Let'S Get Married

Let'S Get Married
Cemburu



“Kamu sekarang kerja di mana Rud?”pertanyaan Sahira spontan membuat tiga orang yang lagi makan berhenti. Agatha melepas sendok yang ia pegang.


Agatha melotot pada dua makhluk di depannya, Rere dan Rudi sudah gemetar. Bisa-bisanya mereka lupa kalau lagi bolos dan tiba-tiba ketemu Boss tanpa sengaja.


“Anu Pak, tadi rencana cuma mau beli itu tadi aja kok. Ngak tahu kalau ketemu terus di ajak makan, hehe,” ucap Rere gugup.


“Oh iya, kamu bolos Re. Ya ampun,” ucap Sahira setengah histeris.


Agatha berubah melirik tajam Rudi, Rudi sudah melepaskan sendok dan garpu yang tadi ia pegang.


“Ga, maksudnya Pak Aga. Tadi kita cuma keluar karena lagi senggang, benar kata Rere kalau kita hanya mau keluar sebentar sebelum ketemu kalian,” Rudi juga gugup.


“Loh, kamu kerja di tempat kita juga?” tanya Sahira dengan wajah polosnya.


“Teng,” Agatha melepaskan garpu dan sendok yang ia pegang secara kasar.


Rudi dan Rere terperanjat kaget, wajah Agatha sudah tidak mengenakkan. Terlihat jelas ketidak sukaan seorang Boss.


“Jangan membuat alasan untuk kesalahan yang telah kalian buat,” ucap Agatha tanpa ekspresi.


Rere dan Rudi menunduk, Sahira garuk-garuk kepala kebingungan. Kenapa suasananya jadi tegang begini, padahal barusan mereka tertawa terbahak-bahak bersama. Sahira jadi menyesal menanyakan hal yang tak seharusnya ia tanyakan di saat mereka lagi santai dan menikmati hari.


“Rudi, kamu tahu betul kalau saya tidak suka dengan orang yang tidak disiplin. Saya langsung angkat kamu jadi kepala bagian marketing karena saya pikir kamu orang yang kompeten, sebab kamu sudah berapa tahun berada di di bidang itu. Tapi bukan berarti kamu bisa seenaknya. Kalau kalian hanya ingin pergi membeli barang yang dibutuhkan, kalian bisa melakukannya sepulang kerja bukan? Kalian sudah menjadi suami istri, tentunya kalian punya lebih banyak waktu bersama. Saya tidak suka dengan alasan yang dibuat-buat,” wajah Agatha tampak begitu serius. Sahira yang melihat Agatha marah juga ikut tertunduk sama seperti Rudi dan Rere.


“Pak Aga, kami minta maaf. Saya mohon jangan pecat kami,” ucap Rere lirih.


“Iya Pak, saya terbiasa dengan ketidak diplinan di kantor lama akibat suka di ajak jalan keluar sama anak pemilik kantor. Saya minta maaf, saya janji tidak akan mengulanginya lagi,” ucap Rudi tertunduk lesu.


Rere melirik Rudi sesaat, apa maksudnya diajak jalan sama pemilik kantor. Ia sengaja mengucapkan itu untuk membuat keributan?


Agatha tidak bergeming, kembali mengambil sendok dan garpu dan makan lagi.


Sahira jadi kasihan sekaligus menyesal melihat dua sahabatnya tertunduk lesu.


Rere dan Rudi masih menunduk, tidak berani untuk melanjutkan makan, juga takut karena Agatha belum berkata apa-apa. Apakah mereka akan di hukum karena kesalahan mereka atau lebih parahnya mereka di pecat, tidak mungkin, tidak mungkin Agatha setega itu.


“Habiskan makanan kalian lalu kembalilah ke kantor,” ucap Agatha tanpa menoleh.


“Iya Pak,” mereka berdua mengangguk.


Layaknya anak kecil yang ketangkap basah membuat kesalahan, mereka menurut dan makan dengan perlahan.


“Biar saya yang bayar, kembalilah ke kantor dan jangan mengulangi kesalahan yang sama,” ucap Agatha tanpa ekspresi setelah tahu Rere dan Rudi sudah meletakkan sendok pertanda mereka sudah selesai makan.


“Baik Pak,” ucap dua orang dengan wajah tidak enak.


“Maaf ya,” ucap Sahira kecil sambil menangkupkan tangannya menghadap Rudi dan Rere.


Mereka berdua mengangguk sebelum akhirnya pergi.


Setelah Rere dan Rudi pergi, suasana jadi tidak enak. Sahira jadi canggung untuk berbicara lagi karena melihat mood Agatha yang sepertinya belum pulih.


“Cup,” Agatha mengecup pipi Sahira sambil tersenyum manis sesaat sebelum ia bangkit untuk membayar makanan.


Bisa-bisanya Agatha melakukannya biasa saja, tapi Sahira rasanya setengah mati. Malu karena di tempat umum, dan juga sekaligus kaget karena ia pikir moodnya sedang tidka baik.


Sahira melihat dari jauh Agatha membayar makanan mereka terlihat biasa saja, sementara ia masih dengan jantung yang berdegup kencan. Padahal sudah malam pertama, dan bahkan sakitnya masih tersisa hingga sekarang. Namun Sahira pura-pura tidak merasakan apa-apa.


**


“Yah, lu lagi. Kenapa sih tiap hari gwa harus lihat elu,” Desi sewot pada Agung yang hendak memasuki ruangan Agatha.


“Harusnya gwa yang mikir gitu. Kenapa sih lu tiap hari harus duduk di sini, emang ngak ada tempat lain,” balas Agung.


“Woy bodyguard bego, ini meja kerja gwa. Lagian ngapain sih pagi-pagi udah di sini aja, Boss juga ngak ada. Lu kan tugasnya jagain Boss, bukan malah nguntit gwa,” Desi bertolak pinggang.


“Ceh, PD amat. Eh dengerin ya perawan tua! Gwa di sini juga yang suruh Pak Boss, buat ngawasin lu lu pada supaya ngak males-malesan. Bilang aja lu sewot karena ngak bisa bermalas-malasan kalau ada gwa.” Agung kalau dekat Desi seremnya jadi hilang, berubah jadi laki-laki banyak bicara dan konyol.


“Kayak lu masih muda aja. Pokoknya gwa ngak terima lu tiap hari ada di depan gwa, gwa ngak terima, ngak terima, ngak terima, titik,” ucap Desi histeris.


“Tinggal tutup mata, gitu aja susah banget,” ucap Agung begitu saja pergi masuk ruangan.


“Eh,,..” Desi kesal. Mau pukul-pukul orang rasanya, tapi siapa yang mau di pukul.


“Dasar bodyguard jelek, coba aja wajah lu ganteng, jadi gwa ngak muak lihat wajah lu,” teriak Desi dengan ruangan tertutup jadi Agung tidak bisa lagi mendengar perkataannya.


“Haduh, kalau dia tiap hari di sini tensiku bisa naik,” ucap Desi terduduk lesu.


**


“Owh… baru balik ya,” ucap Agung ketemu Rere dan Rudi di depan pintu kantor.


Rere dan Rudi hanya menunduk, terlebih Rudi tahu siapa Agung dan apa saja yang bisa ia lakukan sebagai seoarang bodyguard.


Dari tadi ia mencari Rudi dan juga Rere, sengaja ingin memergoki mereka yang dengan sengaja keluar dari kantor tanpa urusan penting.


“Dari mana kalian?” tanya Agung, ia mulia menampilkan sisi seremnya.


“Abis ketemu sama Pak Aga dan Bu Sahira di mall,” jawab Rere.


Karena jawaban Rere, Agung jadi bingung mau marah atau gimana.


“Ya udah, cepat masuk. Kerjakan urusan kalian dan jangan kelayapan lagi,” ucap Agung yang sekarang sudah berlaga jadi Boss.


“Buk,” seseorang menabrak Agung tapi Agung tetap diam di tempat tak terusik, sementara yang nabrak malah mental sendiri dan jatuh.


“Au,” Desi meringis kesakitan, bokongnya menghantam lantai.


“Ngapain sih lu?” tanya Agung berbalik. Tapi ia membelakangi jadi tidak terlalu sadar kalau Desi menabraknya cukup keras, efek tubuhnya yang kekar jadi ngak kerasa.


“Ngapain? Bukannya bantuin juga, sakit tahu,” Desi masih meringis kesakitan, memijat sedikit pinggangnya.


“Lagian lu guling-guling di lantai. Kalau mau istirahat, sono di musholah kan ada,” ucap agung masih diam di tempat.


“Lagian lu, badan segede mobil molen berdiri di depan pintu lagi. Ngalangin jalan tahu, gwa buru-buru mau makan siang, entar waktu istirahatnya udah habis,” ucap Desi masih duduk saja di lantai.


“Ceh, sini gwa bantuin,” Agung mengulurkan tangan.


“Aaa,… aduh pinggangku,” Desi pegang pinggangnya yang sakit.


Dengan ragu-ragu Agung memapah Desi dan mengajaknya duduk di lobi.


“Lagian kenapa lu bisa jatoh,” tanya Agung.


“Gwa nabrak lu dodol,” ucap Desi nyolot.


“Ngapain lu nabrak gwa, orang badan gwa segede gini masak lu ngak liat?”


“Makanya gwa bilang tadi, ngapain lu punya badan segede mobil molen nongkrong di depan pintu? Lagian gwa kira lu Jin, bisa di tembus pas lewat,” ucap Desi ngonyor ngak jelas.


“Eh, elu, ah..” Desi bergerak mau pukul Agung, tapi pinggangnya amat nyeri.


“Ah, ya udah deh gwa bawa lu ke tukang urut deh,” ucap Agung bangkit.


“Ngak, gwa maunya ke Dokter. Kayaknya punggung gwa patah deh, butuh operasi,” ucap Desi wory sendiri.


“Eh, kalau punggung lu patah, lu ngak bakal bisa duduk di sini. Udah metong lu tahu ngak. Lebay amat jadi orang,” ucap Agung keras. Orang-orang di kantor jadi lirik-lirikan tapi takut mendekat ke mereka. Takut kalau Agung menunjukkan taringnya. Di sini hanya Desi yang menganggap Agung tidak menakutkan, yang lain pada nunduk kalau Agung lewat, bahkan tidak ada yang berani menyapanya. Itu sebabnya mereka heran saat Desi malah sering bertengkar dengan Agung.


“Aaa,.. aaa sakit tahu. Lu ngak ngerasain, ini sakit banget tahu. Ini beneran patah ini punggungku,” rengek Desi.


“Ceh, ni orang.” Agung tanpa basa-basi menggendong Desi dengan bahunya yang kokoh. Desi melayang, Agung mengangkat tubuh Desi seperti halnya mengangkat guling. Kelihatan entang banget ngak ada beban.


“Eh, lu mau bawa gwa kemana?” teriak Desi.


“Udah diem,” Agung terus berjalan menuju parkiran. Memasukkan Desi ke dalam mobil dan membawa mobil keluar dari area kantor.


“Eh, lu mau bawa gwa kemana? Lu mau culik gwa, gwa teriak nih,” Desi mengancam dengan tangan kanan terus memijat bagian punggung sendiri.


“Teriak aja! Ngak bakal ada yang dengar,” ucap Agung tanpa ekspresi.


“Lu mau perkosa gwa ya,” teriak Desi histeris.


“Ngak nafsu gwa, jin aja ngak nafsu lihat lu,” jawab Agung santai.


“Udah diem, kalau mau selamat mending diem lu,” ancam Agung.


Karena hanya berdua di mobil dan ngak tahu mau di bawa kemana, Desi merasa takut. Melihat wajah Agung tanpa ekspresi membuatnya merinding, di tambah bayang-bayang Agung lagi natap ia dengan nafsu membuat Desi mau teriak, tapi ia gigit bibir sendiri karena takut.


**


Agatha sedang membeli tiket buat nonton bioskop, Sahira duduk di kursi tunggu sembari menatap Agatha lekat. Dua wanita yang berjaga di sana beberapa kali curi-curi pandang pada Agatha. Agatha tidak tahu, namun Sahira tahu betul. Ia menatap sinis dua wanita itu, yang bikin kesal malah mereka balik tatap Sahira sinis.


‘Biar ku kasih pembelajaran buat mereka,” ujar Sahira dalam hati.


“Sayang, udah belum beli tiketnya,” Sahira mendekati Agatha dan bergelayut manja di lengannya.


Menangkap sikap tak biasa Sahira, Agatha sedikit heran. Ia lihat kalau Sahira berbicara demi kian namun matanya tertuju pada dua wanita di depan mereka.


“Cup,” di kecupnya lagi pipi Sahira, itu membuat Sahira terperanjat kaget, begitupun dua wanita yang tadi curi-curi pandang.


Sahira memegang pipinya yang sekarang tengah merah merona sambil menatap Agatha. Mengapa nih orang sekarang suka sekali pamer kemesraan depan umum.


“Abang genit deh,” ucap Sahira sok manja setelah lama terpaku habis di cium.


“Kamu mau bales, nih sebelah sini,” Agatha menunjuk pipinya sebelah kiri.


“Ayo, kamu mau pamer di sini kan?” bisik Agatha di kuping Sahira dengan senyum kelicikan. Mencari kesempatan dalam kesempatan ini namanya.


“Hehe, Sayang, kita beli popcorn dulu aja yuk,” Sahira menarik lengan Agatha agar cepat pergi dari sana.


“Nih, kembaliannya,” ucap penjaga wanita itu ketus.


Sahira tersenyum penuh kemenangan melihat wajah kesal dua penjaga wanita itu. Agatha terkekeh dengan kelakuan Sahira yang bisa Ia baca.


“Abang, kenapa ketawa ih,…” Sahira menarik Agatha yang masih geli.


“Kamu cemburu sama mereka? Emang mereka ngapain Abang, orang mereka ngak ngapa-ngapain juga,” ucap Agatha masih terkekeh.


“Ngak ngapa-ngapain gimana, orang mereka ngelirik-lirik keganjenan gitu,” Oceh Sahira.


“Perasaan kamu aja kali,” tutur Agatha yang mereka bahagia kerena dicemburui.


“Abang ih,.. ngak percayaan sama Ira,” Sahira manyun dan mau ngambek.


“Iya, yaudah, yaudah Abang percaya. Tapi kamu panggil Sayang terus dong kayak tadi. Kamu imut loh kalau lagi ngomong kayak anak ABG tadi,” ucap Agatha kembali terkekeh.


“Abang ngejek Ira,” Sahira semakin mau ngambek.


“Ngak bukan ngejek, maksudnya Abang suka kalau kamu lagi kayak tadi. Kita jadi berada balik SMA lagi deh,” ucap Agatha masih dengan sisa tawanya.


“Ngak mau ah. Lain kali jangan deket-deket sama perempuan kayak gitu, mereka bisa jadi ular di dalam hubungan orang. Sama kayak sepupu Abang tuh, siapa namanya tuh Ira lupa,” Sahira pura-pura lupa karena tidak mau menyebut nama Sesil.


“Ya udah iya, jangan ngambek lagi. Abang beliin popcorn ya sama minuman,” tutur Agatha mau menuju tempat beli popcorn.


“Ngak usah, biar Ira aja. Abang tunggu di sini jangan kemana-mana,” ucap Sahira menarik Agatha agar diam di tempat.


Agatha menahan tawa dan berpura-pura manis dengan menuruti semua perkataan Sahira demi mendapat perlakuan spesial darinya.


Sahira membeli popcorn, Agatha hanya memperhatikan sembari senyum-senyum geli mengingat sikap Sahira yang terlalu kentara kalau dia lagi cemburu.


“Mbak pacarnya ya, wah Mbak beruntung banget ya,” ucap sang penjual popcorn.


Sahira tidak menjawab, ia merasa jika sering jalan sama Agatha di tempat umum bisa-bisa Agatha di rebut cewek-cewek secara paksa. Dulu masih mending ia lumpuh, setidaknya gantengnya sedikit tertutup oleh kelumpuhannya. Ternyata sembuhnya Agatha juga membawa kerisauan padanya.


Sahira menoleh ke belakang, ternyata Agatha sedang di sapa oleh cewek-cewek ABG dan pada minta photo bareng.


Wajah Sahira jadi merah, sorot matanya berubah seperti singa yang siap menerkam.


Agatha yang dikerumuni cewek-cewek ABG jadi susah keluar untuk mendekati Sahira.


“Ya ampun ganteng banget, kayak aktor jepang,” ucap ABG yang pada ngumpul terpesona.


“Jangan-jangan pemain film kakak ini,” ucap yang lainnya.


“Em, maaf Adek-Adek permisi,” Agatha mencoba keluar dari kerumunan, namun ia belum berhasil karena ada yang tarik-tarik dan mengajak photo bersama meskipun Agatha tidak perduli kamera.


“Minggir semua,” teriak Sahira di tengah para ABG.


Barusan Agatha melihatnya jauh, tiba-tiba sudah berada di kerumunan.


“Ayok Abang pergi!” Sahira menarik Agatha keluar dari kerumunan dan bahkan keluar dari area bioskop.


“Yah, pergi deh.”


“Siapa sih dia?”


ucap para ABG yang masih ingin dekat dengan Agatha.


“Ra, kok malah keluar sih. Filmnya bentar lagi mulai loh,” Agatha melepas tangannya yang di tarik sama Agatha.


“Ngak jadi nonton,” ucap Sahira setengah berteriak.


“Loh kenapa?” tanya Agatha bingung, padahal semua persiapan sudah kelar.


“Pokoknya, dari sekarang sampai kapanpun, ngak ada lagi yang namanya nonton bioskop, titik,” ucap Sahira tegas. Sebab tiap kali menonton bioskop selalu saja Agatha di goda oleh para gadis.