
"Tok..tik..tok," pintu ruangan Agatha di ketuk.
"Mmm, ya masuk."
"Kakak," Amara langsung berlarian memeluk Agatha yang sedang duduk.
Sahira menyusul dengan perasaan takut, gugup dan ada sedikit senang. Perasaannya berkecamuk sejak semalaman tidak tidur mengetahui bahwa Agatha dan Sesil itu hanya sepupu.
"Kamu mau ngerayu?" ucap Agatha yang memalingkan wajah dari Amara.
"Kakak...," ucap Amara tidak mau melepas pelukannya.
"Balik sono ke Bandung, tanggung jawab sama kerjaan kamu di sana."
"Hehe, itu pasti Kak. Tapi jangan marahin Kak Sahira ya Kak, Amara yang maksa."
"Kalau kamu yang maksa atau bukan memangnya pengaruhnya apa?" Agatha bernada ketus.
"Kakak... jangan begitu. Mana Kakakku yang baik hati dan berwibawa yang murah senyum itu."
"Sudah hilang di telan bumi," masih dengan marahnya.
Sahira mendengarkan merinding sendiri, membayangkan hari ini adalah hari terakhirnya bekerja di sini.
"Eh kamu, kemari!" Agatha menjentikkan jari pada Sahira.
"Iya Pak, Pak saya minta maaf. Sungguh saya tidak sengaja melakukannya, jangan pecat saya ya Pak. Zaman sekarang cari kerja susah Pak."
Agtha melongo mendengar ucapan Sahira tiba-tiba.
"Ceh," tertawa kecil namun ia tahan.
"Saya belum ngomong apa-apa Sahira."
"Ya Pak, tapi sepertinya akan berkata begitu," ucap Sahira dengan takut.
"Sana, bikinin saya kopi,"
"Kopi susu, atau kopi hitam Pak?" bertanya siapa tahu di kerjain lagi.
"Kopi hitam, Amara kamu mau minum apa?" langsung menawari Amara yang dari tadi mengamati mereka berdua.
"Teh hangat deh."
"Ya sudah, kopi hitam sama teh hangat."
Sahira segera pergi membuat minuman.
Amara bukannya menyelamatkan Sahira dari Amukan Agatha malah sibuk membahas laporan dan proyek baru yang sedang mereka tangani dan lupa apa tujuannya datang ke kantor pusat.
#
"Eh, Sahira udah pulang dari liburan?" ucap Desi yang entah kapan berada di belakang Sahira.
"Kok tahu?" sambil mengaduk minuman.
"Tahu dari wajah Pak Bos yang di tekuk dari pagi."
Sahira melongo dengan mengerutkan kening.
"Apa hubungannya coba?"
"Ya, karna wajah Pak Bos di tekuk, saya tanya deh. Dan dia jawab karna sekretaris bandel yang liburan di hari kerja."
"Apa? Jadi dia bilang saya bandel."
"Ho'oh, kuping Mbak masih baik kok. Dia bilang kamu Sekretaris bandel, tapi kayaknya memang bener, hehe."
"Ah si Mbak bukannya belain,"
"Huhaha," Desi cekikikan.
"Malah ketawa, girang kalau saya di pecat. Habislah aku hari ini," menggerutu sendiri.
"Kamu nga bakal di pecat, kalau kamu di pecat Pak Bos bisa merana karna rindu, hehe."
"Apaan sih Mbak."
Sahira berluli pergi meninggal Desi di ruang dapur.
#
Setelah mengetuk pintu sedikit Sahira langsung masuk ruangan.
"Ini kopi dan tehnya Pak," menaruh di atas meja.
"Loh kok tiga, buat kamu kenapa si bawa kesini," ucap Agatha karana ada tiga cangir yang di taruh Sahira.
"Ini bukan buat saya Pak tapi buat jaga-jaga siapa tahu di suruh buat lagi."
"Ceh, mau ngelawak kamu hah?"
"Seperti waktu itu Bapak minta lagi, saya pikir..." menjawab dengan takut-takut.
"Sahira, saya sedang tidak bercanda sekarang," Nada tinggi yang membuat Sahira takut.
"Hahaha" Amara malah terbahak melihat mereka berdua.
"Bentar aku minum teh dulu ya Kak,"
Agatha masih menatap Sahira sinis.
"Amara mau pulang kerumah Papa Mama dulu ya Kak,"
"Suittt, suittr, Amara gimana?" Sahira mengedipkan mata menagih janji Amara yang katanya mau menyelamatkanya.
'Kenapa aku percaya Amara, sekarang dia mau kabur. Habislah aku.'
"Ingat ya Kak, aku siap menampungnya. Dua kali lipat," jarinya membentuk huruf dua.
Amara menghilang di balik pintu.
"Kamu duduk!" Agatha menunjuk sopa.
Dengan Segera Sahira duduk di sopa yang di tunjuk.
"Kamu mau main-main sama saya?"
"Ngak Pak," Sahira menggeleng-geleng.
"Buktinya kamu pacaran dan masuk telat hari ini, saya suruh kamu bikin satu kopi dan kamu bikin dua. Apa namanya kalau bukan mau main-main."
"Bukan seperti itu Pak," Sahira bingung mau jawab apa.
"Terus seperti apa? Kamu mau ngerjain saya."
"Saya mau balik pas terima pesan dari Bapak, tapi Amara bilang ngak papa buat disana dulu sampe pagi ini."
"Alasan, nyatanya kamu asyik pacaran kan?"
"Bukan begitu Pak, saya juga ngak tahu kenapa Pak Edu bisa di sana. Pas kami nyampe ke tempat wisata tiba-tiba aja udah disana."
"Ceh, hebat sekali dia ya. Emang dia punya indra keenam apa?"
"Kata Amara dia yang ngudang Edu kesana, lagian saya ngak punya kontak dia."
"Amara?"
"He'eh," Sahira mengangguk.
"Oh jadi si tengil bocah itu sengaja manas-manasin Kakaknya. Jadi bocah itu yang merencanakan semua ini," gumam Agatha yang tak bisa di dengar jelas oleh Sahira.
"Pak tolong jangan pecat saya, saya mau makan apa nanti?"
"Ceh, kamu masih gadis Sahira. Drama sekali kamu."
"Maksudnya, saya mau kerja di mana kalo di pecat. Suer loh Pak saya mau nurut apa kata Bapak tadinya sebelum Amara bilang nga papa," ucap Sahira meyakinkan, dengan mengangkat tangan membentuk huruf V.
"Emangnya saya ada bilang mau pecat kamu?"
"Ngak," Sahira menggeleng.
"Terus kenapa merengek begitu?"
"Hehe, jadi ngak di pecat ni Pak," ucap Sahira girang.
"Jangan senang dulu, tetap dapat hukuman."
"Memangnya apa hukumannya?"
"Bikinin saya ramen, harus bisa dan harus enak."
"Ramen?" Sahira bingung bagaimana cara membuat ramen.
"Saya mau besok pagi-pagi bawakan saya ramen."
"Siap Pak," menjawab siap dengan tidak semangat.
"Ya sudah, kembalilah bekerja."
"Seumur-umur mana pernah bikin ramen apalagi harus enak," gumam Sahira menuju pintu.
"Krek," Sahira membuka pintu hendak keluar.
"Amara," ucap Sahira kaget setelah membuka pintu mendapati Amara masih menempelkan kupingnya di pintu.
"Hehe Kakak, udah keluar aja."
"Kamu nguping ya?"
"Ada apa?" Agatha mendekat.
"Amara, bukannya tadi udah pulang."
"Adik kesayangan Bapak ini nguping dari tadi."
"Ngak denger apa-apa kok Kak. Terhalang pintu hehe."
"Ceh, sejak kapan adik Kakak tercinta ini jadi penguntit?"
"Hehe, Kakak-kakak maaf ya Amara permisi dulu. Duluan ya," ucap Amara cengengesan.
"Eh tunggu dulu!" ucap Agatha menjentikkan jari menyuruh Amara mendekat.
Amara sedikit mendekat.
"Sini lebih dekat lagi!"
"Tok," Agatha menjentikkan jari pada dahi Amara.
"Aaaa, Kakak sakit," ucap Amara merengek.
"Itu hukuman buat Adik yang suka kepo."
"Ah Kakak..."
"Sudah pulang sana!"
"Huhaha," Sahira terbahak melihat Amara kesakitan.
Amara menatap Sahira sinis, merengut seperti bocak merajuk.
"Upss maaf, keceplosan," Sahira menutup mulutnya.
"Saya balik kerja dulu ya, he." Sahira kembali ke meja kerjanya.