Let'S Get Married

Let'S Get Married
Night Party



Malam sudah larut, hanya menyisakan sunyi setelah ayah dan ibunya berpamitan pulang ba’da isya tadi. Entah mengapa memikirkan perkataan ayahnya membuat matanya jadi enggan terpejam. Amara yang tengah tertidur lelap sesekali menggeliat. Ya...setelah berpindah tugas ke Bandung ia memang diajak Amara untuk tinggal bersamanya, meski beberapa kali menolak namun Amara berisi keras hingga ia akhirnya mengalah. Tidak mudah tinggal bersama bekas calon adik ipar yang masih kita harap memang, namun harus tetap terkesan biasa agar tidak terlalu Nampak bermuram durja.


“Eh, Kakak kok belum tidur sih?” gerakannya yang berbalik ke kiri dan ke kanan membangunkan Amara yang terlelap.


“Hehe, kebangun ya. Maaf.”


“Kakak ngak bisa tidur?” Amara mengucek-ngucek matanya yang masih setengah terpejam.


“He’eh.” Ia mengangguk.


“Kenapa? Banyak pikiran?”


“Kakak mau dinikahin sama Papa.” Ia berterus terang demi melihat keterkejutan Amara di detik berikutnya.


“Mau nikah? wah… selamat ya Kak.” Ia mengernyit, mungkinkah Amara mengira kalau ia akan menikah dengan kakaknya.


Namun ia enggan mengubah senyum bahagia Amara menjadi sirna jika harus berkata ia akan dinikahkan dengan pria yang bahkan belum sempat ia kenal.


“Kapan?” ucap Amara bersemangat.


“Minggu depan.”


“Minggu depan ya Kak, baiklah berarti night party kita adain lusa ya Kak sebelum Kakak pulang ke Jakarta untuk persiapan nikah.”


“Oke.” Mungkin ini kali terakhir ia akan mengikuti party baik dari perusahaan atau dari manapun, karna ia tak bisa menerawang kehidupan di masa depan. Semua menjadi gelap, hitam, pekat, tak tau arah dan tujuan.


#


Seluruh Staf dari berbagai difisi telah berkumpul di rumah Amara. Tak ketinggalan juga para satpam dan OB kantor yang turut mereka undang. Party tidak boleh tebang pilih memang.


Night Party ini tidak di usung begitu mewah, yang terpenting ada makanan, cemilan dan minuman yang tersedia untuk teman mengobrol di iringi musik yang di maikan oleh siapapun yang punya kemauan. Ada satu buah piano dan gitar yang bisa di mainkan untuk bergantian menyumbangkan lagu.


Indonesia banget lah ya, yang penting ada banyak makanan buat para tamu yang datang.


Sementara yang lain sibuk mengobrol dengan menyesap jus dan mengunyah beberapa makanan Sahira menjadi orang paling sibuk mengurusi persedian makanan dan minuman tersebut hingga beberapa kali di panggil Amara untuk bergabung bersama mereka namun ia masih saja belum berhenti.


“Eh, Kak Edu udah nyampe rupanya?” kuping Sahira menagkap perkataan Amara yang kemudian di iringi dengan muncunya sosok kebulean Edu yang masuk dari pintu depan.


“Telat ngak nih?” Tanya Edu yang sejurus kemudian sudah berada di depan Amara.


“Ngak juga. Kak Sahira kemari dong!” pekik Amara.


“Oh.. kamu undang dia juga?” ucap Sahira terheran mengapa setiap ada apa-apa Amara selalu mengundang Edu untuk datang.


Mungkinkah Amara menyukai Edu atau ada maksud lainnya?


“Kenapa.. ngak boleh?” cetus Edu.


“ya.. bukan begitu, ngak nyangka aja, sebab ini acara kantor, hehe. Ngak perlu tersinggunglah.” Sahira jadi tidak enak sendiri karna sepertinya Edu terganggu dengan pertanyaannya.


“Sayakan bagian dari pada orang kantor. Kamu lupa siapa pemilik saham di urutan kedua?”


“haha, ya, ya, ya. Terserah kalian saja lah. Saya ke belakang dulu ya ambil minuman buat tamu yang baru datang.”


“Kak Sahira kan bisa suruh pelayannya, Kakak di sini aja bareng kita berdua.”


“Takut gangggu, hehe.”


Sahira pergi tanpa menghiraukan gerutu Amara, Ia yakin Amara punya niat tersendiri mengapa ia mengundang Edu untuk datang ke Party itu.


“Apa kabar Nona?” Sahira harus menumpahkan sedikit minuman yang ia pegang karna kaget, tiba-tiba saja Edu sudah ada di sampingnya. Sejak kapan? Entahlah.


“Jadi udah kamu nih, ngak pake’ Bapak lagi.” Seloroh Edu sambil tersenyum manis.


“Kita sudah bukan partner kerja lagi.”


“Why? Kita masih dalam perusahaan yang sama Nona.”


“Tapi kita tetap bukan partner kerja.”


“Oke baiklah, bukan partner kerja. Kalau jadi partner kehidupan boleh?” Sahira mengernyit melihat Edu yang sudah menarik nampan yang sedang ia pegang.


“Wanita mana saja yang sudah kamu ajak jadi partner, lalu kemudian kamu tinggal.” Sahira mencibir.


“Huhaha.” Edu tergelak, menaruh nampan minuman di atas meja makan dan mengambil satu cangkir untuk ia minum.


“Kenapa tertawa?”


“Saya dengar Nona sudah putus sama si Boss nya.” Edu bertanya dengan santainya sembari menyesap habis minuman kemerahan yang ia pegang.


“Bukan urusan anda.” Sahira mengambil lagi nampan berisi beberapa gelas minuman untuk segera menuju kedepan.


“Amara.” Ia kaget saat tiba-tiba hampir menabrak sosok Amara di depannya, sejak kapan ia disana? Apa semenjak Edu datang ia pun sudah datang.


“Kak, minumannya udah ada?” sepersekian detik kemudian wajah Amara yang terlihat murung berubah menjadi wajah cerah seperti biasanya.


“Ini, baru mau dibawa kesana. Harusnya kamu tunggu aja disana.” Sahira masih bisa menagkap beberapa detik Amara menatap Edu kemudian mengambil alih nampan minuman yang tadi ia pegang.


“Biar Amara saja yang bawa ke depan Kak.” Ucap Amara yang langsung saja pergi.


Sahira berbalik melirik Edu berniat menyanyakan apakah sudah terjadi sesuatu. Namun ia urungkan karna melihat wajah santai Edu yang sedang minum dan memilih beberapa kue di atas meja.


Akhirnya mereka berdua kembali ke depan untuk bergabung bersama merasakan euphoria malam itu, demi mengobrol ringan untuk menghilangkan penat karna rutinitas kerja, kerja dan kerja yang membosankan.


#


Jum’at pagi Sahira sedang berkemas untuk segera pulang ke Jakarta menuruti segala kemuan ayahnya yang katanya begitu baik untuknya.


“Kakak udah mau balik ke Jakarta hari ini?” amara baru membuka mata setelah beberapa kali menggeliat-geliat di atas tempat tidur.


“Mmm, do’ain Kakak ya supaya bisa bahagia.” Sahira tersenyum, ada air mata yang sedang ia bendung.


“Kakak pasti bahagia kok.” Wajah tenang Amara tak menampakkan secuil kegelisahan.


“Amara bisa datangkan pas hari H?”


“Insya Allah Kak, sebisa mungkin di usahakan buat datang.”


“Oh ya udah, Kakak mau langsung berangkat ya.”


“Sekarang?” Amara tidak terpikir akan sekarang-sekarang amat.


“Iya, tadi Kakak udah pesan taxi online. Kayaknya bentar lagi nyampe, jadi mau nungggu di depan.”


“Oh.. gitu, ya udah Amara temenin ke depan ya Kak.”


“Mmm.” Sahira mengangguk.


Sejujurnya ia tidak bisa konsen dengan segala yang di bicarakan,terlebih tadi ketika memasukkan barang ke dalam koper ia harus mengulang-ulang seperti orang linglung. Bahkan menyusun barang di koper yang terasa mudah dan ringan ia jadi tidak mampu, sebab hatinya sedang di selimuti kabut hitam tebal yang rasanya tak mungkin bisa di tembus meski pakai teropong tercanggih di dunia sekalipun.