Let'S Get Married

Let'S Get Married
Flash Back Part 2



Sudah lebih dari sebulan semenjak kedatangan dua orang yang tidak Pak Lukman kenal itu. Sudah beberapa kali Pak Lukman menghubungi mereka, namun jawabannya selalu sama yaitu sedang mereka urus.


Munginkan bukan Pak Supardi yang berbohong melainkan dua laki-laki yang datang kerumah itu. Tapi wajah dua laki-laki itu sungguh meyakinkan, terlihat jelas kalau mereka bukan dari kelas biasa-biasa saja.


“Ting,” suara ponsel Pak Lukman berbunyi.


“Pak Lukman hari ini ada waktu?” di lihat Pak Lukman di layar ponsel bernama orang asing, sebab ia belum sempat menanyakan nama saking kagetnya, jadilah di beri nama sembarangan.


“Ada. Kita mau ketemu dimana?”


“Kami akan datang kerumah Pak Lukman sore nanti. Kalo sore bisa kan?”


“Bisa Pak, bisa.”


“Baiklah.”


Sekarang sekitar jam 12 siang, ia harus bergegas menyelesaikan pekerjaannya sebelum sore. Ketika menjelang sore ia harus sudah ada dirumah, tidak mungkin menyuruh istrinya untuk menyambut mereka terlebih dulu.


#


Pak Lukman sudah duduk dengan secangkir teh dan majalah berita di tangannya, ia sudah menunggu selama tiga puluh menit lamanya, namun dua orang itu masih belum menampakkan wajahnya. Pintu rumahnya sengaja ia buka agar mempermudah ia memandang keluar.


Beberapa menit kemudian dua sosok itu telah turun dari mobil mewah yang ia tafsir harganya bisa mencapai milyaran. Ternyata pikirannya bahwa orang yang di temuinya bukanlah orang sembarangan benar adanya. Tapi untuk apa orang sekaya mereka mempunyai rumah kecil yang mereka tempati. Bahkan mungkin harga rumahnya hanya seperempat atau bahkan tidak sampai dari harga mobil yang mereka tunggangi.


“Permisi.”


“Ya. Silahkan masuk!” Pak Lukman segera bangkit dari tempat duduknya setelah terpana melihat mobil mewah yang terparkir di halaman rumah yang belum bisa di katakana milik siapa ini.


Mereka berduapun duduk di sopa.


“Kita langsung ke permasalahannya saja ya Pak Lukman.”


“Ya. Saya suka itu.”


“Jadi begini. Dua minggu setelah pencarian, Pak Supardi bisa di temukan di kampung halamannya.”


“Loh, kok ngak beri tahu saya kalau si penipu itu sudah ketemu?”


“Dengar dulu Pak Lukman!” mereka bahkan sudah tahu nama Pak Lukman yang membuat Pak Lukman sedikit mengernyit sebab ia belum tahu sama sekali tentang identitas orang yang ada di hapannya.


“Ya, baiklah.”


“Setelah Pak Supardi di temukan kami sudah mengintrogasinya dan ternyata ia melakukan penipuan karena ibunya yang sangat tua sakit-sakitan dan dia tidak punya biaya untuk berobat. Maka dari itu kami bisa memaklumi untuk tidak mempidanakannya.”


“Lah iya. Terus kami ini gimana loh? Ini tempat tinggal satu-satunya, kalau di loloskan begitu saja kami orang yang sangat di rugikan disni.”


“Makanya Bapak dengar dulu penyelesaian dari kami.”


“Ya saya dengarkan. Sialahkan lanjutkan.”


“Tiga hari setelah kedatangan kami ke rumah ini, ada anak muda yang datang menemui kami. Dan dia menanggung jawabi semua agar rumah ini tetap milik Bapak.”


“Jadi?”


“Jadi setelah Pak Supardi ketemu kami melakukan negosiasi dengan pemuda tersebut. Ia hanya perlu membayar setengah dari harga yang tertera agar rumah ini tetap menjadi hak milik Bapak. Karena kami meloloskan Pak Supardi yang sudah melakukan kesalahan sebenarnya kami tidak enak untuk meminta bayaran dari rumah ini. Tapi pemuda itu bilang tidak apa-apa dan dia siap untuk membayar.”


“Maaf pemuda yang Bapak maksud siapa namanya?”


“Namanya Agatha Imanuel, pimpinan Perusahaan Imanuel Cooperation Group.”


Pak Lukman hanya terdiam mendengar perkataan laki-laki tersebut, sekaligus bingung bagaimana Agatha bisa tahu permasalahan pelik yang mereka dahapi.


“Maaf saya belum tahu nama Bapak berdua.” Lanjut Pak Lukman.


“Saya Hakim.” Ucap laki-laki yang lebih tua.


“Adik kakak?” timpal Pak Lukman.


“Ya, adik kakak.” Sahut Andri.


“Maaf kalau saya lancang menanyakan hal ini, tapi saya hanya sekedar penasaran. Dari yang saya lihat Bapak-bapak ini adalah orang berada. Mengapa dulu bisa beli rumah sekecil ini?”


“Ini dulunya kami belikan untuk adik bungsu kami yang menikah muda. Tadinya mau di jadikan sebagai pelajaran hidup bahwa membangun rumah tangga itu tidaklah mudah meskipun ia berasal dari keluarga berada. Baru sebulan tinggal di sini, eh.. mereka sudah bercerai. Dan adik kami itu sekarang kembali tinggal di rumah.”


“Oh… jadi begitu.”


Bu Sesil datang membawakan minuman dan beberapa makanan.


“Silahkan Bapak-bapak di minum dulu!” ucap Bu Sesil yang sesekali menguping pembicaraan mereka tadi.


“Assalamu’alaikum.” Seseorang mengucap salam dari luar.


“Wa’alaikum salam.” Jawab mereka serentak.


“Nah ini dia pemuda yang saya maksud sudah datang.” Ucap Pak Hakim.


“Masuk Nak!” Pak Lukman menimpali.


Sebelumnya Pak Lukman sempat kaget karena Agatha datang tidak lagi dengan kursi rodanya, hanya membawa dua tongkat penopang tubuhnya.


Agatha tersenyum kemudian masuk dibuntuti oleh sang bodyguard andalannya Agung.


“Silahkan duduk nak Agatha?” Bu Sesil tersenyum bahagia karena Agathalah yang menolong mereka terbebas dari masalah ini. Sejak awal Bu Sesil sudah felling kalau Agatha adalah orang yang baik, namun ia tidak bisa berkutik kalau ayahnya Sahira sudah member titah.


Berbeda dari Ibunya Sahira yang berwajah secerah mentari pagi, di wajah ayahnya Sahira terlihat kegelisahan, sekaligus rasa ketidaknyamanan jika teringat akan hal yang ia katakan pada Agatha dulu.


“Pak Agatha ini sertifikat yang Bapak minta buatkan tempo hari sudah selesai. Coba di cek dulu.” Ucap Pak Andri.


“Bukan saya yang harus mengeceknya, tapi Pak Lukman langsung. Beliau yang lebih tahu jika ada kesalahan.”


“Baiklah.” Pak Andri kemudian menyerahkan sertifikat ke tangan Pak Lukman.


Dengan mata yang berkaca-kaca Pak Lukman memandangi isi sertifikat yang jelas tertera namanya tiada kurang apapun.


“Terima Kasih Nak Agatha. Terima kasih.” Pak Lukman memeluk Agatha yang duduk tidak jauh darinya. Bu Sesil juga ikut menangis haru.


“Om, Pak Hakim dan Pak Andrilah yang bermurah hati. Sebelum saya menemui merekapun rumah ini sudah mau di berikan Cuma-Cuma terhadap Om dan Tante.”


“Terima kasih semua. Saya sangat berterima kasih pada kalian semua yang dengan murah hati membebaskan kami dari permasalahan ini.”


“Tidak udah sungkan Pak Lukman. Allah bersama orang-orang yang baik seperti Pak Lukman.” Jawab Pak Hakim.


“Kami sudah selesai melakukan tanggung jawab kami memberikan seertifikatnya. Sekarang kami mau pamit dulu. Mau pulang ke semarang.”


“Oh.. udah langsung mau pulang?” ucap Agtha.


“Ya. Kami permisi dulu.”


Mereka bersalaman dan Pak Hakim juga Pak Andri sudah menghilang dari balik pintu.


“Nak Agatha saya mohon maaf sebesar-besarnya pada Nak Agatha.” Ucap Pak Lukman kembali duduk setelah mengantar tamu hingga ke pintu rumah.


“Tidak perlu meminta maaf Om. Kalau saya di posisi Om saya mungkin akan melakukan hal yang sama.”


“Jangan panggil Om lagi dong. Panggil Papa.” Seloroh Bu Sesil menggoda.


“Iya ngak Papalah. Sebentar lagi kan jadi mantu. Panggil aja Papa.” Timpal Pak Lukman yang di sambut senyum malu-malu Agatha.


Flash Back Off.