
"Mas Aga keluar kamar Mas, nanti aja kita ngobrolnya. Nanti Mas di marahin?"
"Si tengil itu kenapa harus keluar kamar sih?"
"Bi..." Agatha memanggil Bi Inah. Dengan cepat Bi Inah mendekati.
"Bi, Bibik ke sini tadi bareng Pak Adi atau sendiran."
"Sama Bapak sih Mas, tapi cuma ngaterin aja. Katanya ada urusan sebentar."
"Oh gitu," Agatha membuka ponselnya untuk menelpon Pak Adi.
"Mas pagi banget udah rapi. Emang mau berangkat ke kantor sepagi ini?"
"Hallo Pak Adi di mana, saya udah mau berangkat ini," Agatha berbicara di telpon tak menjawab pertanyaan Bi Inah.
"Saya tunggu ya," Agatha menutup telpkonnya.
"Mas, emang mau berangkat sepagi ini?" Bi Inah mengulang pertanyaan.
"Mmm. Saya mau ke pabrik, tapi mau mampir dulu ke satu tempat." jawab Agatha sambil mengetik di ponselnya.
"Sahira saya jemput kamu nanti. Tunggu saja," Agatha mengirim pesan.
"Bau apa ini Bik?" tanya Agatha mencium bau gosong.
"Astaghfirullah Mas, Bibik lupa," Bi Inah berlari kocar kacir ke dapur mematikan api kompor.
"Mas Edu kenapa ngak bilang kalau masakan Bi Inah Gosong."
"Oh, gosong ya Bik?" pura-pura tidak tahu.
"Perasaan tadi udah saya matikan apinya?" ucap Bi Inah mencoba mengingat-ingat.
"Apa yang gosong Bik?" Agatha menyusul ke dapur.
"Ini Mas, nasi goreng yang saya buat tadi. Waduh Mas Aga apa ngak tunggu sebentar lagi, saya masakin ulang ya," Bi Inah panik, seharusnya Agatha sudah bisa makan nasi gorenh kesukaaannya.
"Ngak perlu Bik, nanti saya makan di luar aja," Agatha tersenyum lalu kembali ke kamar.
Edu manyun, ia pikir Agatha akan marah-marah karna nasi gorengnya gosong. Sia-sia ia menghidupkan kembali api kompornya, Agatha tidak memberikan ekspresi apapun dan juga tidak menghiraukan dirinya yang di pojokan dapur.
"Tapi di pikir-pikir bagus juga dia cepat pergi, gwa jadi leluasa ngobrol sama Bi Inah."
"Bi, aku berangkat ya." Bi Inah berlarian ke ruang depan. Sugguh Bi Inah paling sibuk sendiri berlarian ke sana kemari pagi ini.
"Hati-hati Mas."
"Mmm, awasi dia Bik. Gepok pakek sapu kalau dia nakal."
"Hahaha, iya Mas."
"Ceh..." Edu manyun di pintu dapur.
Agatha keluar pintu apartemen. Edu segera mendekati Bi Inah.
"Bik," Edu mencolek bahu Bi Inah.
"Bik, Eh Bik, si Bibik." latahnya keluar.
"Huhaha," Edu terbahak, ternyata ada godaan baru yang bisa jadi referensi tertawa kelak.
"Apaan sih Mas, ngagetin aja."
"Bik, katanya mau lanjut ngobrol. Kesana yuk!" Edu menunjuk meja makan.
Bi Inah menurut saja dengan Edu.
"Mmm,... sekarang kita mulai dari mana ya?" berpikir setetah duduk di kursi meja makan.
"Terserah Mas saja."
"Saya mau tanya yang pertama nih Bik, sejak kapan Agatha ngak bisa jalan lagi?"
"Sejak SMA Mas,"
"Tapi saya liat photo pas SMA baik-baik aja."
"Pas mau lulus Mas. Kelas tiga SMA Mas Aga sakit, Bibik kurang paham sakitnya apa. Ngak ngerti Bibik mah, tapi parah gitu."
"Misal sakitnya seperti apa Bik, sakit kaki begitu?"
"Kayaknya bukan kaki Mas, tapi di punggungnya. Mas Aga sampe teriak-teriak gitu kesakitannya. Pas di bawa ke dokter satu keluarga jadi sedih Mas. Bibik jadi bingung dan khawatir."
"Terus gimana bisa lumpuh?"
"Awalnya walaupun sakit Mas Aga tetap bisa jalan denga baik. Tapi kata dokter harus di operasi dan akhirnya Mas Aga operasi."
"Lalu?"
"Lalu setelah operasi Mas Aga malah ngak bisa jalan. Bibik rasanya mau pukul tuh Dokter karna sebelum operasi Mas Aga baik-baik saja."
"Apa ada kesalahan medis sampe akhirnya bisa lumpuh?"
"Saya ngak paham Mas. Kata Dokternya lumpuhnya hanya sebentar mungkin efek Obatnya. Tapi nyatanya sampe sekarang Mas Aga masih belum bisa jalan."
"Terus photo cewek yang di kotak itu siapa Bik, Pacarnya?"
"Bibik ngak tahu Mas, Mas Aga ngak pernah cerita soal itu. Dan Bibik juga ngak pernah lihat Mas Aga pacaran atau bawa cewek kerumah."
"Oh gitu."
"Mas, kok ngajak ngobrol. Kerjaan Mas kan masih bayak."
"Bik Laper."
"Waduh Mas, nasi gorengnya kan gosong ngak mungkin di makan,"
"Sial," gumam Edu merasa kena getahnya sendiri.
"Makan roti aja Mas. Ada roti kok."
"Ya udah de, ngak punya pilihan juga. Dari pada keroncongan."
"Hehe, bantuin beresin apartemen Bik ya, ya, ya. Please."
"Tapi kata Pa Aga..."
"Aga ngak bakal tahu kalau Bibik ngak bilang," potong Edu cepat.
"Gitu ya, ya udah Bibik bantuin deh."
#
"Tet,...tet.." suara klakson dari luar membuat Sahira berlarian dari teras rumah tempat ia menunggu dari tadi.
"Ma, Ira berangkat ya."
"Iya sayang, hati-hati ya," sautan Ibunyabdari dalam rumah.
Sahira masuk mobil.
"Pak, cari tempat makan dulu ya! Saya belum sarapan tadi."
"Bapak belum sarapan? Duh kalo tahu saya bawakan bekal tadi Pak."
"Saya ngak mau masakan Ibumu. Besok bawakan saya ramen lagi."
'Duh nyesel dah nawarin, akhirnya balik ke ramen lagi. Repot kali.'
"Kenapa ngak jawab, ngak mau?"
"Iya Pak, besok saya bawakan."
"Pak mampir ke cafe deket sini aja ya, saya mau sarapan dulu." ucap Agatha pada Pak Adi.
Mobil berhenti di sebuah cafe di pinggir jalan.
Agatha memesan secangkir kopi dan roti. Sahira hanya memesan jus untuk menemani Agatha sarapan pagi sebab ia sudah sarapan di rumah.
"Rere?" ucap Sahira melihat seorang wanita yang sedang mengepel lantai.
Rere menoleh dan heran mengapa wanita di hadapannya bisa mengenalnya padahal ia merasa tidak mengenal wanita itu. Agatha berhenti makan melihat seseorang yang di panggil Sahira. Sebab Agatha juga mengenal Ria dan dia tahu bahwa itu memang Ria sahabat Sahira di masa SMA.
"Maaf anda mengenal saya?"
"Aku Sahira Re, masak lupa?"
"Sahira? Kamu beneran Sahira?"
"Iya dong, masak jelmaan."
"Wah kamu tambah cantik ya."
"Bisa aja. Kamu kerja di sini ternyata. Udah lama ya kerja di sini?"
"Mmm, lumayan. Dia siapa Ra?"
"Dia Pak Agatha Bos saya,"
"Agatha? perasaan kok kenal ya."
Sahira tersenyum, dan Agatha pura-pura tidak perduli, ia terus saja makan.
"Oh Kak Iman," Teriak Rere kencang membuat seisi cafe menolehnya. Segera ia menutup mulutnya dan melihat sekitar.
"Hehe maaf, kekencengan ngomongnya saking semangatnya."
"Kamu mau kerja di tempat saya ngak?" tawaran Agatha tanpa basa-basi.
"Kerja di mana Kak? Jadi Apa? Gajinya berapa?" Rere melirik Sahira mengedipkan mata. Kebetulan yang membawa keberuntungan baginya.
"Pabrik saya masih kekurangan orang. Ya kalau kamu mau kamu bisa kerja di sana?"
"Kakak sekarang punya pabrik sendiri?" Bersuara keras kembali saking kagetnya.
"Mmm." Agatha mengangguk.
"Tapi Sahira pernah bilang ke saya kalau kantor Bapak ada lowongan buat jadi marketing."
"Oh.. kalian pernah ketemuan?"
"Ngak Pak, cuma DM aja, he."
"Kalau mau ke kantor silahkan masukkan lamaran kamu ke HRD."
"Baik Pak," jawaban penuh semangat karna sering di tolak melamar kerja.
Rere memeluk Sahira kegirangan.
"Ngomong-ngomong kemana pacarmu yang lengket itu?"
"Huaaaa," Rere malah merengek.