
Akad telah usai disambut tangis haru dari ibunya Agatha dan juga Sahira, sementara Amara tengah girangnya bermain bersama Didi dan Aci keponakan Sahira.
Kakak-kakak iparnya mulai sibuk membereskan rumah.
“Coba aja kalau nikahnya di kampung, pasti bakalan banyak yang bantuin kita. Ini kan kita mesti repot sendiri.” Ucap kakak ipar kedua Sahira.
“Eh, ngak boleh ngomong begitu. Kalau kerja ya mesti ikhlas!” ibunya menegur.
Sementara Sahira masih saja terpana pada suaminya yang duduk bersila di ruang depan dengan memegang ponsel di tangannya.
“Kenapa?” Agatha menariknya hanya untuk menenggelamkannya pada dada bidangnya.
“Lagi takjub memandang kebesaran Allah yang bisa mengembalikan Abang pada posisi ini.”
“Hahaha.” Demi apa? Agatha tergelak.
“Eh, kalau mau mesra-mesraan sono di dalam kamar!” ucap kakak ipar pertamanya yang sibuk mondar-mandir.
“Udah, biarin jangan ganggu ah!” Bu Sesil membela.
“Iya nih Kakak. Sekarang kan dunia lagi milik berdua, yang lain pada ngontrak,” sahira mencibir.
“Terserah kalian lah.” Kakak parnya bergegas keluar rumah.
Siang telah berganti menjadi gelap.
Suara dentingan jam dinding terdengar lebih keras, sebab malam semakin pekat.
Dengan perlahan Sahira membuka mahkota terindahnya, diiringi dengan sentuhan lembut yang membuat sekeping hati terhanyut dalam buayan tak berujung yang menyusuri setiap inci demi inci sebuah kehidupan baru.
Perlahan ia membuka mata, setelah bahu kokoh mengangkatnya mengudara.
Meletekkannya pada sebuah bidang empuk yang terasa seperti awan warna-warni.
Kini ia memadang langit-langit penuh gemintang berjejer indah menyapa ia dengan senyuman.
Dan sepersekian detik kemudian, tangan kokoh itu mulai menyusuri inci demi inci tanpa kercuali.
Membawa ia terbang mengelilingi bintang-bintang, menyelelami surganya lautan.
Sekeping hati yang rapuh itu kini basah tersirami air sesejuk embun.
Kegilaan ini, rasanya tak ingin mereka akhiri demi sekedar kembali memijakkan kaki pada bumi yang gersang dan tandus.
Inilah surga si pekat malam, untuk sama-sama terhempas menyandarkan diri dengan kelelahan.
#
Demi apa? Sahira sangat malas bangun dini hari ini, hingga puas Agatha menyusuri wajahnya.
“Bangun Nona sudah adzan subuh!”
“Aaaaa.” Sahira kaget ketika membuka mata. Dengan sigap Agatha mebumkam mulutnya.
“Kembalikan dulu semua kesadaranmu baru teriak.” Ucap Agatha terkekeh.
“Ada apa Ra?” Bu Sesil memanggi.
“Ngak papa kok Ma,Cuma ada kecoa.” Jawab Agatha.
“Sejak kapan kamu takut sama kecoa Ra, Ra.” Suara Bu Sesil terdengar menjauh.
Agatha tergelak melihat Sahira yang berantakan tiada terkira.
“Kenapa tertawa?”
“Ngak. Mandi Gi, wudhu!”
“Abang udah mandi?”
“Udah tadi, tapi belum wudhu. Nunggu kamu dulu.”
“Oh… gitu. Ya udah aku mandi dulu ya.”
“Oke cantik.” Jawab Agatha dengan senyum mengembang.
Selesai mandi dan wudhu mereka sholat berjamaah di kamar.
“Siang kita bisa pindah kan ke apartement kita.” Ucap Agatha saat Sahira mencium tangannya.
“Apartement kita?”
“Iya Dong. Apartement kita, kita berdua. Kalau udah punya anak jadinya kita bertiga. Kalau nambah satu lagi anaknya jadinya kita berempat.” Selorohnya tidak melepas genggaman tangan mereka.
“Hahaha,”Sahira tergelak.
“Loh kenapa tertawa?”
“Hehe, enak aja gitu jadi kita. Bukan aku kamu atau saya dan anda lagi.”
“Tentu dong.” Agatha menarik Sahira kembali menenggelamkannya pada pelukannya.
“Kamu masih mau kerja atau jadi ibu rumah tangga aja?”
“Aku kan belum punya anak, jadi belum bisa jadi ibu rumah tangga. So aku kerja aja deh.”
“Kamu lebih milih jadi sekretaris suamimu atau sekretaris adik iparmu?”
“Hahaha.” Sahira tergelak mengingat kata suamimu.
“Loh kok ketawa lagi?"
“Mau jadi Sekretaris suami tercinta dong. Mau di awasi biar ngak tergoda sama wanita lain.”
“Mana mungkin tergoda oleh wanita lain, udah dua belas tahun sejak aku jatuh cinta sama kamu untuk pertama kalinya dan sekarang masih sama.”
“Hahaha, jadi Abang selama ini ngak pernah lupain Ira?”
Agatha menggeleng.
“Lupa sih kadang. Masak ingat terus. Susah makan susah tidur dong. Hehe.”
“Abang ih….” Sahira memukul pelan bahu kokohnya.
Matahari mulai keluar, mereka masih sibuk berceloteh di dalam kamar yang sempit. Sahira mau melakukan kewajibannya sebagai istri yaitu menyiapkan makanan untuk sudaminya.
Namun berapa kali ia mencoba bangkit berapa kali pula Agatha menariknya kembali dalam pelukannya. Akhirtnya ia hanya pasrah bercerita banyak hal dalam pelukannya dan berkurung di dalam kamar.
Apa kata ibunya kelak saat ia keluar?
“Abang aku kan mau masak.”
“Ngak perlu masak, tuh Mama udah masak.”
“Bang ngak enak sama Mama kalo ngak bantuin, Ira kan sudah bersuami sekarang bukan gadis lagi.”
“Kalau gitu minta Mama ngak usah masak. Kita makan di luar saja.”
“Abang…” sahira menghela nafas panjang, baru sehari ia sudah tidak bisa keluar dari kamar. Bagaimana selanjutnya nanti?
“Tok..tok…tok.”
“Ra, ayo keluar sarapan dulu! Ajak suamimu sarapan dulu nanti kelaparan dia!” suara ibunya dari balik pintu kamar.
Untuk saja kakak-kakaknya sudah pulang semua tadi malam, kalau tidak matilah ia di marahi kakak-kakaknya karena dikira tidak mau keluar kamar.
“Iya Ma.” Jawab Sahira
Dengan enggan Agatha melepaskan pelukannya, mulai berdiri mengikuti Sahira yang sudah lebih dulu menuju pintu keluar.
“Widih, banyak banget masaknya Ma.” Sahira tidak pernah melihat meja makan mereka sepenuh ini dengan menu makanan sebanyak ini.
“Harus banyak dong. Hari ini adalah hari special.” Ibunya tersenum meneduhkan.
“Mama masak semua yang ada di kulkas, haha.” Sahira tergelak.
“Buat yang special apa sih yang ngak.”
“Ayo duduk,” ucap Pak Lukman pada Agatha yang masih saja berdiri, sedang Pak Lukman baru saja keluar kamar.
“Duduk Nak Aga, cicipin semua masakan Mama.” Bu Sesil menimpali dengan antusias.
Agatha duduk, belum sempat Sahira mengambil piring ingin mengisinya tugasnya sudah di ambil alih oleh ibunya yang terlalu antusias.
“Nak Aga mau makan apa dulu nih?”
“Apa aja deh Ma, yang penting nanti semua di cicipin.”
“Bagus, begitu masksud Mama.” Bu Sesil mengacungkan jempol.
Selesai makan Sahira mulai mengemasi barang-barangnya.
“Barang kamu yang di sini di tinggal saja, nanti pas kita mau nginap barang kamu masih utuh.” Ucap Agatha memandangi istrinya sedang memasukkan barang-barangnya ke dalam koper.
“Terus aku disana pake apa dong?” Sejenak Sahira berhenti.
“Kita belanja keperluan kamu hari ini buat yangdi apartemen.”
Sejenak Sahira mengernyit mencoba menimbang-nimbang.
“Ngak deh, yang ini masih bagus-bagus buat apa beli lagi. Lagian sebagian bisa di bawa dan sebagian bisa di tinggal kok.”
“Tapi pengantin baru butuh pakaian baru dan suasan baru.”
“Suasana baru sih iya. Tapi kalau pakaian yang lama sudah lebih dari cukup.”
“Tapi saya mau kita belanja hari ini. Dan keputusan sudah final.”
Sahira hanya bisa manyun jika suami sudah menunjukkan taringnya.