Let'S Get Married

Let'S Get Married
Nonton



Meskipun tidak bisa berjalan tapi kegantengan Agatha tidak bisa tertutupi karena kelumpuhan nya.


Berjalan di sekitar Mall membuat mereka menjadi pusat perhatian. Kebanyakan pengunjung bioskop memperhatikan mereka berdua sebagai pasangan yang sempurna. Agatha yang ganteng dan Sahira yang cantik dan manis.


Dari semua genre film yang bisa ditonton hari ini mereka akhirnya memilih film yang bergenre komedi romantis.


Bisnis Agatha juga merambah dunia perfilman , meskipun Iya sendiri pun tidak mengerti tentang dunia perfilm-an.


Tapi ia belajar banyak hal tentang perfilman hingga film yang mereka produksi bisa tenar dan punya rating tinggi di kalangan masyarakat.


"Abang beli popcorn dan minuman dong," ucap Sahira manja.


"Emang harus ya pakai minuman sama popcorn." Agatha bukan tidak pernah ke bioskop, hanya tidak menonton di bioskop. Sesekali mereka ke bioskop untuk melihat perkembangan film yang mereka produksi.


"Harus dong Abang, Abang enggak ngerti sih gimana nonton bioskop. Saya sering lihat loh Bang di drama-drama kalau nonton bioskop itu harus pakai popcorn dan juga minuman pepsi gitu."


"Kenapa balik ke drama-drama lagi?" ucap Agatha manyun.


"Ayolah Bang beli gih," Sahira memohon.


"Kenapa harus saya yang beli, Kenapa nggak kamu aja?"


"Abang nggak ngerti apa itu romantis?"


"Emang beli popcorn bisa romantis?"


"Ampun.... beli dah sono!" Sahira mendorong kursi roda Agatha ke depan meja kasir.


"Ira duduk di sana ya Bang, Ira tunggu di sana." menunjuk sebuah kursi tunggu.


"Kenapa enggak tunggu di sini aja?"


"Abang pernah nonton bioskop gak sih? Kok kayak nggak ngerti gitu nonton di bioskop," Sahira kesal, Agatha tidak tahu sama sekali tentang cara menonton bioskop ala pasangan romantis.


"Pernah waktu SD," jawaban yang santai.


"Huhuhu hahaha," Sahira terbahak, ternyata Iya tak kalah kuper dari Bosnya yang katanya update sekali.


Kasir tempat membeli popcorn juga saling berbisik dan tertawa.


"Kenapa kamu tertawa begitu?" Agatha memandang sinis pada dua wanita yang tak kalah cantik oleh para artis.


"Tidak Mas, Abis Masnya lucu sih,"


"Ngegemesin juga sih, boleh cubit Mas," ucap kasir yang satunya genit.


"Heh... jangan coba-coba ya, ini calon istri saya bisa marah kalau kamu cubit-cubit. Dikira saya teddy bear apa?" Agatha menunjuk Sahira yang masih cekikikan tidak perduli sekitar.


Tapi karna Sahira masih tersenyum-senyum tidak sama sekali menunjukkan ekspresi cemburu dua kasir itu masih berbisik-bisik dan tertawa.


Agatha pergi, ngambek layaknya anak SD sungguhan.


"Eh, Abang mau kemana? Popcornnya belum beli," Sahira mengejar.


"Bodo amat, beli sendiri sono," Agatha menuju pintu teater yang sudah terbuka.


Sahira balik lagi dan membeli Popcorn dan minuman.


"Mbak beneran itu calon suami Mbak?"


"Mmm, Ganteng kan? Kalian suka ya? Ayo pada ngaku?"


"Suka sih, tapi...." tak berani melanjutkan kata-kata.


"Suka-suka aja. Ngak usah pakai tapi," ucap Sahira ketus. Ia mengambil popcorn dan minuman yang ia beli di atas meja kasir.


Dengan cepat Sahira berlari, sepertinya ada keributan antara Agatha dan penjaga pintu teater.


"Ada apa Pak?"


"Ini Mbak, tiketnya kan di pintu empat. Masnya maksa masuk di sini."


Sahira menepuk jidad.


"Bang, walaupun nontonnya waktu SD, ngak begini juga bikin masalahnya." ucap Sahira pelan di samping kuping Agatha.


"Ngak perduli saya. Yang mana duluan mulai kita nonton di situ aja. Masak kita di suruh nunggu setengah jam lagi baru pintu empat di buka."


"Emang begitu peraturannya Bang."


"Eh, denger ya kalian berdua," menunjuk kedua penjaga pintu.


Dua penjaga pintu hanya bisa melongo saat Agatha meluncur masuk setelah perkataannya.


"Hehe, maaf yah. Saya permisi masuk dulu sebentar." Sahira berlari-lari kecil menyusul Agatha.


"Ceh, sialan. Mereka tidak menyediakan kursi untuk orang cacat apa?"


"Abang... kita keluar sebentar ya Saya mau bicara," Sahira berkata sambil melirik penonton di belakang yang terhalang masuk oleh mereka berdua.


"Kenapa tadi saya pilih nonton, merepotkan." Tidak merespon perkataan Sahira.


"Ra, kita nonton di sini saja. Mereka tidak menyediakan tempat untuk orang seperti saya."


"Abang tampan, kita keluar ya. Noh lihat di belakang banyak yang ngantri mau duduk."


"Mereka kan bisa lewat jalan lain."


"Jalannya cuma satu Bang. Dan kita blokir."


"Mbak cepetan dong. Keburu mulai filmnya," yang lain mulai ribut.


"Permisi dulu ya Mbak-mbak, Mas-mas. Kita berdua mau keluar dulu. Maaf ya." tangan Sahira menyapih.


Akhirnya mereka bisa keluar dari kerumunan yang membuat Sahira merasa sesak sendiri.


"Apa saya kata Mas, ngak mau nurut sih. Kalo nurut kan bisa di bantuin." ucap salah satu penjaga.


"Ceh.." Agatha hanya melirik sinis, ia melajukan kursi roda keluar pintu.


"Abang tungguin! Abang... Ira kan capek kejar-kejaran mulu."


Agatha langsung berhenti, memutar balik melihat Sahira sudah jongkok di karpet merah.


"Mau naik?" melirik pangkuannya.


Sahira hanya menggeleng.


"Abang kita duduk di situ aja dulu, Ira capek."


"Oke, baiklah."


"Apa ini yang di namakan kencan? ngak ada mirip-miripnya sama yang di drama. Capek iya banget," gumam Sahira senderan di tembok.


"Emang seperti apa yang di drama itu?" Sahira tak menyangkan perkataannya di dengar jelas oleh Agatha.


"Ya... pokoknya ngak ada adegan kayak tadi. Kan malu-maluin Bang."


"Jadi kamu malu jalan sama saya?"


"Ngak, ngak. Bukan begitu. Ah, Abang sesitif amat."


"Ting, pintu teater emat telah di buka," suara yang entah datang dari mana.


"Bang, udah di buka. Ayok masuk!"


"Ogah ah, udah ngak mood mau nonton."


"Ayolah Bang... Ira mau nonton."


Akhirnya Agatha menurut saja. Mereka masuk dan dengan sedikit bantuan dari penjaga di sana Agatha duduk di kursi paling pinggir dari jalan.


"Bang udah mau mulai," lampu sudah padam, jari Sahira mulai mengerayapi popcorn dan memasukkannya ke mulut. Agatha memuruti tingkah Sahira mulai makan dan minum.


Adekan kata-kata romantis sebagai trealer pembuka sukses membuat Agatha merasa mual.


"Ihh... so sweet...." Sahira terpesona.


"Apanya yang so sweet. Kata-kata seperti itu semua orang bisa mengucapkannya."


"Benarkah? kalau begitu Abang ngomong kayak yang itu tadi. Harus sama persis." Sahira menunggu Agatha yang menatapnya dengan serius.


"Ya.. kecuali saya," memasukkan popcorn ke dalm mulut dan meminum pepsi, membuang wajah seolah-olah tidak terjadi apa-apa.


"Aiiissttt,". Sahira menatap kesal.


"Kecuali saya," Sahira mengulang kembali dengan memainkan bibirnya miring-miring.


"Bilang saja anda orang yang tidak paham soal romantis. Susah banget ngaku." kelewat kesal.


"Saya tahu, tadi itu bukan romantis tapi lebai."