Let'S Get Married

Let'S Get Married
Kembali Terapi



Pagi ini Pak Adi merasa sangat senang, Hal pertama yang ingin ia lihat adalah senyum cerah Agatha yang akhir-akhir ini sering muncul sejak kedatangan Sahira dalam hidupnya.


Agatha tidak seperti Bos baginya, dari kecil Agatha sudah ia urus dan ia berikan kasih sayang sepenuh hati karna ia dan Bi Inah memang tidak mampu mendapatkan buah hati.


Mengurus Haru, Agatha dan Amara adalah hal terindah dalam hidup mereka berdua, terutama Agatha yang ia ikuti kemanapun ia pergi.


“Mas, hari ini adalah jadwal Mas untuk terapi,” Pak Adi bertanya sambil mengemudikan mobilnya.


“Ya saya ingat.” Ucap Agatha acuh.


“Baiklah, kalau begitu kita langsung saja kerumah sakit ya.” Padahal mobil dari tadi sudah mengarah ke Rumah sakit.


“Mmm, Bapak yang nyupir. Terserah Bapak saja,” Pak Adi tersenyum mendengar tanggapan Agatha barusan. Itu artinya ia menyerahkan kendali sepenuhnya pada dirinya.


“Mas sudah beritahu Mbak Sahira?” melirik Agatha di kaca spion.


“Tidak.” Agatha masih menghadap jendela mobil dengan pikirannya.


“Mas kirim pesan aja, nanti Mbaknya nyariin."


“Biarkan, aku ingin lihat apa dia mencariku atau tidak.” Pak Adi tersenyum kembali, orang sedang jatuh cinta memang rumit.


Agatha dan Pak Adi sampai dirumah sakit, seperti biasa Bu Amira sudah sampai duluana dan sedang berbicara dengan Dokter yang menangani Agatha. Tak Lama Pak Iman juga muncul dari lorong kiri, mungkin ia baru saja dari toilet, pikir Agatha.


"Papa kesini juga?” Agatha terperangah, tidak biasanya ayahnya ikut memantau pengobatannya yang tidak kunjung usai.


“Papa hanya memastikan kalau kamu tidak membantah apa yang Papa perintahkan.”


“Mana berani Mas Aga Pak," jawab Pak Adi duluan ketika Agatha sudah menganga ingin menjawab.


“Ceh,” menatap Pak Adi kesal.


“Baiklah Mas Agatha kita langsumg keruangan terapi saja ya.” Dokter Budi mempersilahkan.


“Baiklah.” Agatha mengikuti.


“Ting,” Ponsel Agatha berbunyi, ia sudah bisa menebak siapa yang memberinya pesan sepagi ini.


"Bapak dimana? Tumben Bapak jam segini belum sampai ke kantor,” Agatha menaikkan sebelah alisnya membaca pesan dari Sahira.


“Bapak? Sejak kapan istriku melahirkanmu. Kau saja belum menjadi istriku,” Gumam Agatha. Ia memasukkan kembali ponselnya kedalam saku.


“Ayo Mas,” Dokter memanggil Agatha yang berhenti setelah menerima pesan.


“Kemarikan ponselmu!” Bu Amira mendahkan tangan. Agatha mendongak, mengeluarkan kembali ponsel dari dalam saku, menurut dan memberikan ponselnya.


Agatha masuk ruangan, Bu Amira masih diam, membuka ponsel yang tidak di berikan sandi oleh Agatha.


“Anak ini, jaman sakarang masih ada saja ponsel tidak di berikan sandi.”


“Wallpapernya kartun lagi,” ucap Bu Amira menatap tokoh Anime Jepang.


Ia membuka pesan dari Sahira, tersenyum dengan gaya penulisan Sahira yang terkesan kaku dan baku. menyalin nomor ponsel Sahira pada ponselnya.


“Sayang, ini Mama. Mama sedang di rumah sakit sekarang. Agatha sedang terapi sayang, kamu tunggu aja ya. Hendel pekerjaanmu dengan baik. Semangat,” Bu Amira mengirim pesan.


Lama Sahira menatap ponselnya, mencerna pesan dari nomor yang tidak ia kenal.


“Baiklah Ma,” jawab Sahira yang kabel konektornya baru saja terhubung.


Satu jam lebih Agatha terapi, karna rengekannya yang terus meminta keluar yang katanya ingin rapat kahirnya Dokter Budi mengakhiri terapi ini.


“Mas Aga juga harus sering latihan ya di rumah,” Dokter Budi menasihati agar kodisi Agatha segera pulih.


“Mmmm.”


“Saya sarankan untuk memijat-mijat kaki dan jari Mas Aga suapaya ototnya tidak kaku Mas. Jika perlu sewa tukang pijat saja.”


“Mmmm,” Agatha hanya mengangguk berharap ceramah ini segera selesai, ia ingin segera ke kantor dan melihat calon istrinya.


#


“Pagi Pak,” Sahira menundukkan kepala ketika Agatha tanpa sadar sudah berada di hadapannya.


“Sahira sejak kapan saya menikah dengan ibumu?” jawab Agatha kesal.


Sahira menganga, tidak mengerti mengapa Agatha tiba-tiba saja membawa ibunya dalam percakapan Sahira. Sahira orang yang cerdas ya, biarpun sesekali konektornya suka terputus.


“Tapi ini kan kantor Pak, saya bisa habis kalau panggil Bapak dengan sebutan Sa….” Sahira tercekat, apa yang sedang ia bicarakan.


“Apa katamu tadi, lanjukan!” Agatha menatap lurus.


“Jangan mengalihkan pembicaraan Sahira, lanjutkan perkataanmu tadi!” Masih berharap reka adegan.


“saya tidak bermaksud berkata demikian Pak. Kedepan saya akan panggil Mas saja kerika tidak ada orang,” ucap Sahira menunduk semakin dalam.


“Pak Adi juga panggil saya Mas, lalu apa bedanya kamu sama Pak Adi?”


“Baiklah, saya akan panggi Bapak seperti panggilan saya dulu.”


“Apa itu?”


'Ceh, pura-pura lupa dia.'


“Abang,” ucap Sahira pelan.


“Apa, saya tidak dengar.”


“Abang,” Sahira mengulang dengan kata yang lebih keras.


“Baiklah tidak buruk,” Agatha menuju ruangannya.


Sahira mengikuti dari belakang.


“Tapi saya ingin kamu melanjutkan kata-katamu yang tadi.”


‘Hadeh… masih ingat saja dia.’


“Cepat ulangi!”


“Iya sa..yang,” mengucapkan dengan ragu-ragu.


“Bagus,” Agatha kembali menuju ruangannya di ikuti Sahira.


“Ya, ternyata kau posesif juga ya. Kemanapun saya pergi kau membuntuti,” ucap Agatha hendak membuka pintu rungannya.


“Hah, tidak. Bukan seperti itu. Saya membawa laporan untuk Bapak tanda tangani.”


“Kenapa tidak bilang dari tadi? Kau sengaja ingin masuk keruanganku kan. Tidak ingin jauh dariku,” Agatha mendekatkan wajahnya menggoda.


“Tadi saya belum sempat bilang Bapak sudah pergi.” Sahira berkata pelan dengan kepala menunduk.


“Sekarang tidak ada orang, kenapa kamu masih memanggil saya Bapak.”


“Takut ada mata-mata.” Ucap Sahira asal.


“Mata-mata?” Agatha mengerutkan kening.


“Plak,” suara buku yang jatuh kenatai, Sahira dan Agatha kaget lalu menoleh pada sumber suara.


“Desi,” ucap mereka serentak. Sahira hanya berbicara asal tadi tidak tahu jika Desi memang menguping pembicaraan mereka.


“Saya, saya minta maaf Pak,” Desi berlari kocar-kacir, dengan cepat menghilang dari pandangan mereka berdua. Karna ingin cepat ia menabrak pintu lif yang belum terbuka.


Ada tawa di sudut bibir Agatha, namun segera ia tutupi.


“Untung dia temanmu, kalau tidak…” Agatha melirik Sahira sinis, dib alas Sahira dengan cengengesan.


“Ampunilah dia Pak. Mbak Desi memang sedikit kepo. Tapi dia orang yang baik yang suka membantu urang lain,” memohon.


“Sedikit kepo? heh,” perkataan sedikit memang janggal, nyatanya sikap kepo Desi sudah terlanjur akut.


“Baiklah saya ampuni kali ini, tapi ada syaratnya,” Agatha melirik Sahira yang sedang memohon.


“Apa?”


“Ulangi kata-katamu tadi!”


“Yang mana?” ada banyak kata yang di ucapkan Sahira pagi ini, sepertinya sekarang banyak terjadi pemborosan kata-kata.


“Panggilanmu tadi.”


“Abang?” Sahira mengerutkan kening.


“Yang satunya.”


“Sayang?” ucap Sahira spontan.


“Apa Sayang, kamu manis sekali hari ini,” Jawab Agatha spontan.