
"Brisik woy..." Seseorang melempar popcorn dari belakang tepat di kepala Agatha.
"Apa sih?" Agatha menoleh, wajahnya merah dengan emosi mau meledak.
"Beraninya...." Agatha tercekat melihat sosok besar hitam, tubuh yang kekar terlihat dari luar meskipun ia memakai baju longgar, dengan mata setajam elang yang terpanah padanya.
"Kenapa?" Laki-laki itu berdiri, Tingginya menghilangkan beberapa sosok orang yang berada di belakangnya.
"Ngak Bang, maaf. Hehe." Agatha menagkupkan tangan memohon ampun.
"Hehe. Maaf Bang, ngak berisik lagi kok." Sahira menimpali.
Laki-laki itu duduk kembali.
Jantung Agatha dan Sahira yang tadinya berhenti berdetak, sekarang berdetak kembali. Mereka mengelus dada.
"Ra, besok-besok kalau mau jalan kita sewa bodyguard ya." Bisik Agatha.
"Hehe, Ira punya Ide."
"Apaan?"
Sahira menoleh kebelakang.
"Mas gede, mau ngak jadi bodyguard kita satu hari." Laki-laki tadi nampak berpikir dengan ekspresi seramnya.
"Mas bisa minta berapapun sama dia," menunjuk Agatha.
"Mmm," mengangguk dengan PD, mengangkat-ngangkat alisnya.
"Lima juta buat hari ini," Suara tak yakin akan di setujui.
"Baiklah," Dengan cepat Agatha setuju.
"Sungguh Boss, saya bisa dapet lima juta dalam sehari." ekspresi senang tiada terkira.
"Mmm." Mengangguk, sudah bergaya angkuh.
"Baik Boss,"
"Kalian yang ada di sini tidak boleh berisik! Hanya mereka berdua yang boleh berisik disini. Kwlian paham!" Laki-laki tadi berdiri dan memberi pengumuman dengan lantang, tegas dan sangar. Tidak ada satu orang di studio yang berani membantah.
"Kayaknya Boss orang kaya ya," ucap Laki-laki itu duduk dan sumringah, sebentar lagi ia bisa poya-poya.
"Tidak boleh berisik kecuali kami berdua," Mata Agatha menatap tajam.
"Baik Boss, maaf. Silahkan berisik, hehe."
"Filmnya bagus ya Bang?"
"Mmm, ya bagus," mengangguk cepat, padahal dari tadi lihatin Sahira terus.
"Pasti Abang suka deh sama pemeran ceweknya, gila cantik amat."
"Mmm, ya cantik." jawab asal-asal tidak fokus.
Sahira menatap Agatha tajam.
"Kenapa?"
"Cantikan dia dari pada Ira?" ucap Sahira ketus.
"Maksudnya?" Ngak ngeh.
"Abang mah gitu," Berdiri ngambek, mau keluar.
"Eh Ra, mau kemana? Filmnya belum selesai lo. Masih ada satu jam lagi," Agatha melihat arlogi.
"Bodo amat," Sahira tidak menoleh, melipat tangan dan menuju keluar.
Bodyguard baru garuk-garuk kepala bingung, belum juga setengah jam bertugas buat pasangan aneh, eh mereka sudah berantem.
"Woi bengong aja, bantuin cepat."
"Siap Boss." Bodyguard yang tadinya bertampang sangar di depan Agatha kini kayak wajah boneka yang boleh di cubit-cubit sepuasnya.
"Ra, kamu kenapa? Ra, tungguin!" Sahira terus berjalan cepat.
"Maaf Boss, Boss tadi salah bicara."
"Maksud kamu apa?"
"Nona tadi bilang kalau Boss pasti suka sama pemeran ceweknya karna cantik. Dan Boss bilang Iya."
"Emang tadi saya bilang begitu?"
"Ya Boss, saya dengar dan lihat sendiri Boss."
"Tapi saya tidak merasa bilang begitu."
"Mungkin Boss tidak sadar karna fokus lihat wajahnya Nona."
"Ceh, sial."
Agatha mempercepat lajunya.
"Ra, jangan marah dong."
"Siapa yang marah," berbicara dengan nada tinggi.
"Terus kenapa manyun begitu?"
"Siapa yang manyun."
"Terus apa namanya?"
"Tau Ah, Ira mau pulang aja." Mau pulang, tapi Sahira mulai duduk di kursi tunggu.
"Cie ngambek ya Non, mau d antar pulangnya non?"
"Maaf Boss."
"Sekali lagi lancang, gajimu tidak akan ku berikan."
"Siap, maaf Boss keceplosan."
"Sini kamu," Agatha mengajak Sang bodyguard sedikit menyingkir.
Sahira masih melirik-lirik kepo. Sekalian berharap Agatha melakukan hal yang spesial.
"Heh, kasih solusi. Tapi harus ampuh kalau ngak awas lu."
"Ajak Nona keliling mall Boss, belikan semua barang yang ia minta."
"Dia bukan orang seperti itu."
"Kalau begitu, ajak diner di tempat mewah Boss,"
"Dia tidak suka makanan mewah, lebih suka mie ayam pinggir jalan."
"Kalau begitu ajak Nona jalan-jalan keluar kota saja Boss,"
"Kau mau aku mati konyol oleh ayahnya."
"Ayahnya biar saya yang urus Boss,"
"Plak," Gamparan kedua kali yang tak menyisakan apa-apa di tubuh bodyguard yang kekar.
"Ceh," Agatha mengibas-ngibaskan tangannya, terasa kebas menampar tubuh yang keras dan kekar.
"Kenapa Boss?"
"Eh, kalau kau sudah mengurus ayahnya, siapa yang akan menikahkan aku dengannya? Kau mau aku jadi perjaka tua?"
"Tidak Boss, cukup saya saja."
"Ooh, jadi kau belum menikah. Siapa namamu?"
"Agung Boss,"
"Agung? Namanu tidak mencerminkan dirimu. Berikan KTP mu?" Agung membuka dompet dan mengelurkan KTPnya.
"Agung laksono. Oke baiklah, untuk sekarang kau tidak berguna. Memberi solusi saja tidak bisa. Kemampuanmu sebagai bodyguard jauh ketimbang supir saya."
"Apa? ngak mungkin saya kalah sama supir Boss." Tidak terima di bandingkan dengan seorang supir.
"Woi... udah selese berundingnya. Kalian kira aku di sini obat nyamuk apa?" Agatha lupa dari tadi Sahira menunggu tindakannya.
"Ra, gimana kalau kita ke pasar malam?" mencoba mendekati Sahira.
"Abang, jaman sekarang di mana di belahan kota Jakarta ada pasar malam?"
"Agung, cari tahu dimana pasar malam? Kalau tidak ketemu saya pecat kamu, dan gajimu tidak akan ku berikan." Sekarang enak mengancam orang bertubuh kekar tapi memasang wajah boneka.
"Siap Boss," dengan segera Agung membuka ponselnya dan seketika ia sudah bisa menemukan pasar malam di daerah pinggiran kota.
"Ayo Boss, saya tunjukan tempatnya." Mau mendorong kursi roda.
"Heh, Agung laksono yang mungkin artinya pelaksana Agung. Ini masih siang, mau ngapain di pasar malam hah?"
"Huhaha," Sahira terbahak.
"Kata Boss mau ke pasar malam tadi."
"Maksud saya, entar pas udah malem. Ceh, mimpi apa punya bodyguard otaknya kayak siput."
"Udah ah Bang, Ira mau cari musholah dulu. Mau sholat Ashar. Mas Agung mau sholat?"
"Sholat ya Non?"
"Iya sholat. Kamu muslim bukan?"
"Di KTP sih islam Non."
"Terus kenapa?"
"Tapi lupa kapan terakhir sholat."
"Asal ngak lupa cara sholatnya aja." Agung menggaruk-garuk kepala.
"Astagfirullah, lupa juga."
"He'eh Non, hehe."
"Belajar tuh sama Bapak Agatha." matanya sipit aja sholat, masak mata Serem begini ngak sholat.
"Apa hubungannya?" ucap Agatha, Sahira sudah ngawur.
"Jangan tanya hubungannya Bang, tanya hubungan kita apa?"
Teng, Agatha terdiam. Berpikir panjang. Harus di namakan apa hubungan mereka?
Pacaran?
Tunangan?
Calon pengantin?
Entahlah.
"Ngak bisa jawab?"
"Kita? Sebentar lagi kita akan menikah itu yang jelas."
"Secepatnya Abang harus bisa bujuk Papanya Ira. Ira ngak mau punya hubungan rumit kayak gini terus. Kita bukan lagi anak SMA yang harus backstreet kan."
"Iya Ra, kamu sabar aja ya."