menatap Edu tajam dan meletakkan gelas sembarang.
"Mungkin Amara yang merasa tidak cocok Om."
'Bilang saja menolak secara halus,' benak Amara.
"Amara gimana?" Pak Iman melirik Amara.
"Ogah Pa, Kak Edu itu kan Play boy. Papa ngak tahu?" Amara kesal sendiri.
'Ceh, gwe juga punya harga diri kale,' benak Amara.
"Oh, kalo gitu nak Edu ngak cocok sama anak Om. Om butuh menantu yang setia."
"Iya Om. Begitulah keadaannya," Edu mencoba sesopan mungkin.
#
Agatha dan Sahira mencium tangan Bu Amira dan Pak Iman, di ikuti oleh Edu yang juga melakukan hal yang sama.
"Hati-hati ya Sayang," Bu Amira mengusap kepala Sahira yang terlapisi kain coklat dengan lembut.
"Pak Adi jangan ngebut ya," ucap Bu Amira melihat pada Pak Adi yang sudah di dalam mobil.
"Amara pasti lebih senang kalau kalian menginap," Pak Iman menimpali.
"Kakak, sering-sering kesini ya. Atau kerumah Ara di Bandung," Amara memeluk Sahira erat.
"Insya Allah. Kalau ada kesempatan lagi," Sahira mencoba bersikap layaknya seorang Kakak, meskipun ia belum tahu caranya, namun ia pernah melihatnya dalam drama.
Edu mengulurkan tanngannya pada Amara, Amara langsung melipat kedua tangannya.
"Bukan muhkrim," ucap Amara ketus.
Edu menarik lagi tangannya, setelah makan malam Edu jadi lebih diam. Bicara hanya seperlunya saja dan tampil begitu sopan di depan kedua orang tua Agatha.
"Kami pulang dulu ya Ma, Pa, Adek yang ngeselin," Agatha sudah di dalam mobil bersama Sahira. Edu masih berdiri di luar, manatap dengan irisan sembilu yang terasa perih.
"Jangan mewek Kak, itu tandanya bukan jodoh," Amara menggoda Edu yang sudah memasang wajah Tak karuan.
"Kau mau menikah denganku?" Pertanyaan yang membuat Amara begitu terpesona.
"Coba saja kalau berani? Emang Kakak pikir aku boneka apa?" Amara mengacuhkan dan masuk rumah.
"Ceh, bocah saja menolak. Malang nasib ku ini," Edu masuk mobil dan menghilang di telan malam. Ia. tak tahu besok akan seperti apa, yang jelas malam ini terasa begitu kelam.