Let'S Get Married

Let'S Get Married
Peresmian



Pagi sekali karyawan Resto XX sudah sibuk mempersiapkan segala persiapan untuk pembukaan hari ini. Pagi-pagi sekali meraka sudah sampai di Resto.


Promo besar-besaran dan discon yang terasa menggiurkan telah mereka lakukan. Target hari ini Resto ramai oleh pengunjung Mall.


Agatha sudah lebih dulu datang sebelum Sahira. Edu masih terlihat sibuk mengatur para karyawannya ketika Agatha tiba.


Agatha tiba duluan mengantisipasi agar Sahira tidak lebih dulu bertemu dengan Edu si pembual. Agatha membayangkan betapa bangganya Edu bisa merayu Sahira sebelum ia tiba, namun nyatanya meskipun ada Agatha sekalipun Edu tetaplah seorang Edu yang tidak terhalang oleh siapapun.


"Hey Bro," Edu menepuk pundak Aga yang sedang celingukan di depan pintu masuk Resto. Pita biru sudah teebentang di sana, pita yang akan di potong Agatha kelak.


"Gimana udah siap semua?"


"Sedikit lagi selesai."


"Bisa cepat kan? Sebentar lagi pengunjung akan ramai."


"Tenang Bro,Gwe udah perkirakan semuanya. Oh ya... Sekretaris manis kamu itu kemana?"


Agatha melotot.


"Weiiisst, saya cuma nanya Bro, santai, atau Lu udah jatuh cinta duluan sama dia, hahaha."


Agatha hanya diam tidak menanggapi hal yang menurutnya tidak penting.


"Nah itu si Sekretaris manis," ucap Edu melihat ke arah eskalator.


"Dasar mata hantu," ucap Agatha yang tidak melihat Sahira.


"Hahaha," Edu terbahak.


Perlahan sahira mulai mendekat.


"Pagi Pak," ucap Sahira tersenyum tak menyangka jika Agatha sudah terlebih dulu tiba.


"Pagi juga Nona manis," jawab Edu cengengesan padahal Sahira tidak menyapanya.


"Ceh," Agatha memandang Edu sinis.


Tak lama pengunjung mulai ramai dan acara pembukaan di malai dari pidato Eduard mengundang para pengunjung dengan promosi-promosi yang ia tawarkan.


Setelah pemotongan pita yang di lakukan oleh Agatha dan Edu, Resto resmi di buka. Gebrakan discon harga makanan gede-gedean membuat pengunjung ke Mall membludak dan karyawan terasa kurang karna kuwalahan melayani pengunjung di sana.


Sahira kemudian sampai harus turun tangan melayani para pengunjung, Edupun mengikuti langkah Sahira untuk melayani para pengunjung.


"Sahira," teriak Agatha memanggil.


"Ya Pak," Sahira mendekat.


"Saya mau makan,"


"Bapak mau makan apa, saya bilangin ke sana ya Pak," menunjuk meja tempat memesan.


"Kamu ngak lupakan yang saya bilang kemaren?"


Sahira nampak berpikir sejenak.


"Maksudnya?"


"Kemaren saya suruh kamu bawa Ramen kan. Jangan bilang kamu lupa."


"Oh ya Pak. Saya panaskan dulu ya."


"Mmm," Agatha tersenyum riang, ternyata Sahira tidak lupa dengan tugasnya.


"Masih ingat saja dia, saya pikir sudah lupa. Ini kan hari pembukaan Resto, tinggal pesan saja apa yamg dia mau, kenapa harus suruh saya repot-repot sih?" gumam Sahira menuju tas bekal yang ia taruh di dapur tadi.


Sahira memanaskan kuah ramen di tengah kesibukan para chef di dapur.


Kali ini ia membawa lebih banyak. Sahira membuat dua porsi agar chef di sana bisa mencicipi masakannya dan memberikan komentarnya.


"Chef siapa namanya?" tanya Sahira dengan senyuman membuat chef kepedean merasa dikejar-kejar.


"Adrian, dan anda?"


"Saya Sahira Sekretarisnya Pak Agatha. Bisa saya minta tolong."


"Ya, apa itu?"


"Tolong cicipi ini dan berikan komentar apa yang kurang!" Sahira memberikan semangkuk Ramen.


Tingkahnya di pandang sinis oleh karyawan disana, bagaimana tidak di tengah kesibukan dan pesanan yang begitu banyak dia menjadi seperti hama pengganggu. Terlebih Chef Adrian mulai jadi favorite di sana.


"Baiklah," Adrian mulai menghirup kuah dan memakan ramen.


"Lumayan enak."


"Lumayan enak? Jadi untuk kelas Chef ini lumayan enak. Kurangnya di mana?"


"Kurangnya karna sudah di panaskan. Saya rasa ini benar-benar enak jika dibuat langsung di makan."


"Jadi Chef bilang masakan saya enak, begitukah?"


"Ya enak, untuk orang yang tidak bersekolah memasak ini sungguh enak."


"Ceh, Chef bisa saja. Tapi kenapa dia bilang tidak enak?"


"Pak Agatha bilang Ramen buatan saya ngak enak. Tapi minta di bikinin lagi."


"Hahaha," Adrian ternyata bisa tertawa juga tidak nampak dingin.


Teng...


'Ternyata dia tidak sedang cari perhatian, tapi sungguh menyuruhku mencicipi masakannya karna Pak Agatha,' benak Adrian.


"Ya sudah, makasih ya. Saya kesana dulu keburu dingin lagi."


"Siip," Adrian mengacungkan jempol.


#


"Ini Pak," Sahira menaruh di atas meja. Di dalam Resto ada satu ruangan yang biasa di gunakan Edu untuk bekerja si sana Agatha menunggu dan Edu sedang sibuk di luar melayani pengunjung.


"Mmm," Agatha masih melihat ponselnya.


"Bapak mau minuman apa, nanti saya buatkan."


"Jus jeruk, sama ambilakan saya air putih ya!" kebiasaan Agatha selalu minum air putih setelah makan barulah setelahnya jika ingin minum jus dan lain sebagainya.


"Baiklah Pak."


"Kamu pesan makanan ya, temani saya makan,"


"Baik Pak,"


"Cepat, saya tunggu kamu."


"Ya Pak."


'Kenapa ngak bilang dari tadi, saya kan bisa bawa ramen dua porsi.'


Sahira keluar dan dengan cepat membuat semangkuk Ramen lagi.


Sahira masuk ruangan, melihat Agatha masih sibuk dengan ponselnya ia mencoba menukar mangkuk Agatha dengan mangkuknya agar punya Agatha tetap panas.


"Kenapa di tukar," Agatha ternyata meliriknya.


Tek...


Sahira terpaku, karna prilakunya ketahuan.


"Punya Bapak kuahnya sudah dingin, saya tukar biar lebih panas, hehe," ucap Sahira dengan senyum kecutnya.


"Sebegitu ingin memakan bekas saya ya. Itu belum saya makan loh."


"Ngak Pak, ngak bukan itu."


"Terus apa?" Agatha menarik mangkuk yang sudah di tukar Sahira dan langsung melahapnya.


Sahira menunduk kehabisan kata-kata.


"Sudah, makan sana. Kita haru kemabali ke kantor."


"Ya Pak."


'Terserah andalah mau berpikir apa.'


"Apa kamu ngak bisa bikin Ramen yang enak, Kamu mau bikin saya menderita terus memakan Ramenmu ini," terus memasukan makanan ke mulut.


"Tapi kata Chef Adrian Ramen saya enak kok,"


"Oh... jadi kamu kasih Adrian terlebih dulu sebelu saya. Apa kamu kasih saya sisanya Adrian?" Agatha berhenti makan.


"Ngak Pak, saya cuma minta cicipin dari Chef Adrian buat meyakinkan aja."


"Ceh, harusnya kamu cuma buat untuk saya. Sini punya kamu. Kamu pesan yang lain saja!" menarik mangkuk Sahira.


'Bilang saja anda doyan, dasar pembohong,"


"Tunggu apalagi, kamu pesan makanan sana!"


"Iya Pak."


"Saya tunggu kamu buat temenin saya makan," Agatha meminum air putih dan mengambil ponselnya. Kembali sibuk dengan ponselnya.


Sahira hendak keluar berpapasan dengan Edu yang masuk ruangan dengan pintu yang sengaja di buka oleh Sahira.


"Wah, Ramen Bro. Enak kayaknya tuh."


"Eiiitss... jangan coba-coba," Agatha memutup mangkuk dengan kedua tangannya.


"Pelit lu Bro, lagian itu ada dua porsi."


"Ini punya Sahira. Sahira kemari!" menjentikkan tangan pada Sahira yang terpaku.


"Jadi ini punya Nona manis," Edu langsung menyambar mangkuk dan memakannya hingga habis. Sahira hanya bisa melongo dan Agatha menatap sinis pada Edu.


"Hehehe," Edu hanya cengengesan setelah makan. Meminum jus milik Sahira yang ada di meja.