Let'S Get Married

Let'S Get Married
Sejajar



"Ceh, kau pikir dari mana kau berasal Sesil? Sudahlah, bukankah kita dulu berasal dari kalangan yang sama," saut Agatha.


"Sesil, ayo kita pergi," Rudi menimpali sambil menarik tangan Sesil. Ternyata Rudi belum juga kapok.


"Lepas! Kak Aga please. Aku hanya ingin sedikit saja Kakak pandang sebagai seorang gadis." Sesil melepas pergelangan tanganya yang dicekal oleh Rudi.


"Sesil hentikan! Ayo kita pergi sekarang," Rudi menarik paksa Sesil.


"Kak Aga, Kakak. Bantu Sesil Kak. Sumpah Sesil hanya ingin bersama Kakak."


"Ceh, kalian berdua sama saja."


Begitukah yang di sebut cinta?


Apa harus mencintai dengan yang seperti itu?


Sahira menatap kepergian Sesil, ia tidak menyangka kalau percintaan memang terkadang serumit itu, sulit untuk di pahami.


#


"Bang kok diem?" Agatha dan Sahira berjalan di taman.


"Ra, jika kita menikah. Apa kau tidak akan menyesal?"


"Kenapa harus menyesal?"


"Kamu tahu kan, yang di katakan Rudi memang benar."


"Abang, kalau Abang anggap yang di katakan Rudi benar berarti Ira harus anggap yang di katakan Sesil juga benar."


"Kenapa begitu?"


"Ra, kamu berhak bahagia dan mendapatkan yang lebih baik."


"Bagi Ira, Abang udah yang terbaik," Sahira mulai duduk di kursi taman yang di depannya ada jalan.


"Sahira, saat ini memang kamu bilang begitu. Tapi kehidupan setelah menikah akan berbeda."


"Terus Ira harus membiarkan mencintai dan menunggu Abang selama belasan tahun menjadi sia-sia." Sahira menatap lurus.


Agatha hanya diam.


"Bang ada ice cream. Abang mau biar Ira yang beli." Sahira menunjuk Penjual ice cream di seberang jalan.


"Kamu mau ice cream, biar Agung saja yang beli." Bodyguard kurang kerjaan ngeliatin cewek-cewek di taman sedari tadi, tidak perdulu si Boss ngarah ke mana ia ngonyor ke arah perkumpulan wanita-wanita cantik.


"Agung kemari!" Agatha menjentikkan tangan.


Agung sedikit kesal, baru saja ia ingin melancarkan serangan untuk PDKT ala rayuan badboy dalam drama, sudah harus di beri titah oleh sang raja.


"Ada apa Boss?" ucapnya berlari mendekat.


"Beli ice cream Gih!" menunjuk penjual ice cream dengan ujung bibir.


"Ngak usah Bang, Biar Ira saja." Sahira bangkit.


"Eh, Agung kalau mau PDKT sama cewek ganti wajah dulu. PDKT kok pakek wajah serem gitu," Sahira berkata sambil berjalan menjauh.


"Huhaha," Agatha terbahak.


"Eh, untung pacarnya si Boss kalo ngak?"


"Apa kamu?" Agatha melirik tajam.


"Hehe, ngak Boss. Lanjut lagi Boss mau cari cewek."


"Yaudah pergi sana."


Agatha menatap Sahira di sebrang jalan, Sahira mengangkat Ice cream dari kotak menunjukkan pada Agatha.


Agatha mengangguk, Sahira tersenyum manis.


Adegan seperti ini harusnya dilakukan oleh para lelaki bukan, tapi mengapa Sahira teramat bahagia mengambil adegan ini untuk dirinya sendiri. Sahira mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu yang kembaliannya ia berikan untuk sang penjual ice cream. Acara beli ice creampun selesai Sahira ingin kembali mendekati Agatha.


"Ra, Awas!" Agatha berteriak kencang, sebelum Sang pesepeda motor melaku kencang dari arah kanan.


"BRAKK."


Pesepeda motor tidak sadar karna Sahira menyebrang secara tiba-tiba.


Lama Agatha terdiam, rasa berkecamuk, kacau dan tak berguna menyelimuti dirinya.


Apalah daya, jika saja ia laki-laki normal ia sudah melesat kencang menyelamatkan orang yang di cintainya sengan sekejap mata.


Namun sayang adegan demi adegan yang ia pikir seharusnya tandas terhalang kursi roda canggih sialan miliknya.


Ah, seharusnya ia tadi yang mengambil alih adegan memli ice cream agar hal seperti ini tidak perlu terjadi.


#


Agatha menunggu di luar, Sahira sedang di tanganni di IGD.


Sosok laki-laki datang dengan wajah suram dan tidak bersahabat bersama seorang ibu yang tetap berwajah teduh dan bersahaja, dialah ayah Sahira. Agatha pasrah menatap sosok itu.


"Dimana putriku?" Suara lantang dengan emosi yang tertahan.


"Dia sedang di tangani Dokter Om."


"Saya ingin bicara, ikut saya sebentar." Ayah Sahira mengajak Agatha ke sebuah taman dalam rumah sakit.


Agatha mengangguk pasrah. Sekarang apalagi yang bisa ia harapkan. Kejadian tadi pasti sudah selasai mengakhiri segalanya, termasuk hubungan yang baru ingin ia bangun dengan yang kata orang calon mertua.


"Sekarang kamu baru mengerti mengapa saya tidak bisa menikahkan anak saya denganmu." Ayah Sahira berbicara membelakangi Agatha yang hanya diam. Ada sebuah kursi panjang di taman namun ia memilih berdiri membelakangi.


"Dia putri saya satu-satunya yang saya rawat dan manjakan dari kecil."


Agatha hanya senyap, menunduk semakin tertunduk.


"Walaupun kami buka berasal dari keluarga berada, namun ia tak pernah kesusahan. Dia tidak bisa merawat siapapun dengan baik, sebab dialah yang selalu di rawat dengan baik. Kamu mengarti maksud saya bukan?"


"Baiklah Pak, saya mengerti. Izinkan saya untuk menemaninya hingga keluar rumah sakit."


Ayah Sahira menoleh.


"Mmm," Ayah Sahira mengangguk.


#


Perlahan Sahira membuka mata, ia tersenyum manis karna di sampingnya pertama kali ia lihat adalah Agatha.


"Abang, Abang ngak pulang?" suara Sahira lemah.


Agatha hanya menggeleng sambil tersenyum.


"Ra, saya minta maaf," ucap Agatha lirih.


"Sssttt, jangan meminta maaf Bang. Abang tidak salah sama sekali dalam hal ini."


Agatha tersenyum kembali. Perawat dan Dokter masuk.


"Sepertinya semua baik ya Nona, haya kaki saja yag sedikit terkilir dan harus di perban." ucap Dokter yang terlihat anggun dan cantik.


"Jadi saya sudah boleh pulang Dok?"


"Seharusnya besok pagi sudah boleh pulang." Senyum Dokter yang begitu menawan.


Sahira malah takut berlama-lama di sini, bisa-bisa Agatha kecantol dengan Mbak Dokternya.


"Yes," Sahira kegirangan. Agatha tersenyum menatap.


"Besok saya bisa kerja dong Bang?" Beralih menatap Agatha.


"Kamu bisa libur sebanyak yang kamu mau."


"Tapi aku mau kerja," ucap Sahira manja.


"Istirahat saja Ra, nanti saya beri kabar kapan kamu boleh bekerja."


"Menyebalkan," Sahira manyun.


#


Pagi sekali Agatha sudah mengunggu Sahira keluar rungan, ia menatap jam beberapa kali. Mungkin ini terakhir kali ia akan menemui Sahira, selebihnya ia akan menyusun rencana yang lain. Sesuai perjanjian yang telah ia buat, semua akan berjalan layaknya kemauan ayah Sahira.


"Abang," Sahira keluar di dorong Ibunya.


Agatha tersenyum menatap Sahira.


"Biar Ira sendiri aja Ma," Sahira menolak di dorong Ibunya.


Mereka berdua berjalan bersamaan dengan senyum merekah di wajah Sahira, baru kali ini ada seorang gadis teramat bahagia ketika menaiki kursi roda.


"Abang, sekarang kira sejajarkan," Sahira menderetkan kursi rodanya.


"Mmm," Agatha tersenyum dan mengelus kepala yang terhalang kerudung, sentuhan pertama yang ia berikan setelah sepuluh tahun berlalu.


"Ternyata menyenangkan berjalan begini bersama Abang. Besok kita ngemall begini aja Bang, huhaha." Sahira terbahak.


"Kamu urus saja dirimu baik-baik sampai benar-benar pulih, baru mikirin jalan-jalan."


"Siap Boss," Sahira mengangkat tangan hormat.