Let'S Get Married

Let'S Get Married
Bodoh



Dua minggu adalah masa yang singkat untuk persiapan pesta pernikahan besar-besaran. Untungnya Amara sering ke Jakarta untuk membantu ibunya dalam mempersiapkan pesta pernikahan itu.


“Sayang, besok kita ke rumah mama sekalian nginep di rumah Mama ya. Mama mau bahas konsep dekor sama konsep undangan. Lagian juga kita kan belum pernah nginep rumah Mama setelah menikah,” ajak Agatha.


“Iya, Ira juga kepikiran buat nginep di rumah Mama dan Papa Bang. Sebab kita belum pernah nginep di sana,” sahut Sahira dengan sesekali menyeruput segelas kopi.


Mereka tengah berdua menikmati angin malam di balkon apartemen dengan di temani dua cangkir kopi dan juga nastar yang di kirim oleh Sesil. Ya,.. Sesil sedang suka-sukanya mengirim barang ke apartemen Agatha dengan harapan Agatha mau memaafkannya. Tidak lupa ia selipkan kartu ucapan manis di atasnya.


Sesil belum tahu saja kalau mereka sekarang telah menikah dan sedang gencar-gencarnya bikin anggota keluarga baru. Terkadang Sahira suka ngeri membayangkan wajah Sesil kalau lagi ngamuk gimana pas tahu kalau ternyata mereka sudah menikah.


Sahira menerima kiriman nastar dan kadang juga ada makanan lainnya, ia terima dengan senang hati untuk dengan sengaja menikmati semua itu berdua. Kadang hanya Sahira yang membaca ucapan manis dari Sesil sambil terkekeh, Agatha bahkan tidak mau melihatnya. Dan bahkan makanan dari Sesil yang sering Sahira hidangkan juga tanpa sepengetahuan Agatha, sebab kalau Agatha tahu ia tidak akan suka memakannya. Ia akan meminta Sahira agar memberikannya pada orang lain.


“Abang, Abang belum cerita loh sama Ira soal kaki Abang yang tiba-tiba bisa jalan. Kadang Ira sempet mikir, apa Abang cuma bohongan selama ini ngak bisa jalan di depan Ira,” ucap Sahira menatap lampu berkelipan di tengah ibu kota.


“Sayang,” Agatha mengusap pipi Sahira pelan.


“Begiini, tahu definisi transfer energy itu benaran ada ngak sih?” Agatha menatap serius.


“Maksud Abang? Ira ngak paham deh Bang,” Sahira mengernyit bingung.


“Jadi, semenjak Papa kamu yang sekarang jadi Papanya kita ngak setuju sama hubungan kita karena Abang punya kaki yang cacat, dari situlah Abang punya power buat sembuh dan benar-benar menjadi laki-laki kamu yang utuh,” jelas Agatha sembari tersenyum lembut.


Sahira menatap serius pada suaminya di bawah gemintang malam.


“Dan tanpa kamu sadari, kamu yang berikan energy itu buat Abang. Abang kuat lagi dan bisa jalan. Memang itu butuh usaha yang keras selama beberapa bulan, dan itu di mulai sangat rutin saat kamu pergi ke Bandung.”


“Jadi Abang nyuruh Ira ke Bandung karena Abang mau fokus terapi gitu, atau gimana. Ira kurang faham sih kenapa tiba-tiba Ira jadi pindah tugas ke Bandung dan sikap Abang tiba-tiba berubah. Semua itu rencana Abang buat kasih kejutan ke Ira?”


Agatha menggeleng, sambil tersenyum.


“Terus kenapa Ira harus pindah ke Bandung segala? Ira kan pengen menemani masa perjuangannya Abang,” Sahira sedikit manyun.


“Inget waktu kamu kecelakaan di tabrak motor?” tanya Agatha.


“Mmm,” Sahira mengangguk.


“Waktu itu Papa bilang alasannya kenapa ngak bisa nerima Abang jadi mantu. Bukan niat Papa menghina Abang, hanya ia butuh seseorang yang akan menjaga putrinya dan menjamin keselamatannya ketika putrinya sudah menikah. Dan Abang mengerti, sosok itu tidak bisa di temukan Papa dalam diri Abang.”


“Papa bilang begitu sama Abang? Kapan? Waktu Ira belum sadar ya?” tanya Sahira cepat.


“Mmm, Papa bahkan meminta Abang buat jauhin Ira. Tapi dari sanalah Abang termotivasi buat sembuh dan bisa jalan normal. Karena pada waktu itu juga terapi Abang sudah ada kemajuan. Abang sudah bisa menggerakkan jari-jari kaki Abang. Dari sana Abang berusaha lebih keras lagi dan lebih keras lagi.”


“Yah,.. maaf ya Bang kalau Ira ngak peka. Abang harus menerima semua rasa sakit dan rasa kecewa sendiran karena Ira,” ucap Sahira merasa menyesal.


“Ngak apa-apa Sayang,” Agatha menyusur rambut panjang Sahira.


“Justru karena itu Abang bersyukur. Jalan yang Allah pilihkan memang tidak gampang, itu kita tahu itu terbaik. Kalau saja, kalau Papa dulu ngak ngomong begitu, mungkin sampai sekarang Abang masih jadi laki-laki lumpuh dan kita belum menikah,” Agatha senyum penuh ketulusan.


“Tapi tetap saja Ira menyesal karena ngak tahu. Seharusnya Ira peka dari awal,” sahira masih dengan raut sedihnya.


“Udah Sayang, yang penting kan sekarang kita udah bahagia. Yang jadi masa lalu biar saja berlalu,” Agatha masih terus menyusut rambut Sahira dengan lembut dan penuh kasih sayang.


Sahira akhirnya senyum dan mengangguk.


“Ini nastar kamu yang buat? atau si Bibi yang buat nih?” tanya Agatha mengambil satu potong kue nastar.


“Ngak sih. itu kan pemberian Sesil tadi sore, sayang kalau di buang Bang,” sahut Sahira santai.


Lama Agatha terdiam menatap nastar, kemudian secara bergantian menatap Sahira.


“Udah makan Bang, ngak baik menolak pemberian orang yang udah niat baik sama kita.”


“Tapi kamu ngak cemburu kan kalau Abang makan?” ucap Agatha sembari menatap dalam wajah Sahira.


“Ya enggak lah Bang. Kalau Ira cemburu, masak Ira suruh Abang makan.”


“Iya sih,” Agatha mengangguk. Dengan sekali gigit nastar kecil masuk keseluruhan dalam mulutnya setelah lama ia pegang sembari menelaah apakah ada rasa ketidak sukaan pada wajah Sahira.


“Tok,.. tok,.. tok,” Suara pintu kamar di ketok.


“Iya,” Sahira bangkit dan membuka pintu kamar.


“Itu Mbak, ada tamu,” si Bibik memberitahu.


“Siapa Bik?” Agatha mendekat dan bertanya.


“Katanya namanya Sisir, eh bukan, Sisil deh kayaknya,” ucap Si Bibi ngak yakin.


“Oh,.. barangkali maksud Bibi namanya Sesil?” sahut Sahira.


“Nah iya, itu dia Mbak,” ucap Bibi yang baru mengingat.


“Ngak usah di suruh masuk Bik,” Sahut Agatha cepat. Sahira mendongak menatap Agatha.


“Dari pada bikin kacang Yang,” tanpa di tanya Agatha menjelaskan.


“Tapi itu Mas,” Bibik garuk-garuk kepala.


“Kenapa Bi? Suruh pulang aja gih!” ucap Agatha tak perduli.


“Itu Mas, orangnya udah di ruang tamu. Bibi bingung gimana cara ngusirnya,” ucap si Bibi yang kebingungan.


“Udah, temuin aja sebentar Bang. Bilang aja kalau Abang mau istirahat dan minta dia pulang cepat,” ucap Sahira.


“Ribet amat sih. Ya udah, di mana kursi roda Abang,” Agatha masuk ke kamar dan mencari kursi rodanya.


“Loh buat apa Bang?” Sahira bingung.


“Udah ngak usah banyak nanya. Kamu diem aja di sini jangan kemana-mana ya. Jangan sampe Sesil tahu kalau kita sudah menikah sebelum hari besar kita terlaksana,” ucap Agatha dengan suara rendah, biar ngak kedengaran.


“Buat BIbi juga, jangan kasih tahu siapa-siapa,” Agatha berbalik dan memperingati si Bibi.


“Iya Mas,”Bibi mengangguk.


“Tapi kenapa Mas? Bukannya lebih baik dia tahu sekarang, biar dia tahu diri dan ngak ngejar-ngejar suami orang lagi,” ucap Sahira tak setuju.


“Ngak bisa gitu Ra, dia itu Sesil. Dia akan melakukan segala cara kalau keinginannya ngak terpenuhi. Termasuk mencelakai orang dan bahkan merusak rumah tangga orang.”


“Ya, sama aja Mas. Sekarang atau nanti juga dia bakal tahu,” sahut Sahira.


“Ya udah, kamu tunggu di sini ya,” Agatha memegang kedua bahu Sahira.


Sahira mengangguk.


Agatha keluar kamar dengan kursi rodanya dan si Bibi yang mengiringi dari belakang.


“Kak Aga, akhirnya Kakak keluar juga. Capek loh Kak nunggu di sini. Kakak kok lama banget ngak keluar-keluar,” ucap Sesil manja.


Sesil bangkit dan mendekati Agatha yang belum mengatakan apa-apa.


“Kak, Kakak kok sekarang susah banget ditemuin,” Sesil berlutut di samping kursi roda dan seperti biasa mau bergelayut di bahu Agatha, tapi Agatha dengan sigap menjauh.


“Sesil, kalau kamu ngak punya urusan penting saya minta kamu cepat pulang. Saya ingin istirahat,” ucap Agatha tanpa menoleh sedikitpun.


“Kakak kok gitu sih, aku masih kangen tahu,” ucap Sesil sok manja.


Tanpa sepengetahuan Sesil Agatha telah memberikan pesan pada Agung untuk segera ke apartemen. Agatha tahu, ia tidak bisa mengatasi Sesil sendirian. Hanya Agung senjatanya yang membuat Sesil ciut. Agung tahu bagaimana cara mengusir wanita licik itu secara halus, perlahan tapi pasti.


“Sesil, ini bukan waktu untuk kangen-kangenan. Aku mau istirahat,” Agatha memutar kursi rodanya hendak masuk ke dalam kamar.


“Kakak udah makan, Sesil masakin ya,” Sesil menghadang di sepan Agatha.


“Sesil, kamu ngak denger. Saya mau istirahat, bukan mau makan,” Agatha menegaskan.


“Kalau gitu Sesil temenin Kakak istirahat ya,” Sesil berpindah dari depan ke belakang Agatha dan hendak mendorong Agatha.


Agatha langsung mengunci kursi rodanya hingga Sesil tidak bisa mendorongnya.


Sepertinya Sesil tidak akan menyerah sampai di sini, hingga Agung tiba ia pasti akan kuwalahan.


Tentunya Agung akan lama untuk bisa tiba di sini.


“Kamu masak deh, nanti kalau udah selesai masak dan saya sudah selesai istirahat saya akan keluar,” ucap Agatha mencari alasan agar Sesil tidak ikut kemanapun ia bergerak.


“Ok deh, Kakak istirahat dengan baik ya di kamar. Nanti pas udah kelar masakannya aku bakal panggil Kakak,” ucap Sesil semangat.


Agatha tersenyum sarkatis. Lagian sejak kapan Sesil bisa masak. Dia belajar masak kilat, terus tiba-tiba langsung bisa masak. Biasanya kalau sudah begini Sesil akan memesan makanan dan memanaskannya, syukur-syukur Sesil keluar buat cari sendiri makanan yang akan pura-pura ia masak. Agatha sih berharapnya begitu.


“Aku antar ya Kak, ke kamar Kakak,” Sesil masih mau mendorong.


“Ngak usah, kamu langsung masak aja ya. Biar cepet mateng,” ucap Agatha dengan senyum palsu.


“Siap Boss,” ucap Sesil sigap sambil hormat.


Sesil berlarian menuju dapur, Agatha tersenyum bisa mengakali si perempuan yang penuh akal licik. Padahal dulu Agatha menyayanginya sebagai adik dengan sepenuh hati, tapi semenjak Sesil berubah watak menjadi gadis licik dan penuh egois, Agatha jadi ilfill dan tidak suka lagi bersama Sesil.


Sesampainya di dapur Sesil langsung membuka ponselnya, kira-kira menu apa yang akan ia pesan dan sekiranya bahannya ada di kulkas, kalau ngak ada pastinya akan ketahuan kalau bukan ia yang masak.


Sesil membuka kulkas dan mencocokkan pada menu yang akan ia pilih untuk di pesan.


“Oke, udang asam manis, sama ikan bakar pedas ini kayaknya lezat. Pas sekali,” ucap Sesil setelah mencocokkan barang yang ada di kulkas.


Setelah memesan makanan pada aplikasi, lalu ia mengeluarkan barang yang serupa yang ada di dalam kulkas. Ia taruh barang-barang itu di westafel sambil menyiramnya dengan air untuk menjaga-jaga barangkali ada yang mau ke dapur.


Lima belas menit Sesil menunggu, belum ada tanda-tanda akan ada chat di ponselnya. Ia meminta agar yang mengantar chat saja jika sudah ada di depan pintu apartemen. Sesil takut kalau ia membunyikan bel Agatha akan tahu kalau ia memesan makanan.


“Ting,..,” bel di pencet seseorang.


“Aisttt, tu orang udah di bilang jangan pencet bel juga,” ucap Sesil kesal.


Dengan cepat Sesil berlari menuju pintu dan berpapasan sama Bibik yang juga hendak membuka pintu.


“Biar saya aja Bik, itu teman saya. Katanya mampir sebentar mau ada urusan sama saya,” Sesil menghentikan Bibi yang sudah lebih dulu hendak membuka pintu.


“Owh gitu. Ya udah Bibik balik ke kamar kalau gitu Mbak,” ucap si Bibi. Semenjak ganti pengurus rumah, Si Bibi pengurus rumah menginap. Berbeda dari Bi Inah dulu yang akan pulang jika sudah malam.


“Iya Bik, istirahat aja Bik ya,” Sesil senyum penuh kepalsuan.


“Krek,” Sesil membuka pintu, tapi yang ada di hadapannya sekarang jauh dari ekspektasi.


“Kamu,” ucap Sesil gugup.


“Ya, kamu berharap siapa?” ucap Agung dengan wajah datar. Wajah datar Agung itu artinya wajah serem.


“Kok kamu,” Sesil menunjuk sembari memperhatikan bungkusan besar yang di jinjing oleh Agung.


“Saya yang mengantar pesanan kamu Nona, sekalian mau ketemuan sama Boss juga. Udah wa tadi, katanya Boss lagi istirahat di kamar,” sahut Agung santai.


Sesil melongo dengan mulut menganga tak percaya dengan kejadian yang ia alami. Bagaimana mungkin bodyguard sialan ini ada di mana-mana. Padahal ia datang ke sini sudah malam biar tidak perlu bertemu sang bodyguard.


Sesil masih saja melongo, dengan santai Agung masuk begitu saja tanpa permisi.


“Oh,.. temannya Mbak si Agung toh,” ucap si Bibi muncul sebentar, di sahut senyuman Agung lalu Bibi balik lagi ke kamar, hanya sekedar memastikan.


“Ini pesanannya, mau anda panaskan atau langsung dihidangkan buat Boss. Biar saya yang antar,” ucap Agung santai.


Sesil dengan jantung cedag-cedug, jelas sang bodyguard akan bilang kalau itu bukan makanan masakannya pada Agatha.


Sesil tak bisa menjawab apa-apa, hanya dengan gemetar mengambil plastik makanan.


“Ini nomernya saya, transfer dari OVO saja,” ucap Agung kemudian, ia tak mau rugi dengan nombok membayar makanan. Sesil yang pesan, jadi ia yang harus bayar.


Tadi saat di jalan Agatha sudah chat Agung kalau Sesil akan pesan makanan dan meminta Agung untuk tiba sebelum pengantar makanannya tiba, jadi Agung bisa membayar makanan itu duluan. Uangnya pun sudah di transfer oleh Agatha, jadi Agung untung doble sebenarnya.


Ketika Agung masuk lif, kebetulan yang mengantar makanan bareng dengannya. Agung merasa punya keberuntungan, jadi tidak perlu menunggu lagi. Agung dengan cepat membayar pesanan atas nama Sesil dan meminta sang pengantar untuk segara pergi saja. Awalnya pengantar itu merasa kurang percaya dan sedikit ragu-ragu untuk memberikannya. Tapi Agung bisa mengatasi itu dengan hanya satu kali tatapan saja, orang itu langsung menyerahkan makanan itu pada Agung.


Dengan tangan masih gemetar, Sesil membuka ponsel. Sekarang ia bisa apa, tak ada gunanya lagi mencari alasan, ia telah skak oleh Agung.


“Saya transfer aja yah, ngak ada OVO soalnya,” ucap Sesil dengan suara juga gemetar.


“Ini, transfer ke sini. Buruan!” desak Agung yang hampir membuat jantung Sesil rasanya mau copot.


“Udah Bang, Om,” ucap Sesil gelagapan.


“Saya belum tua,” ucap Agung mendekatkan wajah pada Sesil, ia sengaja mencari jarak dekat agar Sesil merasa dirinya tidak aman.


“Iya, maaf.” Entah mengapa, Sesil kalau dekat dengan Agung merasa amat takut dan rasanya jantungnya mau copot.